Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Hampir Ketahuan


__ADS_3

"Ya ampun, Nuri....! Ngagetin aja deh kamu itu, ngapain sih buka pintunya pake acara ngagetin segala?" tanya Diana sebal pada adiknya.


"Ha ha ha," Nuri terbahak sampai terguling-guling sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa menertawakan Diana yang terkejut karena kehadirannya.


Sebenarnya semenjak mendengar suara motor berhenti tepat di depan rumahnya, Nuri sudah beranjak dari dalam kamarnya menuju pintu depan rumahnya untuk keluar hanya sekedar ingin tahu siapa yang datang, tapi dia tidak jadi keluar karena melihat adanya pria asing bersama kakaknya.


"Kenapa, Kak? Kaget kok sampai segitunya?" tanya Nuri lagi dengan sisa-sisa tawanya.


"Ya kagetlah orang Kakak mau buka pintu eh tahu-tahu pintunya mendadak terbuka, terus muncul kepalamu aja yang tiba-tiba nongol dari belakang pintu kaya gitu, ya Kakak kagetlah terus spontan teriak kaya gitu," jelas Diana panjang lebar.


"Bener nih.....?" tanya Nuri tak percaya sembari menyipitkan sepasang matanya.


"Benerlah, emangnya kenapa kamu pakai tanya segala kaya gitu?" tanya Diana.


"Ooh kirain kaget karena takut ketahuan Nuri kalau tadi Kakak..." ucapan Nuri terpotong karena mulutnya langsung di bekap oleh Diana dengan sebelah telapak tangannya.


"Emmmm ekek epooss," ucap Nuri tak jelas.


"Kakak mau lepasin tapi janji dulu sama Kakak," ucap Diana dan dibalas anggukan oleh Nuri.


"Janji jangan bilang sama siapa-siapa ya soal yang tadi kamu lihat," ucap Diana tetapi masih tetap membungkam mulut adiknya itu. Dan Nuri pun menganggukkan kepalanya kembali.


"Ya sudah Kakak lepasin nih," ucap Diana.


"Memangnya tadi Nuri lihat apa kak kok nggak boleh bilang sama siapa-siapa?" tanya Nuri heran. Ya Nuri memang tidak sempat melihat adegan Abri dan Diana yang bertabrakan hingga Diana hampir terjatuh tadi, karena saat dia mengintip dari balik korden sebelum dia membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang, dia hanya melihat Diana sudah dalam posisi berdiri sempurna. Dia hanya melihat kalau ada seorang pria asing sedang bersama kakaknya. Dia berpikiran kalau pria itu adalah kekasih kakaknya.


Diana langsung mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Nuri.


"Terus kamu tadi lihat apa emangnya?" tanya Diana balik.


"Nuri cuma lihat kalau kakak sedang berdiri berdua saja sama kakak cowok yang Nuri nggak kenal," sahut Nuri.


"Ehm, cuma itu aja ?" tanya Nuri memastikan.


"Ia kakakku cintaku kasihku," ucap Nuri menirukan kata-kata yang sering diucapkan oleh Diana.


"Ooh ya sudah kalau gitu," sahut Diana.


"Memangnya kakak cowok yang tadi itu siapa sih kak?" tanya Nuri penasaran.


"Cowoknya Kakak ya? Ayoo ngaku aja deh," tebak Nuri sebelum mendengar jawaban dari. Diana.

__ADS_1


"Ih sembarangan, mana ada itu cowok Kakak, orang Kakak aja nggak punya cowok kok," jelas Diana.


"Jadi siapa dong kakak cowok tadi itu?" tanya Nuri lagi.


"Itu teman baru kakak tadi ketemu pas kakak ke pasar," sahut Diana singkat.


"Ah masa sih teman baru, tapi kok kelihatannya kakak sudah akrab banget sama dia, pake senyum-senyum sampe ketawa-ketawa segala tadi Nuri lihat," jelas Nuri panjang lebar karena masih tak percaya dengan pengakuan Diana.


"Ih, memangnya nggak boleh apa kalau senyum terus ketawa sama orang?" tanya Diana .


"Iya boleh sih, tapi..." ucapan Nuri dipotong Diana.


"Nggak ada tapi-tapian, sudah sekarang bantuin Kakak bawain barang belanjaan Kakak ke dapur nih," ucap Diana.


Kemudian mereka pergi menuju dapur, dan menemui ibu mereka di sana.


"Bu ini tadi belanjaannya, Diana taruh di sini dulu ya nanti Diana siangi semua terus Diana aja yang masak Ibu nggak usah ngapa-ngapain lagi," ucap Diana sembari meletakkan semua belanjaannya di meja.


"Iya taruh aja di situ," sahut ibunya.


Diana pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia langsung mengerjakan semua pekerjaan di dapur Sampai akhirnya semua masakannya hari ini udah tersaji di meja makan.


...****************...


Setelah Abri sampai di SMP dari mengantar Diana tadi dia langsung menemui teman-temannya yang sudah berkumpul dan memberikan bungkusan kue pukis yang diberi oleh Diana tadi.


"Lho kok cuma segini aja Bri kuenya?" tanya Ramli.


"Iya tadi pas aku nyampe sana sudah habis diborong sama orang, itu aja untung-untung aku di kasihnya katanya takut kepuhunan," jelas Abri.


"Waw, siapa yang ngasih, bapak-bapak kah ibu-ibu, atau cowok kah cewek?" tanya Ramli kepo.


"Kenapa sih, penting memangnya?" Abri bertanya balik.


"Ya nggak juga sih he he he..." sahut Ramli terkekeh.


"Ya udah di makan aja kenapa sih Ram gitu aja kok repot," ucap Ibnu menimpali.


"Ini apa lagi yang belum di siapkan?" tanya Abri.


"Tinggal tongkat Pramuka aja sama pasak yang belum

__ADS_1


, Bri," kali ini Ibnu yang menjawab. Ya Abri memang teman satu sekolah dan satu angkatan juga Ibnu hanya mereka berbeda kelas saja.


"Ooh ya sudah biar aku siapkan," sahut Abri.


Setelah selesai mempersiapkan semua keperluan untuk besok mereka beristirahat sejenak sebelum pulang. Tiba-tiba Abri teringat akan pertemuannya dengan Diana pagi ini, tanpa di sadarinya sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Tentu saja tingkahnya itu mendapat perhatian dari Ramli. Dia mencurigai bahwa telah terjadi sesuatu yang istimewa hingga membuat saudara angkatnya itu tersenyum bahagia.


"Woi, woi, Ramli mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Abri, tetapi Abri masih tidak menyadarinya. Karena Abri tak menanggapinya maka Ramli memutuskan untuk berteriak tepat ditelinga Abri. Dan tindakannya itu pun berhasil membuyarkan lamunan Abri.


"Apaan sih kamu itu Ram, ngagetin aja deh," ucap Abri sebal sembari meniupkan udara di rongga jari-jarinya yang dikepalkan lalu menaruhnya di telinganya berulang-ulang.


"Ha ha ha, mangkanya jangan ngelamun aja pakai senyum-senyum sendiri lagi, dari tadi ku panggil tapi nggak ada respon, ya udah kuteriaki aja ha ha ha," sahut Ramli panjang lebar.


"Ya tapi jangan gitu juga kali, mana kenceng banget lagi, sampai budek aku rasanya," sahut Abri yang masih tampak kesal.


"Iya deh sorry," ucap Ramli.


"Eh tapi ngomong-ngomong kenapa kamu sampe ngelamun terus senyum-senyum sendiri kaya orang gila gitu, jadi curigation aku," lanjut Ramli lagi.


"Curigation, curigation, apaan tuh, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tau," ucap Abri sewot.


"Widih gayamu, Bri-Bri," sahut Ramli.


"Jadi apa yang bikin saudaraku ini jadi seperti itu, seperti orang yang sedang jatuh cinta?" tanya Ramli lagi.


"Mau tau aja, atau mau tau pakai banget nih?" Abri balik bertanya.


"Dua-duanya, udah ah cepetan kasih tau kenapa sih susah banget," sahut Ramli kesal.


"Ehm gimana yah ceritanya, gini tadi pagi kan aku ke pasar tuh disuruh kalian beli kue, terus kuenya sudah habis, terus aku dikasih sama orang kuenya, terus aku ambil deh tuh kue, terus aku bawa kesini, terus aku kasih deh sama kalian, terus kalian makan, terus habis, terus sudah gitu aja," sahut Abri yang membuat Ramli terlihat kesal karena sudah menyimak cerita dari Abri dengan seksama ternyata malah di kerjai.


"Hah kamu itu ngasih penjelasan panjang lebar tapi tak berbobot, udah gitu kebanyakan kata-kata terusnya lagi, nggak jelas banget," sahut Ramli kesal dan Abri pun langsung tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.


"Udah ah pulang yuk, nanti aja di rumah ceritanya, sudah siang ntar tambah panas bisa-bisa kulitku yang glowing ini gosong lagi," ucap Abri.


"Halah gayamu, kaya anak cewek aja, lebay," sahut Ramli.


"Ha ha ha," Abri tertawa.


"Tapi janji ya di rumah harus cerita, awas aja kalau bohong!" ucap Ramli.


"Iya-iya sewot bener," sahut Abri.

__ADS_1


Mereka pun segera menuju parkiran motor untuk pulang.


__ADS_2