
Ramli yang masih penasaran dengan cerita dari Abri sudah tidak sabar dan langsung mencerca Abri dengan pertanyaan-pertanyaan sebelum keduanya masuk ke dalam rumah, hingga membuat Abri menarik napas panjang.
"Jadi gimana Bro ceritanya, penasaran nih aku," ucap Ramli.
"Sabar kenapa jadi orang tuh, belum juga masuk rumah," sahut Abri.
"He he he,iya iya," ucap Ramli.
Saat baru memasuki pintu rumah, Abri langsung berkata sesuatu kepada Ramli sebelum laki-laki itu menagih janjinya, dia berkata kalau dia akan bercerita dengannya nanti malam saja karena sekarang dia ingin bebersih dulu, lalu mengajak Ramli menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawa untuk Perjusami besok. Dan Ramli pun menyetujuinya.
Di tempat berbeda tampak seorang pria yang sedang begitu galau. Dialah Ibnu, pria yang saat ini sedang memikirkan Diana, apakah ungkapan hatinya kemarin diterima atau tidak, dia takut kalau Diana akan mengira dirinya hanya bergurau saja karena mengungkapkan isi hatinya ketika sedang di pasar, bukan dalam keadaan yang tengah serius.
"Duh bo*oh banget aku ya, kenapa juga nggak berpikir dulu sebelum nembak dia, langsung to the point aja pas ketemu di pasar, coba aja waktu itu aku planning bener-bener gimana caranya ngungkapin perasaanku ke dia, jadi kesannya aku tuh bener-bener serius sama dia, pasti dia ngira kalau aku nih cuma bercanda aja. Gara-gara buru-buru kan jadinya gini, akhirnya nyesel sendiri. Ah semua ini gara-gara teman-teman sih yang kayaknya pada mau deketin Diana, jadi aku buru-buru takut keduluan salah satu dari mereka, sial bener dah," Ibnu bermonolog di dalam kamarnya sambil mengacak-acak rambutnya kesal.
Dia pun berencana akan pergi ke rumah Diana malam ini.
Selepas sholat Magrib Ibnu pun bersiap-siap untuk pergi. Dia merapikan penampilannya agar tampak menarik di mata Diana, mulai dari memberi minyak pada rambutnya hingga tampak klimis, kemudian dia memilih baju dan celana yang pantas, dan tak lupa dia memakai deodorant dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya, dia pun berdiri menghadap cermin lalu memutar tubuhnya ke kiri dan kekanan.
"Pokoknya aku harus kelihatan menarik supaya Diana terpesona sama aku," ucap Ibnu dalam hati sembari merapikan rambutnya.
Setelah dirasa cukup perpect dia pun mengakhiri sesi dandannya dan beranjak keluar kamar.
"Wuih keren amat, amat aja nggak keren, kok ini kamu nggak ada angin nggak ada hujan mendadak rapi begini, heum mana wangi lagi," ucap ibunya Ibnu heran sambil menghirup aroma minyak wangi anaknya itu.
"Ah Ibu ini bisa aja, anak Ibu ini emang keren dari dulu, Ibunya aja yang nggak pernah merhatikan anaknya sendiri," ucap ibnu.
"Masa sih, tapi kayanya nggak biasanya kamu kaya gini, biasanya juga bau asem," sahut ibunya .
"Ah ibu ini apaan sih, ya udah Ibnu mau jalan dulu sebentar, assalamualaikum," ucap Ibnu lalu menyalami dan mencium punggung tangan ibunya.
" Wa'alaikumsalam, hei mau kemana? Jangan malam-malam pulangnya nanti ada tante kun loh di pohon wanyinya Pak Supri!" ucap ibunya sedikit berteriak karena Ibnu sudah berjalan agak jauh darinya.
"Iya, Bu. Tenang aja," sahut Ibnu yang masih bisa mendengar ucapan ibunya.
"Ah Ibu ini ada-ada aja masa aku ditakut-takuti sama tante kun, emangnya aku anak kecil," ucap Ibnu lirih.
Tapi begitu dia hendak mengeluarkan motornya dari garasi tiba-tiba ada melintas bayangan putih yang dilihat Ibnu hanya sekilas, dia masih tidak berpikiran macam-macam, tapi begitu dia mendongakkan kepalanya setelah tadi menunduk karena menstarter motor tiba-tiba
Deg
"Aaaaaaa,"
Ibnu langsung berteriak histeris sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, karena bayangan putih yang melintas tadi sudah ada di hadapannya. Dan seketika ibunya pun keluar setelah mendengar teriakan Ibnu, khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada anaknya.
__ADS_1
"Ada apa Ibnu, kenapa kamu teriak-teriak kaya gitu sih?" tanya ibunya cemas.
"Itu Bu itu ada tante kun tadi di sini," sahut Ibnu yang masih menutupi wajahnya dengan rapat.
"Hah dimana?" tanya ibunya.
Dan ucapan Ibnu tadi spontan membuat Dani yang berdiri di hadapannya langsung bergidik ngeri dan merinding. Ya bayangan yang tadi dilihat Ibnu adalah Dani yang sedang mengenakan baju putih, karena kulit Dani yang tergolong eksotis cenderung gelap membuat hanya bajunya saja yang terlihat. Apalagi ditambah dengan celana yang digunakannya berwarna hitam.
"Mana Nu nggak ada, yang ada cuma Dani nih teman kamu," ucap ibunya memberitahu.
"Iya Nu dimana tante kun-nya?" tanya Dani. "Aku jadi ngeri juga nih jadinya," ucap Dani lagi.
Mendengar ucapan ibunya dan Dani membuat Ibnu membuka wajahnya seketika.
"Loh ada kok tadi disini!" ucapnya. Dan setelah dia memperhatikan Dani baru dia menyadari kalau yang tadi dilihatnya adalah Dani yang memakai baju putih, bukan penampakan tante kun seperti yang dipikirkannya.
"Oooh ini nih rupanya yang jadi tante kun-nya," ucap Ibnu sambil menunjuk Dani. Dani pun merasa heran mengapa Ibnu berkata demikian.
"Hah kok bisa?" tanya Dani heran.
"Iya ni coba kamu lihat bajumu warnanya putih, sudah gitu celananya hitam terus kulitmu gelap tinggal giginya aja yang kelihatan," jelas Ibnu panjang lebar yang sontak membuat ibunya dan Dani langsung memperhatikan penampilan Dani dan selanjutnya mereka pun tertawa terpingkal-pingkal.
"Ternyata seorang Ibnu yang idola anak-anak Pramuka rupanya penakut, gimana ya kalau para fans mu itu tahu pasti langsung pada ilfeel, ha ha ha," ucap Dani dan langsung tertawa lepas.
"Heh sudah-sudah, Ibu mau kedalam dulu, kamu ini bikin kaget aja Nu Nu," ucap ibunya Ibnu sambil beranjak pergi.
"Kok bisa sih kamu ngira aku jadi tante kun?" tanya Dani.
"Ini semua gara-gara Ibu tadi ngasih tau aku kalau pulang jangan malam-malam nanti ada tante k
un di pohon wanyinya Pak Supri noh," sahut Ibnu.
"Hah emang beneran ada?" tanya Dani tak percaya.
"Hem, katanya sih gitu, ya udah ah aku mau pergi dulu, awas," ucap Ibnu.
"Heheh mau kemana kamu? Kok didatangi malah pergi sih?" tanya Dani.
"Ada deh," sahut Ibnu
"Ikut dong ya," ucap Dani.
"Eh nggak usah, ini privasi tau," larang Ibnu yang takut ketahuan oleh Dani kalau dia sudah nembak Diana.
__ADS_1
"Hah sejak kapan kamu pake privasi-privasian segala, wah jadi curiga aku nih, hayo mulai rahasia-rahasiaan ya sama aku," ucap Dani penasaran.
"Nggak ada," elak Ibnu.
"Ok, kalau kamu nggak mau kasih tau biar aku kasih tau sama fans mu soal kejadian tadi," ancam Dani.
"Ih kok pake acara ngancam-ngancam segala sih kamu Dan?" tanya Ibnu.
"Jadi pilih mana?" tanya Ibnu balik.
"Ya udah deh, aku kasih tau tapi rahasia ya," ucap Ibnu yang ditanggapi dengan acungan dua jempol saja oleh Dani.
"Aku mau ke rumah Diana, mau nanya jawaban dia," ucap Ibnu.
"Lha emang kamu ngasih pertanyaan apa sama dia, atau ada PR yang kamu nggak bisa terus kamu tanya ke dia gitu, kenapa nggak tanya sama aku aja, Diana kan adik kelas kita, sudah gitu sekolahnya juga beda sama kita, emang dia ngerti sama PR bahasa Arab kita?" ucap Dani panjang kali lebar kali tinggi pula yang nggak nyambung sama sekali menurut Ibnu.
"Huh dasar kamu itu Jaka sembung bawa golok, nggak nyambung g*b**k. Mentang-mentang ada PR bahasa Arab langsung aja disambung-sambungi sama urusanku, sembarangan," ucap Ibnu kesal.
"Lha terus kamu minta jawaban apa dong jadinya sama Diana?" tanya Dani lagi yang terlihat masih sangat penasaran.
Dan akhirnya Ibnu pun menceritakan kejadian kemarin pagi, dimana dia bertemu Diana di pasar dan terus mengungkapkan isi hatinya di sana, dan tak ketinggalan dia juga menceritakan tentang kegelisahan hatinya karena takut ditolak sama Diana mengingat cara dia menembak Diana yang terkesan tidak romantis itu.
Mendengar pengakuan Ibnu membuat Dani tercengang tak percaya.
"Wah curang nih kamu, curi start melulu dari kemarin, aku doakan mudah-mudahan kamu ditolak sama Diana biar tahu rasa," ucap Dani kesal .
"Kok kamu gitu sih, Dan. Kita kan sohib," ucap Ibnu.
"Yee mana ada sohib main rahasia-rahasiaan segala, diancam dulu baru mau ngaku," balas Dani.
"Ya udah deh maaf," ucap Ibnu.
"Jadi kamu ikut nggak nih?" tanya Ibnu.
"Ma..." belum selesai Dani menjawab sudah dipotong sama Ibnu.
"Eh enggak usah aja gin ya, ntar kalau ada kamu Diana malah nggak enak mau jawabnya," ucap Ibnu dan Dani pun langsung membelalakkan kedua matanya.
"Please ya!" ucap Ibnu memelas agar Dani tidak ikut dengannya.
"Ehm, ya udah deh, mudah-mudahan Diana sadar sesadar sadarnya sebelum dia jawab pernyataan kamu kemarin ha ha ha, kalau sampai dia nerima kamu ya anggap aja dia itu lagi khilaf ha ha ha," ucap Dani.
"Ih dasar kamu ya bukannya doakan malah menjatuhkan, ya udah deh aku mau berangkat dulu, kamu pulang aja sana!" ucap Ibnu sembari mengusir Dani yang masih tertawa.
__ADS_1
Dan Ibnu pun akhirnya pergi juga ke rumah Diana sendirian.