Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Pertanyaan Diana


__ADS_3

Tampak Diana sedikit syok mendengar pernyataan dari Abri. ia pun kembali meminta Abri mengulangi ucapannya untuk memastikan bawa pendengarannya tidaklah salah. Meskipun ia sudah merasa yakin.


"Iya, Di. Mas mau menjadi orang yang dekat dengan Isya dan ngasih dia semangat dan perhatian, supaya dia cepat kembali lagi seperti dulu. Mas cuma takut kalau seperti itu terus nanti kejiwaan Isya bisa terganggu, dan Mas jadi ikut merasa bersalah karena Ramli adalah saudara Mas," ucap Abri.


Diana pun hanya bisa terdiam saja. Tapi otaknya tak bisa diam, segala pertanyaan tiba-tiba muncul di otaknya untuk Abri. Dan dia pun segera menyampaikan segala pertanyaan itu pada Abri.


"Apa Mas ngelakuin ini semua atas dasar kemanusiaan?" tanya Diana.


Abri pun bingung harus menjawab apa. "Mungkin niat awal Mas memang seperti itu, tapi Mas akan berusaha untuk menyayangi Isya," jawabnya.


"Tapi, Mas ... Diana nggak mau kalau misalkan Mas agak sedikit ... terpaksa ... melakukannya," ucap Diana sangat berhati-hati agar Abri tidak merasa tersinggung. "Ya karena ini menyangkut masalah hati. Dan semua itu harus berdasarkan rasa di hati, Mas. Apalagi kalau misalkan Mas sudah punya seseorang yang menempati hati Mas. Itu pasti nggak adil untuk Mas sendiri," ucap Diana lagi.


Abri pun berusaha untuk memberikan penjelasan pada Diana agar dia mengerti, bahwa dia berniat baik untuk menyembuhkan luka di hati Isya, kalau niat awalnya baik pasti semua akan baik-baik saja meskipun awalnya tanpa didasari rasa cinta. Mungkin seiring berjalannya waktu rasa itu bisa muncul dengan sendirinya. Dan Abri sendiri berharap itu terjadi, meskipun dia ragu apakah dia bisa mempunyai rasa pada Isya seperti dia mempunyai rasa pada Diana.


"Tapi sebelumnya Diana mau tanya sesuatu nih sama Mas, boleh?" tanya Diana.


"Tentu aja boleh, kenapa juga nggak boleh, Di? tanya aja, selagi Mas bisa jawab pasti akan Mas jawab. Yang penting jangan sulit-sulit ya soalnya, bisa-bisa nggak lulus Mas nanti, he he he ...."


Abri berusaha mencairkan suasana yang sedari tadi tampak serius. Ia pun mengakui kalau dirinya sedikit gugup, namun berusaha tetap tenang.

__ADS_1


"Ye ... dipikir ini lagi ujian sekolah apa? He he he ..." ucap Diana sembari tertawa.


Dan Abri pun ikut tertawa juga. Hanya mendengar suara tawa Diana saja sudah membuatnya senang. Lalu ia pun menyuruh Diana untuk cepat bertanya padanya.


"Jawab yang jujur, Mas ya! Apa di hati Mas saat ini sudah di isi sama seseorang? Terus jika sudah ada, apa seseorang itu sudah mengetahuinya?" tanya Diana.


Hati Abri sedikit tercubit mendengar Diana bertanya seperti itu, dia pun kembali dilema karena harus memberikan jawaban apa pada Diana. Kalau dia menjawab iya, sudah pasti Diana akan bertanya padanya siapa orang itu. Tapi kalau dia jawab tidak, sama aja dia telah membohongi gadis yang sebenarnya telah mengisi hatinya tanpa gadis itu ketahui. Padahal tadi Diana sudah berpesan untuk menjawab dengan jujur.


"Kenapa tanya kayak gitu sama Mas?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Diana, Abri malah balik bertanya pada gadis itu.


" Ya karena di sini Diana nggak mau kalau sampai ada hati yang terluka karena keputusan Mas ini," jawab Diana.


"Ya, sebenarnya memang sudah ada seseorang yang mengisi hatiku, Di. Dan kalau kamu mau tau, sebenarnya orang itu adalah kamu sendiri." Sayangnya Diana tidak mendengar apa yang telah Abri ucapkan, karena Abri menjawab pertanyaan dari Diana hanya di dalam hatinya saja. Ia pun merasakan kalau hatinya begitu sakit, karena tidak akan pernah bisa mengungkapkan perasaannya pada gadis yang benar-benar disukainya ini. Semua itu karena ia telah memilih untuk menyembuhkan luka di hati Isya dengan menjadi kekasihnya. Meskipun hatinya juga terluka karena keputusannya ini.


Mendengar tidak adanya sahutan lagi dari Abri, Diana pun berusaha untuk memanggil-manggil Abri.


"Hallo ... Mas ... Mas Abri...."


Abri pun kembali tersadar dari lamunannya untuk yang kedua kali selama berbicara dengan Diana melalui telepon.

__ADS_1


"Eh ... i-iya, Di. Ke-kenapa tadi?" Abri tergagap setelah mendengar Diana memanggil namanya.


"Jadi apa jawaban Mas, jawab jujur lho ya!" ucap Diana mengingatkan.


Dan Abri pun menjawab pertanyaan dari Diana tadi dengan mengatakan yang sebenarnya, jika memang sudah ada seseorang yang mengisi hatinya. Akan tetapi saat ini orang itu belum mengetahuinya karena Abri sendiri belum sempat mengungkapkan isi hatinya pada gadis itu. Jadi menurut Abri ini bukanlah masalah karena statusnya Abri sendiri jomblo. Dan Abri pun menjelaskan bahwa ini adalah resiko dari keputusan yang telah diambilnya.


Mendengar penuturan dari Abri, membuat Diana sangat merasa bersalah, karena secara tidak langsung dirinyalah yang telah menyebabkan Abri melakukan ini setelah Diana membuat pernyataan kemarin. Ia pun merasa sangat sedih juga karena Abri tak dapat bersama dengan gadis yang sudah mengisi hatinya.


"Mas ... apa ini adil buat Mas sendiri? Diana nggak mau kalau pada akhirnya nanti Mas juga akan terluka karena keputusan Mas ini," ucap Diana lirih dengan nada bicara yang agak memelas.


"Nggak apa-apa, Di. Mas akan berusaha untuk melupakannya, yang penting kakak kamu bisa kembali seperti dulu lagi. Karena kalau sampai terjadi apa-apa sama kakakmu, Mas juga akan merasa bersalah. Ya karena Mas nggak bisa nasehati saudara Mas sendiri. Dan juga karena nama baik keluarga Mas sudah hancur di mata Isya," jawab Abri panjang kali lebar.


Diana pun kemudian bertanya lagi pada Abri bagaimana jika seandainya nanti Isya menolak Abri? Apa yang akan dilakukan oleh Abri. Dan Abri pun menjawab bahwa ia akan berusaha pelan-pelan untuk mendekati Isya, membuat Isya merasa nyaman dulu, baru setelahnya ia akan mengatakannya pada Isya. Yang pasti dia akan berusaha keras untuk semua itu.


Setelah Abri menjelaskan panjang lebar, ia pun kembali bertanya pada gadis itu, apakah dia setuju kalau Abri akan menjadi obat penyembuh luka di hati kakaknya karena ulah saudaranya sendiri itu.


"Maaf ya, Mas. Karena pernyataan Diana kemarin sudah membuat Mas jadi seperti ini," ucap Diana lirih. Dia pun menjelaskan jika sebenarnya semua ini tidak ada sangkut pautnya sama Abri, meski Ramli adalah saudara dari Abri. Karena yang melakukannya adalah Ramli bukan Abri, jadi menurutnya Abri tidak harus merasa ikut bertanggungjawab atas masalah ini.


"Nggak apa-apa, Di. Mas ikhlas kok ngelakuinnya. Yang penting sekarang kamu setuju atau tidak sama keputusan Mas ini?" Abri kembali bertanya pada Diana. Dan Diana pun menjawab jika apapun itu keputusan Abri yang menurutnya baik, maka tentu saja ia akan mendukungnya.

__ADS_1


Dan kemudian Abri pun berterima kasih pada Diana karena telah menyetujui niatnya itu untuk menjadi penyembuh luka hati kakaknya.


__ADS_2