Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Kebingungan Isya


__ADS_3

Ramli meneguk salivanya kasar. Entah bagaimana perasaannya saat ini, yang dia pikirkan hanya bagaimana caranya menjelaskan pada Desy bahwa apa yang sebenarnya dia lihat tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Ramli sudah tahu pasti dengan apa yang ada dalam pikiran Desy bahwa dia benar-benar telah membohongi Desy seperti dugaan Desy yang disampaikan pada Ramli tadi.


Sementara itu Desy yang melihat ada motor Abri di luar tadi hanya mengira jika di dalam rumah hanya ada Abri saja. Dia mengetahui jika Abri menyukai Diana dari cerita Ramli, jadi wajar kalau ada Abri di sini, akan tetapi dia tidak sampai berpikiran jika Ramli juga ada di sini. Tentu saja dia sangat kaget sekali. Ternyata dugaannya tadi tidaklah salah, untung saja dia ada pikiran pergi ke rumah Isya untuk membuktikan dugaannya itu, kalau tidak dia pasti sudah tertipu oleh kata-kata Ramli pikirnya. Walaupun sebenarnya dia berharap agar dugaannya itu salah, akan tetapi sekarang semua telah terbukti di depan mata Desy sendiri.


Sedangkan Diana dan Abri sendiri tak kalah kagetnya. Mereka saling melempar pandang satu sama lain. Dan Abri hanya bisa menjawab tatapan mata Diana yang seakan-akan bertanya padanya dengan mengangkat kedua pundaknya pertanda tidak mengerti.


Isya yang melihat sahabatnya datang, tentu saja merasa senang sekali. Apalagi beberapa minggu ini ia merasa jika diantara dia dan Desy sekarang sudah terbentang jarak yang sangat jauh padahal mereka setiap hari bertemu di sekolah. Isya sendiri merasa tidak pernah membuat jarak dengan Desy, akan tetapi Desy lah yang selama ini sepertinya telah membuat jarak dengannya menurut kacamata Isya. Desy selalu saja mempunyai alasan untuk menghindari dirinya saat ia mendatangi Desy di kelasnya, kelas mereka berdua memang terpisah saat ini. Apalagi untuk bermain ke rumah Isya, sudah tentu bisa dipastikan jika Desy tidak pernah lagi bermain ke rumah sahabatnya itu. Sehingga pada saat ia melihat Desy berkunjung ke rumahnya, Isya sangat merasa senang dan bahagia sekali.


Isya pun langsung menghampiri Desy dan memeluk sahabatnya itu dengan tulus.


"Desy! Aku kangen banget sama kamu tau, rasanya kayak udah lama banget kita nggak ketemu," ucap Isya.

__ADS_1


Sementara itu Desy yang mendapat perlakuan begitu dari Isya segera melepas pelukan dari sahabatnya itu dan tentu saja hal itu telah membuat Isya heran.


"Maaf Sya, kayaknya aku datang di waktu yang nggak tepat. Jadi lebih baik kayaknya aku balik aja deh sekarang, lain kali aja aku ke sini lagi," ucap Desy sambil melirik Ramli. Sementara Ramli yang dilirik tidak berani melihat Desy. Sedangkan Isya langsung mengernyitkan keningnya setelah mendengar ucapan dari Desy.


"Loh, nggak tepat gimana maksudnya, Des?" tanya Isya yang tidak mengerti sama sekali apa maksud dari ucapan Desy barusan. Sepertinya di sini hanya Isya saja yang tidak mengerti akan keadaan yang sebenarnya.


"Kamu nggak lihat kalau kalian ini sekarang sedang double date, jadi kalau aku tetap ada di sini malah aku ngerasa nggak nyaman. Atau kamu sengaja supaya aku kelihatan jonesnya," jawab Desy ketus sambil sesekali melirik pada Ramli.


Sedangkan Isya yang mendengar ucapan Desy barusan dibuat semakin tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Desy. Biasanya Desy tidak masalah jika ia ikut nimbrung di saat Isya sedang bersama dengan Ramli. Dan Isya pun merasa tidak terganggu dengan kehadiran sahabatnya itu di saat ia sedang bersama dengan Ramli. Tetapi mengapa sekarang Desy merasa tidak nyaman dan terlebih lagi dia mengatakan kalau Isya sengaja membuat dirinya terlihat jones.


"Maksud kamu apa sih, Des? Biasanya kan juga kita sama-sama dan kamu nggak ada masalah, terus kenapa sekarang kamu kayak gini?" tanya Isya.

__ADS_1


"Udahlah, Sya. Aku mau pulang aja sekarang, lagian aku lupa kalau tadi di suruh Ibuku beli bahan kue," jawab Desy beralasan seraya berlalu dari hadapan mereka semua. Tentu saja Isya langsung mengejar langkah sahabatnya itu. Dan masih berusaha menahannya agar tetap berada di sini. Tetapi Desy terus mengabaikannya dan akhirnya ia pun pergi dari rumah Isya dengan perasaan yang campur aduk.


Melihat Isya seperti itu membuat Diana merasa kasihan sekali dengan saudaranya ini yang terlihat seperti orang bodoh di depan Ramli dan Desy. Dia menyayangi sahabatnya itu dengan tulus tetapi malah ditusuk dari belakang oleh sahabatnya itu hanya karena makhluk bernama laki-laki.


Sebenarnya jika Diana menuruti hawa nafsunya, pasti saat ini Ramli sudah dijadikan sasaran amukannya, karena Diana ini adalah tipe orang yang tidak suka melihat jika ada keluarganya disakiti oleh seseorang, dia pasti akan pasang badan untuk membela keluarganya itu. Terlebih lagi ini adalah kakak kandungnya sendiri. Tetapi kali ini Diana masih bisa menahan diri karena melihat Abri yang tadi memberi kodenya dengan gelengan kepala agar tidak berbuat gegabah.


Setelah kepergian Desy tadi Isya pun masuk kembali ke dalam rumah. Iya masih bertanya-tanya dalam hatinya mengapa Desy seperti itu, tidak seperti Desy yang biasanya.


"Itu si Desy kenapa ya kok kayak gitu, Kak?" tanya Isya pada Ramli. "Biasanya juga dia nggak masalah kalau aku lagi sama Kak Ramli terus ada dia juga," imbuhnya lagi.


"Dah lah biarin aja, mungkin dia benar-benar sibuk," jawab Ramli dengan asumsinya yang seakan-akan tak mengerti dengan keadaan sekarang, padahal dialah yang jadi biang kerok dari masalah ini. Laki-laki yang telah berhasil membuat dua sahabat yang dulunya saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain dan tidak pernah terpisah kini menjadi terpisah jarak karena sifat serakahnya. Ramli mengalihkan perhatiannya pada ponselnya agar Isya tak menaruh curiga padanya.

__ADS_1


Sementara itu Abri pun melihat Ramli dengan tatapan dongkol seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan yang ditatap tak tahu-tahu malah asik bermain dengan ponselnya.


__ADS_2