
Dan akhirnya mereka pun telah sampai di rumah orang tua Diana yang berada disekitaran SMP.
"Assalamualaikum," sapa Diana dan Yanti bersamaan saat memasuki rumah.
"Waalaikusallam warahmatullahiwabarokatuh," sahut pria dari dalam rumah yang tak lain adalah Pak Asran, bapak dari Diana.
"Apa kabar, Man?" sapa Yanti yang memanggil Pak Asran dengan sebutan paman.
"Alhamdulillah baik, kamu gimana?" tanya Pak Asran pada Yanti.
"Alhamdulillah baik juga, Man," sahut Yanti. " Bibi Rahmi mana, Man?" tanya Yanti lagi.
"Oh itu ada di dapur lagi masak untuk makan malam," sahut Pak Asran.
Dan Yanti pun bergegas ke dapur menghampiri bibinya itu yang bernama Rahmi. Ibu dari Diana ini adalah adik dari bapaknya Yanti, sehingga Yanti memanggilnya dengan sebutan bibi.
"Bibi...." pekik Yanti setelah mendapatkan bibinya di dapur sambil memeluk bibinya dari belakang yang membuat bibinya terlonjak kaget dan hampir saja tangannya terkena minyak panas.
"E kucing mati," latah bibinya, ya bibinya itu kalau kaget memang suka latah.
"Huh dasar kamu ni ya bikin kaget aja, kalau Bibi jantungan gimana?" lanjut bibinya kesal.
"Iya-iya maaf," sahut Yanti melas. "Habisnya aku dah kangen sama latahnya Bibiku yang paling cantik ini," lanjut Yanti lagi.
"Heleh, muji-muji paling juga ada maunya, ya kan?" sahut bibinya.
Nanti Bibi bilangin Bibi Rani lho kalau kata kamu Bibi Rahmi yang paling cantik terus Bibi Rani nggak cantik," ucap Bibi Rahmi.
"Bilangin aja orang Bibi Rani juga gak ada disini kok, dia lagi tempat mertuanya ada acara, wleee," sahut Yanti sambil menjulurkan lidahnya.
"Ih gak sopan ya sama orang tua kamu tuh," sahut Bibi Rahmi sambil mencubit perut Yanti.
"Ampun, Bi. Aduh duh," ucap Yanti sambil meringis. Ya begitu sudah kalau Yanti sudah bersama dengan bibinya. Ada-ada saja yang diusilinya, dia sudah mengganggap ibu dari Diana itu ibunya sendiri apalagi setelah ibunya meninggal 4 tahun silam.
Tak lama Diana keluar dari toilet, ya setibanya di rumah tadi dia langsung ke toilet karena sudah menahan buang air kecil sejak ditengah perjalanan tadi, dan ia langsung menghampiri ibunya.
"Bu, malam ini boleh nggak Diana nginap di rumah nenek nemani nenek sama Yanti," ijin Diana pada ibunya.
"Ehm," ibunya terlihat berpikir.
"Boleh ya, Bi. Sekalian temu kangen sama Yanti, kan udah lama kami nggak ketemu, please!!!" seru Yanti.
" Ooh jadi ini to maksudnya tadi muji-muji Bibi paling cantik segala," ucap bibinya sambil menoleh ke arah Yanti.
"He he he," Yanti terkekeh.
"Halah palingan kamu mo ngerumpi aja ya kan?" tebak ibu Diana.
"He he he, tau aja Bibi mah," sahut Yanti.
"Selain itu dia juga takut Bu kalau harus kembali ke rumah Nenek sendiri," ucap Diana.
"Takut sama apa?" tanya ibunya.
"Tau tu Yanti, takut sama lela kali ha ha ha," sahut Diana lalu tertawa dan diikuti tawa ibunya.
"Ish sorry ya, mana ada aku takut," bela Yanti.
"Eh tapi lela siapa emang?" tanyanya penasaran.
"Nggak tau, tanya aja sama Ibu, soalnya Ibu yang tahu," sahut Diana.
"Lela siapa Bi?" tanya Yanti lagi yang masih penasaran pada bibinya.
"Lela alias lelakian," jelas bibinya.
"Owalah kukira lela siapa," sahut Yanti. "Istilah darimana lagi pake lela-lela segala ha ha ha?" tanya Yanti lagi.
" Nggak tau aku Yan orang tadi aja ku kira nama orang kok," sahut Diana.
"Ya istilah dari ibu sendiri," suara bapaknya Diana yang menyahuti kali ini yang membuat ketiga wanita itu kaget karena tiba-tiba datang.
"Astoge noge, Bapak ih ngagetin aja," ucap Ibu Diana.
"Apaan lagi astoge noge, di mana-mana tuh kalau kaget yang ada orang istighfar bukan malah nyebut toge," protes Pak Asran.
__ADS_1
"Ha ha ha," tawa mereka kompak memenuhi ruang dapur yang tak terlalu besar itu.
"Bilang sama Bapak kalau mau nginep di rumah Nenek," titah ibunya.
"Pak, Diana ijin nginep di rumah Nenek ya malam ini," ucap Diana.
"Boleh tapi tidurnya jangan malam-malam ya, nanti ngerumpi sampe tengah malam," sahut bapaknya Diana.
"Siap, Pak," sahut Diana sambil memberi hormat pada bapaknya. "Makasih Bapak," imbuhnya lagi.
Akhirnya Diana dan Yanti kembali ke rumah neneknya selepas salat Magrib setelah tadi disuruh ibunya makan dulu sebelum menginap di rumah nenek.
Sedangkan Nuri dan Isya baru saja tiba dari rumah julak mereka yang ada di kampung sebelah. Julak adalah sebutan untuk kakak saudaranya ayah atau ibu dalam bahasa Banjar.
"Bu, Kak Diana mana? Kok nggak ada di kamarnya," tanya Nuri pada ibunya.
"Kak Diana nginap di rumah Nenek nemani Nenek," sahut ibunya.
"Ish kok nggak ajak-ajak Nuri sih, teganya pang," ucap Nuri sebal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Itu bibir nggak usah di mancung-mancungi, jelek tau," ucap Isya.
"Iya tadi habis Magrib perginya sama Kak Yanti, kamu sih telat pulangnya," ucap ibunya.
"Tuh kan, ini gara-gara Kak Isya tuh pake acara ngobrol lama-lama sama Julak," keluh Nuri.
"Ye kok aku yang disalahin sih, orang Julaknya ngomong nggak berhenti-berhenti jadi gimana mau pulang," bela Isya.
"Sudah-sudah, nggak usah ribut, sana makan dulu, sudah salat belum?" tanya ibunya Diana.
"Sudah tadi Bu di rumah julak sekalian," sahut Isya.
"Oh ya sudah langsung makan aja sana," titah ibunya.
Lalu ibunya menuju ke ruang tengah untuk menonton acara favoritnya di TV.
...***************...
Malam ini di rumah nenek Diana hanya ada Diana, Yanti dan juga neneknya, mereka berkumpul di ruang TV. Seperti biasa kalau mereka berkumpul neneknya pasti menceritakan tentang kisahnya waktu muda dulu, mulai dari anak-anak sampe nenek menikah, pokoknya lengkap mulai dari cerita dengan suami pertama, suami kedua dan suaminya yang ketiga yaitu Kai Diana sendiri. Inilah yang Diana sukai kalau sudah bersama dengan neneknya, dia bisa membayangkan gimana suasana jaman dulu di kampungnya waktu masih jaman bahari kala, waktu suasananya masih tak seramai sekarang yang masih dikelilingi banyak hutan dan tak ada lampu penerangan seperti sekarang ini. sayang kainya sudah tidak ada. Kalau di Kalimantan memang orang pada umumnya menyebut kakek dengan sebutan kai. Diana sendiri punya sebutan khusus untuk kai dan neneknya, kai Jawa untuk kai dari pihak ibunya, dan kai Timur untuk kai dari pihak bapaknya, sedangkan untuk nenek, dia menyebut nenek Jawa juga untuk nenek dari ibunya ya meskipun neneknya itu berdarah Sunda, dan nenek Banjar untuk nenek dari bapaknya. Diana senang dan bangga dengan keluarganya yang beragam, yang tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan suku atau agamanya.
"Jangan tidur malam-malam ya," ucap nenek mengingatkan.
"Siap nenek!" sahut Diana dan Yanti kompak sambil memberi sikap hormat pada neneknya.
Rencana tidur hanya tinggal rencana saja karena buktinya saat jam sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam saja mereka belum tertidur, sedangkan nenek mereka sudah berada di alam mimpi. Ada-ada saja yang jadi topik pembicaraan mereka, mulai dari urusan sekolah, teman sampe soal cowok pun tak luput dari obrolan dua remaja itu.
"Di, gimana kabar cowok gebetannya Isya yang waktu tu nembak kamu?" tanya Yanti.
Seketika Diana langsung melirik Yanti tajam yang membuat Yanti langsung beringsut, tapi langsung diiringi senyuman kemudian.
"Kenapa? kepo banget," ucap Diana.
"Ya nggak apa-apa sih, cuma mau tau aja, secara kamu ni kan ya hampir tiap hari bisa ketemu dia walaupun hanya sesekali saja kalau kamu pulang ke Samarinda, masa gak ada getar-getar gitu?" tanya Yanti penasaran.
Diana pun langsung meraup wajah Yanti.
"Huh kamu tuh ya, getar-getar opo? Getar dawai hatiku," seketika Diana langsung menyanyikan penggalan original soundtrack sinetron jaman dulu.
"Kamu mah, aku serius kok malah nyanyi," ucap Yanti sebal.
Sekilas Diana langsung mengingat momen setahun silam saat dia belum tinggal bersama tantenya di Samarinda.
*Flashback on*
"Ayo cepat Diana nanti kita ketinggalan angkot nih," seru Isya.
"Ih sabar pang sebentar, ini juga lagi siap-siap," sahut Diana.
Ya Diana dan Isya akan berlibur ke rumah tantenya di Samarinda yang bernama Arti. Tante Arti ini adalah adik dari Pak Asran. Karena ini adalah libur lebaran, dan mereka akan ikut sepupu mereka pulang ke Samarinda setelah beberapa hari berlebaran di kampung halaman, Tante Arti sendiri sudah balik lebih dulu ke Samarinda kemarin. Dan setelah semua siap mereka pun segera pergi ke Samarinda dengan menggunakan angkot setelah sebelumnya telah berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tua mereka.
Mereka pergi bersama anak tantenya yang bernama Lisa, yang sengaja tidak pulang bersama ibunya kemarin hanya untuk membersamai Diana dan Isya yang ingin berlibur ke Samarinda. Diana sungguh apes hari itu karena tubuhnya yang katro masih belum terbiasa naik kendaraan darat dia pun mabuk selama perjalanan yang membuatnya tidak bisa menikmati perjalanannya, tapi kalau untuk sekarang tubuhnya sudah bisa beradaptasi dengan kendaraan darat itu sehingga dia bisa dengan aman dan nyaman ketika sekolah saat ini yang mengharuskan dia untuk selalu menggunakan kendaraan darat tersebut.
Dan akhirnya mereka pun telah sampai di terminal dengan tubuh Diana yang masih terkulai lemah akibat semua isi perutnya keluar selama perjalanan.
"Ha ha ha, ya ampun, Diana-Diana," ucap Lisa setelah mentertawakan Diana.
__ADS_1
"Dasar sepupu nggak ada akhlak ya, orang lagi mabuk malah diketawai juga," ucap Diana sebal.
"Iya-iya maaf deh, sini aku bawain tas kamu," ucap Lisa sembari mengambil tas dari tangan Diana. Sedangkan Isya dengan santainya berjalan mendahului mereka, ya Isya memang tidak mengalami seperti apa yang dialami Diana, itu anak tahan banting kata orang tua mereka, sedangkan Diana selagi masih kecil fisiknya kurang kuat menurut orang tua mereka terutama bapaknya yang begitu overprotektif padanya yang kadang membuat Diana kesal, kenapa sih dia tidak sebebas kakaknya yang bisa ngapa-ngapain aja tanpa harus dikekang. Ya walaupun Diana sadar kalau sebenarnya tindakan orang tua mereka sebagai bentuk kasih sayang untuknya. Bapaknya begitu overprotektif karena sewaktu Diana masih bayi dulu pernah mengalami step hingga membuat bapaknya menangis tidak tega melihat buah hatinya itu kejang-kejang. Dan sikapnya itu terbawa sampai sekarang saat Diana sudah beranjak remaja.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah tantenya yang terletak di jalan pemuda 3, tak jauh dari rumah tantenya, terdapat aliran sungai Karang Mumus yang merupakan anak dari sungai Mahakam, yaitu salah satu sungai terpanjang di Indonesia yang terdapat di Kalimantan Timur ini.
Sesampainya di sana, Diana langsung tepar tak berdaya yang membuat tantenya kaget bukan kepalang.
"Lho kamu kenapa Diana, mabuk kah?" tanya tantenya.
"Apa pang lagi, Bu," kali ini bukan Diana yang menjawab melainkan Lisa karena Diana sudah tidak berdaya lagi untuk menjawab pertanyaan dari tantenya.
Tantenya langsung memberikannya air putih hangat agar perutnya merasa nyaman.
"Ya ampun kasiannya ai, ya sudah kamu istirahat aja dulu nanti kalau sudah agak enakan baru mandi," ucap tantenya pada Diana yang cuma ditanggapi dengan anggukan saja oleh Diana.
Setelah merasa nyaman Diana pun segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Gimana, sudah enakan, Di?" tanya tantenya.
"Iya sudah Tante, cuma masih agak pusing aja sedikit sih," sahut Diana.
"Eh Di ntar malem kita mau jalan ke perpustakaan umum di pemuda 2, mau pinjam novel baru nih, kamu mau ikut nggak?" tanya Lisa.
"Pingin sih, tapi jauh gak, jalan kaki aja kan, aku nggak mau kalau harus naik angkot lagi, kapoknya belum hilang," keluh Diana.
"Deket, masih sekitaran sini juga, jalan kaki aja kok paling 10 menit jalan santai nyampe sudah," sahut Lisa. "Sekalian tepe-tepe," ucap Lisa lagi sambil menaik turunkan alisnya.
"Tepe-tepe pale lu, orang lagi tepar juga," sahut Diana.
"Ha ha ha, jadi ikut nggak? " tanya Lisa lagi.
"Iya, sekalian mo lihat-lihat daerah sini tuh kaya gimana, masa sudah nyampe sini aku di dalam rumah aja," sahut Diana.
"Nah gitu dong, habis Magrib nanti kita berangkat, kamu ikut juga kan Sya?" tanya Lisa kemudian pada Isya.
"Iya pasti dong," sahut Isya mantap.
"Sip dah kalo gitu,"sahut Lisa.
Selepas Magrib mereka pun pergi ke perpustakaan umum yang ada di pemuda 2, baru sekitar 15 meter mereka berjalan sudah tampak sekelompok remaja cowok yang sebaya dengan mereka. Hal ini membuat Diana sedikit malas sebenarnya jika harus melewati kumpulan para cowok itu. Berbeda dengan Diana, Isya tampaknya lebih menikmati momen ini.
"Wuih kamu sama siapa, Sa?" tanya salah satu cowok itu yang memang mengenal Lisa. Dia penasaran dengan 2 remaja cewek yang baru saja mereka lihat saat ini, begitu pun dengan temannya yang lain.
"Sepupuku dari kampung," sahut Lisa. Kenapa salamkah?" tanya Lisa spontan dan langsung dicubit Diana.
"Hus kamu tuh, nggak usah macam-macam deh," sergah Diana.
"Iya salam sama yang baju putih," sahut salah satu dari mereka yang belakangan diketahui oleh Diana namanya adalah Pangkis.
"Ciye, Diana," ucap Isya menggoda Diana, walaupun tampak dari wajahnya terlihat kesal karena dia tidak mendapatkan salam dari mereka.
"Apaan sih, ayo buruan!" ajak Diana sembari melajukan langkah kakinya.
"Diana tunggu, emang kamu tau arah jalannya kemana?" tanya Lisa yang membuat Diana langsung menghentikan langkahnya. Sontak Lisa langsung terbahak melihat kelakuan Diana.
Setelah sampai di perpus mereka pun langsung memilih novel yang hendak mereka pinjam dan membacanya di rumah. Yang jadi pertanyaan Diana saat ini adalah apakah mereka harus lewat jalan yang tadi lagi untuk sampai ke rumah. Dan memang benar tak ada jalan lain lagi selain jalan yang tadi untuk sampai ke rumah tantenya.
Alhasil Diana cuma bisa berdoa dalam hati semoga saja kumpulan cowok tadi sudah bubar walaupun kemungkinannya kecil sekali, karena ini masih belum terlalu malam untuk mereka bubar.
Dan benar dengan apa yang diperkirakan Diana bahwa mereka belum pada bubar.
"OMG masih ada mereka," gumam Diana yang masih dapat didengar oleh Lisa.
"Udah santai aja," ucap Lisa.
"Iya biasa aja dong kaya aku ini," timpal Isya.
Dan akhirnya Diana hanya menunduk saja sepanjang jalan, hingga akhirnya tiba-tiba ada suara yang menegurnya karena jalan menunduk.
"Jangan nunduk aja jalannya entar nabrak lho," ucap cowok yang tadi menitipkan salam untuknya disertai dengan kekehannya dan teman-temannya.
"Iya Di, jangan nunduk aja ntar nabrak lho, berabe," ucap Lisa menambahi.
Diana hanya diam saja tak menghiraukan ucapan mereka, dia hanya berharap agar cepat sampai di rumah.
__ADS_1