Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Prasangka


__ADS_3

Setelah meninggalkan Abri yang diliputi tanya tanya besar, akhirnya Isya sampai di toilet. Beruntung saat itu toilet terlihat lengang, tak ada satu murid pun di sana sehingga Isya bisa menangis sepuas hatinya di sana.


Ia pun langsung masuk ke dalam salah satu toilet itu. Dia pun langsung menumpahkan segala kesedihan, kekesalan dan kekecewaan nya dengan menangis, dan tak lupa ia menyalakan kran air agar suara tangisannya tidak terdengar andai saja tiba-tiba ada orang masuk.


Sementara itu Ratna yang sedari tadi mengikuti Isya akhirnya sampai juga di toilet itu. Dia memanggil-manggil Isya memastikan jika Isya ada di dalam dan tidak terjadi apa-apa padanya. Suara tangisan Isya tak terdengar jelas oleh Ratna karena ada suara air kran yang yang dibuka deras oleh Isya. Ia juga tak mau jika sampai ada orang yang mendengar suara tangisannya dan membuat heboh satu sekolah pada akhirnya.


Ratna masih saja memanggil-manggil nama Isya. Ia khawatir telah terjadi sesuatu pada Isya karena Isya tak jua menyahuti panggilannya. Namun Ratna tetap setia menunggu Isya di luar, ia yakin kalau Isya ada di dalam toilet itu karena ia tadi sempat melihat saat Isya masuk ke dalamnya. Ia mengerti pasti saat ini Isya sedang menangis di dalam sana. Ia pun membiarkan Isya beberapa saat, mungkin saja dengan menangis dapat membuat Isya menjadi lebih baik dan lebih lega setelah mengalami kejadian tadi. Sampai akhirnya bel masuk pun berbunyi pertanda istirahat telah berakhir, Ratna pun kembali memanggil-manggil Isya dan memberitahukan jika bel masuk sudah berbunyi.


Sementara itu Isya yang berada di dalam toilet pun segera menghapus air matanya. Lalu ia pun keluar setelah mematikan kran air yang tadi dinyalakanya.


Begitu membuka pintu toilet, Isya langsung melihat Ratna yang sedari tadi menunggunya di luar. Ratna pun langsung memeluk Isya dan tak lupa ia mengucapkan kata-kata penyemangat untuk Isya. Ia yakin jika temannya itu akan kuat menghadapi kenyataan yang ada. Isya pun hanya bisa membalas pelukan dari Ratna dan menganggukkan kepalanya saja tanpa bisa lagi berkata apapun.


Setelah merapikan penampilannya yang tadi sempat semrawut serta tak ada lagi sisa-sisa air mata di wajah Isya, mereka pun langsung sama-sama pergi ke kelas karena sangat kebetulan sekali kalau mereka satu kelas.


Isya merasa beruntung sekali karena di saat-saat seperti ini ia mempunyai Ratna. Walaupun mereka baru kenal semenjak Isya bersekolah di Aliyah tidak seperti dengan Desy yang dikenalnya sejak kecil, tetapi hubungan mereka cukup dekat dan cukup akrab. Dan sepertinya setelah ini hubungan mereka akan semakin dekat lagi.

__ADS_1


"Rat, makasih ya kamu sudah mau nemenin aku, makasih juga sudah mau ngasih tau aku," ucap Isya.


"Iya sama-sama, Sya. Sudah seharusnya memang begitu. Aku yakin kok kamu kuat," sahut Ratna.


"Ehm menurutmu Abri sebelumnya sudah tau nggak ya soal ini, secara dia kan saudara angkat Ramli terus mereka juga satu rumah," tanya Isya.


"Nah itu mangka aku nggak tau, Sya. Orang aku juga baru tau kalau Desy sama Ramli punya hubungan. Kayaknya mereka pintar banget nyembunyiin hubungan mereka. Ada kemungkinan sih kalau Abri nggak tau, tapi ada kemungkinan juga Abri tahu soalnya dia kan satu rumah sama Ramli," jawab Ratna apa adanya. Tetapi menurut Isya Abri sudah tau sebelumnya, karena kemungkinannya lebih besar.


Tak terasa Isya dan Ratna pun sampai juga di kelas mereka. Beruntung guru mereka belum datang sehingga mereka bisa sedikit lega, karena tadi sudah hampir terlambat.


Akhirnya sekolah hari ini telah usai seiring dengan suara bel yang berbunyi. Semua siswa di sekolah Isya bergegas untuk pulang. Entah mengapa bagi mereka mendengar suara bel pulang itu senangnya seperti mendengar pengumuman pembagian uang saja. Semua sangat bersemangat untuk pulang, saling balapan untuk keluar kelas, bahkan tak jarang ada aksi saling dorong. Padahal pintu gerbang sekolah itu pun takkan lari meskipun mereka mengejarnya.


Namun kali ini ada yang berbeda dari biasanya. Isya yang biasanya juga sama bersemangatnya seperti teman-temannya kali ini tampak lesu tak bergairah, seakan-akan telah hilang semangat dalam hidupnya. Bukan tanpa alasan ia tak ikut teman-temannya untuk balap-balapan keluar kelas, karena ia memang sedang menghindari sesuatu. Ia tak ingin bertemu atau melihat Desy yang sudah pasti akan ia lalui kelasnya jika pulang. Juga ia tak ingin bertemu dengan Ramli di parkiran motor. Jadi ia lebih memilih untuk tidak dulu beranjak dari bangkunya sampai keadaan sepi.


Ratna yang melihat Isya tak beranjak dari duduknya pun ikut-ikutan tak keluar kelas.

__ADS_1


"Kamu kenapa, kok masih duduk aja, Sya?" tanya Ratna.


"Nggak papa, sengaja tunggu sepi aja," sahut Isya.


"Pasti kamu nggak mau kalau sampai ketemu sama mereka ya?" tebak Ratna dan Isya hanya mengangguk.


"Ya udah deh, aku temani kamu sampai sepi. Dari pada kamu sendirian, aku malah khawatir sama kamu," lanjut Ratna.


"Nggak papa kok, Rat. Kamu kalau mau pulang duluan pulang aja," ucap Isya.


Tetapi Ratna tidak beranjak juga dari duduknya. Ia tetap kekeh ingin menemani Isya sampai sekolah menjadi sepi. Baru ia akan keluar bersama-sama dengan Isya.


Sementara itu, Abri pun tak jauh berbeda dari Isya, hanya saja tak sampai keadaan menjadi sepi. Ia membiarkan Ramli untuk keluar dan pulang terlebih dahulu. Setelah Ramli keluar beberapa menit, ia pun keluar juga. Sebenarnya ia teringin sekali mendatangi Isya dan berbicara dengannya tentang masalahnya dengan Ramli dan Desy. Atau hanya sekedar meminta maaf karena Ramli telah menyakitinya. Tapi ia ragu, apakah Isya bersedia bila diajak bicara olehnya mengingat tadi saja ia begitu sinis saat melihatnya. Entah apa yang dipikirkan Isya tentangnya sampai-sampai ia sebegitu sinisnya saat melihat dirinya. Abri masih menduga jika Isya begitu karena Ramli yang masih saudara angkatnya, atau karena Isya mengira kalau dia telah mengetahui masalah ini sebelumnya dan menyembunyikan dari Isya.


Abri pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja dulu. Ia hendak memberikan waktu buat Isya agar ia bisa lebih tenang sehingga mudah untuk diajak bicara nantinya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju parkiran.

__ADS_1


Sementara itu Isya dan Ratna masih berada di dalam kelas mereka. Isya masih belum ingin keluar. Untuk menghilangkan kebosanan mereka pun sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tak terasa sudah 30 menit berlalu setelah bel pulang berbunyi. Mereka pun akhirnya pulang setelah dirasa cukup sunyi, hanya tinggal guru-guru dan pegawai sekolah yang tersisa di sana. Isya dan Ratna pun menuju pada motor mereka masing-masing dan kemudian pulang. Sebelum pulang Isya pun berterima kasih kembali pada Ratna karena telah mau repot-repot untuk menemani dirinya. Dan Ratna pun berkata kalau Isya tak perlu harus selalu berterima kasih padanya. Karena hal yang dilakukannya masih terbilang sangat wajar.


__ADS_2