Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Jurit Malam 3


__ADS_3

Selama perjalanan Ibnu merasa sangat gelisah karena dia masih harus menahan buang air kecilnya.


"Kak Ibnu, kakak kenapa? Kok dari tadi kayaknya jalannya nggak tenang, kelihatan gelisah banget," tanya salah satu adik penggalang yang berjalan di belakangnya.


"Eh nggak, enggak papa kok," sahut Ibnu.


"Duh masih jauh lagi sampe ke SMP, bisa- bisa bocor ini," ucap Ibnu dalam hati.


"Eh nanti di pos depan kita istirahat dulu ya!" ucap Ibnu memberitahu adik-adik penggalang yang berada di regunya.


"Siap, Kak," sahut mereka.


Akhirnya mereka sampai di pos depan yg tidak jauh dari kuburan. Ibnu bermaksud ingin buang air kecil di sana.


"Waduh kenapa juga posnya ini di bikin dekat kuburan sih, mana mau pi*is lagi, tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak di buang bisa bocor di celana," batin Ibnu. Dan setelahnya dia berpamitan pada adik-adik penggalangnya untuk mencari sesuatu.


Setelah mendapat tempat yang pas, dia tidak lagi menunda-nunda untuk buang air. Saat dia akan melepas kancing celananya tiba-tiba saja ada yang menggawil-gawil lengannya. Ibnu yang terlalu fokus tidak terlalu menghiraukan ada sesuatu yang menggawil lengannya, hingga ia mendengar suara desisan.


"Ssttt, ssttt, ssttt,"


"Apaan sih, bentar dulu, Kakak masih mau pi*is nih, dari tadi sudah nggak tahan," ucap Ibnu yang mengira kalau yang sedari tadi menggawilnya lengannya adalah adik penggalangnya. Tetapi suara desisan itu tetap saja ada dan intensitas gawilannya semakin sering membuat Ibnu merasa terganggu, dan dia pun akhirnya menoleh ke sumber suara, begitu menoleh dia dikejutkan dengan penampakan seseorang yang memakai seperti baju panjang berwarna putih dan berambut panjang, tapi kali ini dia tidak histeris seperti tadi, pasalnya dia mengira kalau itu adalah salah satu temannya yang ditugasi untuk memberikan hantu bohongan. Seketika ia pun tertawa.


"Ha ha ha, kamu kira aku takut, kalau mau nakuti jangan aku dong, kan aku yang punya ide, masa aku juga yang di takuti, kalau mau ganggu, ganggu mereka aja tuh sana!" ucap Ibnu sambil menunjuk ke arah adik-adik penggalang asuhannya. Tetapi yang diajak bicara malah diam saja sambil terus menatap Ibnu. Saat Ibnu akan membuang hajatnya yang sempat tertunda karena ada yang menggawilnya, tiba-tiba suara tawa khas kuntilanak keluar dari sosok yang menggawilnya tadi, membuat Ibnu terlonjak kaget, dan seketika dia langsung mengamati sosok di sampingnya dari kepala sampai ujung kaki,dan betapa terkejutnya dia mendapati jika kaki dari sosok yang ia kira adalah temannya itu tak menyentuh tanah, sontak Ibnu pun berteriak histeris dan lari terbirit-birit hingga tak di sadarinya kalau ia telah buang air kecil di celana, membuat adik-adik penggalang asuhannya terlonjak kaget. Nasib naas ketika hendak sampai di dekat pos di mana adik-adik penggalangnya berada, tanpa disengaja kaki Ibnu menyandung kayu hingga membuatnya terjatuh dan tak sadarkan diri.


Tentu saja kejadian ini membuat adik-adik penggalang asuhannya bingung harus bagaimana. Akhirnya mereka berinisiatif memanggil Dani yang berada di depan regu mereka, tetapi karena regu Dani sudah berjalan sedari tadi membuat mereka harus berlari-larian mengejarnya hingga sampailah mereka pada Dani dan langsung memberitahukan soal kejadian tadi.


"Apa? Ibnu pingsan!" ucap Dani kaget. Dan dia pun segera menghubungi Ramli dan Abri yang berada di belakang regu Ibnu. Mereka pun langsung bergegas menuju ke tempat di mana Ibnu pingsan tadi bersama dengan regu yang mereka dampingi karena tak mungkin mereka meninggalkan tanggung jawab begitu saja dengan membiarkan adik-adik penggalang mereka berjalan sendiri.


"Ini gimana ceritanya sampai Ibnu bisa pingsan begini?" tanya Abri sembari memeriksa denyut nadi Ibnu yang ternyata masih ada.


"Tadi itu kan kami disuruh Kak Ibnu istirahat dulu di sini, terus Kak Ibnunya pamitan katanya mau cari sesuatu tapi nggak tau apa, terus nggak lama dia lari kenceng banget sambil teriak-teriak sampai kemudian dia jatuh mungkin tersandung kayu itu terus pingsan," jelas salah satu adik penggalang seraya menunjuk kayu yang melintang di sana.

__ADS_1


"Iya, Kak. Terus ini kayanya Kak Ibnu sampai terke*nc*ng-k*nc*ng di celana deh soalnya celananya basah. Coba lihat deh, Kak!" jelas adik penggalang yang lain.


Dan benar saja begitu mereka melihat celana Ibnu sudah basah dan bau p*s*ng.


"Kami dari tadi sudah berusaha untuk membangunkan Kak Ibnu tapi nggak berhasil, Kak," jelas adik penggalang yang lain pula.


"Ya sudah sebaiknya kita bawa saja dia pake tandu," ucap Abri yang langsung menghubungi Ramdhan dan Rusdi rekannya sesama penegak untuk membawa tandu ke lokasi di mana Ibnu pingsan.


Setelah tandu tiba, mereka langsung membawa Ibnu menuju lokasi perkemahan.


"Huh, Ibnu-ibnu. Bikin kerjaan aja jadinya," keluh Dani.


"Heh nggak boleh ngomong gitu, Ibnu kan teman kita, kalau misalkan kamu di posisi dia bagaimana? Kamu mau kalau kami tinggalkan di sini aja?" tanya Abri.


"Ih ya nggak mau lah," sahut Dani.


"Ya udah kalau gitu harus ikhlas dong nolongnya," kali ini Ramli yang berbicara.


Mereka pun segera mengangkat Ibnu dan meletakkannya di atas tandu.


"Kalian habis nih lanjutkan aja perjalanannya sesuai rute ya, bentar lagi kan sudah mau nyampe, jadi nanti nggak usah stop di pos lagi, langsung kembali ke SMP aja, sekarang kalian di dampingi sama kak Ramdhan," pesan Abri pada adik-adik penggalangnya sebelum membawa Ibnu.


"Siap, Kak!" sahut mereka kompak.


"Ramdhan, kamu dampingi mereka ya!" ucapnya lagi pada Ramdhan.


"Siap!" sahut Ramdhan.


"Rusdi, kamu bantuin kita ngangkat tandunya!" ucap Abri lagi.


"Ok," sahut Rusdi pula.

__ADS_1


"Lumayan berat juga nih si Ibnu," ucap Ramli setelah setengah jalan mengangkat tandu.


"Baru ngerasa, harus ikhlas lho," ucap Dani seolah mengejek Ramli.


"Iya tau," sahut Ramli.


Abri dan Rusdi hanya menggeleng- geleng saja mendengar ocehan mereka berdua.


Akhirnya mereka berempat sampai juga di SMP, dan langsung di sambut oleh pembina mereka yang sudah mengetahui apa yang terjadi ketika tadi Ramdhan dan Rusdi di beri tahu untuk membawa tandu. Kemudian mereka meletakkan Ibnu di ruang UKS yang memang sengaja tidak dikunci selama perkemahan berlangsung.


Mereka masih berusaha untuk membangunkan Ibnu, mulai dari menepuk pipi, memberi minyak kayu putih di hidungnya, sampai memencet-mencet hidungnya.


"Kalau belum sadar juga bagaimana Kak? Apa kita bawa ke Puskesmas saja?" tanya Abri pada kakak pembina mereka.


"Ya mau tidak mau, kita nggak mau terjadi apa-apa sama dia," ucap pembina mereka.


"Aha, sepertinya aku punya ide supaya Ibnu bangun," ucap Dani seraya melepas sepatu dan membuka kaus kakinya, seketika mereka semua langsung menutup hidung karena bau busuk yang berasal dari kaus kaki Dani.


"Buset, itu kaus kaki sudah berapa abad nggak di cuci, Dan?" tanya Abri yang suaranya terdengar bindeng karena masih menutup hidungnya saat berbicara.


"Ha ha ha, lupa. Mungkin dua bulan," sahut Dani enteng.


"Terus kamu mau bangunin dia pakai itu?" tanya pembina mereka.


" Iya, Kak. Namanya juga usaha, siapa tahu berhasil," sahut Dani.


"Ya udah deh terserah kamu aja, tapi kalau dia nanti marah kamu tanggung jawab ya!" ucap pembinanya lagi.


"Siap," sahut Dani.


Dani pun segera mendekati Ibnu dan meletakkan kaus kakinya tepat di depan hidung Ibnu. Mereka pun sama-sama menunggu reaksi dari Ibnu, apakah tindakan Dani berhasil atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2