
Tak berapa lama, Ramli mengajak Abri untuk pulang. Sebenarnya Abri masih belum mau pulang, dia masih ingin berlama-lama berada di sini untuk melepaskan kerinduannya pada Diana, apalagi esok Diana sudah balik lagi ke Samarinda, dan 2 minggu berikutnya lagi baru akan pulang ke sini.
Tetapi Ramli terus saja mendesaknya seperti anak kecil yang sudah bosan bila diajak jalan. Abri pun merasa tak nyaman bila terus didesak seperti itu. Alhasil Abri pun mengalah dan mereka akhirnya pulang setelah berpamitan dengan Diana dan keluarganya.
Setelah Abri dan Ramli pulang, Isya bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara itu Diana pun langsung membawa gelas kotor ke cucian piring dan mencucinya. Kemudian ia pun membersihkan dirinya setelah Isya keluar dari kamar mandi.
Malam hari selepas salat Isya Diana berpamitan untuk tidur karena esok dia harus bangun pagi-pagi untuk pergi ke Samarinda dengan angkot pertama sekitar jam setengah enam pagi, agar dia bisa tepat waktu sampai di sekolahnya.
Sebenarnya itu hanya alasannya saja, karena dia ingin menghubungi Abri untuk menanyakan masalah tadi. Bagaimana ceritanya sampai mereka bisa datang ke rumahnya padahal sebelumnya Abri memberikan kabar bahwa Ramli akan pergi ke rumah Desy dan mereka akan pergi jalan.
Diana yang penasaran pun akhirnya mengirim pesan pada Abri.
"Assalamualaikum, Mas. Lagi sibukkah?" tanya Diana sebelum bertanya ke inti masalahnya. Dia memastikan dulu apakah Abri sedang sibuk atau tidak agar Diana tidak merasa mengganggu bila Abri sedang sibuk.
1 menit
5 menit
__ADS_1
15 menit
Lama Diana menunggu balasan dari Abri, tapi pesannya tak jua kunjung dibaca oleh Abri. Diana pun memilih untuk mengambil buku diarynya dan mulai menulis sembari menunggu pesan balasan dari Abri.
Sampai dia selesai menulis pun Abri belum juga membalas pesannya. Diana berpikir mungkin Abri sedang sibuk saat ini jadi belum sempat membaca pesan darinya yang sudah ia kirimkan 1 jam yang lalu.
Sementara itu di tempat lain, terlihat Abri sedang sibuk mengerjakan tugas pelajaran Penjas yang disuruh membuat kliping tentang persepak bolaan Indonesia di ruang tengah rumahnya. Sementara ponselnya berada di kamar sedang di charger. Sehingga Abri tidak mengetahui jika Diana telah mengiriminya pesan sedari tadi dan sedang menunggu balasan darinya.
Sekitar jam setengah sepuluh malam Abri baru selesai mengerjakan tugas membuat klipingnya. Dan ia pun segera membereskan semua peralatan dan sisa bahan-bahan yang digunakannya untuk membuat kliping tadi. Setelahnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar dan beristirahat.
Setelah sesampainya di kamar, Abri pun langsung mengecek baterai ponselnya, ternyata baterainya sudah penuh. Ia pun melepaskan ponselnya dari charger dan mencabut colokan listriknya.
Ia pun segera membuka pesan dari Diana dan membaca kemudian membalasnya.
"Wa'alaikumsalamsalam, Di. Maaf baru balas, soalnya tadi Mas lagi ngerjai tugas sekolah terus HP dicharger di kamar. Jadi nggak tahu kalau ada pesan," balas Abri.
Sementara itu Diana yang sudah hendak tidur, kembali membuka matanya setelah mendengar ada notifikasi di ponselnya. Ia pun segera meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Kemudian ia membuka aplikasi berwarna hijau itu dan melihat jika Abri sudah membalas pesannya. Dan ternyata dugaannya benar bahwa Abri memang sibuk tadi sehingga tidak membaca pesannya pikir Diana.
__ADS_1
Diana pun segera membalas pesan dari Abri.
"Iya nggak papa, Mas. Cuma mau tanya aja, itu tadi gimana ceritanya kok akhirnya Mas sama Kak Ramli bisa sampai ke rumah, padahal tadi Mas Abri bilang kalau Kak Ramli lagi janjian sama Desy?" Diana langsung bertanya ke intinya saja karena sudah penasaran dari tadi.
Kemudian Abri di seberang sana pun langsung membalas pesan dari Diana dengan menceritakan semua kejadian mulai dari rumahnya sebelum ia ikut dengan Ramli sampai akhirnya bisa beralih tujuan dari rumah Dani menuju ke rumah Diana. Tak lupa ia pun menceritakan bagaimana ekspresi Ramli saat itu. Ia pun memberikan screenshoot percakapan antara Ramli dan Desy yang berisi tentang kemarahan Desy karena Ramli telah membatalkan rencana mereka. Dan menuduh Ramli membohonginya karena Ramli ingin pergi menemui Isya. Tetapi Abri tidak tahu-menahu soal Desy yang tiba-tiba saja datang ke rumah Diana. Dan Diana pun menerka jika Desy tiba-tiba ada di rumahnya lantaran ingin membuktikan tuduhannya terhadap Ramli tadi apakah benar atau tidak. Dan ternyata secara kebetulan Ramli sedang berada di rumah Isya saat Desy telah sampai di sana.
Abri pun membalas dengan mengetik, "Suatu kebetulan yang menyakitkan untuk Desy." Mereka pun tertawa bersama.
Diana pun bertanya bagaimana kondisi terkini dari Ramli dan Desy pasca pertemuan mereka yang kebetulan tadi di rumah Diana.
Dan Abri pun membalas dengan mengirimkan screenshot percakapan mereka yang berisi bahwa Desy benar-benar marah pada Ramli karena telah terbukti membohonginya, dan Ramli yang tengah berusaha membujuk Desy agar percaya dengan penjelasannya. Tetapi Desy tetap tidak mau tahu dan sekarang sepertinya masih ngambek.
Diana pun bertambah terbahak membaca screenshot dari Abri. Bukan karena ia suka tertawa di atas penderitaan orang lain tetapi karena ia merasa bahwa Desy dan Ramli pantas mendapatkan semua itu. Terlebih lagi Desy yang telah mengkhianati kakaknya itu. Ini sih belum seberapa bila dibandingkan dengan perlakuan mereka yang sering membohongi Isya. Bayangkan bagaimana dengan perasaan Isya jika ia sampai mengetahui perbuatan mereka padanya.
Diana pun berpesan pada Abri agar selalu memberinya kabar terbaru tentang penyelidikannya. Dan Abri pun mengiyakan permintaan dari Diana tersebut. Kemudian Diana berterima kasih kepada Abri sebelum ia mengakhiri sesi chat mereka kali ini.
Setelah selesai mengirimkan pesan terakhir pada Abri, Diana pun bergegas untuk tidur. Tetapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Diana. Ia mengkhawatirkan Isya, apa yang akan ia lakukan setelah mengetahui pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Ia tahu karakter dari kakaknya itu bila telah sakit hati. Ia berharap agar Isya tidak melakukan sesuatu hal yang di luar batas kewajaran.
__ADS_1
Denting jam dinding di rumah Diana membuyarkan lamunan Diana. Kemudian Diana pun menghitung berapa kali denting jam tersebut. Dan betapa terkejutnya Diana setelah mengetahui bahwa waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Ia pun segera memejamkan matanya untuk tidur. Dan ia berharap agar esok tak bangun kesiangan karena ia sendiri sudah terlambat tidur. Tak lupa ia pun menyetel alarm di ponselnya tepat jam setengah lima pagi agar ia tak terlambat bangun esok hari dan tak terlambat sampai di sekolahnya.