
Abri masih merasa bingung apakah akan menyetujui untuk bernyanyi atau tidak. Jika setuju bernyanyi, dia tidak tahu lagu apa yang akan dipilihnya untuk bernyanyi.
"Jadi gimana ini, mau nyanyi lagu apa Kak Abri?" tanya pembawa acara lagi yang membuat Abri tersadar. Lalu seketika ia mempunyai ide untuk memanggil Ramli guna menemaninya bernyanyi di sana.
Dan dia pun langsung memberitahukan kepada pembawa acara akan idenya itu dengan membisikkannya lagi. Tentu saja pembawa acara tersebut langsung tersenyum dan segera memanggil Ramli untuk maju ke depan juga.
Ketika Abri membisikkan sesuatu ke telinga si pembawa acara, sebenarnya Ramli sudah mencurigai sesuatu, karena pandangan mereka berdua saat berbisik tertuju pada dirinya. Dan tak lama si pembawa acara pun memanggil namanya yang langsung ditanggapinya dengan menepuk jidatnya sendiri, sontak saja aksinya itu membuat semua yang ada di sana tertawa.
"Waduh apalagi ini, si Abri pakai acara panggil-panggil namaku segala lagi," omel Ramli.
"Kak Ramli, Kak Ramli, Kak Ramli," riuh suara orang yang ada di sana memanggil namanya.
"Ui, Ram, maju sudah sana!" teriak Dani yang posisinya agak jauh dari Ramli membuat Ramli menoleh kepadanya. Dan seketika itu juga muncullah ide brilian di kepalanya, bahwa dia juga akan memanggil teman-temannya untuk maju ke depan guna menemaninya dan Abri bernyanyi.
"Ok, kamu tunggu giliran ya, Dan," ucap Ramli, dan ia pun langsung beranjak ke depan.
Sementara itu Dani dan Ibnu sudah tertawa melihat dua temannya yang sudah ada di depan untuk bernyanyi. Tentu saja ucapan Ramli tadi tidak didengarnya.
"Woi, kamu ngapain pake acara panggil-panggil aku segala sih?" bisik Ramli pada Abri setelah dia berada tepat di sebelah Abri.
"Sengaja biar aku nggak sendirian nyanyi di sini," jawab Abri sambil berbisik pula.
"Lha aku kan nggak bisa nyanyi, Bri," kata Ramli.
"Bodo amat, yang penting aku ada temannya," sahut Abri.
"Jadi sudah apa belum diskusinya ini, Kak Abri dan kak Ramli?" tanya pembawa acara pada keduanya.
"Sebentar, saya mau memanggil teman saya dulu yang namanya Dani dan Ibnu untuk maju ke sini juga," ucap Ramli tanpa meminta persetujuan dari Abri dulu, karena dia yakin Abri tak keberatan dan dia juga pasti senang akan idenya itu.
__ADS_1
Dani dan Ibnu yang sedari tadi tertawa seketika kaget saat nama mereka berdua dipanggil juga untuk maju ke depan. Mereka pun langsung terdiam dan saling melempar pandang.
"Baiklah, untuk Kak Dani dan Kak Ibnu diharapkan segera maju ke depan juga ya," ucap pembawa acara.
"Kak Dani, Kak Ibnu, Kak Dani, Kak Ibnu," kali ini nama mereka yang disorakkan.
"Gimana nih, Nu?" tanya Dani.
"Ya gimana lagi, ayo maju!" sahut Ibnu santai.
"Kok kamu santai bener sih Nu?" tanya Dani.
"Orang ganteng memang seperti itu, selalu dicari, jadi ya santai aja," sahut Ibnu.
"Halah gayamu," ucap Dani. Dan mereka akhirnya maju juga ke depan menyusul Abri dan Ramli yang sudah menunggu mereka.
Sementara itu di bagian cewek-cewek tempat Diana duduk, mereka sudah pada heboh melihat keempat orang temannya itu sudah ada di depan, mereka tak membayangkan gimana mereka nanti bernyanyi, kalau Abri sih sudah tidak diragukan lagi suaranya, tapi kalau yang lain sudah pasti tidak diragukan juga, tetapi bukan suara merdu mereka, melainkan suara kaleng pecah mereka.
"Ih kok gitu sih, suara dia lumayan kok," bela Isya.
"Iya lumayan hancurnya," sahut yang lain pula, dan mereka tambah tertawa.
Sementara itu di depan sana, tampak mereka berempat sedang berdiskusi, Dani yang sempat protes kenapa namanya dipanggil juga pun akhirnya mau diajak bernyanyi.
Selama mereka berdiskusi, si pembawa acara melanjutkan ocehannya yang receh guna menghibur semua orang yang ada di sana. "Ya tampaknya mereka akan membentuk sebuah grup vokal setelah acara ini ya, dari tampilannya saja mereka sudah seperti boy band ya teman-teman, ini sudah seperti F4 versi KW tapinya," ucap pembawa acara yang tentu saja mengundang tawa semua orang yang ada di sana.
"Bagaimana dengan diskusinya ini, Kakak semua? Apakah sudah selesai atau belum?" tanya si pembawa acara. "Kalau belum saya mau rebahan dulu di tenda, soalnya udah pegel ini berdiri dari tadi," imbuhnya lagi.
"Sudah kok," sahut Abri, Ramli, Dani dan Ibnu kompak.
__ADS_1
"Oh Alhamdulillah, nggak jadi rebahan deh saya kalau gitu ya," ucap pembawa acara.
Setelah mereka berdiskusi, akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa mereka akan menyanyikan sebuah lagu dari salah satu grup band ternama tanah air yang berjudul Sem*urna, dengan diiringi gitar yang akan dimainkan oleh Ramli. Ya karena Ramli menyadari bahwa dia tidak bisa bernyanyi, maka dia menawarkan diri untuk bermain gitar saja mengiringi nyanyian yang akan mereka bawakan nanti. Karena kebetulan juga panitia acara pentas seni memang menyediakan gitar di sana. Dan Ramli pun bergegas mengambil gitar itu dan ketiga temannya mengambil bangku sekolah untuk mereka duduki.
Setelah itu, pembawa acara langsung mempersilahkan mereka untuk unjuk kebolehan. "Kalau begitu untuk mempersingkat waktu, langsung saja kita persilahkan Kakak semua untuk unjuk kebolehan di hadapan kami, Kakak semua tunjukkan pesona kalian!" ucap si pembawa acara yang langsung disambut tepuk tangan oleh semua orang yang ada di sana.
Dan Ramli pun mulai memetik gitarnya, kemudian Abri yang bernyanyi lebih dahulu dan langsung ditepuki tangan dan sorak-sorai dari semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Yanti yang tampak begitu heboh karena tak menyangka kalau suara Abri sebagus itu. Ia berteriak-teriak sama seperti para adik penggalang putri sembari memukul-mukul paha Diana dan sesekali mendorong gemas bahu sepupunya itu. Tentu saja Diana merasa sedikit terganggu dengan tingkah Yanti tersebut.
"Aduh Yanti kamu bisa biasa aja nggak sih, nggak usah heboh banget kayak gitu, sakit semua nih badan aku tau," ucap Diana sedikit kesal.
"Nggak bisa, itu soalnya mamasmu kalau lagi nyanyi kelihatan gimanaaaa gitu, gemesssss," ucap Yanti lebay.
"Ih lebaynya kumat, udah diem! Kalau kamu nontonnya nggak mau diem kita pulang aja sekarang!" ancam Diana, dan Yanti pun terpaksa menurutinya.
Selama bernyanyi, pandangan Abri tak lepas dari Diana. Dia begitu menjiwai ketika menyanyikan lagu itu, seakan-akan dia meluapkan isi hatinya pada Diana melalui lagu yang dinyanyikannya itu, sedangkan Diana tidak mengetahui jika di dalam hati Abri lagu itu dikhususkan untuk dirinya. Sementara Yanti yang sedari tadi fokus melihat Abri menyanyi mengetahui jika pandangan mata Abri tak pernah lepas dari Diana, yang membuat dirinya yakin bahwa Abri memang benar-benar menyukai sepupunya itu.
"Di, lihat deh! Itu kayaknya mamasmu itu dari tadi ngelihati kamu terus sambil nyanyi, ooooh so sweetnya, kamu pasti meleleh ya dilihati kayak gitu sambil nyanyi pula," ucap Yanti yang sedikit berbisik tepat di telinga Diana.
"Kamu salah lihat kali Yan, Mas Abri nggak ngelihati aku, mungkin aja ngelihati yang lain, secara kan di sini banyak orang, cewek-cewek semua lagi," sanggah Diana.
"Nggak, Di. Aku yakin dia lagi lihatin kamu," sahut Yanti lagi.
"Ya, terserah kamu aja deh, Yan. Asal kau bahagia," ucap Diana.
"Kamu lagi request lagu atau apa nih?" tanya Yanti. "Kok kata-katamu kayak judul lagu," imbuhnya lagi yang ditanggapi Diana dengan memutar bola mata malas.
"Terserah kamulah, Yan. Pusing aku," Jawab Diana.
"Ha ha ha," Yanti pun tertawa.
__ADS_1
Di saat Diana dan Yanti membahas siapa yang dilihati Abri, yang lain pada asik menikmati Abri dan kawan-kawannya bernyanyi. Sampai-sampai mereka pun ikut bernyanyi pula. Karena lagu itu cukup populer, maka hampir semua yang ada di sana mengetahui lirik dari lagu tersebut. Mereka ikut bernyanyi hingga akhir lagu itu dinyanyikan. Tentu saja hal ini membuat Dani dan Ibnu sangat di diuntungkan, karena sedari tadi mereka hanya sebagai pelengkap saja menemani Abri menyanyi, tanpa pernah menyanyi sendiri. Hal ini sudah mereka diskusikan tadi sebelum bernyanyi, bahwa Dani dan Ibnu mau di sana asalkan mereka tidak menyanyi bergantian layaknya boy band, mereka hanya sebagai pelengkap saja, hanya bibir mereka saja yang komat-kamit padahal sebenarnya tidak bernyanyi sama sekali. Dan Abri pun menyetujuinya, menurut Abri yang penting dia tidak sendiri di sana.
Akhirnya selesai juga acara menyanyi dadakan oleh Abri dan kawan-kawannya yang diakhiri dengan tepuk tangan oleh seluruh orang yang ada di sana. Mereka merasa puas dengan aksi dari Abri dan kawan-kawannya, karena aksi mereka sudah seperti layaknya konser mini seperti yang diucapkan oleh pembawa acara tadi.