Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Kebenaran yang Menyakitkan


__ADS_3

Keesokan harinya setelah mandi pagi, Abri bersiap-siap menuju meja makan untuk sarapan. Di sana sudah tampak kedua orang tua Abri. Abri pun langsung duduk di bangkunya dan mengambil sarapannya.


Pagi ini wajah Abri terlihat kusut tak bersemangat yang membuat ibunya heran. Tak lama Ramli pun datang menyusul ke meja makan untuk sarapan juga. Wajah Ramli pun tak jauh berbeda dengan Abri yang membuat ibu mereka bertambah heran karena tidak biasanya anak-anaknya menampilkan wajah seperti itu. Ibunya pun kemudian bertanya pada Abri dan Ramli, beliau mencurigai kalau mereka sedang bertengkar saat ini.


"Wajah kalian kenapa? Kok masih pagi sudah sama-sama ditekuk kaya gitu?" tanya ibu mereka.


"Nggak papa, Bu," ucap mereka kompak kemudian saling melihat satu sama lain.


"Kalian bertengkar?" tanya ibunya lagi seakan tak percaya akan jawaban dari kedua anaknya itu.


"Nggak, Bu," entah mengapa kali ini mereka kompak lagi menjawab.


"Halah paling-paling nggak jauh-jauh sama urusan cewek, Bu," kali ini ayah Abri yang menimpali.


"Ayah ini sok tau. Ya udah kalau ada masalah tuh cepat diselesaikan jangan sampai berlarut-larut!" titah ibu mereka.


Setelahnya Abri berpamitan untuk pergi ke sekolah. Abri memilih untuk jalan terlebih dahulu dan segera melajukan motornya menuju ke sekolah. Setelah Abri pergi, tak lama Ramli pun berpamitan juga pada ibu dan ayahnya dan segera pergi menuju sekolahnya juga.


Ramli merasa jika Abri masih benar-benar marah padanya. Nyatanya Abri berangkat terlebih dahulu ke sekolah tak menunggunya pergi bersama seperti biasanya.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah, Abri sudah berada di bangkunya ketika Ramli baru sampai di kelas mereka. Abri berpura-pura sibuk dengan ponselnya, dia tak menghiraukan kehadiran Ramli yg sudah duduk di sebelahnya.


Tak lama bel pun berbunyi tanda masuk kelas. Selama pelajaran berlangsung, Abri tak melihat bahkan melirik sedikit pun pada Ramli. Ia tampak fokus pada pelajaran yang disampaikan oleh gurunya walaupun sebenarnya pelajaran yang dijelaskan oleh gurunya itu tak masuk sedikit pun di otaknya. Hal itu disebabkan karena dia yang masih merasa kesal dengan Ramli sehingga membuat pikirannya bercabang ke mana-mana.


Akhirnya bel istirahat pun berbunyi, pelajaran yang sangat membosankan bagi Abri itu pun berakhir. Dia tidak beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk berdiam diri di dalam kelas saja.


"Kamu nggak ke kantin?" akhirnya suara itu keluar juga dari mulut Ramli yang bertanya pada Abri.


"Nggak, lagi malas," sahut Abri, tetapi pandangan matanya tak tertuju pada Ramli.


"Oh, ya udah. Apa ada yang mau dititip?" tanya Ramli lagi dan Abri hanya menggelengkan kepalanya saja, dia malas untuk menyahuti Ramli. Ramli pun akhirnya keluar kelas sendiri saja.


Tanpa mereka ketahui saat Ramli menarik tangan Desy tadi, salah satu teman Desy dan Isya yang bernama Ratna melihat kejadian itu dari kejauhan. Ia mencurigai sesuatu, sepertinya ada yang tak beres pikirnya. Untuk apa Ramli menarik tangan Desy dan membawanya pergi, sementara Ramli itu adalah pacarnya Isya. Dan Desy sendiri adalah sahabat terbaik dari Isya. Karena curiga ia pun membuntuti mereka berdua dan tak lupa ia pun memberitahu Isya agar segera menyusulnya ke tempat yang telah di beritahukannya.


Sementara itu Isya yang kebetulan berada di kantin merasa kaget karena tiba-tiba Ratna menelponnya dan memberitahukan sesuatu yang membuatnya bingung. Jantungnya langsung berdebar-debar tak karuan begitu mendengar Ratna memberitahukannya soal Ramli yang menarik tangan Desy dan membawanya pergi. Sebenarnya banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Ratna, tetapi Ratna menyuruhnya untuk segera datang saja dari pada bertanya-tanya padanya karena hanya akan membuang waktu saja.


Isya pun segera berlari secepat kilat yang ia bisa agar cepat sampai ke lokasi kejadian yang sudah diberitahukan oleh Ratna tadi. Akhirnya dengan nafas yang tersengal-sengal dan ritme jantung yang sudah tidak karuan, Isya pun sampai ke lokasi kejadian dan orang yang pertama kali dilihatnya adalah Ratna. Ratna pun memberi kode pada Isya dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya agar Isya tak berisik. Dan Isya pun mengangguk setuju.


Ratna pun memberitahu jika Ramli dan Desy berada di belakang kelas 10, dengan perlahan mereka menuju ke sana. Mereka pun masih mengendap-endap agar tak ketahuan oleh Ramli dan Desy.

__ADS_1


Awalnya Isya tak percaya saat Ratna memberitahukannya. Tetapi setelah mengintip dari balik tembok dan mendengar suara yang jelas-jelas ia kenali bahwa suara itu adalah suara dua orang terdekatnya yaitu kekasih dan sahabatnya sendiri, barulah ia percaya. Isya pun langsung menutup mulutnya dengan satu tangan dan tangannya yang lain memegang dadanya yang terasa begitu sesak saat mendengar percakapan mereka berdua. Terdengar begitu jelas di telinganya jika Ramli berusaha membujuk Desy agar mereka tetap bersama dan berharap agar Desy bersabar sebentar lagi sampai ia benar-benar memutuskan Isya.


"Des, kumohon bersabarlah sebentar lagi. Aku pasti akan mutusin Isya," ucap Ramli sambil menggenggam kedua tangan Desy.


"Sampai kapan aku harus bersabar? Aku sudah capek selama ini harus berpura-pura di depan Isya, aku capek kalau harus sembunyi-sembunyi terus kaya gini, Ram!" ucap Desy.


"Sabar dong, Sayang! Aku janji aku bakalan putusin dia tapi nggak sekarang. Aku harus cari cara agar putusnya aku sama dia itu kesannya alami karena memang kami yang sudah nggak cocok. Bukan karena aku yang mengkhianati dia. Dan kamu juga nggak di cap sebagai pelakor. Tapi kamu juga janji jangan putusin aku, aku nggak mau kehilangan kamu, Des," jawab Ramli panjang kali lebar kali tinggi pula agar Desy mau mengerti dan menuruti permintaannya itu yang terkesan licik dan sangat egois tanpa memikirkan perasaan Isya yang pernah mengisi hari-harinya dulu.


Mendengar Ramli memanggil sayang pada Desy membuat Isya menjadi geram, hatinya berdesir seperti ada yang menyayat-nyayat. Rasanya sakit seperti di tusuk sembilu, dihunus beribu-ribu pedang. Inikah yang namanya sakit tapi tak berdarah pikir Isya. Ia sungguh tak pernah membayangkan jika hal seperti ini akan terjadi pada dirinya. Kekasih yang dia kira benar-benar mencintainya kini malah mengkhianatinya. Bukan dengan gadis lain, melainkan dengan sahabatnya sendiri yang tentu saja semakin menambah luka di hati Isya. Ia pun tak menyangka jika Desy sahabat sedari kecilnya itu yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri mampu menusuknya dari belakang seperti ini. Sungguh perbuatan mereka berdua ini sangatlah kejam menurut Isya.


Tak terasa air matanya pun menetes dari kedua matanya membasahi pipinya. Sedangkan Ratna yang sedari tadi memperhatikan reaksi Isya pun langsung mengusap pundak Isya untuk menguatkannya. Ia merasa tak tega melihat Isya seperti itu. Ia yang melihat saja sudah merasakan sakit, apalagi Isya yang mengalaminya sendiri pikir Ratna.


"Mangkanya kamu putusin Isya sekarang juga kalau kamu nggak mau aku mutusin kamu, Ram!" suara Desy yang memaksa Ramli untuk memutuskan hubungannya dengan Isya pun masih terdengar jelas di telinga Isya dan Ratna.


"Kamu tenang aja, Des! Kalau Ramli nggak mau mutusin aku, aku yang akan mutusin dia!" Isya yang sudah tak bisa menahan diri pun akhirnya keluar dari persembunyiannya, dengan berkata keras dan lantang ia meyakinkan Desy agar jangan merasa khawatir dan takut jika Ramli tak mau menuruti permintaannya.


Tentu saja suara Isya yang tiba-tiba terdengar di antara mereka telah membuat Ramli dan Desy terperanjat kaget dan seketika langsung menoleh ke arah sumber suara. Karena tadi posisi mereka membelakangi Isya dan Ratna sehingga mereka tidak mengetahui jika sedari tadi ada dua orang yang telah memperhatikan dan mendengar percakapan mereka.


Setelah melihat siapa yang berbicara tadi, Ramli dan Desy pun langsung membelalakkan kedua mata mereka karena kaget dan spontan langsung berseru, "Isya!"

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2