
Sementara itu Diana, Yanti, dan Nuri masih asik menikmati pertunjukkan seni yang masih berlangsung.
"Nuri, kamu belum ngantuk?" tanya Diana pada adiknya.
"Belum, Kak," sahut Nuri.
"Kalau sudah ngantuk bilang ya, jadi kita pulang," ucap Diana.
Setelah itu, tak lama ada seseorang yang menyerahkan selembar kertas pada pembawa acara pentas seni itu, yang tak lain isinya adalah sebuah permintaan agar memanggil seseorang yang namanya sudah tertulis pada kertas itu untuk menyanyi. Dan pembawa acara itu pun memenuhinya dengan memanggil nama seseorang itu yang tak lain adalah Abri.
"Maaf sebentar, ini saya mendapatkan request dari Adik-adik Penggalang agar memanggilkan salah satu dari Kakak Penegak untuk maju ke sini, dan mereka merequest lagu untuk dinyanyikan oleh Kakak Penegak tersebut," ucap pembawa acara.
Mendengar hal itu, semua rekan-rekan penegak Abri langsung bengong, dan bertanya-tanya siapa yang mempunyai ide itu, dan siapa pula orang yang dimaksud untuk bernyanyi.
"Sebentar saya buka dulu kertasnya ya, bagi Kakak-kakak Penegak jangan tegang dulu ya, santai aja, anggap aja ini konser mini kalian," ucap pembawa acara itu lagi.
"Siapa kira-kira yang dipanggil ya, Dan?" tanya Ibnu pada Dani.
"Meneketehe, mungkin kamu kali," tebak Dani.
"Kok bisa aku?" tanya Ibnu.
"Iya soalnya kan kamu beberapa hari ini lagi naik daun, jadi hot news lah istilahnya gitu," jelas Dani.
"Hot News pala lu peyang," sahut Ibnu.
"Ha ha ha, emang bener kan, kamu jadi topik hangat semenjak kita kemah," ucap Dani.
Ibnu pun langsung meraup wajah Dani. "Memang kamu ni ya, Dan. Kalau ceritanya orang aja diingat terus, nanti kamu ngerasain sendiri," ucap Ibnu sedikit kesal pada Dani karena selalu mengolok-oloknya.
"Iya-iya maaf, jangan disumpahi dong," jawab Dani.
"Tiada maaf bagimu," jawab Ibnu sembari membuang muka ke arah lain.
"Ceile gitu aja merajuk, hilang gantengnya tau," ucap Dani.
"Nggak bakal, soalnya kegantenganku sudah permanen," jawab Ibnu dengan percaya dirinya.
"Iya deh iya percaya," ucap Dani agar Ibnu tak marah lagi.
Tak lama pembawa acara pun akan memanggil nama seseorang yang dimaksud setelah tadi sempat mengulur-ulurkan waktu dengan ocehan tak jelas agar semua orang yang ada di sana penasaran siapa gerangan orang yang dimaksud, tak terkecuali Diana dan orang-orang yang duduk bersamanya.
__ADS_1
"Siap-siap ya yang merasa namanya dipanggil jangan melarikan diri dengan alasan apapun, soalnya kami di sini tidak menerima alasan," kata pembawa acara tersebut.
"Ini namanya terdiri dari empat huruf, hayo siapa ya yang punya nama empat huruf?" tanya pembawa acara yang makin membuat rasa penasaran semua orang.
"Wah kamu itu pasti, Dan," tebak Ibnu.
"Belum tentu juga, bisa aja kamu atau Abri mungkin," sanggah Dani.
Sementara itu Yanti pun didera penasaran.
"Siapa ya kira-kira," tanya Yanti.
"Entahlah," sahut Diana sembari menaikkan kedua pundaknya.
"Sttt, dengarin mangkanya, siapa tahu kamu yang dipanggil," ucap Diana asal.
"Oh ngawur aja, nggak mungkinlah," sahut Yanti.
"Dan orang itu bernamaaaaaaa Abri," kata pembawa acara. Sontak saja membuat rekan-rekan Abri kaget, tak terkecuali Diana dan Yanti. Mereka langsung melebarkan kedua mata mereka dan saling melihat satu sama lain kemudian tertawa kecil.
"Kok bisa sih Mas Abri yang dimaksud tadi, Yan?" tanya Diana.
Diana pun langsung memukul tangan Yanti. "Mulai deh asalnya, kalau di dengar orang nanti gimana? Dikira orang aku bener ada apa-apa sama Mas Abri," sahut Diana sewot.
"Ya nggak apa-apa juga kali," sahut Yanti enteng.
"Kalau misal di sini ada pacarnya dia gimana? Bisa dilabrak aku nanti," bisik Diana dan Yanti langsung melotot.
"Iya juga ya, tapi kayaknya dia nggak punya pacar deh, kalau nggak ngapain dia nawari ngantar kita pulang nanti," sahut Diana dengan asumsinya sendiri.
"Ya mungkin aja, tapi kan nggak menutup kemungkinan kalau ada yang naksir sama dia Yan," sahut Diana, dan Yanti pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
Sementara itu yang punya nama tak kalah kagetnya mendengar namanya dipanggil. Dia pun tak mengerti mengapa dia dipanggil untuk maju karena sedari tadi dia tidak memperhatikan semua ucapan pembawa acara. Dipikirannya masih berkecamuk segala kemungkinan terburuk tentang hubungannya dengan Diana ke depannya, sehingga ia tidak memperhatikan acara pentas seni sejak obrolan seriusnya dengan Ramli tadi. Alhasil dia sekarang bingung kenapa namanya sampai dipanggil.
Kemudian terdengar suara koor dari semua orang yang ada di sana memanggil namanya, terutama dari regu putri.
"Kak Abri, Kak Abri, Kak Abri," ucap mereka kompak.
"Bri, kamu dipanggil suruh maju tuh," kata Ramli.
Seketika Abri menoleh ke arah Ramli dan bertanya, "Disuruh ngapain memangnya? Perasaan aku nggak ada ikut partisipasi ngisi acara pentas seni kok," kata Abri.
__ADS_1
"Memangnya kamu tadi nggak dengerin kata pembawa acaranya?" tanya Ramli.
"Nggak," sahut Abri singkat sembari menggelengkan kepalanya.
"Ayo yang merasa namanya Kak Abri diharapkan agar segera maju ke sini!" ucap pembawa acara sekali lagi.
"Sudah maju aja dulu sana!" titah Ramli.
Akhirnya Abri pun maju meskipun ia tak tahu harus ngapain setelah sampai di sana.
"Kak Abri kan? Bener kan?" tanya pembawa acara setelah Abri sampai di dekatnya, walupun dia sudah mengetahui tapi tetap saja masih bertanya kebenaran namanya.
"Iya bener," sahut Abri.
Kemudian terdengar suara teriakan dari regu putri ketika Abri menjawab pertanyaan dari pembawa acara.
"Waduh, sepertinya fansnya banyak juga nih, sampai-sampai budek kuping saya rasanya dari tadi dengar suara teriakan mereka nih," ucap pembawa acara yang langsung disambut tawa oleh semua orang yang ada di sana.
"Ah nggak ada kok," sahut Abri tapi tidak melihat pada pembawa acara tetapi melihat ke arah Diana. Entah mengapa dia mengkhawatirkan jika Diana sampai berpikiran yang tidak-tidak padanya.
"Ah masa sih, nih buktinya sampai ada yang kirim pesan agar manggil Kakak untuk maju ke sini," sanggah pembawa acara tersebut.
Dan Abri pun hanya tersenyum mendengar penuturan pembawa acara tersebut yang merupakan rekannya sesama penegak.
"Jadi sudah siap atau belum nih?" tanya pembawa acara itu lagi yang membuat Abri bertambah bingung. Kemudian dia membisikkan sesuatu tepat di telinga pembawa acara tersebut yang beruntungnya pria juga, kalau seandainya wanita tentu saja dia tidak berani berbisik seperti itu.
"Aku di sini disuruh ngapain memangnya?" tanya Abri.
Mendengar Abri bertanya seperti itu membuat pembawa acara tersebut langsung tertawa kecil. " Dari tadi kamu nggak dengari aku ngomong apa?" tanyanya sambil berbisik juga tapi tidak tepat di telinga Abri.
"Nggak, aku tadi lagi ke toilet," jawab Abri beralasan, dia tak ingin kalau orang sampai tahu sejak tadi dia tidak fokus karena sedang ada yang dipikirkan.
"Jadi tadi ini ada yang kasih aku kertas nyuruh manggil kamu untuk nyanyi di sini," jelas pembawa acara tersebut, dan tentu saja Abri langsung kaget mendengarnya.
"Apa? Disuruh nyanyi!" ucap Abri kaget, dan pembawa acara langsung tertawa kecil melihat reaksi dari Abri.
"OMG, bagaimana ini?" batin Abri. Kalau seandainya nggak ada Diana mungkin kepercayaan dirinya ada walaupun sedikit, tetapi sekarang ada Diana di sini yang membuat Abri sedikit malu untuk menunjukkan suaranya yang pas-pasan menurutnya, walaupun suaranya termasuk bagus menurut teman-temannya.
"Jadi gimana Kak Abri, apakah sudah siap?" tanya pembawa acara pada Abri yang kali ini tidak dengan berbisik lagi.
Seketika suara pembawa acara membuyarkan lamunan Abri yang masih bingung harus apa. Apakah akan bernyanyi atau tidak.
__ADS_1