
Sepanjang perjalanan dari rumah Diana menuju ke SMP, Abri terus tersenyum lebar. Untung saja tidak ada orang yang berpapasan dengannya, terlebih warga di kampung Diana tidak ada yang mengenalnya. Kalau tidak, sudah pasti dia akan di kira calon penghuni RSJ.
Dia hanya merasa aneh saja dengan sikap sepupu Diana dan Isya itu, apalagi dengan kata-katanya yang terakhir sebelum dia dipaksa masuk ke rumah oleh Diana. Bagaimana bisa Yanti berkata seperti itu, apakah dia bisa membaca pikirannya, atau sikapnya terhadap Diana yang sangat menampakkan perasaannya terhadap gadis itu
Sesampainya di SMP pun Abri masih menampilkan senyum lebarnya, membuat teman-temannya bertanya-tanya ada apa gerangan dengan dirinya.
"Hei dari mana aja kamu, dari tadi diam ditunggui juga?" tanya Dani.
"Iya nih, mana pasang senyum pe*s*d**t lagi sepanjang jalan, ntar dikira calon penghuni RSJ lho kamu, Bri. Senyum-senyum sendiri nggak jelas kayak gitu," ucap Ramli.
"Hus sembarangan aja kamu ini," sahut Abri.
"Pasti ini ada sesuatu yang bikin kamu senyum-senyum sendiri kayak gitu kan?" tebak Dani.
"Ya iyalah sudah pasti, apalagi kalau bukan gara-gara...,"Ramli tidak melanjutkan ucapannya karena sudah di tatap tajam oleh Abri.
Dani yang penasaran pun bertanya pada Ramli, "Gara-gara apa memangnya Ram?"
"Eh enggak, cuma gara-gara kucingnya habis melahirkan tadi, ada yang belang tiga lagi, katanya kan kalau kucing belang tiga bawa hoki," jelas Ramli panjang lebar untuk mengelabui Dani.
"Katanya sih begitu, tapi nggak tau juga apa cuma mitos atau fakta, memangnya bener kalau kucingmu yang baru lahir ada yang belang tiga, Bri?" tanya Dani.
"Eh i-iya bener," ucap Abri gugup, gara-gara Ramli dia harus berbohong begini. Padahal boro-boro punya bayi kucing belang tiga, emaknya kucing saja dia tak punya. Dan Ramli pun terlihat menahan tawanya.
"Ya sudah, ayo kita siap-siap jurit malamnya. Semua sudah disiapkan kan, tanda-tanda dan pertanyaan-pertanyaannya?" tanya Abri pada teman-temannya.
"Sudah, hantu bohong-bohongannya gin sudah dipasang di rute jurit malam nanti," ucap Ibnu.
__ADS_1
"Halah gayamu, Nu. Pake punya ide nakut-nakuti pake hantu bohongan, sekalinya kamu sendiri yang kena, teriak-teriak lagi kayak waktu itu ha ha ha," ucap Dani.
"Hust diam kenapa," sahut Ibnu.
"Tapi nggak terlalu seremkan hantu bohongannya itu, soalnya kan kasian itu mereka masih kecil pasti masih banyak yang penakut," ujar Abri.
"Nggak kok, tenang aja, aman," ucap Ibnu sambil memberikan dua jempolnya kehadapan Abri.
"Kok aku nggak tau kalau pake acara bikin hantu bohong-bohongan, perasaan waktu rapat kemarin nggak ada?" tanya Abri.
"Iya baru tadi diputuskan pake gitu-gituan, tuh yang punya ide, padahal dianya sendiri penakut ha ha ha," ucap Ramli seraya menunjuk Ibnu.
"Lagian kamu tadi kemana sih, Bri? Kok kayaknya penting banget sampai-sampai ninggalin kita tadi?" tanya Dani lagi yang masih penasaran kemana dan kenapa Abri pergi tadi.
"Oooh, itu tadi aku ada urusan keluar bentar, sekalian beli lotion anti nyamuk,"ucap Abri asal. Dia tak ingin teman-temannya yang lain tahu selain Ramli kalau dia lagi berusaha mendekati Diana.
"Nah loh, ada nggak lotion anti nyamuknya Bri?" ucap Ramli dalam hati saat melihat Abri merogoh semua kantung yang ada di bajunya.
Beruntung Abri tadi tak lupa membawa lotion anti nyamuknya sebelum dia keluar dari tenda. Dan setelah dia menemukannya, dengan segera langsung diberikannya pada Dani.
"Makasih ya, Bri," ucap Dani.
"Iya sama-sama," ucap Abri.
"Eh kamu tadi beneran keluar beli lotion anti nyamuk? bukannya tadi aku ngeliat kamu keluar bareng Diana, aku kira kamu tadi nganterin dia pulang" bisik Ramli tepat di kuping Abri. Dan Abri pun tersenyum.
"Sstt, udah diam aja, nanti aja aku ceritanya kalau lengang," sahut Abri yang juga berbisik di telinga Ramli.
__ADS_1
"Oh ok, jangan lupa ya," ucap Ramli.
"Ok," sahut Abri.
Dan akhirnya acara jurit malam pun tiba.
Mereka berjalan dengan jarak 5 meter 5 meter antar anggota Pramuka. Para kakak-kakak penegak di tempatkan disetiap regu satu orang untuk mengawasi dan mendampingi adik-adik penggalangnya. Rute yang mereka lalui tak terlalu jauh, masih di daerah sekitaran SMP itu saja tapi dekat dengan kuburan dan bangunan-bangunan peninggalan jaman kolonial B*l*nd* yang terkenal angker.
Tibalah regu yang di dampingi Ibnu sampai dan akan melewati sebuah bangunan tua yang sudah kosong berpuluh-puluh tahun lamanya, tak tampak cahaya sedikitpun dari bangunan itu, jendela-jendela dan pintu yang dibiarkan terbuka lebar, rumput-rumput liar yang hampir setinggi paha anak-anak itu, ditambah adanya suara jangkrik dan hewan-hewan malam lainnya menambah kesan angker dari bangunan itu.
Entah mengapa cuaca saat itu sangat mendukung, bulan yang tak menampakkan pesonanya karena sedikit tertutup mendung, di tambah bintang yang terlihat jarang bahkan tak ada, angin malam yang awalnya berhembus sepoi-sepoi lama-kelamaan menjadi sedikit kencang menambah kesan serem yang sebenarnya.
Entah mengapa Ibnu mendadak lupa dengan hantu-hantu bohongan buatannya tadi yang di pasang oleh teman-temannya. Suasana yang begitu mencekam menjadi salah satu penyebabnya. Apalagi jarak mereka antara satu dengan yang lain 5 meter membuat Ibnu sedikit atau lebih tepatnya ngeri dan takut hingga bulu kuduknya merinding. Sesekali dia menoleh kebelakang melihat adik-adik penggalang asuhannya sambil mengusap tengkuknya yang terasa membesar. Hingga akhirnya suara lolongan a*j*ng berhasil membuatnya berteriak sangat kencang, seketika membuat semua adik-adik penggalang asuhannya pun kaget dan ikut-ikutan berteriak pula. Sontak saja suara teriakannya itu membuat rekan-rekannya sesama penegak kaget dan panik takut kalau terjadi apa-apa dengan adik-adik penggalang-penggalang asuhan mereka, dan mereka pun langsung berlari menuju sumber suara.
"Ada apa? Hah ada apa?" tanya Ramli dengan nafas terengah karena berlari dari arah belakang Ibnu yang jaraknya kurang lebih 30 meter.
"Nggak tau, Kak. Itu tadi Kak Ibnu yang awalnya berteriak duluan, terus kami kaget dan ikut-ikutan berteriak juga," jawab adik penggalang yang berjalan di belakang Ibnu. Dan Ramli pun segera berjalan kearah Ibnu.
"Kamu kenapa, Nu?" tanya Ramli.
Ibnu yang di tanya mendadak bingung harus berkata apa, tak mungkinkan dia menjawab kalau sebenarnya saat ini dia takut, bisa-bisa reputasinya hancur saat itu juga di depan adik-adik penggalang asuhannya.
"Eh nggak, nggak papa kok Ram, itu tadi aku cuma memecah kesunyian aja supaya adik-adik ini nggak terlalu tegang," jawabnya yang sudah tentu bohong.
"Bukan karena kamu takutkan, Nu?" tanya Dani yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Ibnu. "Biasanya kan kamu gitu kalau kumat takutnya teriak-teriak," imbuh dani yang makin memperjelas dugaannya kalau Ibnu sekarang sedang takut.
"Hah bukanlah, ngaco aja kalian, kita kan sudah sering ngelakuin ini, masa sih sekarang tiba-tiba aku takut," sahut Ibnu yang disertai cengiran.
__ADS_1
"Oh ya sudah kalau gitu, bikin kaget saja, jangan diulangi lagi, bukannya nghilangkan tegang tapi malah tambah tegang mereka yang ada," ucap Ramli, kemudian dia dan Dani kembali ke posisi mereka semula.