
Malam ini terasa berbeda bagi Diana, karena biasanya dia menghabiskan malam bersama orang tua dan 2 saudaranya di rumah, tapi kali ini dia berada di rumah tantenya hanya dengan Isya saja. Tapi Diana cukup senang karena dapat suasana baru. Setelah tiba dari perpus tadi mereka langsung berkumpul di kamar Lisa untuk melihat-lihat isi novel yang mereka pinjam tadi. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.
"Tok tok tok,"
"Boleh Ibu masuk?" tanya Bibi Arti pada Lisa.
"Ya bolehlah, Bu. Masa gak boleh sih, masuk aja, Bu!" jawab Lisa.
"Lagi apa kalian?" tanya Tante Arti.
"Ini lagi baca novel, Tan. Tadi habis pinjam di perpus. Enak ya di sini ada perpus mini," sahut Diana.
"Iya, di kampung memangnya belum ada ya?" tanya Tante.
"Belum, Tan," sahut Diana.
"Ya sudah besok kamu aja yang bikin kalau sudah jadi orang sukses biar orang juga bisa baca, karena dari membaca itu kita bisa tahu segala-galanya, membaca itu adalah jembatan ilmu," terang Tante Arti yang langsung diamini oleh ketiga gadis tersebut.
"Terus besok rencananya kalian mau jalan-jalan ke mana mumpung disini?" tanya Tante Arti lagi.
"Kita mah ngikut aja kemana Lisa membawa kita, Tan," kali ini Isya yang menyahut.
"Beneran terserah aku nih, ehm kalau aku ngajak kalian ke ja*ban gimana? Mau juga?" tanya Lisa disertai kekehan.
"Ya maleslah, ngapain ke ja*ban ngajak-ngajak," sahut Isya.
"Lho katanya tadi terserah aku, gimana sih," sahut Lisa.
"Ya nggak ke ****** juga kali, Sa. Ke mall kek, taman bermain kek, taman kota kek, tokek kek eh salah ya yang terakhir," ucap Isya.
"Ya udah besok kalian aku ajak ke mall Mesra Indah aja gimana, setuju nggak?" tanya Lisa dan langsung disetujui oleh sepasang kakak beradik tersebut. Dan setelah itu Tante Arti langsung pamit keluar sehabis menyuruh mereka istirahat kalau sudah jam 10 malam.
Sementara itu di lain tempat pada sebuah rumah terdapat sepasang suami istri yang sedang galau memikirkan anak gadis mereka. Ya siapa lagi kalau bukan Diana. Mereka tadi sebenarnya hendak tidak mengijinkan Diana untuk ikut, tapi tidak tega melihat anaknya itu bersedih nanti jika tidak diijinkan dan akhirnya mereka pun memberikan ijin pada Diana. Tapi setelah Diana ,Isya dan Lisa pergi sepasang suami istri itu tetap tidak bisa tenang begitu saja, bukan karena apa-apa mereka menjadi seperti itu, mengingat tempat tinggal tantenya itu sendiri yang berdekatan dengan sungai mereka khawatir jika nanti Diana bermain-main di sana dan terjadi apa-apa karena Diana tidak bisa berenang, berbeda dengan Isya yang bisa berenang, selain itu mereka pun mengingat Diana yang punya masalah mabuk darat. Dan akhirnya sebuah keputusan diambil mereka bahwa besok Pak Asran akan menjemput Diana dengan menggunakan sepeda motor.
"Bapak besok jadi kan jemput Diana?" tanya Ibu Rahmi.
"Iya Bu, tapi sekitar jam 11an aja," jawab Pak Asran.
"Ooh ya sudah kalau gitu," ucap Bu Rahmi.
Rumah mereka malam itu terasa sunyi tanpa kehadiran 2 anak gadis mereka yang biasanya selalu saja ada yang mereka ributkan, tapi selalu berujung Diana yang mengalah pada kakaknya itu.
...****************...
Pagi hari di rumah tantenya terlihat mereka sedang berkumpul di meja makan menyantap sarapan yang dibuat oleh tantenya.
"Nanti kalian jadikan pergi ke mallnya?" tanya Tante Arti.
"Iya jadi, Tan," sahut Diana.
Mendengar hal itu membuat adik Lisa jadi merengek agar diajak serta. Dan mau tidak mau Lisa pun membawanya serta.
Ketika mereka akan bersiap-siap pergi, tiba-tiba hujan mengguyur kota Samarinda di pagi itu. Dan mau tak mau mereka harus menunda dahulu rencana mereka.
__ADS_1
"Yah hujan, gimana ini?" tanya Isya.
"Ya udah kita tunggu aja sampai hujannya reda dulu, daripada nekat berangkat ntar malah basah-basahan kitanya, kan gak enak kalau baju kita basah semua," ucap Lisa.
Dan mereka pun menunggu hingga hujan reda, tapi setelah menunggu lama hujan tidak juga kunjung reda sampai waktu sudah menunjukkan jam 2 siang.
"Duh gimana nih kok hujannya gak reda-reda juga sih," keluh Isya.
"Gak boleh ngeluh, hujan itu anugrah yang harus disyukuri," ucap Diana.
"Tapi kita kapan jalannya?" tanya Isya.
"Ya sabar dong, Sya. Kaya anak kecil aja, adikku yang bocil aja gak ngeluh dari tadi, sore kan bisa atau nanti malam aja kan tambah seru kayaknya," ujar Lisa.
"Ya udah deh iya," sahut Isya pasrah.
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi jalan ke mall nanti malam saja.
Setelah 2 jam akhirnya hujan mulai reda dan matahari sore mulai menunjukkan pesonanya. Dan mereka pun menghabiskan waktu sore itu di teras depan rumah sambil mengobrol.
"Eh,Di. Kok tumben ya kamu dibolehin pergi, padahalkan biasanya kamu gak dibolehin kalau perginya gak sama orang tuamu?" tanya Lisa.
"Nggak tau juga, sudah mulai berkurang mungkin overprotektifnya sama aku, ya aku senang aja sih," sahut Diana.
"Kenapa sih kok bisa sampai segitunya orang tuamu overprotektif sama kamu padahal sama Isya kayaknya gak kaya gitu?" tanya Lisa penasaran.
"Kalau kata mereka sih karena dari bayi fisikku itu lemah, gampang sakit, sudah gitu lemah bulu, ngerti kan lemah bulu?" tanya Diana pada Lisa.
"Bulunya lemah maksudnya, gitukan?" sahut Lisa.
"Ya terus apa artinya lemah bulu tuh sih?" tanya Lisa lagi.
"Lemah bulu tuh mudah kesambet makhluk halus gitu lho maksudnya," jelas Diana.
"Oh seperti itu," sahut Lisa yang langsung dibalas anggukan oleh Diana.
"Pernah lho aq dulu pas masih SD nggak pernah ikut praktek pelajaran olahraga hampir 2 tahun, alasannya karena itu tadi yang mereka menganggap kalau fisikku lemah, padahal mah aku ngerasa kalau fisikku kuat-kuat aja. Jadi Bapakku yang langsung ngomong sendiri sama guruku, kebetulan guruku tuh teman Bapakku sendiri.
"Ooh seperti itu," ucap Lisa.
Tak lama terdengar suara motor yang seperti tak asing ditelinga Diana dan Isya. Dan benar saja begitu suara motor itu mendekat tampak pria paruh baya yang sangat mereka kenali. Dan merekapun pun kaget melihat bapak mereka ada disini. Bapaknya pun menjelaskan maksud kedatangannya untuk menjemput Diana, karena ibunya khawatir di rumah. Diana hanya tinggal tepok jidat saja, karena baru saja mereka membahas tentang orang tuanya yang overprotektif terhadap Diana, dan ternyata sikap mereka itu belum berkurang. Tapi walaupun begitu Diana tetap menuruti keinginan orangtuanya meskipun dia belum sempat jalan-jalan. Dia memaklumi sikap orang tuanya yang seperti itu karena itu tandanya mereka sayang dengan dirinya.
"Diana cuman numpang tidur aja disini jadinya, gak papa ya, Di," ucap Tante Arti.
"iya gak papa, Tante. Mungkin lain kali. Diana pamit dulu ya, Tan," ucap Diana sambil menyalami tantenya. "Kami pergi dulu ya, Ti, titip Isya kalau dia bandel marahi aja," ucap Pak Asran Kepada adiknya.
"Siip, hati-hati di jalan," sahut Tante Arti.
Hari telah berganti malam, saatnya Isya, Lisa dan adiknya pergi jalan-jalan. Sama seperti kemarin mereka melewati jalan yang menjadi tempat tongkrongan cowok-cowok. Mereka pun kembali menegur Lisa dan Isya. Diantara cowok-cowok itu ada satu yang menarik perhatian Isya. Setelah mereka agak jauh barulah Isya menanyakan pada Lisa siapa nama cowok itu. Lisa curiga kalau Isya naksir cowok itu dan ternyata benar dugaannya, terbukti Isya selalu menanyakan cowok yang dimaksudnya tadi Sampai mereka kembali lagi ke rumah.
Sesampainya di rumah mereka langsung beristirahat. Tapi ada yang mengganggu pikiran Lisa, ya ternyata dari tadi Pangkis mengiriminya chat yang menanyakan tentang Diana, karena sejak keluar jalan tadi Lisa tidak mengecek ponselnya maka dia tidak kunjung membalas chat dari Pangkis. Setelah membalas dan menanyakan apa maksud Pangkis menanyakan tentang Diana barulah dia tahu kalau sebenarnya Pangkis suka dengan Diana, inilah yang mengganggu pikiran Lisa dari tadi. Dia tau dari kemarin memang pangkis menggoda Diana terus. Bagaimana bisa cowok yang disukai Isya ternyata malah menyukai Diana. Bagaimana caranya dia bicara pada Isya dan memberitahu Pangkis kalau sebenarnya Isya menyukainya. Dan yang lebih kacaunya lagi kalau seandainya ternyata Diana juga suka sama Pangkis.
"Duh kok malah aku yang dibuat stress sih," batin Lisa. "Ah tau ntar aja deh," lanjutnya lagi dalam hati lalu beranjak tidur.
__ADS_1
Esoknya Isya masih terus menanyakan Pangkis kepada Lisa, apakah dia sudah punya pacar atau belum, dan lain sebagainya, Sampai-sampai dia merayu Lisa untuk diajak berjalan-jalan keliling komplek dan Lisa tahu bahwa itu hanya modus Isya saja agar dapat melihat Pangkis.
Dan akhirnya masa liburan Isya telah usai, dia telah dijemput bapaknya untuk pulang.
Tak terasa waktu telah berganti, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Tibalah saat kelulusan Diana dari SMP, tadinya dia berencana hanya melanjutkan sekolahnya di MA di kampung sebelah saja, berhubung dia meraih prestasi masuk 5 besar di sekolahnya maka orang tuanya memutuskan agar Diana melanjutkan sekolah di Samarinda saja dan tinggal bersama tantenya di sana. Awalnya Diana menolak karena dia tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya, karena dia tahu untuk bersekolah di sana pasti membutuhkan banyak biaya, selain itu juga karena dia tidak bisa naik kendaraan darat sedangkan disana kalau mau pergi sekolah selalu menggunakan angkot tapi orang tuanya bersikeras ingin menyekolahkan Diana di sana dan meyakinkan Diana kalau penyakit mabuknya itu akan hilang seiring seringnya dia naik kendaraan darat. Dan akhirnya Diana pun menyetujuinya. Dia memutuskan untuk masuk di salah satu SMKN favorit di Samarinda, dan akhirnya dia lulus seleksi dan menjadi siswa di sekolah itu.
Diana pun akhirnya pindah ke Samarinda, dengan berat hati Diana berpisah dengan keluarganya demi mencapai cita-cita.
Tak terasa sudah 1 Minggu Diana berada di rumah tantenya, dan dia kaget tiba-tiba mendapat salam dari cowok yang bernama Pangkis yang disampaikan oleh adik pangkis sendiri. Diana merasa tidak asing dengan nama itu, lalu dia menanyakan pada Lisa apakah dia mengenal dekat cowok itu, dan Lisa pun mengingatkan Diana kalau pangkis itu adalah cowok yang pernah disukai Isya dulu, dan hal itu sudah dia ceritakan pada Diana melalui chat wa setelah Diana dijemput bapaknya. Dan Diana pun baru mengingatnya. Tapi Lisa tidak memberitahu Diana kalau sebenarnya Pangkis selalu menanyakan tentang Diana padanya, agar masalahnya tidak rumit. Tapi sekarang Diana malah mengetahuinya sendiri jika Pangkis menyukainya, dan barulah Lisa bercerita yang sebenarnya pada Diana.
"Jadi perasaanmu gimana sekarang, Di?" tanya Lisa.
"Entahlah, Sa. Orangnya aja aku gak tau yang mana?" sahut Diana.
"Ih masa kamu lupa sih, itu lho yang ganggui kamu waktu kita ke perpus," jelas Lisa.
"Ooh itu, tapi aku nggak terlalu jelas juga sama wajahnya," terang Diana.
"Ya gimana mau jelas orang kamu aja jalannya nunduk," sahut Lisa. "Jadi gimana tanggapan mu?" Lisa lanjut bertanya.
"Biasa aja sih, Sa. Orang cuma salam doang kan, bukan nembak, kalau seandainya nembak gin pasti ku tolak, ya kali aku jadian sama orang yang disukai kakakku sendiri," sahut Diana.
"Sekalipun kamu suka juga sama Pangkis?" tanya Lisa yang dijawab hanya dengan anggukan oleh Diana. Selain itu untuk saat ini Diana hanya ingin fokus belajar saja agar tidak mengecewakan orangtuanya.
Hal yang pernah dibayangkan Diana pun terjadi. Siang itu saat pulang sekolah dia sudah ditunggu oleh Pangkis di jalanan dekat rumah tantenya, Diana pun sudah merasa cemas dengan kehadirannya di situ. Dan akhirnya Pangkis menyetop langkah Diana dan mengajaknya bicara sebentar, tujuan Pangkis tidak lain adalah untuk menyatakan isi hatinya pada Diana, dan Diana tidak langsung menjawab dia meminta waktu untuk memikirkannya. Sampainya di rumah Diana langsung mencari Lisa dan menceritakan semua, dan Lisa pun terkejut, dia tidak menyangka kalau pangkis seserius itu. Dan Lisa pun menyerahkan keputusan pada Diana. Setelah berpikir cukup lama akhirnya Diana memutuskan akan menolak Pangkis pada esok harinya.
Keesokan harinya Pangkis sudah menunggu ditempat kemarin dimana dia menyatakan isi hatinya pada Diana dan berharap Diana akan menerima cintanya. Tapi kenyataan tak seindah ekspektasinya, Diana malah menolak cintanya dengan alasan jika dia sudah mempunyai seseorang yang dekat dengannya di kampungnya. Diana pun meminta maaf pada Pangkis akan hal itu, dan mau menerima keputusannya. Padahal itu hanya alibi Diana saja agar dia tidak menyakiti hati kakaknya.
*Flashback off*
"Woi, woi," Yanti memanggil Diana yang tengah melamun sambil menyenggol-nyenggol tangannya.
"Eh iya. Kenapa, Yan?" tanya Diana kaget.
"Kamu tuh diajak ngomong malah ngelamun," kata Yanti.
Diana terkekeh sambil mengelus tengkuknya.
"Pasti lagi ingat dia kan, siapa namanya Pakis? bener gak sih?" tanya Yanti .
"Pakis haji," sambung Diana.
"Ha ha ha, tanaman hias dong," kekeh Yanti.
"Apalah itu ya yang jelas cowok yang disukai Isya dulu. Gimana, masih ngejar-ngejar kamu nggak?" tanya Yanti.
"Masih ai, suka nitip salam sama adeknya, tapi ya aku biasa aja sih," terang Diana.
"Kenapa gak kamu terima aja, sekarang Isya kan sudah punya pacar juga," saran Yanti.
"Huh kamu itu ya main terima-terima aja, aku aja gak ada perasaan apa-apa kok sama dia, lagian masih bocil belum saatnya Jeng pacar-pacaran," bantah Diana.
"Wow, salut deh sama kamu," saut Yanti.
__ADS_1
"Dah ah tidur, ngantuk nanti dimarahi Nenek lagi kalau belum tidur juga," imbuh Diana dan Yanti pun mengiyakannya.