
Keesokan harinya, Abri serta Ramli bersiap- siap untuk pergi ke SMP. Acara perkemahan sudah dimulai pada hari ini, mereka sudah sangat sibuk.
"Sudah nggak ada lagi yang ketinggalan kan Ram?" tanya Abri pada Ramli.
"Sudah beres semua," sahut Ramli.
"Jangan sampai ada yang terlupa lho, soalnya rumah kita lumayan jauh dari lokasi kalau mau ngambil yang ketinggalan," ucap Abri.
"Iya sudah nggak ada kok," sahut Ramli.
"Ya sudah ayo berangkat!" ajak Abri.
Mereka pun berangkat menuju lokasi perkemahan yaitu di SMP.
Di rumah Diana pun terlihat Isya sudah bersiap-siap akan pergi ke lokasi perkemahan, sebelum berangkat dia mengecek semua keperluannya selama di sana nanti, setelah dirasa cukup dia pun minta Diana agar mengantarkannya, dan tak lupa dia berpamitan terlebih dahulu pada ibu dan bapaknya.
"Hati-hati di sana Sya, jangan buang air sembarangan, permisi-permisi kalau mau ngapa-ngapain tuh, jangan ngomong sembarangan, jangan takabur, ingat lho itu SMP bekas bangunan peninggalan jaman dulu," ucap ibunya mengingatkan, seperti biasa ibunya itu akan memberikan pesan-pesan panjang lebar sebelum anak-anaknya pergi ke luar rumah.
"Iya Ibu Isya tahu kok," ucap Isya.
"Ya udah Kak ayo berangkat nanti terlambat lho!" ajak Diana.
"Ya udah ayo, Bu Isya berangkat dulu ya assalamuaikum," pamit Isya sambil menyalami ibu dan bapaknya begitu juga halnya dengan Diana.
"Ingat pesan Ibu lho Sya!" ucap bapaknya.
"Iya pak, assalamualaikum," sahut Isya.
"Waalaikusallam hati-hati," sahut ibu dan bapaknya bersamaan.
Hanya sekitar 10 menit Diana dan Isya pun Sampai di lokasi perkemahan, Diana pun langsung memarkirkan motornya dan membantu Isya membawakan barang-barangnya.
Saat akan beranjak dari parkiran, tiba-tiba terdengar suara motor dari arah belakang mereka kemudian parkir tepat di samping motor Diana. Seketika Diana dan Isya pun menoleh kebelakang, ternyata Abri dan Ramli.
Diana dan Abri sama-sama kaget saat mata mereka bertemu. Diana yang merasa kaget tak menyangka akan bertemu lagi dengan Abri, sekilas dia langsung mengingat kejadian kemarin dan insiden yang memalukan menurutnya, membuat dia merasa malu saat bertemu lagi dengan Abri saat ini. Lain halnya dengan Abri, dia merasakan jika ritme jantungnya mendadak tak normal saat mata mereka bersirobok.
"Lho kalian baru datang juga, aku kira sudah dari tadi," ucap Isya.
"Iya sayangku nih kakak baru juga nyampe, nunggui nih pang lama dandannya kaya cewek aja," sahut Ramli sambil memajukan mukanya kearah Abri.
"Ih sembarangan, jangan fitnah ya!" sahut Abri sambil menoyor kepala Ramli pelan.
"Heh jangan KDRT lho, kamu nggak lihat ada Diana tu, jaga image sedikit dong," ucap Ramli.
Dan Abri pun langsung salah tingkah karena terciduk Diana saat menoyor kepala Ramli tadi, ya meskipun hanya pelan, tapi dia tak mau Diana ilfeel dengannya.
"Kamu juga sih bikin gara-gara duluan," bisik Abri di telinga Ramli.
__ADS_1
"He he he maaf ya,Diana. Dia ini sih yang suka cari gara-gara," ucap Abri sambil menunjuk Ramli.
Diana pun hanya tersenyum simpul.
"Iya nggak papa kok Mas Abri, biasa aja kalau kaya gitu mah sama saudara, aku juga sama kak Isya kaya gitu, suka kaya tom and jerry kalau deket, tapi kalau jauh suka kangen," sahut Diana.
"Iya kangen berantemnya ha ha ha," imbuh Isya dan mereka pun tertawa bersama.
"Eh tapi ngomong-ngomong memangnya kalian sudah saling kenal kok pada tau nama masing-masing?" tanya Isya yang penasaran.
Mendengar pertanyaan Isya membuat Diana dan Abri pun saling melihat satu sama lain dan kemudian tersenyum dan tertawa bersama. Melihat dari tatapan Abri kepada Diana, membuat Ramli menarik kesimpulan bahwa dugaannya yang semalam benar, saudara angkatnya itu menyukai Diana.
"Iya sudah kenal, kemarin kenalnya pas Diana lagi ke pasar Kak," sahut Diana.
"Kok bisa?" tanya Isya.
Dan kemudian Abri pun ikut menjelaskan pada Isya bagaimana ceritanya mereka bisa kenal.
"Ooh gitu, kok kamu nggak cerita sama Kakak, Di?" tanya Isya.
"He he he lupa, emang harus ya?" tanya Diana enteng.
"Iya lah, Abri nih kan saudara angkatnya Kak Ramli," ucap Isya memberitahu Diana.
"Ooh bener gitu mas Abri?" tanya Diana pada Abri.
"Awh...sakit Yang, kenapa sih?" protes Ramli pada Isya.
"Jangan keganjenan coba," sahut Isya.
Melihat hal itu membuat Diana dan Abri pun tertawa.
"Tau nih Ramli gitu aja pake protes, ya biar aja Diana manggil kamu kakak, kamu kan calon kakak iparnya, sementara manggil aku mas kan biar beda aja gitu masa sama kaya kamu kakak juga," sahut Abri panjang lebar sambil sesekali melirik ke arah Diana untuk melihat reaksi gadis itu. Sementara Diana hanya tersenyum.
"Iya nggak tau juga Kak, langsung spontan aja gitu nyeplos manggil mas waktu pertama kali nggak sengaja ketemu" sahut Diana.
"Seneng Abri..."ucap Ramli.
"Hus sudah diam kenapa!" ucap Abri pada Ramli.
Dan tak lama ada satu motor berhenti di samping motor mereka yang tak lain adalah Ibnu dan Dani. Melihat kehadiran Ibnu membuat Diana dan Isya sontak kompak tertawa karena mengingat kejadian tadi malam. Melihat keduanya tertawa, tentu saja membuat Ramli, Abri dan Dani yang tak mengerti hanya diam melongo.
"Kenapa sih, Yang. Kok pas Ibnu datang kamu sama Diana langsung tertawa?" tanya Ramli penasaran.
Mendengar pertanyaan dari Ramli membuat Ibnu langsung melihat ke arah Isya dan memberikan kode dengan melebarkan bola matanya agar Isya tak bercerita yang sebenarnya. Tentu saja karena dia malu pada teman-temannya kalau ketahuan dia seorang yang penakut.
"Kamu kenapa Ram, kok melotot gitu?" tanya Abri.
__ADS_1
"Eh enggak, ini aku masih ngantuk jadi mataku kugini-gini kan," sahut Ibnu asal sambil membuka matanya lebar-lebar.
"Kak Ibnu kurang tidur ya tadi malam, kok jam segini sudah ngantuk aja," tanya Diana.
"Iya Kakak nggak bisa tidur karena mikirin kamu semalaman," sahut Ibnu tanpa bermaksud mengungkit masalah mereka tadi malam.
"Hmmm, kumat deh Ibnu, jurusnya keluar," ucap Ramli.
Saat mendengar ucapan Ibnu tadi, membuat Abri merasa tak senang, ada rasa tak terima yang bergejolak di hatinya saat melihat gadis yang dikaguminya digombali di depan matanya.
"Tau nih Ibnu, kalau sudah ketemu cewek semua jurus keluar, tapi kalau sudah ketemu sama tante ... " ucapan Isya terpotong karena telapak tangan Ibnu sudah mendarat di bibirnya.
" Ssttt, diem nggak?" ucap Ibnu.
Dan Isya pun mengangguk, tapi begitu telapak tangan Ibnu sudah terlepas dari bibirnya, dia langsung melanjutkan ucapannya sampai selesai dengan secepat kilat. Tapi masih dapat terdengar jelas oleh mereka, dan spontan mereka pun tertawa. Seketika itu juga Dani ingin menimpali ucapan Isya dengan menceritakan kejadian tadi malam saat Ibnu mengira kalau dirinya adalah tante kun juga, tapi diurungkannya mengingat dia sudah berjanji pada sohibnya itu untuk tidak menceritakan kejadian tadi malam pada teman-temannya.
Melihat reaksi teman-temannya seperti itu membuat Ibnu merasa kesal. Tapi tak lama Diana langsung berkata, "Sudah ah kak Isya jangan bikin kak Ibnu malu dong, kan kasian jadi diketawain".
"Tuh kaya Diana dong Sya pengertian nggak kaya kamu, senengnya buka aib teman aja," ucap Ibnu sambil menaik turunkan alisnya pada Diana. Tingkah Ibnu itu pun tak luput dari perhatian Ramli dan Abri. Dan makin bertambah tak senang hati Abri melihat hal itu. Entah mengapa dia merasa ada yang tak beres dengan sikap Ibnu yang membuat hatinya panas seketika.
"Yang, Ibnu nih nah," adu Isya pada Ramli.
" Yang yeng yang yeng...sejak kapan jadi kuyang kamu, Ram?" tanya Ibnu pada Ramli.
"Ih kenapa sih sirik aja lo jones, mangkanya cari pacar sono jadi ada yang manggil kamu yang juga," protes Isya.
"Mangkanya bujuk dong adekmu itu," sahut Ibnu yang membuat bola mata Abri dan Ramli melebar. Jelas sudah jika Ibnu menyukai Diana menurut mereka.
"Yee, ya usaha sendiri lah kok aku yang disuruh bujuk," sahut Isya.
"Eh eh sudah-sudah kok malah ribut sih kalian, malu tuh di lihat adek-adek," ucap Diana yang memang melihat sudah mulai banyak adik-adik SMP yang datang.
"Kak Ibnu sudah deh ya nggak usah dibahas lagi, kita kan sudah sepakat," lanjutnya.
"Ya maaf deh, Diana. Tapi namanya juga masih usaha nggak papa kan?" tanya Ibnu sambil menaik turunkan alisnya lagi pada Diana. Dan Diana hanya bisa menarik napas berat dan memutar bola mata malas menanggapi ucapan Ibnu itu.
Tanpa disadarinya, semenjak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan ekspresinya saat digombali oleh Ibnu. Ya dialah Abri, yang sedari tadi selalu mencuri pandang padanya, dan merasa tak senang saat Ibnu menggombalinya, tapi Abri merasa senang karena melihat Diana tak menanggapi Ibnu.
"Sudah ah ayo kita masuk, sudah mau mulai nih acaranya, nanti kita terlambat lagi," ajak Ramli mengalihkan. Dan mereka pun menyetujuinya.
Setelah membantu Isya membawa barang-barangnya Diana pun langsung berpamitan pada mereka, setelah sebelumnya berpesan pada Isya agar mengiriminya pesan jika ada apa-apa yang dibutuhkan. Tapi sesaat setelah Diana melangkahkan kaki, langkahnya terhenti karena Abri memanggilnya, dan seketika dia pun menoleh.
"Ya ada apa, Mas?" tanya Diana.
"Ehm nggak papa, cuma mau bilang hati-hati aja," ucap Abri lalu tersenyum manis dihadapan Diana.
"Iya, makasih," sahut Diana sembari tersenyum pula lalu dia pun berpamitan dan kali ini benar-benar pulang.
__ADS_1