
Saat tiba di rumahnya Abri langsung masuk ke dalam kamarnya setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu. Ia tak melihat keberadaan Ramli. Ia pun sebenarnya tak mau tahu di mana Ramli saat ini, karena dirinya sendiri masih sangat marah pada Ramli.
Dia berpikir Ramli sungguh-sungguh tak mengindahkan nasihatnya waktu itu. Dia pernah berpesan bahwa jangan lagi suka mempermainkan hati perempuan sebab suatu saat dia bisa terkena balasannya, di saat dia benar-benar suka dengan seseorang tapi seseorang itu malah balik mempermainkan hatinya.
Setelah makan siang, Abri memilih untuk beristirahat di dalam kamarnya saja. Ia malas keluar, sebab bisa-bisa ia bertemu dengan Ramli, dan nanti ibunya pasti curiga lagi jika ia dan Ramli hanya diam-diaman saja atau saling cuek satu sama lain. Jadi lebih baik ia di dalam kamar saja pikirnya.
Seketika ia pun langsung teringat akan Diana. Dia lupa kalau belum memberitahukan pada Diana bahwa Isya telah mengetahui semuanya. Tetapi sebelum memberitahu Diana, Abri memutuskan untuk menghubungi Ratna terlebih dahulu untuk menanyakan dengan jelas awal mula sampai Isya bisa mengetahui bahwa Ramli mempunyai hubungan dengan Desy, karena tadi Ratna memberitahu dirinya langsung pada intinya saja.
Abri pun memilih untuk melakukan panggilan telepon saja pada Ratna agar tak menunggu lama. Setelah panggilannya di jawab oleh Ratna, tanpa menunda-nunda Abri pun langsung bertanya ke intinya saja pada Ratna. Dan Ratna pun menjelaskan semua kejadian mulai dari awal jika dirinyalah yang terlebih dahulu tahu lalu ia memberitahukan pada Isya dan menyuruhnya datang ke tempat kejadian, dan akhirnya Isya tahu semuanya. Ia juga memberitahu jika Isya telah memutuskan hubungan antara dirinya dengan Ramli maupun hubungan dirinya dengan Desy. Sampai akhirnya ia menabrak Abri.
Setelah mendengar penjelasan dari Ratna, Abri pun berterima kasih padanya, kemudian Abri pun mengakhiri sambungan teleponnya dengan Ratna.
Setelah mendapat penjelasan yang mendetail dari Ratna, Abri pun langsung mengirimkan pesan pada Diana.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Di. Ada sesuatu yang mau Mas sampaikan."
Tak berapa lama Diana pun membalas pesan dari Abri. "Wa'alaikumsalamsalam, Mas. Ada berita apa Mas?" balas Diana.
"Berita terbaru dari Isya, Ramli dan Desy," balas Abri.
Membaca pesan dari Abri, hati Diana sudah dibuat ketar-ketir tak karuan, dia berfirasat bahwa berita kali ini pasti tentang Isya yang sudah mengetahui hubungan di antara Ramli dan Desy. Entah mengapa perasaannya mengatakan demikian.
Lalu Abri pun menceritakan semua dari awal sampai akhir seperti yang telah diceritakan oleh Ratna tadi. Diana pun membalas bahwa dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Karena cepat atau lambat pasti Isya akan mengetahuinya juga. Dan semakin cepat Isya mengetahuinya maka akan semakin lebih baik agar ia tak terus-terusan dibohongi oleh Ramli dan Desy.
Abri pun menyatakan jika ia akan berusaha bicara juga pada Isya nanti, karena sepertinya Isya telah salah paham padanya menurut Abri. Kemudian mereka pun mengakhiri percakapan mereka via chat WA.
Sementara itu Ramli sedang termenung di kamarnya. Semenjak pulang sekolah tadi ia tak keluar dari kamarnya, bahkan ia pun tak makan siang. Sebenarnya ia ingin menemui Isya, tetapi Desy sudah mengancamnya sebelum dia berkata apapun. Tetapi ia pun ragu jika Isya mau menemuinya. Jika ia melakukan panggilan telepon pun pasti Isya tak mengangkatnya. Seandainya mengirim pesan pun ada kemungkinan kalau Isya tak akan membacanya apalagi membalasnya.
__ADS_1
Akhirnya Ramli pun nekat untuk menghubungi Isya dengan mencoba-coba melakukan panggilan telepon. Sudah tiga kali ia mencoba melakukan panggilan pada Isya tetapi selalu ditolaknya. Terakhir ponsel Isya justru tidak aktif. Ramli pun mengacak-acak rambutnya kasar.
Akhirnya ia putuskan untuk mengirimkan pesan saja pada Isya, entah nanti dibuka atau tidak pesannya oleh Isya yang penting dia sudah berusaha.
Ramli pun mengirimkan pesan yang berisi permintaan maafnya pada Isya atas apa yang telah dilakukannya, dan berterima kasih pada Isya karena pernah mengisi hari-harinya selama ini.
Tak banyak kata-kata yang ia tulis dalam pesan itu. Karena menurut Ramli mengirim pesan singkat saja belum tentu dibaca oleh Isya apalagi mengirim pesan yang panjang.
Setelah mengirim pesan pada Isya, Ramli pun penasaran apakah pesannya nanti dibaca oleh Isya atau tidak. Ia pun tak sabar menunggunya. Setelah cukup lama menunggu tapi pesannya belum juga masuk di ponsel Isya, akhirnya Ramli pun ketiduran.
Sementara itu yang dilakukan Isya setelah pulang sekolah pun tak jauh berbeda dengan Ramli dan Abri. Setelah pulang sekolah ia hanya mengurung diri di kamarnya. Rekaman kejadian di sekolah tadi masih berputar di kepalanya. Ternyata kisah pilu seperti ini tak cuma ada dalam novel atau sinetron, akan tetapi hal seperti ini bisa juga terjadi di kehidupan nyata dan sayangnya dirinya sendirilah yang mengalami hal itu. Ditikung oleh sahabat sendiri, ya mungkin itulah judul yang tepat bila kisahnya ini dituangkan dalam bentuk novel pikir Isya. Ia pun tersenyum kecut mengingat hal itu. Sangat tragis memang, tapi itulah kenyataannya.
Isya pun bersumpah bahwa mulai saat ini ia tak akan mudah percaya lagi pada seseorang. Karena ia telah belajar dari pengalamannya sendiri saat ini. Ia yang sangat mempercayai sahabatnya malah dikhianati oleh sahabatnya itu. Padahal umur persahabatan mereka terbilang cukup lama. Tetapi itu pun tidak dapat menjamin bahwa tidak akan adanya pengkhianatan di antara mereka. Dan ia pun bersumpah bila suatu saat nanti dia mempunyai kekasih lagi, ia tak akan menyerahkan hatinya seutuhnya, dan tidak terlalu baper. Bukan tanpa alasan Isya seperti itu, tetapi karena untuk berjaga-jaga bila seandainya saja suatu saat nanti dia dikhianati lagi, maka ia tak akan merasa sangat terluka dan sakit hati bahkan kecewa yang teramat sangat sama seperti yang dialaminya sendiri saat ini.
__ADS_1
Tak lama ponsel Isya berbunyi, dan Isya pun bergegas mengambil ponselnya itu yang ia letakkan di atas meja kemudian ia mengecek siapa gerangan yang telah menelepon dirinya. Setelah tau siapa gerangan yang menelpon ia pun langsung menekan ikon telepon berwarna merah pada ponselnya itu. Dan tak lama ia pun mematikan ponselnya sekalian agar orang itu tak dapat menghubunginya, karena dia sudah muak dengan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya lebih dari sekali itu. Panggilan yang dilakukan oleh seseorang yang tak lain adalah Ramli. Setelah mematikan ponselnya, akhirnya Isya pun tanpa sengaja terlelap juga, masuk ke alam mimpinya.