
Setelah selesai membaca isi dairynya tentang perjumpaannya dengan Abri, Diana pun memilih untuk menulis lagi kegiatannya hari ini. Kegiatannya dengan Yanti pun tak lupa pula untuk ditulisnya. Selama menulis bibirnya selalu menyunggingkan senyum. Entah itu senyuman apa ia pun tak dapat mengartikannya. Yang jelas ia rasakan kalau saat ini ia sendiri sedang bahagia.
Setelah selesai menulis, Diana merasa sudah mulai mengantuk. Dia memutuskan untuk berbaring di samping Yanti dan menyusulnya ke alam mimpi.
...****************...
Sementara itu Abri yang tadi sudah hampir terlelap, tidak bisa tidur lagi gara-gara Ramli membangunkannya hanya untuk menagih janji bercerita oleh Abri. Meski ia tidak jadi bercerita pada Ramli karena alasan mengantuk, tetapi dia sama sekali tidak tertidur setelah itu. Ia hanya memejamkan matanya saja.
Pikirannya langsung mengingat gadis yang beberapa hari ini telah menghantuinya. Sebentar-sebentar dia tersenyum dengan mata yang masih terpejam tapi tidak tidur, Sepertinya dia memang sedang di landa falling in love.
Tanpa di sadarinya, Ramli dari tadi masih memperhatikannya, ia tahu sebenarnya Abri belum tertidur setelah dia membangunkannya tadi.
"Huh dasar, tadi bilangnya ngantuk, matanya cuma tinggal dua watt aja, eh sekalinya nggak tidur juga. Ini lagi malah senyum-senyum sendiri sambil merem kaya orang gila. Memang ya kalau orang baru jatuh cinta ya seperti itu, tapi coba lihat aja nanti kalau sudah dapat incarannya, boro-boro mau senyum sambil merem atau tidur, senyum waktu nggak tidur aja males palingan, ha ha ha," ucap Ramli.
Abri yang mendengar ocehan Ramli pun segera membuka mata dan meraup wajah Ramli sekali lagi.
"Oooh da*ar, emangnya aku kayak kamu, senyumnya kalau pas belum dapet aja apa yang diincar, kalau sudah dapet malas senyum, pikirannya malah mau cari yang baru lagi," sahut Abri.
"Eh kamu kok tau sih apa yang ada dalam pikiranku, kamu paranormal memangnya?" tanya Ramli.
"Mau tau isi pikiranmu itu nggak harus jadi paranormal dulu, semua orang juga tau kali," sahut Abri.
"Iya-iya tahu ai yang setia, tapi kena tikung di sepertiga malam, ha ha ha," balas Ramli.
"Udah move on kali," sahut Abri ketus kali ini.
"Ooh seperti itu, sukur deh," sahut Ramli.
"Ya udah jangan ribut kalau kamu belum tidur, aku mau tidur sekarang," titah Abri.
"Ye aku juga mau tidur kali, besok kan kita harus bangun pagi," sahut Ramli.
"Oh ya besok kita ada senam pagi kan?" tanya Abri.
__ADS_1
"Hem," Ramli hanya menyahuti dengan deheman saja. Dan akhirnya mereka pun sama-sama pergi ke alam mimpi.
Keesokan harinya, mereka semua sudah bersiap-siap untuk pergi ke Musholla SMP guna melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, Abri dan rekan-rekan sesama penegak mempersiapkan keperluan untuk senam pagi bersama. Mereka mengatur tempat untuk regu putra dan regu putri. Kemudian menyiapkan wireless yang akan di gunakan untuk menyetel musik, karena senam yang mereka lakukan adalah senam irama.
"Kamu ikut senam kah, Nu?" tanya Abri pada Ibnu yang didapatnya sudah ada di sana.
"Iya, kenapa?" Ibnu balik bertanya.
"Nggak papa, kalau kamu masih merasa kurang sehat nggak papa kalau enggak ikut senam," sahut Abri.
"Nggak kok, aku sehat ni coba kamu lihat!" sahut Ibnu sembari mengangkat dan membengkokkan kedua tangannya di samping badan hingga terlihat otot lengannya layaknya seorang binaragawan.
"Wih, percaya-percaya aku sama kamu, Nu," ucap Ramli menimpali.
"Kamu ngejim ya? Kok bisa terbentuk gitu otot mu?" tanya Ramli lagi.
"Iya dia ngejim, ngejimpalitan lebih tepatnya, apalagi kalau ketemu sama tante kun, ha ha ha," kali ini Dani yang menyahuti kemudian tertawa puas.
"Apaan sih, seneng betul kalau lihat teman sengsara, diejekin terus, mudahan kamu nanti ketemu sama tante kun juga baru tahu rasa," sahut Ibnu kesal.
"Ih amit-amit," ucap Dani dan Ramli kompak sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dan lantai bergantian.
"Ha ha ha, nah nggak berani juga kan sekalinya," ucap Ibnu.
"Sorry bukannya nggak berani, aku cuma malu aja kalau ketemu tante kun, alias isin kalau kata kai-ku mah, ha ha ha," sahut Dani.
"Ha ha ha pake isin-isinan segala kalau ketemu tante kun, kayak ketemu cewek aja," ucap Ramli.
"Lah emang cewek kan tante kun itu," sahut Dani.
"Oh iya ya, ha ha ha,"sahut Ramli.
"Sudah ah ayo kita ke lapangan, sebentar lagi jam delapan nih, kalian ini senengnya ngejekin Ibnu mulu," ucap Abri.
__ADS_1
Dan mereka pun pergi ke lapangan bersama- sama. Sebelum senam mereka mengatur barisan adik-adik penggalang mereka.
"Eh ada Kak Ibnu. Loh, Kakak masih ada di sini, kirain pulang tadi malam?" tanya salah satu adik penggalang yang tadi malam di dampinginya ketika jurit malam.
"Iya, masih di sini kok sampai acara kemah ini selesai, Dik," sahut Ibnu.
"Ooh gitu, tapi Kakak baik-baik aja kan? Soalnya semalam kami khawatir sekali sama Kakak," timpal yang lain.
"Iya nggak papa, ya sudah sekarang siap-siap, kayaknya senamnya mau di mulai," titah Ibnu mengalihkan pembicaraan, jujur dia merasa risih kalau soal semalam selalu di bahas.
Selama senam berlangsung Ibnu terlihat sangat bersemangat, ia begitu lincah melakukan gerakan senam, mulai dari pemanasan yang di lakukan di awal, ia sengaja melakukan itu agar orang-orang mengira bahwa dia baik-baik saja meski kejadian tadi malam lumayan tragis.
Tapi sayangnya setelah beberapa menit melakukan senam, nasib sial masih saja tak bisa jauh dari Ibnu. Karena sangking bersemangatnya saat melakukan gerakan membungkukkan badan dengan kedua kaki terbuka lebar saat senam tiba-tiba terdengar suara
"Kreeek, kreeek,"
"What? Astaga!" ucap Ibnu spontan sambil memegangi celana trainingnya yang ternyata sobek, dan sobeknya lumayan panjang sampai ke depan dan belakang hingga pakaian dalamnya hampir terlihat. Tetapi Ibnu mengira jika yang sobek hanya bagian depannya saja tidak sampai ke belakang.
Sontak saja hal itu membuat adik-adik penggalang yang berada di dekatnya terkejut dan langsung tertawa setelah menyadari kalau celana training yang dipakai Ibnu telah sobek.
"Ha ha ha," tawa mereka sembari menunjuk celana training Ibnu.
Sementara Ibnu yang merasa malu seketika langsung keluar dari barisan senam dan berniat langsung menuju tendanya. Tapi sayang, jalanan yang dia lewati menuju tendanya harus melewati barisan regu putri membuat Ibnu bertambah pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, dia harus memikirkan bagaimana caranya berjalan agar terlihat biasa saja dan tidak mencurigakan di hadapan orang-orang terutama regu putri, sontak dia langsung menepuk jidatnya sendiri.
Sejenak dia berhenti untuk mencari-cari sesuatu guna menutupi bagian celana trainingnya yang sobek. Akhirnya ia menemukan sebuah kardus dekat tong sampah, lalu ia mengambilnya.
"Ah mau nggak mau harus pake ini aja, dari pada nggak bisa balik ke tenda," Ibnu bermonolog dalam hati.
Akhirnya ia berjalan balik ke tenda melewati regu putri dengan menutupi bagian depan celana trainingnya dengan kardus, tetapi tetap saja menjadi pusat perhatian adik-adik penggalangnya di regu putri. Samar-samar terdengar suara mereka membicarakan Ibnu yang berjalan cukup aneh dengan membawa kardus menutupi bagian depan celana trainingnya. Ibnu pun berjalan dengan santainya seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada celananya untuk menutupi rasa groginya, padahal dalam hatinya rasa malu, gugup, takut ketahuan dan lain sebagainya sudah bercampur jadi satu.
Setelah Ibnu sudah berhasil berjalan lumayan jauh, tiba-tiba terdengar suara tawa dari barisan regu putri karena melihat bagian belakang celana training Ibnu yang sobek. Sontak saja Ibnu menghentikan langkahnya dan menengok kebelakang karena mendengar ada salah satu adik penggalangnya yang nyeplos kalau celananya sobek, dan dia pun meraba bagian belakang celana trainingnya dan berharap jika ucapan adik penggalangnya itu tidak benar. Tetapi betapa terkejutnya dia ketika mendapati kalau ternyata celananya sobek sampai ke belakang memang benar adanya.
"OMG, cobaan apalagi ini," ucapnya dalam hati kemudian langsung cepat ia berlari agar cepat sampai di tendanya, namun lagi-lagi nasib sial masih saja tak mau menjauh darinya, karena sangking buru-burunya sampai-sampai kakinya tersandung batu dan akhirnya ia pun jatuh dan tak dapat menghindari selokan yang ada di depannya, alhasil termasuklah wajahnya ke dalam selokan itu.
__ADS_1