Cinta 2 Dimensi

Cinta 2 Dimensi
Penculikan


__ADS_3

Kini Hiyuka dan Cloud telah sampai di dekat pasar, di sana sudah ada para pengawal Hiyuka yang sedang menunggu dengan setia kedatangan Hiyuka.


Hiyuka berbalik dan menatap wajah Cloud dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Cloud.


"Aku pamit " ucap Hiyuka sambil menundukkan kepalanya dan di balas Cloud dengan cara yang sama.


"Pergilah dan berhati-hatilah, satu lagi jangan pernah pergi tanpa pengawalmu, itu berbahaya" jawab Cloud.


Hiyuka pun pergi dengan menaiki tanduknya, Cloud hanya memandangi kepergian Hiyuka, ada perasaan aneh yang yang menyelimuti hati Cloud.


Saat dalam perjalanan tiba-tiba ada segerombolan orang yang menghadang perjalanan Hiyuka mereka menggunakan penutup wajah sehingga begitu sulit mengenali siapa mereka.


"Siapa kalian? " ucap paman Yoojin.


"Ada apa ini?" Tanya Hiyuka sambil membuka jendela Tandu dan melihat begitu banyak orang yang menghadangnya.


"Nona anda tidak boleh keluar, anda harus tetap di dalam" ucap Paman Yoojin dan dipatuhi Hiyuka dengan cepat Hiyuka menutup kembali jendela tandunya.


Tangan Hiyuka bergetar hebat keringat dingin mendadak membasahi seluruh badannya detak jantungnya berpacu cepat dan nafasnya terasa tersengal membuat Hiyuka tidak bisa bernafas dengan benar.


"Tuhan tolong selamatkan aku" pinta Hiyuka dalam hati.


"Aku tidak ada urusan denganmu, aku hanya menginginkan Nona muda Hiyuka, serahkan atau kau mati di tanganku" ucap pemimpin gerombolan tersebut.


"Kurang ajar kalian" ucap Paman Yoojin sambil menarik pedangnya.


"Kalian memang tidak suka keramahan dan memilih perkelahian rupanya, Serang mereka" ucap pemimpin gerombolan itu.


"Hiaaaaa" ucap mereka menyerang bersamaan.

__ADS_1


"Lindungi nona muda" pinta paman Yoojin.


Prang....


Tink...


AHHH..


Begitulah suara pedang yang saling berbenturan, pertempuran pun terjadi dan tidak bisa terhindarkan.


Satttt... satu gores pedang berhasil mengenai lengan paman Yoojin darah segar ke luar dari lengan Paman Yoojin.


"Yoojin?" teriak Damnim yang melihat ada musuh di belakang tubuh Yoojin.


Dengan sigap paman Yoojin menghadang mereka tapi karena kalah jumlah membuat pertahanan paman Yoojin goyah.


BRAKKK..


"Tidak" teriak bibi Damnim.


"Bibi?" ucap Hiyuka yang keluar dari dalam Tandu.


"Paman?" ucap Hiyuka sambil gemetar ketakutan.


"Itu dia, bawa gadis itu" perintah pemimpin gerombolan tersebut.


"Tidak jangan" teriak bibi Damnim dan Hiyuka.


"Tolong... Tolong" teriak Bibi Damnim dan Hiyuka bersamaan.

__ADS_1


PLAKK... Satu pukulan Hiyuka dapatkan di punggungnya membuat Hiyuka tak sadarkan diri dan di bopong pergi oleh para gerombolan tersebut.


"Nona muda? Jangan jangan bawa nona muda" teriak bibi Damnim.


PLAKK


satu pukulan yang sama tepat di punggung bibi Damnim membutnya hilang kesadaran dan pingsan


♦️♦️♦️


"Apa di culik?" ucap Tuan besar Yugha marah.


"Iya Tuan Besar maafkan kami yang tidak bisa menjaga Nona Muda Hiyuka" ucap Yoojin yang sudah sadarkan diri dan kembali ke kediaman Natagawa dengan keadaan terluka cukup parah dan darah di sekujur tubuhnya, begitu pun dengan para pengawalnya yang lain termasuk bibi Damnim.


Mereka kembali setelah mendapatkan kesadaran mereka dan bergegas melaporkan kejadian tersebut ke pada Keluarga Natagawa.


"Siapa yang sudah berani melakukan ini pada keluargaku" bentak Tuan besar Yugha.


"Maafkan kami Tuanku, aku gagal mengenali siapa mereka" ucap Yoojin penuh sesal.


"Temukan cucuku sekarang juga" Betak Tuan besar Yugha.


"Ayah tenanglah dulu" ucap Bibi Ryko.


"Apa mungkin ini perbuatan pasukan Pedang merah?" Tanya bibi Damnim.


"Pedang Merah?" Tanya Tuan besar Yugha.


"Benar beberapa waktu lalu mereka juga menyerang kami" ucap Damnim.

__ADS_1


"Apa? Dan kalian tidak melaporkan hal ini padaku" Tanya bibi Ryko.


"Maafkan kami Nyonya, Nona muda melarang kami mengatakannya" jawab bibi Damnim.


__ADS_2