Cinta 2 Dimensi

Cinta 2 Dimensi
Melahirkan


__ADS_3

"Aku akan pergi bertemu dengan menteri Yuwen dan mengurus semua rakyatku yang mengalami kesulitan" ucap Putra Mahkota A-Fai sambil berdiri.


"Kau tidak bisa pergi dari sini Yang Mulya, karena tidak ada tempat yang aman di desa Guenju selain di kediaman keluarga Moe." Cegah Cloud.


"Menurutmu mengapa mereka repot-repot mengejar Kita kemarin? Itu karena sasaran utama mereka adalah dirimu, calon Raja selanjutnya. Dan jika sampai kau tertangkap maka habislah semuanya, Kerajaan Jeos akan binasa." Jelas Cloud panjang lebar.


"Biarkan menteri Yuwen mengurus keadaan saat ini, dan jika kau ingin membatu bantulah para pengungsi yang ada di kediaman keluarga Moe bukan kah mereka juga rakyatmu?" ucap Cloud sarkas.


Suasana di dalam ruang tamu kediaman keluarga Moe terasa begitu mencekam, Hiyuka sampai merasa sesak di buatnya.


"Boleh aku menemui para pengungsi?" tanya Hiyuka mengalihkan pembicaraan.


"Tentu, pergilah." Ucap Cloud.


"Terimakasih" ucap Hiyuka, dan tanpa menunggu lama Hiyuka pun langsung bergegas pergi meninggalkan ruang tamu, tempat semua orang berkumpul.


Sepeninggal Hiyuka Cloud pun berdiri dari duduknya dan berucap.


"Aku ingin tidur sejenak, jangan menganggu." Ucap Cloud penuh peringatan.


Mendengar itu Putra Mahkota sangat kesal karena lagi-lagi dia kalah dari Cloud, putra Mahkota A-Fai merasa bahwa apa yang di katakan Cloud mungkin ada benarnya dan hal itu sangat menganggu hati putra mahkota.


"Itu khusus untukmu Daniel" Perintah Cloud sambil berjalan pergi.


"Ah... Ya.. Ya.... Aku mengerti" ucap Daniel sekenanya.


"Mereka meninggalkanku sendiri" ucap Daniel saat melihat putra mahkota dan prajurit Chanzi juga pergi.


Putra Mahkota A-Fai pun ikut pergi mengikuti Hiyuka dari belakang, perlahan namun pasti dia tetap menjaga jarak sambil tak hentinya tersenyum melihat punggung Hiyuka, penuh makna.

__ADS_1


Hiyuka pun sampai di lapangan besar tempat para pengungsi berada, nampak raut kesedihan di wajah mereka, dan gurat kekhawatiran pun nampak begitu jelas tersirat.


Hiyuka menyusuri setiap tenda pengungsi hingga akhirnya kakinya sampai di sebuah tenda kesehatan, tempat para pengisi mendapatkan layanan kesehatan dari para tabib kesehatan yang sengaja di dirikan oleh tentara Cloud.


"Tolong... Tolong..." teriak seorang laki-laki memasuki tenda kesehatan, dia membawa satu orang wanita yang sedang hamil besar, nampak dari wanita tersebut sedang dalam kesakitan.


"Istriku kesakitan, seperti dia akan melahirkan." Ucap laki-laki tersebut.


"Tidur kan di sini," pinta salah satu perawat, lalu laki-laki tersebut pun membaringkan istrinya di sebuah kasur kecil yang di letakkan di atas tanah.


"Perawat gawat tidak ada tabib khusus untuk membatu melahirkan." Ucap salah satu perawat yang lain.


"Ya ampun bagaimana ini" ucap salah satunya bingung.


"Aku tidak tau" jawab yang satunya lagi.


"Aduuh tolong... Sakit.... Aku tidak kuat." Ucap wanita hamil itu merintih.


"Nyonya tenanglah ambil napas yang dalam lalu keluarkan secara perlahan." Pinta Hiyuka begitu tenang.


Wanita itu pun mengikuti instruksi Hiyuka.


"Maafkan saya Nona apa kau bisa menangani ibu hamil, tolong jangan sembarangan Menindak karena ini bisa berbahaya bagi si ibu dan banyinya, apalagi melahirkan itu berhubung dengan nyawa." Ucap salah satu perawat yang kesal karena melihat Hiyuka mengambil tindakan dengan tanpa izin dari tabib.


"Bisa tolong diam aku sedang berkonsentrasi" jawab Hiyuka mengabaikan ucapan dari perawat tersebut.


"Nyonya bayinya sudah kelihatan, ayo coba dorong dengan perut nyonya..." Ucap Hiyuka yang memang sudah melihat kepala si bayi ada di jalan lahir.


"Ahhh...." teriak wanita hamil.

__ADS_1


"Terus nyonya... Lagi..."


"Ahhh...." teriaknya lagi.


"Sekali lagi ayo... Nyonya pasti bisa.." Pinta Hiyuka lagi.


Dan.... "Enyak... Enya..." Suara tangis dari bayi yang sudah lahir pun terdengar begitu nyaring.


"Semua orang napak tertegun melihat kepiawayan Hiyuka dalam menangani seorang wanita yang sedang melahirkan.


Hiyuka melanjutkan tindakan pertolongan dengan menangani bayi tersebut, setelah memotong tali pusarnya, Hiyuka lantas memberitakan bayi tersebut pada salah satu perawat yang sejak tadi berdiri mematung sambil memarahi Hiyuka penuh dengan keluhan.


"Bisa tolong bersihkan bayinya?" Pinta Hiyuka.


Dengan perasaan kesal kedua perawat tersebut melakukan apa yang di minta Hiyuka, sedangkan Hiyuka langsung menangani Wanita yang sudah melahirkan tersebut.


Setalah dirasa semua sudah selesai Hiyuka pun kini merasa lega bisa melihat wanita yang kini mulai menjadi ibu di hadapannya tengah tersenyum menerima bayi mungil yang baru di lahirkannya, dari tangan perawat yang sudah memandinkan bayinya.


"Terimakasih.." ucap wanita itu penuh haru.


Dan Hiyuka hanya menjawabnya dengan senyuman ketulusan.


"Tidak di sangka anda ternyata bisa membantu proses bersalin dengan begitu piaway, apa Anda seorang tabib?" tanya salah satu perawat yang sejak tadi mengomelinya.


"Tidak aku hanya seorang wanita biasa saja, hanya saja aku sedikit mengerti ilmu kesehatan" ucap Hiyuka, tanpa mengatakan yang sebenarnya.


"Namaku Janggem, dan ini Yeri, maaf tadi kami sempat meremehkan dirimu" ucap Janggem.


"Tidak apa aku mengerti kekhawatiran kalian, maafkan aku yang langsung mengambil tindakan pertolongan tanpa meminta izin terlebih dahulu." Ucap Hiyuka.

__ADS_1


"Tidak apa Nona melihat ibu dan bayinya selamat aku sudah sangat bersyukur." Ucap Yeri.


Baik Yeri, Janggem dan Hiyuka kini ketiganya mulai berbincang akrab, tanpa mereka sadari ada putra mahkota A-Fai yang sejak tadi terus memperhatikan Hiyuka penuh rasa kagum hingga rasa ingin memiliki diri Hiyuka pun kini semakin membesar di lubuk hatinya.


__ADS_2