
Pagi hari yang begitu cerah, nampak awan yang membiru dan awan putih yang beriringan menghiasi langit cerah karna sang surya menyinari dengan begitu gagahnya.
Tapi indahnya hari ini tak seindah suasana hati Hiyuka, ia nampak murung dan bersedih hati, hari ini adalah hari kebersamaannya bersama Putra Mahkota A-Fai, berbanding balik dengan Hiyuka putra mahkota nampak sangat gembira untuk hari ini.
Dengan semangat empat limanya Putra Mahkota A-Fai berdiri tegap di depan gerbang pintu istana menanti kedatangan Hiyuka,
"Tenanglah, jangan terlaru berdebar" ucap Putra Mahkota pada dirinya sendiri.
Setelah lama menunggu akhirnya yang ditunggu pun datang, Hiyuka datang dengan pakaian sederhananya namun terlihat sangat cantik dan elegen,
Perlahan namun pasti Hiyuka pun mendekati Putra Mahkota A-Fai, gadis itu menundukkan kepalanya sebagai tanda Hormat taklupa mengucapkan salam pada Putra Mahkota.
"Salam Putra Mahkota, maaf membuat anda menunggu lama" ucap Hiyuka sambil menunduk.
"Tidak masalah, kau siap untuk pergi?" jawab Putra Mahkota.
"Sesuai permintaanmu Yang Mulya" jawab Hiyuka.
"Kalau begitu Mari" ajak Putra Mahkota A-Fai.
Dengan menganggukkan kepalanya Hiyuka berjalan beriringan dengan putra Mahkota memasuki pasar pusat Kota yang penuh dengan keramaian, tidak ada satu pun yang mengenali mereka karena mereka menggunakan pakain sederhana dan seperti bangsawan biasa saja.
Sepanjang perjalanan hanya putra Mahkota yang terus memulai permbicaraan, dan Hiyuka hanya menanggapinya sesekali saja.
"Bagaimana kalau kita makan di kedai itu?" ajak putra Mahkota sambil menunjuk pada Salah satu kedai yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Aku dengar mereka menjual mie yang sangat enak sekali" ucap Putra Mahkota lagi.
"Saya ikut apa kata putra mahkota" ucap Hiyuka.
Hingga akhirnya mereka pun pergi dan memasuki kedai mie yang di tuju Putra Mahkota, harus Hiyuka akui makanannya memang cukup enak tapi sayang itu tidak bisa merubah suasana hatinya yang sedih dan gundah.
Setelah selesai menyantap mie mereka melanjutkan perjalanan mengelilingi pasar tradisional, ada banyak pedagang yang menjual pernak pernik perhiasan, pakaian, makanan cepat saji dan minuman dingin atau panas.
Putra Mahkota banyak menawari Hiyuka berbagai hal namun Hiyuka menolak berulang kali tawaran putra mahkota, hingga membuat putra mahkota bingung.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya putra mahkota A-Fai.
"Apa kau tidak senang pergi denganku?" tanya putra mahkota lagi.
__ADS_1
Hiyuka terperangah mendengar pertanyaan putra mahkota, dengan cepat Hiyuka memutar otaknya berusaha mencari alasan.
"Ah tidak seperti itu, maafkan aku Yang Mulya, hanya saja aku kurang suka keramaian, jadi aku merasa kurang nyaman berada di sini." Jawab Hiyuka beralasan.
"Seperti itu Rupanya, baiklah bagaimana kalau kita pergi ke hutan bambu, di sana adalah salah satu jalan perbatasan dengan desa sebelah, kita bisa pergi kesana kalau kau mau?" Ajak putra mahkota.
"Terserah yang mulanya, aku ikut kemana pun yang mulanya pergi." Jawab Hiyuka sekenanya.
Akhirnya mereka pun pergi menuju Hutan bambu, Hutan bambu adalah salah satu tempat yang sangat indah dan tenang semilir angin yang menerpa pohon-pohon bambu menambah suasana semakin tenang dan nyaman bagi sebagian orang, walau kadang kala membuat ngeri dan takut bagi mereka yang mendengarnya.
Lama Hiyuka berjalan ke arah hutan bambu sambil mendengarkan Yang Mulya Putra Mahkota A-Fai bercerita banyak hal dan Hiyuka hanya menjawab sekenanya saja, hingga tak terasa mereka telah sampai di area Hutan bambu.
Ada beberapa orang yang berlalu lalang mereka adalah orang-orang yang datang dan pergi dari Desa sebrang atau pun yang baru pulang habis dari Desa sebrang hendak kembali ke ibu kota Jeos.
"Indah" ucap Hiyuka tanpa sadar, saat melihat deretan pohon bambu yang menjulang tinggi.
"Kau menyukainya?" Tanya putra Mahkota.
Hiyuka hanya mengangguk sebagai jawaban.
Hiyuka berjalan menyusuri jalanan di sekitar pohon bambu, pikirannya mulai terasa lebih jernih dan hatinya tak henti mengingat akan sosok yang laki-laki yang telah mengisi relung kalbunya.
"Mengapa di saat seperti ini aku malah merindukannya, aku sungguh ingin berjumpa dengannya. Apakah dia juga merindukanku, sama seperti aku merindukannya?" tanya Hiyuka dalam hati.
"Apa ini, tidak kau tidak boleh merindukannya, tidak.... Dan tidak boleh, sadarlah aku mohon sadarlah" ucap Hiyuka lagi dalam hati.
Putra Mahkota A-Fai yang melihat Hiyuka termenung sejak tadi merasa hawatir karena melihat raut wajah Hiyuka yang terlihat sedih.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Putra Mahkota A-Fai.
"Ya.. Aku baik-baik saja, yang Mulya." Jawab Hiyuka.
"Tapi kau terlihat sedih?" tanya putra mahkota.
"Aku baik-baik saja yang mulya, anda pasti salah lihat" jawab Hiyuka.
"Terimakasih telah membawa saya kemari Yang Mulya saya suka tempat ini" ucap Hiyuka.
__ADS_1
"Aku senang jika kau menyukainya." ujar Putra Mahkota A-Fai.
Suasana diantara mereka mulai sedikit mencair, mereka mulai perlahan berbincang beberapa pembahasan ringan, hingga akhirnya perbincangan mereka harus berakhir karena kehadiran orang yang tidak di inginkan.
"Wah.. Wah.. Wahh.. Senang sekali bisa berjumpa dengan Yang Mulya Putra Mahkota dan Nona Muda Natagawa di tengah Hutan bambu seperti ini" ucap Cang Min.
Dengan Sigap Putra Mahkota melindungi Hiyuka di belakang punggungnya.
"Nona muda Hiyuka akhirnya kita bisa bertemu kembali setelah sekian lama, kau tau aku selalu menantikan pertemuan diantara kita, karena kita masih punya urusan yang sama yang harus kami selesaikan" ucap Cang Min.
"Aku tidak pernah punya urusan denganmu, jadi jangan menganggu ku lagi." sentak Hiyuka.
"Kau dengar apa yang dikatakan Nona Hiyuka, jadi pergilah." Ucap putra mahkota.
"Dengar Cang Min si pendekar merah, aku sudah tau kau adalah orang yang selama ini berusaha menyakiti Nona muda Hiyuka, aku bisa saja menganggap bahwa kau tidak melakukannya dengan sarat pergilah dari sini dan jangan pernah menganggu Nona muda Hiyuka lagi." Ucap Putra Mahkota.
"hahah... Lihat betapa gagahnya Calon Raja Kita meminta kita pergi dari sini dan meninggalkan mangsa kita hahah..." ucap Cang Min dengan gelak tawa yang mengerikan di ikuti para anak buahnya.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Cang Min mengejek.
"Aku akan menangkapmu dan memberikan hukuman yang begitu berat padamu." Tutur Putra Mahkota.
"Prajurit" teriak Putra Mahkota memanggil semua pengawal yang sejak tadi menjaga putra mahkota dalam persembunyian.
Datanglah sekitar sepuluh orang Prajurit yang menjadi pengawal Putra Mahkota dan melindungi putra mahkota dalam diam.
"Lihatlah mereka adalah para prajurit istana, luar biasa mereka mau dengan suka rela menghadapi kita semua." ucap Cang Min mengejek.
"Hahahah...."
Dan di jawab dengan gelak tawa oleh anak buah Cang Min.
"Kami sarankan kalian pergi dan janganlah menganggu putra mahkota." ujar salah satu prajurit putra mahkota dengan lantang.
"Tapi sayang kami tidak mau pergi, sebelum membawa Nona muda Natagawa bersama kami" ucap Cang Min kesal.
"Mado" panggil Cang Min dengan lantang
"Habisi semua para penganggu, kecuali Putra Mahkota, karena dia bukan urusan kita, jadi cukup sakiti sedikit saja agar dia tidak berani berurusan dengan Cang Min dan kelompok pedang Merah lagi." Perintah Cang Min, dengan serengai tipisnya.
__ADS_1