Cinta 2 Dimensi

Cinta 2 Dimensi
Kedatangan Cloud


__ADS_3

"Kami sarankan kalian pergi dan janganlah menganggu putra mahkota." ujar salah satu prajurit putra mahkota dengan lantang.


"Tapi sayang kami tidak mau pergi, sebelum membawa Nona muda Natagawa bersama kami" ucap Cang Min kesal.


"Mado" panggil Cang Min dengan lantang


"Habisi semua para penganggu, kecuali Putra Mahkota, karena dia bukan urusan kita, jadi cukup sakiti sedikit saja agar dia tidak berani berurusan dengan Cang Min dan kelompok pedang Merah lagi." Perintah Cang Min, dengan serengai tipisnya.


"Kurang ajar kalian" ucap salah satu prajurit.


"Habisi mereka" Perintah Cang Min.


Mado dan tiga anak buah Cang Min melawan para prajurit pengawal putra mahkota.


Pertarungan mereka begitu sukses membuat Hiyuka gemetar ketakutan, apa lagi saat melihat para prajurit putra mahkota yang satu persatu mulai tumbang melawan anak buah Cang Min.


Prang.. Prang... Suara benturan pedang yang saling berbentur dengan begitu keras.


Kepala prajurit pengawal terpaksa mundur karena melihat bawahannya yang lain yang sudah tawas terkapar di tanah dan dia pun mulai meraskan sakit akibat tebasan pedang para penjahat itu.


Tak sampai di sana kepala prajurit pun masih berusaha melawan lagi, namun sayang dia kembali gagal dan tepaksa mudur kembali.


"Putra Mahkota pergilah dari sini selagi aku bisa menghalau mereka" pinta kepala prajurit.


"Tidak bisa aku tidak akan meninggalkanmu" tolak putra mahkota.


"Tapi yang Mulya keselamatanmu adalah yang paling utama" ucap kepala prajurit.


"Biar aku yang menghadapi mereka." Ucap putra mahkota A-Fai


"Tidak Yang Mulya jangan" cegah kepala Prajurit, sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat akibat luka yang dia terima dari anak buah Cang Min.


Putra Mahkota A-Fai pun maju kedepan dan berhadapan langsung dengan Mado sang tangan kanan dan orang kepercayaan Cang Min.


"Hiattt..." teriak Putra Mahkota sambil maju dan mengayunkan pedangnya dengan penuh keberanian.


Mado sendiri pun tak mau kalah dia pun langsung maju dan menangkis serangan putra mahkota tak kalah hebatnya.


Pertarungan pun berlangsung seimbang di mana baik Mado dan putra mahkota sama-sama tidak mau kalah.

__ADS_1


Hiyuka yang menyaksikan pertarungan itu benar-benar di buat ketakutan bahkan sekujur tubuhnya pun bergetar hebat.


" Tuan Cloud... Di manakah kau berada, aku membutuhkanmu, tolong aku, aku mohon datanglah aku mohon." pinta Hiyuka dalam hati.


Ditengah pertarungan antara putra mahkota dengan Mado yang begitu sengit, tiba-tiba putra mahkota kehilangan keseimbangannya dan hampir kalah dari mado, putra mahkota dengan sekuat tenaga berusaha melawan Mado namun sayang pedang yang dia gunakan ternyata berhasil di patahkan oleh Mado.


"Prang..." suara pedang yang patah.


Patahnya pedang milik putra Mahkota membuat Putra Mahkota tertegun dan kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat hingga akhirnya ia sadar bahwa Mado mencoba menghunuskan pedang kearahnya dengan refleks Putra Mahkota pun terjatuh di tanah.


"Brug..."


"Yang Mulya... "


"Yang Mulya... " teriak Hiyuka dan kepala keamanan putra mahkota, secara bersamaan saat melihat putra mahkota terjatuh dan hampir di tebas oleh Mado.


Namun tiba-tiba "Brug...."


Mado pun juga tiba-tiba terjatuh karena lemparan sebuah Ranting pohon yang berukuran sedang mengarah tepat di dadanya.


Hal itu tentu tidak luput dari pengawasan Cang Min, Cang Min sendiri langsung bersiaga saat melihat Mado bawahannya sampai terpental hanya karena sebuah ranting pohon,


Beberapa anak buah Cang Min berusaha membantu Mado berdiri.


Mado nampak sedikit kesakitan itu terlihat dari ringisan kecil yang keluar dari mulutnya dan raut wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa sakit dan sesak di dadanya.


Di saat Cang Min sedang menerka-nerka siapa yang berani menganggu pekerjaannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kuda yang berjalan perlahan menghampiri mereka semua.


Seringai tipis nampak terlihat dari lengkungan bibir Cang Min, saat dia melihat siapa yang berani menganggu urusan pekerjaannya.


"Sudah ku duga ini pasti perbuatanmu Cloud" ucap Cang Min kesal.


"Cek... Kau selalu saja menganggu" keluh Cang Min kesal.


Cloud nampak mengacuhkan perkataan Cang Min, karena matanya tertuju pada satu sosok yang sangat dia rindukan di setiap detik dalam hidup Cloud, hal itu terjadi dari sejak pertama kali ia bertemu dengannya, bayang-bayang gadis itu selalu saja menganggunya dan mengunci dirinya dan hatinya.


Cloud pun turun dari kudanya dan membisikkan sesuatu pada kudanya yang bernama Jorge.


"Berdirilah di sampingnya" pinta Cloud dan dipatuhi kudan Hitam Jorge, dia berjalan dan beridiri tepat di samping Hiyuka.

__ADS_1


"Kau datang" ucap Hiyuka dalam hati sambil memegang dadanya yang mulai terasa tenang setelah melihat kedatangan Cloud.


Kontak mata di antara keduanya terjadi cukup lama dan mengisyaratkan perasaan akan kerinduan yang sama.


Cang Min yang melihat semua itu cukup di buat muak dan entah kenapa Cang Min tidak suka melihat Cloud dan Hiyuka saling bertatapan, dan seolah berkomunikasi melalui tatapan mata mereka.


Cloud memutus kontak matanya dengan Hiyuka dan membatu Putra Mahkota A-Fai untuk berdiri dan membawanya ke samping Hiyuka dan kepala prajurit keamanan Putra Mahkota berada.


Namun Putra Mahkota nampak enggan di bantu oleh Cloud, dia nampak berjalan sendiri menghampiri Hiyuka dan prajurit satu-satunya yang tersisa.


Cloud hanya menghela napasnya pelan melihat penolakan putra mahkota, lalu Cloud mengalihkan pandangannya pada Cang Min yang sejak tadi sudah menghunuskan tatapan pertempuran.


Nampak api kemarahan yang Cang Min kobarkan di kedua bola matanya, dan kali ini Cloud sadar bahwa dia sudah ikut campur terlalu jauh dalam urusan Cang Min.


Mau tidak mau Cloud pun harus menghadapi Cang Min dengan sebuah pertarungan yang pasti akan terjadi, walau pun Cloud tidak menginginkannya.


"Apa gadis itu begitu penting Cloud?" tanya Cang Min.


"Hingga berulang kali kau selalu saja menganggu urusanku dengannya." Tanya Cang Min lagi.


"Aku rasa kau tau jawabannya" jawab Cloud singkat.


"cih... Baiklah kalau begitu dia yang menang yang berhak membawa gadis itu" ucap Cang Min sambil menarik pedangnya dan bersiap untuk bertarung.


"Apa kita benar-benar harus bertarung?" tanya Cloud enteng.


"Jangan banyak mengelak Cloud, ambil pedangmu dan kita mulai pertarungannya" ucap Cang Min kesal.


"Huh..." Terdengar helaan napas yang Cloud buang dengan perlahan dari mulutnya sambil mengambil salah satu pedang yang tergeletak di tanah, karena Cloud tidak pernah membawa pedang kemana pun ia pergi, kecuali dua buah pistol dan juga peluru cadangan di sakunya.


Hal itu karena Cloud adalah seorang Prajurit yang berpangkat Capten.


"Bos biar aku saja yang menghadapinya" pinta Mado, yang juga merasa marah pada Cloud.


"Dia bukan tandinganmu Mado, dan dia adalah urusanku, harus kalian ingat hanya aku yang boleh membunuhnya dan hanya dia juga yang boleh membunuhku" ucap Cang Min penuh penekanan.


Deg...


Mendengar hal itu membuat jantung Hiyuka kembali berdebar kencang, dia sangat takut hal buruk terjadi pada Cloud.

__ADS_1


"Aku mohon Lindungi dia Tuhan" pinta Hiyuka dalam Hati.


__ADS_2