Cinta 2 Dimensi

Cinta 2 Dimensi
Cloud mengetahuinya


__ADS_3

"Apa aku tidak terlihat seperti keluarga Moe?" tanya balik Cloud, kesal.


"Maafkan aku, aku kira anda adalah warga asing yang hendak berkonsultasi dengan Ayahku" ucap Putra Mahkota.


"Sepertinya anda tidak mengenal keluarga Moe Putra Mahkota, tapi tidak masalah, karena memang lebih baik kita tidak saling mengenal." Ucap Cloud sarkas.


"Nona Muda Hiyuka Seleksi calon Putri Mahkota belum usai kenapa anda berada di sini, hal ini tidak baik jika di lihat oleh orang lain, alangkah baiknya anda kembali ke istana Ibu Suri Nona Muda." Ucap Siobhai salah satu tangan kanan Putra Mahkota.


Deg.... (Perasaan Hiyuka)


Deg... (Perasaan Cloud)


"Seleksi Calon Putri Mahkota?" ucap Cloud, memandang wajah Hiyuka penuh pertanyaan.


"Ya Tuhan akhirnya dia tahu" keluh Hiyuka dalam hati.


"Aku tidak pernah Ingin ikut serta dalam hal ini, tapi Tuan Natagawa yang memintaku" jawab Hiyuka jujur sambil menatap lekat kedua bola mata Cloud, berharap laki-laki itu akan mengerti.


Tanpa Cloud dan Hiyuka sadari semua gesture tubuh keduanya tidak pernah lepas dari pengawasan Putra Mahkota, dengan jelas Putra Mahkota melihat interaksi kontak mata di antara keduanya.


"Mereka sudah saling mengenal?" ucap Putra Mahkota A-Fai dalam hati.


Putra Mahkota dan para pengawalnya yang mendengar kejujuran Hiyuka nampak meradang, mereka tidak terima dengan apa yang dikatakan Hiyuka.


"Nona Muda Hiyuka apa anda sadar dengan yang anda katakan Hal ini bisa di anggap sebagai sebuah kejahatan oleh kerajaan, karena jelas-jelas menolak titah kerajaan." Jelas Siobhai.

__ADS_1


Hiyuka nampak diam saja, mendengar semua hal yang di ucapkan Siobhai.


"Aku mengerti dan cukup memahami semuanya, tapi apakah di sini tidak ada yang namanya Hak Asasi Manusia, di mana setiap orang berhak memilih hidupnya sesuai dengan apa yang mereka inginkan, tanpa harus mengikuti sebuah aturan yang justru memberatkan sebelah pihak, terutama kaum wanita, dan lagi terlalu banyak tradisi perbudakan di sini yang mengekang kebebasan setiap orang, dan lagi..... "


"Cukup Nona muda Hiyuka kau terlalu lacang berbicara, jika aku tidak melihat kau adalah cucu dari Guru besar istana, maka aku pasti sudah akan melaporkan hal ini pada yang Mulya Raja." Tutur Siobhai memotong Perkataan Hiyuka.


"Sebaiknya kau segera kembali ke istana Ibu Suri untuk melanjutkan posesi Seleksi Putri Mahkota"


"Kalian berdua tunggu apa lagi bawa Nona muda kembali cepat" ucap Siobhai sedikit meninggi.


Hiyuka sangat kesal dan marah melihat laki-laki itu, dia mengepalkan kedua tangannya, menahan semua amarah yang hampir keluar.


"Nona sudah lah mari kita kembali" ucap Bibi Damnim ketakutan.


Melihat dua orang yang selalu menemani dirinya memohon hal itu cukup meredakan amarah Hiyuka walau tidak semuanya, dan akhirnya mau tidak mau Hiyuka pun pergi dari sana dan kembali ke Istana Ibu Suri, setelah berpamitan.


Cloud hanya mematung melihat kepergian Hiyuka dengan jutaan perasaan yang berkecambuk di dalam hatinya.


Setelah memastikan Hiyuka benar-benar pergi Cloud pun bersiul cukup kencang untuk memanggil kuda kesayangannya Jorge.


"Swiiiiiiiiiiiiitwittt...." suara siulan yang keluar dari tekanan udara yang dia tiup dengan memasukkan Ibu jari dan jari tengah dari tangan kirinya kedekat mulutnya dan meniupnya kencang sehingga menghasilkan bunyi yang cukup nyaring di dengar.


Tuan Siobhai yang tidak senang cukup marah mendengar siulan Cloud, dia merasa Cloud berbuat cukup tidak sopan di depan Putra Mahkota.


"Tuan kau benar-benar tidak punya sopan satun, di depan putra Mahkota beraninya kau meninggikan suara mu." Ucap Siobhai.

__ADS_1


Cloud tidak peduli dia hanya melihat kearah samping dimana kuda hitam kesayangannya Jorge telah datang dengan sedikit berlari.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan Tuan, tapi apa pun keluhanmu silahkan kau adukan pada Yang Mulya Raja saja, jadi kau tidak perlu sampai marah-marah begini Tuan." Ucap Cloud dingin, ia juga sangat kesal sejak tadi, apa lagi saat mendengar Hiyuka ikut mengikuti Seleksi Putri Mahkota, itu cukup membuat ia sangat marah saat ini.


"Kau..." ucapan Tuan Siobhai haya tertahan di dalam mulut, karena dia melihat Cloud pergi begitu saja tampa memberikan hormat dulu pada putra Mahkota.


Dengan pembawa Cloud yang dingin dan tegas, Cloud jelas tidak peduli dengan apa yang dikeluhankan Tuan Siobhai padanya, dia pergi menghampiri Jorge kuda hitam kesayangannya dan dengan gagahnya dia menaiki kuda tersebut.


Beberapa dayang istana yang tadinya hanya sekedar lewat dan tanpa sengaja melihat karisma Cloud, mereka cukup dibuat histeris, ada beberapa di antara mereka yang terang-terangan melompat-lompat menunjukkan rasa senangnya karena bertemu dengan Cloud walau pun dari jarak yang cukup jauh.


Cloud jelas tak peduli dia memilih pergi dari istana dengan menunggangi kuda Jorge


"Sungguh Tidak sopan" keluh tuan Siobhai.


"Kita harus melaporkan ketidak sopanan ini pada yang Mulya Raja" ucap Siobhai lagi.


"Tidak perlu, hal ini tidak perlu di ketahui siapa pun, sudahlah ayo kita pergi." Ucap Putra Mahkota sambil berlalu pergi dari sana,


Tanpa di ketahui orang lain putra Mahkota nampak mengepalkan tanggannya di balik baju kerjaan yang dia kenakan.


"Apa yang kalian lakukan cepat pergi atau kalian semua mau di pecat" ucap Siobhai pada para dayang istana yang masih melihat kepergian Cloud.


Semua dayang istana nampak ketakutan dan memilih pergi dari sana dengan cepat,


Sementara Siobhai pun juga pergi menyusul putra Mahkota yang lebih dulu pergi.

__ADS_1


__ADS_2