
"Sial kenapa kuda itu begitu cepat sekali" gerutu Putra Mahkota A-Fai saat dia tertinggal jauh dari Cloud.
Dengan cepat Putra Mahkota memacu kudanya untuk menyusul kuda milik Cloud, di ikuti oleh prajuritnya yang setia menemaninya di belakangnya.
Tanpa mereka sadari sekelompok orang berbaju hitam itu sudah berhasil mengikuti mereka dari belakang,
"Ada bangsa haha.. Aku menemukan mangsa" ucap salah satu dari kelompok berbaju hitam dengan berteriak.
"Kejar mereka.." Sahut salah satu dari mereka lagi dengan suara lantang.
Baik Cloud, Hiyuka, Putra Mahkota A-Fai dan satu prajurit penjaga putra mahkota sama-sama mendengar gemuruh teriakan dari kelompok berbaju hitam itu.
Cloud sejenak menoleh ke belakang dia melihat putra mahkota dan satu prajuritnya jauh tertinggal di belakangnya.
"Sial" umpat Cloud yang terdengar jelas di pendengaran Hiyuka.
Hiyuka berusaha menoleh ke belakang dari atas pundak Cloud, sambil terus berpegangan erat dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Cloud.
Hiyuka melihat kuda putra mahkota dan satu prajuritnya tertinggal jauh, dari Kuda yang ia tunggangi bersama Cloud.
Lalu Hiyuka lebih terkejut lagi saat melihat segerombolan orang berbaju hitam dan bertopeng mengerikan tepat berada di belakang Putra Mahkota A-Fai dan satu prajuritnya.
"Tuan kita harus menolong mereka" pinta Hiyuka tepat di telinga Cloud,
Cloud yang merasa kesal pun menarik mantel yang dibalutkan di tubuh Hiyuka hingga menutupi seluruh kepala Hiyuka, dan mengabaikan apa yang di minta Hiyuka, Hiyuka yang di perlakukan seperti itu pun hanya mampu memberunget kesal tanpa mampu berucap lagi.
Putra Mahkota dan satu prajuritnya berusaha keras lari menjauh dari kelompok berbaju hitam itu, dan berusaha mengejar kuda Jorge yang di tumpangi Cloud dan Hiyuka.
__ADS_1
Cloud membawa laju kuda Jorge ke arah Desa guenju dengan cepat dia menerobos keamanan desa guenju dan memacu kudanya kearah barat, Daerah Barat di Desa Guenju adalah daerah yang di kuasai oleh keluarga Moe dan di jaga ketat oleh prajurit setia keluarga Moe.
"Ah.... Tolong"
"Tolong.... "
"Selamatkan diri kalian, ayo cepat" teriakan dari para warga dan para pedagang dari dalam desa Guenju karena ketakutan melihat begitu banyak pasukan berkuda dan berbaju hitam yang datang dengan membuat kerusakan sambil mengejar Cloud dan Putra Mahkota A-Fai yang tepat berada di depan para kelompok berbaju hitam itu.
Dengan menembus pusat Kota Guenju Cloud tetap lurus maju kedepan tepat ke arah Barat, di ikuti Putra Mahkota A-Fai dan satu prajuritnya di belakangnya, Cloud, Hiyuka dan Kuda Jorge hampir sampai di depan pintu gerbang kediaman keluarga Moe yang ada di Desa Guenju.
"Suitttttttt...... " Suara siulan yang di tiupkan Cloud dari mulutnya dengan memasukan ibu jari, dan jari telunjuk ke dalam mulutnya sehingga menimbulkan sebuah siulan yang begitu nyaring.
Siulan itu adalah salah satu kode yang di buat Cloud untuk memanggil seluruh pasukannya yang ada di daerah Desa Guenju, dan siulan itu di buyikan hanya untuk situasi genting saja.
Dan benar saja beberapa detik kemudian gerbang Keluarga Moe pun terbuka dan sebagian prajurit pun langsung sigap di tempat dengan senapan laras panjangnya.
Cloud mengajucungkan dua jari karinya keatas sebagai tanda jangan menembak dua orang di belakangnya yaitu putra mahkota dan satu prajurit di belakangnya.
Cloud masih memacu kuda Jorge dengan cepat hanya sedikit lagi maka mereka akan segera aman berada di dalam kekuasaan keluarga Moe.
Di detik berikutnya Cloud pun kembali memberikan kode tangan untuk para prajuritnya agar bersiap menembak, Cloud mengangkat tinggi-tinggi tangan kirinya dalam keadaan terkepal, dan setelah itu tangan itu terbuka dengan lima jari yang berdiri lurus, pertanda bahwa mereka boleh menembak.
Lalu setelah itu "Dor... Dor... Dor...." Suara tembakan pun terdengar berbarengan dengan masuknya kuda Jorge yang di tumpangi Cloud dan Hiyuka ke dalam gerbang kekuasaan keluarga Moe di desa Guenju.
Cloud menghentikan laju lari kuda Jorge setelah memasuki wilayah kekuasaan keluarga Moe, dan langsung melihat keadaan Hiyuka yang ada dalam dekapannya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.
Dilihatnya Hiyuka termenung dan membisu, membuat Cloud hawatir melihatnya.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Cloud cemas.
Hiyuka hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Terdengar helaan nafas kelegaan yang di hembuskan Cloud secara perlahan, dan semua itu tidak luput dari pengamatan Hiyuka yang sejak tadi menyaksikan betapa hebat dan gagahnya laki-laki itu dalam melindungi dirinya.
Di detik berikutnya terdengar dua suara kuda yang memasuki pintu gerbang keluarga Moe secara bersamaan menghampiri Cloud dan Hiyuka, mereka adalah putra mahkota A-Fai dan satu prajuritnya yang tersisa.
Cloud yang melihat mereka sudah aman pun mulai turun dari kudanya lalu membatu Hiyuka untuk turun juga.
Hiyuka melihat para prajurit berbaju biru dengan pistol laras panjang di tangan Mereka sedang berdiri Siaga di tempatnya masing-masing, lalu Hiyuka juga melihat beberapa dari mereka mulai menutup pintu gerbang yang dia lalui tadi.
Gerbang itu begitu besar hampir sama dengan gerbang keluarga Moe dan juga gerbang kedutaan Amerika yang ada di pusat kota istana Jeos, selain itu gerbang itu juga terlihat sangat kuat sehingga siapapun lawannya pasti akan sangat Kesulitan menembus gerbang tersebut.
"Pastikan mereka benar-benar menjauh dari kediaman keluarga Moe." Perintah Cloud pada prajuritnya.
"Siap Capten" jawab mereka serentak. Membuat Hiyuka terlonjak kaget mendengarnya.
Disisilain.
"Sial mereka berhasil lolos" ucap pemimpin kelompok berbaju Hitam dan bertopeng mengerikan tadi.
"Padahal ada putra mahkota di antara mereka, sekali saja aku dapat melihat wajahnya maka akan ku binasakan dia selamanya" ucapnya lagi.
"Yang Mulya, mereka berhasil lolos karena di lindungi oleh prajurit Amerika" ucap salah satu dari anak buah berbaju hitam.
"Kau benar, sejak dulu dia selalu berada di bawah perlindungan keluarga moe, alhasil dia selalu selamat hingga sekarang,...... Rasanya aku ingin sekali menyingkirkan keluarga Moe itu." Jawab pemimpin berbaju hitam itu, geram.
__ADS_1
"Tidak masalah kali ini mereka lolos, tapi tidak untuk yang selanjutnya." Sambungnya lagi.
"Kita pergi" perintahnya pada semua bawahannya.