
Sepeninggal Ibu suri dan Ibu Ratu, nampak tatapan semua para Calon Putri Mahkota menatap Hiyuka tidka suka, secara terang-terangan dia melihat kearah Hiyuka dengan tatapan permusuhan.
"Huh...."
Hiyuka hanya mehela nafasnya kasar karena melihat tingkah semua gadis Calon Putri Mahkota yang menganggap dirinya musuh, apa lagi saat melihat tatapan tidak suka yang di tunjukkan Haura Jee pada dirinya.
"Menyebalkan" ucao Hiyuka sambil bergegas pergi dari sana.
Dengan di ikuti Bibi Damnim dan paman Yoojin yang melihat Hiyuka mulai meninggalkan Aula Istana Ibu Suri.
Jika semua para Calon Putri Mahkota melihat Hiyuka dengan tatapan permusuhan, lain hal nya dengan putra mahkota dia nampak begitu terkagum melihat aksi Hiyuka yang telah menyelamatkan Ibu Suri yang tak lain adalah neneknya sendiri, hal itu menambah kadar ketertarikan Sang Putra mahkota pada Hiyuka.
Melihat Hiyuka yang meninggalkan aula Istana Ibu Suri, putra Mahkota A-Fei pun juga ikut pergi meninggalkan Aula tersebut, ia hendak menyusul kepergian Hiyuka yang dia sendiri tidak tau arahnya ke mana.
Saat Hiyuka sedang menyusuri jalan yang dia pijak Hiyuka tak sengaja melihat sosok seorang laki-laki yang telah membelenggu hatinya dengan rasa Rindu yang tak berujung, laki-laki itu tepat ada di hadapannnya, dia nampak berjalan kearahnya sambil memperbaiki bajunya yang memang sedikit berantakan,
Hiyuka sungguh merasa bahagia melihat sosok laki-laki yang selama ini menghias mimpinya.
Didetik berikutnya Cloud yang sedang berjalan sambil membenahi bajunya karena baru selasai latihan yang dia lakukan bersama para prajurit baru Istana, menghentikan langkahnya saat dia melihat Hiyuka yang berdiri di harapannya dan menghalangi jalannya.
Cloud nampak mematung melihat Hiyuka ada di hadapannya, dan di detik berikutnya, dengan cepat dia memeluk Hiyuka, gadis yang selama ini ia rindukan setengah mati.
Hiyuka yang di peluk pun refleks ikut membalas pelukan Cloud yang begitu menenangkan hatinya.
Paman Yoojin dan Bibi Damnim yang melihat Nona muda mereka berpelukan dengan dengan Tuan Muda Cloud, langsung kelabakan, mereka jelas takut akan ada yang melihat hal ini karena saat ini status Nona muda Hiyuka adalah salah satu Calon Putri Mahkota.
"Nona Muda, Tuan Muda tolong jangan berpelukan di sini" ucap bibi Damnim takut.
Cloud yang sadar pun mulai menguraikan pelukannya dari Hiyuka.
Ada rasa kecewa di hati mereka, hal itu tergurat jelas di wajah keduanya.
__ADS_1
"Maaf aku terlalu merindu hingga tidak tau tempat" ucap Hiyuka padahal yang jelas memeluk dirinya terlebih dahulu adalah Cloud.
"Aku pun" jawab Cloud sambil menatap kedua manik mata indah milik Hiyuka.
"Apa yang anda lakukan di sini Tuan?" tanya paman Yoojin.
"Ah... Kerjaan meminta saya untuk melatih para Prajurit baru istana, dan mau tidak mau aku akhirnya ada di sini" jawab Cloud tanpa mengalihkan padanganya dari Hiyuka.
Hiyuka hanya membalasnya dengan senyuman sejuta rindu.
"Dan apa yang Nona muda lakukan di istana?" tanya Cloud.
Deg....
"Apa yang harus aku katakan padanya, tidak mungkin aku katakan yang sebenarnya bukan?" tanya Hiyuka dalam hatinya.
"Aku...." Jawab Hiyuka ragu.
Hiyuka melihat laki-laki asing yang berjalan kearahnya.
"Nona Muda beri hormat pada yang mulya putra mahkota" ucap bibi Damnim.
"Hah...." ucap Hiyuka kaget namun dengan cepat Hiyuka memberikan hormat.
Tapi tidak dengan Tuan muda Cloud dengan santainya dia mengabaikan laki-laki yang di sebut putra mahkota itu, membuat Hiyuka sedikit bingung.
"Paman Yoojin, kau masih menyimpan belarti keluarga Moe?" tanya Cloud mengalihkan tatapan merendahkan yang di berikan putra mahkota karena Cloud tidak kunjung memberi hormat.
"Ah... Iya ini Tuan muda, mohon maafkan saya, saya berniat mengembalikan belati ini tapi selalu saja gagal, anda sungguh sangat sulit untuk saya temui Tuan" ucap paman Yoojin merasa tidak enak.
__ADS_1
Paman Yoojin pun menyerahkan belati tersebut kepada Cloud sebagai pemilik Asli dari belati tersebut,
"Tidak apa paman, saya memang harus mengambil kembali belati ini, karena ini adalah belati khusus keluarga Moe, dan tidak ada yang boleh sembarang orang menggunakan belati ini." Jawab Cloud.
Putra mahkota A-Fei yang melihat belati keluarga Moe reflek menyentuh perutnya, karena belati itu juga begitu mirip dengan belati yang di berikan ibu Ratu padanya, yang dia simpan di balik jubahnya tepat di atas perutnya, putra mahkota pun jadi teringat akan pesan yang di katakan Ibu Ratu padanya saat memberikan belati peninggalan salah satu Keluarga Moe pada dirinya.
🎀 Flashback 🎀
"Putraku, dulu saat aku akan melahirkanmu keadaan kerajaan sangatlah genting, kami bahkan harus rela mengungsi karena kerajaan telah di serang oleh para penjajah Jepang, mereka hampir membunuh kita semua tapi, kita semua selamat karena ada para tentara Amerika yang menyelamatkan kita"
"Awalnya mereka hanya lah singgah di negara kita, tapi melihat kita semua terjajah oleh Jepang, dengan begitu sangat menyedihkan mereka pun akhirnya turuntangan dan menolong kita semua agar terbebas dari penjajahan orang-orang Jepang tersebut."
"Bahkan saat itu, ibu sedang berjuang melahirkanmu, nyonya besar keluarga Moe rela melawan para penjajah Jepang demi melindungi kita semua bersama cucu laki-lakinya yang tak lain adalah Tuan muda Aaron, hingga akhirnya nyawa Nyonya besar Moe harus tiada pada saat memelukmu di pangkuannya, dia bahkan rela mati demi melindungimu yang sedang ada di dalam gendongannya, dan tidak membiarkan kamu terluka sedikit pun."
" Dan di akhir nafasnya dia memberikan belati ini pada ibu, belati ini adalah simbol keluarga Moe, dan benar saja saat nyonya besar meninggal dunia dan ibu menunjukan belati ini pada semua tentara Amerika mereka semua mulai dengan sigap melindungi kita semua, dan melindungi tanah air kita hingga sekarang." Ucap Ibu Ratu pajang lebar.
"Jadi Putraku jagalah belati ini dengan baik, dan harus kau ingat dengan baik, bahwa keluarga Moe adalah orang-orang yang telah berjasa terhadap keluarga kita, terutama pada kita berdua nak, karena jika bukan karena Nyonya besar keluarga Moe mungkin kita berdua sudah tidak akan pernah ada lagi di bumi ini, hingga sekarang."
" Maka dari itu di mana pun dan kapan pun kau bertemu dengan keluarga Moe, hormatilah mereka, terutama Tuan Muda Aaron, karena dia adalah orang yang paling terpuruk saat Nyonya besar Moe meninggal, jika bukan karena Tuan besar Moe mungkin Tuan muda Moe sudah meminta pertanggung jawaban atas kematian Nenenknya yang tak lain Nyonya besar Moe pada kita semua."
" Saat itu Tuan Muda Aaron adalah anak kecil yang sudah sangat handal menggunakan senjata, di depan mata ibu sendiri dia bahkan dengan gagah berani tanpa takut sedikit pun membunuh para tentara yang mencoba mendekat kearah Ibu, dan kemarahannya itu terluapkan pada saat dia melihat nyonya Moe terbunuh di harapannya hanya demi melindungi kita,"
" Ibu sungguh takut saat melihat kemarahan yang sangat besar di mata Tuan Muda Aaron, dengan badan kecilnya dia membinasakan seluruh tentara Jepang dengan senjatanya, tanpa tersisa."
Cloud pun memasukkan belati milik keluarga Moe kedalam saku bagian dalam dari bajunya tempat dia menyimpan senjatanya.
"Tuan, kau dari keluarga Moe?" tanya putra mahkota A-Fei.
"Apa aku tidak terlihat seperti keluarga Moe?" tanya balik Cloud, kesal.
"Maafkan aku, aku kira anda adalah warga asing yang hendak berkonsultasi dengan Yang Mulya Raja" ucap Putra Mahkota.
__ADS_1
"Sepertinya anda tidak mengenal keluarga Moe Putra Mahkota, tapi tidak masalah, karena memang lebih baik kita tidak saling mengenal." Ucap Cloud sarkas.