
Pagi ini rasanya sungguh berbeda dari hari-hari biasanya. Shaka merasa dirinya lebih semangat berangkat ke tempat kerjanya hari ini. Bagaimana tidak, pagi ini dia sudah mendapat asupan sarapan yang sehat nan bergizi, apalagi kalau bukan mie instant buatan Keyla. Ditambah topping senyuman manis Keyla yang sampai sekarang masih terbayang di benaknya.
Sebenarnya tidak ada yang berbeda mie buatan Keyla pagi ini dengan mie buatannya kemarin malam. Sama-sama mie instant kuah rasa kari ayam ditambah dengan telur sebagai pelengkap. Tapi mungkin karena kali ini dibuat dengan tangan halus nan indah dari seorang Keyla, rasanya seperti mie buatan chef di restoran bintang lima. Biasalah, imajinasi anak muda.
Belum lagi tadi saat berangkat kerja, Keyla sempat melambaikan tangannya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Tak lupa kata-kata mutiara sebagai penyemangat bagi Shaka dalam mencari rejeki hari itu dilontarkan dari mulut manis Keyla dengan penuh ketulusan.
“Semangat ya, kerjanya. Semoga kerjaan kamu hari ini lancar. Aku tunggu kamu pulang ke rumah secepatnya.” Begitulah kurang lebih pesan Keyla pagi tadi yang terus terngiang di telinga Shaka sepanjang perjalanan menuju ke tempat kerjanya.
Ah, betapa senangnya! Begini rupanya rasanya disemangati istri! Eh, istri? Ya, memang istri! Meskipun nikah mendadak, tetap saja pernikahan mereka sudah sah bukan? Tapi, bukannya Shaka pernah mengatakan akan mengurus surat perceraian mereka setelah satu minggu bersama?
Ah, itu urusan belakangan! Shaka tak ingin mood baiknya berubah pagi ini. Biarlah ia merasakan kebahagiaan diurus istri di pagi hari. Biarkan senyuman di wajahnya terus terukir meski harus kering gigi. Masa bodoh meski ada yang mengumpatnya seperti orang gila yang terus senyum-senyum sendiri sepanjang jalan tadi. Namanya juga orang lagi berbunga-bunga. Jangan iri, ya!
Sejak awal perjalanannya menuju ke tempat kerja dimulai, Shaka merasa ada jutaan emoticon bentuk hati mengiringi perjalanannya pagi ini. Keyla sukses membuat Shaka dimabuk asmara bermandi emoticon cinta yang berterbangan di udara. Benarkah ia sudah mulai tertarik dengan Keyla? Entahlah, dia belum pasti dengan perasaannya sendiri. Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan secepat itu. Yang jelas ia hanya ingin menikmati setiap kebersamannya dengan Keyla saat ini.
Sesampainya di tempat kerja, Shaka memarkirkan motornya lalu masuk untuk mengambil paket yang akan dia antarkan hari itu. Disana ternyata Rara sudah datang, gadis yang satu ini memang selalu datang pagi-pagi sekali. Tapi temannya, Bang John, malah belum nampak batang hidungnya. Oke, kali ini Shaka lebih cepat datang dari pada teman baiknya itu.
“Eh, Mas Shaka, pagi sekali datangnya,” sapa Rara dengan ramah. Ia terlihat sedang memegang mug berwarna pink berisi teh hangat miliknya.
“Iya, nih. Lagi rajin. Bang John belum datang ya, Ra?” tanya Shaka.
“Belum, Mas. Mungkin sebentar lagi. Oh ya, Mas Shaka udah sarapan? Rara ada bawa kue lebih. Hmmm...ini ada teh hangat juga. Mas Shaka mau?” Begitu baik hatinya Rara menawarkan sarapan untuk Shaka. Bahkan teh hangat yang baru ia buat pun mau ia bagi dengan Shaka.
“Nggak, Ra. Makasih, ya. Aku udah sarapan kok. Aku mau langsung nge-check barang yang harus aku antar hari ini aja,” kata Shaka tanpa basa-basi.
__ADS_1
“Oh, iya Mas. Itu disana ya, Mas. Di keranjang putih itu. List nya udah Rara siapin juga di atasnya,” jawab Rara sambil menunjuk ke arah yang dia maksud.
“List nya udah kamu print juga? Wah, rajin banget kamu, Ra. Makasih, ya,” ucap Shaka.
Mendengar Shaka memujinya, Rara langsung senyum-senyum kegirangan. Padahal Shaka hanya mengapresiasi pekerjaannya saja. Tapi Rara malah berpikir lebih dari itu. Tak dipungkiri Rara memang sangat rajin dalam bekerja dibanding admin lainnya. Sudahlah rajin, dia juga manis, banyak juga kurir muda lain yang meliriknya, tapi tetap saja hanya Shaka yang ia suka.
Shaka pun memulai pekerjaannya. Ia memilah milah satu per satu paket yang akan dia kirim berdasarkan alamat pelanggan. Tak lama terdengar suara motor yang tak asing di telinga Shaka. Itu adalah suara motor Bang John yang baru tiba di ruko itu.
“Wah, kalah cepet nih aku hari ini,” ucap Bang John saat melihat Shaka sudah ada disana melakukan pekerjaannya.
“Yoi, Bang. Seperti yang pernah Abang bilang, kalau ada yang menyemangati memang beda,” sahut Shaka dengan semangat.
Ada yang menyemangati? Siapa maksud Mas Shaka? Apa mungkin...aku? Rara yang mendengar percakapan antara Shaka dan Bang John menebak-nebak dalam hati. Mungkinkah dirinya yang Shaka maksud?
“Ya udah, besok Abang datang aja ke rumah, biar Abang buktikan sendiri. Tapi Abang datang agak siang ya, Bang. Besok pagi aku sama Keyla mau belanja dulu ke pasar,” ucap Shaka lagi.
Keyla? Siapa Keyla? Apa dia yang dimaksud Mas Shaka sebagai penyemangatnya? Rara langsung terbakar api cemburu saat mendengar Shaka menyebut nama wanita lain, bukan nama dirinya. Padahal dia sudah kepedean duluan kalau dia lah yang dimaksud Shaka tadi. Wajahnya yang tadi sumringah kini berubah menjadi masam. Ia tak suka ada wanita lain yang merebut Shaka, pria yang lama sudah ditaksirnya.
“Jadi kamu beneran, ya? Nggak becanda?” tanya Bang John penasaran.
“Besok Abang datang sendiri ke rumah dan buktikan. Aku nggak mungkin bohong soal ini, Bang,” jawab Shaka serius.
“Wah, makin penasaran nih,” ucap Bang John.
__ADS_1
“Makanya besok datang, Bang. Jangan lupa bawa istri sama anak-anak Abang sekalian main ke rumahku. Nanti aku kenalin sama Keyla. Tapi awas, jaga mata Abang, jangan jelalatan! Si Keyla itu cantik banget soalnya,” kata Shaka lagi yang mengundang api cemburu kian berkobar-kobar.
Duggg.
Saking kesalnya Rara spontan menendang meja kerjanya dengan keras. Shaka dan Bang John sontak menoleh ke arah Rara.
“Kenapa, Ra?” tanya Bang John khawatir.
“Ng...nggak, Bang. Tadi kayak ada kecoa, mau Rara tendang, eh malah ketendang meja,” jawab Rara berbohong sambil nyengir kuda.
“Kecoa? Mungkin karena kebanyakan barang kali ya disini sampai ada kecoa. Nanti minta bagian yang bersih-bersih lebih teliti lagi, Ra. Takutnya paket-paket disini jadi pada rusak kalau banyak kecoanya,” saran Bang John dengan serius. Dia tidak tau saja Rara tadi berbohong.
“Iya, Bang. Nanti Rara sampaikan,” ucap Rara dengan canggung.
Kecoanya bukan kecoa beneran, Bang. Kecoanya si Keyla yang disebutin Mas Shaka tadi. Memangnya secantik apa, sih, dia itu? Paling nggak lebih cantik dari aku. Aku penasaran. Apa aku besok ikut ke rumah Mas Shaka aja kali, ya?
***
Wowww, makin banyak aja, nih, yang suka sama Shaka!
Masih penasaran sama kisah selanjutnya?
Jangan lupa like, vote, comment dan jadikan favorit ya, biar author semangat update-nya!
__ADS_1
Happy reading 🤗💙