Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
66. Berakhir


__ADS_3

Hendry dan Juan sudah diantar pulang ke rumah Hendry dalam keadaan pingsan. Mereka digeletakkan begitu saja di depan gerbang rumah. Security yang berjaga di depan sangat terkejut melihat yang tergeletak adalah bos nya. Ia pun memanggil anak buah Hendry yang lain untuk segera memindahkan mereka ke dalam.


Hendry dan Juan dibaringkan di atas sofa. Setelah itu anak buahnya mencoba mengguncang bahu mereka agar mereka segera sadar. Tak lama Juan lebih dulu sadar, ia langsung duduk dan melihat ke sekitarnya, ternyata dia sudah berada di rumah bosnya.


Hendry pun ikut tersadar juga. Kepalanya terasa pusing. Ia melihat Juan dan anak buah yang lainnya saat ia membuka mata, ia baru sadar kalau dirinya sudah berada di rumahnya sendiri.


"Akh! Breng-sek! Bisa-bisanya mereka menjebakku dan memaksaku menandatangani surat perjanjian itu! Aku harus balas perbuatan mereka," kata Hendry yang masih emosi ketika mengingat apa yang dialaminya barusan.


"Sabar, Tuan. Ingat, Tuan sudah menandatangani surat itu. Tuan tidak boleh mendekati Nona Keyla lagi," ucap Juan mengingatkan bosnya.


Hendry tampak menghela nafas dengan kasar. Ia menyesal menandatangani surat perjanjian tadi begitu saja. "Ini juga gara-gara kau! Kau tidak becus melawan mereka!" hardik Hendry.


Juan tau bosnya sedang kesal, jadi dia hanya diam saja tak membalas apa-apa. Padahal bosnya sendiri tau kalau mereka sama-sama dalam kondisi terikat tadi.


Hendry memegang wajahnya. Ia baru merasakan sakit akibat pukulan anak buah Arshaka tadi. Ia pun makin kesal saja. Ia belum bisa terima diperlakukan seperti tadi oleh anak buah Arshaka.


"Kalian kenapa diam saja? Panggil dokter! Tidak lihat wajahku memar begini?!" bentak Hendry pada anak buahnya yang tadi membawanya ke dalam rumah.


"Baik, Tuan."


"Dan kau, pulanglah sana! Obati lukamu! Aku sedang malas melihat wajahmu!" tunjuk Hendry pada Juan. Juan yang jadi sasaran kemarahan karena tadi tak bisa berbuat apa-apa.


"Baik, Tuan."


Hendry pun pergi ke lantai atas untuk masuk ke kamarnya. Sementara Juan yang sudah diusir terpaksa kembali ke apartemennya sendiri.


***


Juan tinggal seorang diri di apartemen miliknya. Apartemen yang ia beli dari hasil bekerja dengan Hendry tentunya. Apartemen itu cukup luas untuk ditinggali sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, ia memang tidak punya satupun anggota keluarga yang bisa tinggal bersamanya.

__ADS_1


Setelah dari rumah Hendry, Juan pun langsung menuju ke apartemennya. Apartemen itu terlihat sangat sunyi sekali. Juan mulai masuk ke apartemennya lalu segera pergi ke kamar untuk mandi membersihkan diri.


Di bawah derasnya air yang mengalir dari shower, ia tiba-tiba teringat akan ucapannya tadi pada Hendry bahwa mencintai tak harus memiliki. Juan tampak tersenyum sinis pada dirinya sendiri. Kata-kata itu tak hanya untuk menasehati Hendry tapi juga menasehati dirinya sendiri. Dalam diam ternyata ia sudah mulai menyukai Cindy.


Juan segera menyelesaikan mandinya lalu berpakaian. Setelah itu barulah ia mengambil kotak obat dan mulai membersihkan memar di wajahnya sendiri. Resiko hidup tanpa ada yang menemani ya begitu. Apa-apa semuanya dilakukan sendiri.


Juan melihat jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul enam sore. Ia pun berbaring di atas tempat tidurnya untuk beristirahat sejenak. Tapi tiba-tiba bunyi bel di apartemennya membuatnya kembali bangun.


"Siapa yang datang kesini?" tanya Juan pada dirinya sendiri.


Juan pun bangun dari tempat tidur lalu mengecek siapa yang datang. Sebelum membuka pintu, ia melihat terlebih dulu siapa yang ada di depan pintu apartemennya itu melalui kamera interkom di samping pintu. Ia pun terkejut. Ia tak menyangka yang datang saat itu adalah Cindy.


Darimana dia tau alamat apartemenku? tanya Juan dalam hati.


Juan melihat Cindy di luar menunggunya membukakan pintu dengan wajah yang cemas. Ada terselip rasa senang karena ia bisa melihat Cindy lagi. Tapi ia teringat kejadian tadi pagi saat ia menelepon Cindy dan ternyata gadis itu sedang menunggu panggilan dari kekasihnya.


Juan pun berbalik meninggalkan pintu dan kembali ke kamarnya. Ia tak jadi membukakan pintu untuk Cindy. Dulu ia sampai dekat dengan Cindy hanya karena urusan Keyla. Sekarang Keyla sudah kembali pada suaminya, jadi tak ada alasan bagi Juan untuk mendekati Cindy lagi. Tak ada alasan baginya untuk mendekati kekasih orang lain.


Cindy yang berada di depan pintu apartemen Juan kembali menekan bel di depan. Ia masih cemas dengan keadaan Juan. Tadi sewaktu di rumah sakit, Arshaka yang memberitahunya tentang Juan. Cindy pun panik dan menyusul ke rumah Hendry. Saat bertanya pada security yang berjaga, ia mendapat informasi kalau Juan sudah kembali ke apartemennya. Dari security itulah Cindy mendapatkan alamat apartemen Juan.


Beberapa kali menekan bel tapi tak ada jawaban membuat Cindy semakin cemas. Ia pun duduk bersandar di depan pintu itu sambil menunggu sejenak. Mungkin saja Juan sedang mandi atau tidur sehingga tidak mengetahui kalau dia datang, pikir Cindy.


Beberapa menit berlalu Juan yang tak bisa tidur keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur. Ia membuka lemari es lalu mengambil susu dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia juga mengambil roti dan mengoles selai kacang lalu memakannya sendiri sambil minum susu tadi.


Juan pikir Cindy sudah pergi karena sudah tak ada suara lagi. Tapi ia salah. Setelah ia selesai makan, bel apartemennya kembali berbunyi. Juan tentu terkejut dan kembali mengecek ke depan. Ia melihat Cindy masih setia berdiri di depan pintu apartemennya.


Juan memejamkan matanya sambil menghela nafas dalam-dalam. Ia merasa kasihan pada Cindy. Akhirnya mau tak mau ia pun membuka pintu itu.


Cindy merasa lega akhirnya pintu itu terbuka juga dari dalam. Saat melihat wajah Juan yang memar, tangannya pun langsung terulur memegang kedua pipi Juan.

__ADS_1


"Juan, wajahmu kenapa? Apa kamu dipukuli anak buah Shaka?" tanya Cindy dengan khawatir.


Juan menurunkan tangan Cindy dari kedua pipinya seolah tak ingin disentuh oleh gadis itu.


"Bukan urusanmu. Ada apa kamu kesini?"


Deg.


Cindy terkejut mendapat perlakuan seperti ini dari Juan. Seolah Juan tak mau berurusan dengannya sama sekali.


"Aku...aku mengkhawatirkan kamu," jawab Cindy dengan terbata.


"Tidak perlu. Tidak perlu mengkhawatirkan aku karena aku baik-baik saja. Kalau tidak ada hal lain lagi, sebaiknya kamu pulang. Aku ingin istirahat," ucap Juan dengan dingin.


"Kamu kenapa jadi begini sama aku? Aku sama sekali nggak tau apa-apa kalau kamu disekap sama anak buah Shaka. Aku nggak ikut campur soal itu," kata Cindy yang khawatir Juan salah paham padanya.


"Aku juga tidak berpikir seperti itu. Satu hal yang harus kamu tau, kita berkomunikasi hanya soal Keyla. Dan sekarang dia sudah kembali pada suaminya. Semua sudah berakhir. Tidak ada alasan lagi kita untuk bertemu atau berkomunikasi," ucap Juan yang membuat hati Cindy bergetar hebat. Hatinya tiba-tiba merasa sakit karena Juan seolah memintanya untuk menjauhinya.


"Berakhir? Apa sekedar berteman pun kita nggak bisa?" tanya Cindy dengan suara yang sudah bergetar menahan rasa sesak di dadanya.


Baru saja Juan hendak menjawab lagi, handphone di tangan Cindy bergetar. Ternyata ada panggilan masuk dari kekasihnya, Adit. Juan pun tersenyum sinis. Ia makin yakin kalau dia memang sebaiknya tak usah lagi berkomunikasi dengan Cindy.


"Pergilah! Dia pasti menunggumu bukan? Dan jangan lupa kata-kataku tadi, semua sudah berakhir. Kita tidak perlu berkomunikasi lagi," ucap Juan dengan tegas lalu menutup pintu apartemennya.


Brakkk.


Pintu apartemen pun sudah tertutup rapat seperti Juan yang juga sudah menutup rapat pintu hatinya untuk Cindy. Cindy hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu dengan sejuta kesedihan. Ia sudah susah payah kesana kemari ingin bertemu dengan pria itu, tapi yang ada dirinya malah diusir begitu saja.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2