
Keyla yang masih terduduk lemas di sofa berusaha menelepon Shaka kembali. Hasilnya masih sama. Yang menjawab tetaplah operator kartu seluler.
Keyla tak tahan lagi membendung airmatanya. Ia langsung menangis saat panggilannya yang kesekian kali masih tidak tersambung dengan Shaka.
“Shaka, kamu dimana, sih? Please jangan tinggalin aku sendiri! Bukannya kamu udah janji akan selalu bersama aku apapun kondisinya? Trus sekarang kamu kemana?” Keyla berdialog sendiri dengan dirinya.
Keyla sama sekali tidak ada bayangan kemana perginya Shaka. Ia ingin menelepon Cindy untuk meminta bantuan, tapi ini sudah malam. Ia tak enak kalau selalu merepotkan Cindy.
Apa mungkin Shaka diculik anak buah Hendry? Tapi untuk apa Hendry menculik Shaka? Lagipula saat Keyla pulang ke rumah, keadaan rumah terlihat sangat rapi. Bahkan pintu depan pun terkunci. Rasanya tidak mungkin ada penculikan di rumahnya. Ditambah lagi rumah tempat mereka tinggali berdempetan dengan rumah tetangga yang lain. Jika ada suatu kejadian, pastilah tetangga akan tau hal itu.
Lalu kemana perginya Shaka? Apa Keyla harus keluar menemui Hendry untuk mencari tau keberadaan Shaka? Tidak! Itu namanya menyerahkan diri ke mulut buaya. Keyla tak mau melakukan itu. Keyla bingung harus mencari Shaka dimana.
Atau mungkin Shaka menyerah untuk hidup bersamanya karena mendapat tekanan dari Hendry? Entahlah. Ia bingung dengan apa yang terjadi pada Shaka. Shaka pergi tanpa meninggalkan pesan apapun padanya.
Keyla melihat kotak berisi kue yang sudah susah payah ia pesan khusus buat Shaka. Hatinya terasa sangat sedih karena tiba-tiba Shaka tidak ada. Tadi sore hatinya senang bukan main karena akan merayakan ulang tahun suaminya bersama-sama. Tapi kalau Shaka tidak ada, apa yang mau ia rayakan?
Sementara itu di sebuah kamar yang luas dan mewah, ada seorang pria yang berdiri di depan jendela kamarnya. Pria itu seperti termenung memikirkan sesuatu. Pria itu adalah Arshaka Mahendra yang kini sudah berada di rumahnya di kota lain yang berbeda dengan Keyla.
Tok tok tok.
Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Arshaka tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya diam memandangi langit malam. Tak lama seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar itu. Wanita itu tak lain adalah ibu dari Arshaka.
“Arsha...” panggil ibunya.
Arshaka tak menggubris. Ia hanya diam pada posisinya.
“Arsha, ayah sudah menunggu di bawah untuk makan malam. Ayo kita turun lalu makan bersama,” ajak sang ibu yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
“Aku tidak lapar, Bu. Ibu saja makan dengan ayah,” tolak Arshaka dengan halus. Ia tidak menoleh sama sekali pada ibunya.
“Tapi kamu juga harus makan. Kamu juga dalam masa pemulihan setelah keluar dari rumah sakit kan.” Ibunya masih berusaha mengajak Arshaka agar mau makan bersama.
Arshaka menoleh pada ibunya. “Bu, aku tidak bisa makan sementara aku sendiri tidak tau bagaimana nasib istriku disana. Aku tidak tau apakah dia sudah makan apa belum disana,” ucap Arshaka dengan wajah sendunya.
“Jadi kamu masih memikirkan wanita itu?” tanya sang ibu.
“Wanita itu istriku, Bu. Aku sudah menikahinya. Kalau bukan demi keselamatannya, aku tidak akan mungkin meninggalkannya," jawab Arshaka dengan sungguh-sungguh.
“Tapi ibu dan ayah akan menjodohkanmu dengan Silvy, bukan wanita itu.”
Arshaka memalingkan wajahnya. Ia malas membahas soal perjodohannya sementara ia sudah memiliki Keyla sebagai istrinya.
“Aku kembali kesini untuk memenuhi keinginan ayah mengurus perusahaannya, bukan untuk menikah lagi dengan siapapun. Tolong mengerti aku, Bu. Aku sudah cukup tersiksa berpisah dengan Keyla. Jangan siksa aku terus menerus seperti ini!”
“Dia tidak mau turun?” tanya ayah Arshaka saat melihat hanya istrinya yang ikut duduk di meja makan.
“Dia tidak selera kalau tidak ada istrinya. Sepertinya Arsha benar-benar mencintai wanita itu, Mas,” jawab ibunya.
“Biarkan dulu dia seperti itu. Kita lihat dalam beberapa hari ini. Seberapa besar cintanya pada wanita itu,” ucap ayah Arshaka.
“Memangnya Mas setuju Arsha dengan wanita itu?” tanya ibu Arshaka.
“Tergantung bagaimana sikap Arsha ke depannya.”
“Tapi bagaimana dengan Silvy?”
__ADS_1
“Aku ingin Arshaka kembali ke rumah agar dia mau bertanggung jawab dengan perusahaan. Bukan mengurus soal perjodohannya.”
Ibu Arshaka mendengus. Ia maunya Arshaka kembali ke rumah dan melanjutkan perjodohannya dengan Silvy, bukan hanya mengurus perusahaan semata. Ia juga tidak mau punya menantu yang tidak setara dengan keluarganya. Di matanya Silvy dalam wanita yang paling tepat untuk Shaka.
"Sudah, tidak usah bahas itu sekarang. Aku sudah lapar. Kita bisa bahas itu nanti," kata ayah Arshaka yang tak ingin ada bantahan lagi. Kalau sudah begitu, ibunya pun tak berani bersuara kembali.
***
Jarum jam terus berputar tanpa henti. Tak lama lagi hari akan berganti. Keyla masih setia duduk di sofa sambil melihat ke arah kue ulang tahun Shaka yang sudah ia nyalakan lilinnya. Dalam hatinya selalu berharap agar Shaka pulang ke rumah dan merayakan ulang tahunnya bersama.
Ding ding ding
Jam dinding sudah menunjukkan tepat pukul 12 malam. Dan ternyata Shaka tak kunjung pulang ke rumahnya.
Tes
Airmata Keyla jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan. Shaka memang tidak akan pulang malam itu. Entah berapa lama ia harus menunggu agar Shaka kembali lagi bersamanya.
Keyla mendekat ke arah kue ulang tahun Shaka lalu meniup lilin itu hingga apinya padam. Api itu boleh padam, tapi tidak dengan cintanya yang terlalu besar pada Shaka.
“Selamat ulang tahun, Shaka. Dimanapun kamu sekarang berada, aku selalu berdo’a agar kamu baik-baik saja dan kita akan segera bersama lagi melanjutkan rumah tangga kita,” ucap Keyla dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.
Di tempat lain, Shaka berbaring menghadap langit-langit kamarnya. Hatinya dipenuhi rasa rindu yang menggebu pada Keyla. Ia tau hari itu adalah hari ulang tahunnya. Ia bahkan masih ingat apa keinginan terbesarnya pada saat ia berulang tahun. Tapi sekarang, mereka malah terpisah oleh jarak yang membentang. Ini benar-benar kenangan pahit di hari ulang tahunnya.
Shaka memejamkan matanya sejenak sehingga cairan bening keluar dari sudut matanya. Ia rindu sekali pada istrinya. Baru sebentar berpisah rasanya ia sudah kehilangan semangat hidupnya. Ia makin sadar, ia sudah jatuh cinta pada Keyla sehingga saat mereka berpisah, hatinya terasa pilu dan sangat rindu.
"Key, tunggu aku pulang dan menjemputmu. Aku pasti kembali padamu, Key. Kita akan kembali bersama dan melanjutkan rumah tangga kita."
__ADS_1