Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
40. Kemarahan Cindy


__ADS_3

Shaka yang sudah dipangkuan Keyla saat ini tampak mendapat banyak luka di wajahnya. Keyla menepuk-nepuk pipi Shaka dengan pelan agar suaminya itu tetap sadar.


“Shaka, aku mohon bangun... Ayo kita pergi dari sini...”


Shaka tampak sudah setengah sadar. Kondisinya saat ini cukup parah. Badannya terasa sangat remuk hingga sulit digerakkan. Dalam pandangannya yang masih kabur, ia dapat melihat wajah Keyla yang sedang menangisinya. Hatinya terluka. Lebih terluka dari fisiknya. Ia terluka karena melihat seseorang yang ia cintai harus menangis seperti itu.


Shaka menggerakkan tangannya dengan sekuat tenaga. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Keyla. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada ia berusaha menyeka airmata istrinya itu.


“Ak...ku ma-sih hidup, Key. Ja-ngan menangis, sa-yang,” ucap Shaka dengan terbata. Lalu ia pun terbatuk beberapa kali.


Mendengar suaminya berkata demikian, bukannya berhenti menangis, airmata Keyla malah makin tumpah ruah. Rasanya tak pernah ia sesedih ini sebelumnya. Melihat Shaka terluka dan tak berdaya, ia pun rasanya ikut merasakan sakit yang Shaka derita.


Disekanya wajah Shaka yang ikut basah karena airmatanya, lalu ia cium kening suaminya itu dengan lembut. “Bertahanlah, Shaka. Sebentar lagi akan ada yang datang menolong kita. Nggak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita,” ucap Keyla disela isak tangisnya.


Baru saja Keyla bicara seperti itu, tiba-tiba terdengar suara mobil yang melaju mendekat ke arah mereka. Ada tiga mobil yang datang sekaligus.


Mereka yang ada disana sontak melihat ke arah mobil-mobil yang datang. Salah satu diantara mobil itu sangat familiar sekali bagi Juan. Ya, itu adalah mobilnya Cindy. Cindy datang bersama enam orang pria berbadan besar yang siap menolong Shaka dan Keyla.


Cindy keluar dari mobil dan langsung melihat ke arah Shaka dan Keyla. Lalu pandangannya beralih kepada seorang pria disana, siapa lagi kalau bukan Juan. Cindy pun berjalan cepat untuk menghampiri Juan.

__ADS_1


“Kenapa kamu ada disini?” tanya Juan.


PLAK!


Bukannya menjawab, Cindy malah mendaratkan satu tamparan yang sangat keras ke pipi Juan sampai tangannya pun terasa pedas.


“Kamu....”


PLAK!


Cindy kembali menampar Juan dengan kuat di pipi yang sama. Ia sangat marah besar pada Juan sampai nafasnya terlihat tak beraturan dan dadanya naik turun menahan emosi.


“Sakit? Hah? Sakit? Sakit mana dengan mereka yang kamu sakiti?!” teriak Cindy di depan Juan sambil menunjuk ke arah Shaka dan Keyla.


Juan tak bereaksi apapun. Ia menerima semua kemarahan Cindy padanya. Ia sama sekali tak ada niat untuk membalas perbuatan Cindy padanya.


Setelah puas mengeluarkan amarahnya, Cindy pergi menghampiri Shaka dan Keyla. Melihat Shaka sudah sangat parah, Cindy meminta bodyguard yang ia sewa untuk membawa Shaka ke rumah sakit.


Juan lagi-lagi tak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam saja melihat Shaka dipapah masuk ke dalam mobil Cindy. Keyla juga ikut masuk ke dalam mobil itu. Sebelum Cindy masuk ke dalam mobil, dia sempat melempar tatapan tajam ke arah Juan. Juan pun balas menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Tak lama mereka pun pergi meninggalkan Juan beserta anak buahnya tanpa ada perkelahian lagi.


“Tuan, bagaimana kalau nanti Bos Besar marah? Kenapa kita membiarkan mereka pergi? Bagaimana dengan Nona Keyla?” tanya salah satu anak buahnya yang khawatir mendapat amukan dari Hendry.


Juan menghela nafas dengan kasar. Ah, dia sendiri tak paham dengan perasaannya. Mengapa dia mendadak jadi manusia yang mudah tersentuh? Kenapa dia mendadak lemah di depan Cindy? Kemana Juan yang selama ini sangat dingin, keras hati dan selalu mematuhi perintah bosnya itu?


“Biar aku yang memberi alasan pada Tuan Hendry. Kalian semua jangan bicara apapun!” jawab Juan dengan tegas.


“Baik, Tuan,” sahut anak buahnya dengan serempak. Setelah itu mereka semua juga ikut pergi meninggalkan tempat tersebut.


***


Sementara itu di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Keyla tak henti-hentinya mengusap-usap pelan pipi Shaka yang tengah berbaring di pangkuannya. Keyla tak pernah membayangkan semua akan jadi seperti ini. Ketakutannya kini sudah menjadi kenyataan. Hendry benar-benar tak tinggal diam setelah kejadian kemarin sore.


Shaka terlihat sudah tak sadarkan diri. Sejak masuk ke dalam mobil, ia tidak berbicara separuh katapun pada Keyla.


“Key, sabar ya, Key. Shaka pasti baik-baik aja. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit,” ucap Cindy yang berusaha menenangkan Keyla dari kursi depan.


“Iya, Cin. Makasih banyak udah datang di saat yang tepat,” jawab Keyla dengan terisak.

__ADS_1


Cindy pun mengangguk. Ia mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini.


 


__ADS_2