Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
22. Punya Banyak Anak


__ADS_3

Shaka berlari menyusul Keyla yang sedang ngambek itu. Keyla berjalan cepat menuju ke pedagang yang berjualan es krim.


“Es krimnya satu ya, Pak. Rasa coklat sama vanila. Campur, ya,” kata Keyla pada pedagang itu.


“Oke, Mba,” sahut pedagang es krim.


“Wah, aku mau juga dong es krimnya,” kata Shaka yang baru tiba disana.


Keyla tak menjawab. Dia masih kesal pada Shaka.


“Key, aku mau juga dong es krimnya,” ulang Shaka pada Keyla.


“Emang aku yang jual? Bilang aja sama bapak yang jual sana,” sahut Keyla dengan ketus.


“Dih, galak banget, Key. Sama suami sendiri nggak boleh galak-galak loh, dosa tau,” ucap Shaka.


Keyla tak menggubrisnya. Ia masih tetap memanyunkan bibirnya.


“Ini Mba, es krimnya,” kata penjual es krim seraya memberikan es krim itu pada Keyla.


“Berapa, Pak?” tanya Keyla.


“Lima ribu aja, Mba,” jawab penjual es krim.


Keyla pun membuka tas selempangnya berniat untuk mengambil uang di dalamnya. Tapi pas dia cari-cari, ternyata dompetnya tidak ada. Dia lupa membawa dompetnya.


Keyla menggaruk kepalanya. Ia mau minta Shaka membayar es krimnya tapi dia masih mau ngambek pada Shaka.


Shaka melihat gelagat aneh Keyla itu. Ia dapat menebak, Keyla pasti lupa membawa dompetnya.


“Pak, saya mau satu samain kayak punya istri saya, ya. Biar saya yang bayar sekalian punya dia,” ucap Shaka pada penjual es krim itu.


“Baik, Mas.”

__ADS_1


Keyla terdiam mendengar perkataan Shaka barusan. Dia berpikir apakah dia harus berterima kasih atau melanjutkan ngambeknya saja.


“Kok nggak dimakan es krimnya? Nanti cair lho,” kata Shaka pada Keyla.


“Hmmm...iya nanti,” jawab Keyla ragu-ragu.


Tak lama es krim Shaka pun siap dan Shaka membayar es krim miliknya dan juga milik Keyla.


“Ayo, makan di tempat tadi,” ajak Shaka sambil menggenggam satu tangan Keyla, menuntunnnya ke tempat dimana tadi mereka duduk.


Keyla masih diam tak bicara apa-apa. Dia hanya fokus memakan es krimnya saja sambil memperhatikan anak-anak kecil yang bermain tangkap bola disana.


“Kamu suka sama anak-anak, ya? Dari tadi aku perhatiin kamu lihat ke arah mereka terus,” tanya Shaka yang mengikuti arah pandang Keyla.


“Iya. Aku senang lihat anak-anak bermain seperti itu. Rasanya aku mau jadi anak-anak lagi. Tidak ada beban hidup, kerjanya main, main, dan main,” jawab Keyla yang terkesan mengeluh.


“Kamu nggak suka menjadi dewasa?”


“Kamu lagi banyak beban pikiran, ya?” tebak Shaka karena melihat Keyla yang tiba-tiba menjadi lesu.


Ya beban pikiran aku tu kamu, Shaka. Kita menikah tapi seperti nggak menikah. Jawab Keyla dalam hati.


“Nggak juga, sih. Oh ya Shaka, nanti kalau udah nikah kamu mau punya anak nggak?” tanya Keyla kemudian.


“Lah, sekarang kan aku udah nikah," jawab Shaka.


“Maksudnya nikah beneran. Menikah dengan orang yang memang kamu cintai trus punya anak.”


“Kalau kamu?”


“Aku mau punya banyak anak. Biar di rumah terasa ramai. Pasti seru. Aku pernah ngerasain jadi anak tunggal itu nggak enak. Nggak ada temennya di rumah.”


“Kamu mau punya banyak anak, Key?”

__ADS_1


Keyla mengangguk. “Iya, minimal dua atau tiga lah. Nggak mau satu.”


“Wah, berarti aku harus kerja keras, nih,” seloroh Shaka yang membuat pipi Keyla merona merah.


Kerja keras? Apa hubungannya aku mau punya banyak anak sama dia kerja keras? Shaka ih, bikin otak aku travelling aja. Batin Keyla.


“Hei, hei, hei, maksud aku kerja keras, ya anak-anak kan butuh biaya besar untuk makan sehari-hari, biaya sekolah, sama biaya lain-lain. Bukan kerja keras yang gimana-gimana lho,” koreksi Shaka dengan cepat saat melihat istrinya sudah salah tingkah.


“Aku juga mikir gitu kok, nggak mikir gimana-gimana,” ucap Keyla biar tak ketahuan sedang memikirkan hal yang bukan-bukan.


“Dih, nggak mikir gimana-gimana tapi pipinya merah gitu, trus langsung senyum-senyum sendirian,” ledek Shaka.


“Ih..apaan, sih. Nggak kok,” kata Keyla menahan malu.


“Hayooo...mikir apa tadi?”


“Nggak ih...udah ah, nanti aku ngambek lagi lho.”


Shaka tergelak. “Hahaha, iya, iya. Aku becanda kok.”


Shaka meletakkan wadah es krimnya yang sudah habis. Lalu ia memegang satu tangan Keyla dan menatap gadis itu dengan sungguh-sungguh.


“Key, kita jalanin aja pernikahan dadakan kita ini apa adanya, ya. Kita bersikap seperti biasa aja. Kalau memang takdirnya pernikahan kita ini terus berlanjut, baru kita jalanin dengan sungguh-sungguh seperti pernikahan pada umumnya,” ucap Shaka dengan serius.


“Iya, aku setuju. Biar waktu yang menuntun pernikahan kita ini akan berlanjut sampai dimana,” jawab Keyla tulus.


Lalu Shaka merangkul Keyla dan membiarkan gadis itu bersandar di dadanya. Tak dipungkiri, makin hari Shaka makin merasa terikat dengan Keyla, gadis yang selalu mengisi hari-harinya.


Sepertinya Shaka terlalu mengikuti arus. Kalau begitu, biar aku aja yang bertindak lebih supaya pernikahan kita tetap terus berlanjut selamanya. Gumam Keyla dalam hati dengan senyum menyeringai di wajahnya.


Kira-kira hal apa yang akan dilakukan Keyla untuk membuat pernikahannya bersama Shaka tetap berlanjut?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2