Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
59. Keyla Berusaha Kabur


__ADS_3

Keyla sedang menyuapkan ayahnya bubur untuk sarapan pagi. Ia benar-benar tak diizinkan kemanapun oleh ibu tirinya selain ke kamarnya dan ke kamar ayahnya. Bahkan handphone-nya saat ini juga sudah disita oleh ibunya itu.


"Papa sudah kenyang," ucap ayahnya yang baru menghabiskan setengah mangkuk buburnya.


"Papa, ini baru setengahnya. Papa harus makan lagi, ya," bujuk Keyla dengan lembut lalu kembali menyuapkan sesendok bubur ke mulut sang ayah.


Ayahnya pun menuruti permintaan Keyla dan memakan kembali bubur itu. Ayahnya senang melihat Keyla yang tampak lebih sabar dan dewasa. Anak gadisnya itu juga sangat telaten sekali mengurusnya. Ayahnya jadi penasaran, apakah suami Keyla yang berhasil membuat Keyla seperti ini?


"Key, Papa senang lihat perubahan kamu sekarang. Kamu lebih dewasa. Suami kamu pasti mendidik kamu dengan baik. Papa menyesal dulu sudah bersikap buruk pada kalian," kata ayahnya dengan penuh penyesalan.


Keyla tersenyum lalu membersihkan sisa bubur yang menempel di bibir ayahnya dengan tissue. Ia juga membantu ayahnya minum air putih.


"Papa nggak usah merasa bersalah begitu. Justru dengan Papa membiarkan Keyla hidup dengan suami Keyla, sekarang Keyla bisa lebih mandiri," ucap Keyla menyenangkan hati ayahnya.


"Jadi bagaimana suami kamu sekarang? Pasti dia khawatir kamu tidak pulang ke rumah," tanya sang ayah yang tidak tau bahwa suami Keyla sudah pergi meninggalkan anaknya.


Keyla terdiam sejenak. Tiap kali mengingat Shaka, hatinya pasti mendadak pilu. Sampai saat ini ia bahkan masih belum tau dimana suaminya itu berada. Entah suaminya itu masih mempedulikannya lagi atau tidak.


"Dia baik-baik saja, Pa. Dia tau kok Keyla disini. Papa jangan khawatir." Keyla terpaksa berbohong karena tak mau ayahnya tambah banyak pikiran.


"Tapi Key, mama kamu belum tentu membiarkan kamu pergi hari ini. Suami kamu pasti khawatir nantinya," ucap ayahnya lagi.


Sekarang Keyla bingung harus bagaimana. Mau kabur dari rumah itupun rasanya tak bisa karena ada dua bodyguard yang menjaganya.


"Keyla juga bingung, Pa," ujar Keyla.


Ayahnya terdiam sejenak. Ia berpikir keras bagaimana caranya agar Keyla bisa keluar dari sana. Ia pun tak bisa berbuat banyak jika kondisinya sedang tidak sehat seperti itu.


Beberapa menit mereka saling diam, lalu akhirnya terbit sebuah ide di kepala ayahnya.


"Papa sepertinya tau bagaimana caranya supaya kamu bisa lari dari sini," ucap ayahnya dengan pelan.


"Papa serius? Gimana, Pa?" tanya Keyla penasaran.


Ayahnya pun meminta Keyla mendekat dan berbisik pada anaknya itu. Wajah Keyla tampak berbinar mendengar ide dari ayahnya. Sepertinya ide ini akan berhasil untuk mengelabui dua bodyguard itu.


"Kamu setuju?" tanya sang ayah.


"Oke, Pa. Key setuju."


"Ya sudah, cepat panggil dua bodyguard itu sekarang."


Keyla pun menyimpan mangkuk berisi bubur tadi ke atas nakas. Lalu pergi ke depan pintu kamar untuk memanggil kedua bodyguard itu masuk ke dalam.


"Ada apa, Nona?" tanya salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Itu, Papaku mules habis makan bubur. Papa mau buang air besar. Kalian tolong bantu angkat Papaku, ya. Aku mana kuat angkat Papaku sendiri," jawab Keyla sesuai yang diajarkan ayahnya tadi.


"Tapi Nona, tugas kami menjaga Nona, bukan mengurus Tuan besar," bantah bodyguard yang lain.


"Kalian mau papaku buang air besar disini? Kalian bisa dimaki sama mamaku nanti. Sudah, ayo cepat! Nanti keburu Papa kelepasan disini," desak Keyla lagi.


"Cepat tolong, bantu aku! Aku sudah tidak tahan ini." Ayah Keyla juga ikut berakting sambil meringis menahan perutnya yang sakit.


"Ya sudah, ayo kita angkat!"


"Ayo!"


Akhirnya kedua orang itu pun memapah ayah Keyla. Padahal ayahnya bisa berjalan sendiri ke kamar mandi yang ada di kamar itu. Ia sengaja saja berpura-pura lemah tak bisa jalan agar anaknya bisa kabur.


Saat kedua orang itu sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk bersama ayahnya, Keyla pun dengan cepat keluar kamar dan mengunci kamar dari luar. Kebetulan sekali kunci kamar tergantung di pintu itu. Dengan mengendap-endap Keyla menuruni tangga lalu berlari keluar dari pintu rumahnya.


Akhirnya Keyla berhasil juga keluar dari pintu depan dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Ia sudah seperti maling di rumahnya sendiri. Ia harus bergerak cepat sebelum kedua bodyguard itu sadar kalau ia sudah berhasil kabur.


Sekarang Keyla tinggal mencari akal untuk melewati gerbang rumahnya lagi. Pasalnya di depan gerbang juga ada security yang berjaga. Ia harus pandai-pandai mencari alasan agar bisa kabur dari sana.


Tiba-tiba dari dalam rumahnya Keyla mendengar suara gedoran pintu yang sangat keras. Keyla yakin, itu pasti kedua bodyguardnya. Keyla pun panik lalu dengan cepat berlari ke arah gerbang rumahnya sambil sesekali melirik ke belakang karena takut kedua bodyguard tadi mengejarnya.


Saat Keyla hampir mencapai gerbang, tiba-tiba saja ia menabrak seseorang di depannya.


Brugh.


Keyla mendongakkan kepalanya dan matanya langsung melebar melihat orang yang ditabraknya barusan.


"Hendry?" gumam Keyla tak percaya.


"Mau kabur, Tuan Putri?" tanya Hendry dengan maksud menyindir.


Melihat Keyla keluar berlari dengan sandal rumahnya, Hendry bisa menebak, Keyla pasti sedang berusaha kabur saat ini.


Disana tidak hanya ada Hendry. Juan juga ada disana, berdiri di belakang Hendry.


"Ngapain kamu kesini? Minggir! Aku mau lewat!" ketus Keyla lalu berusaha pergi dari sana.


Tentu saja Hendry tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan cepat Hendry malah memegang tangan Keyla.


"Lepaskan aku!" bentak Keyla.


"Lepaskan? Aku susah payah mendapatkan kamu, lalu sekarang kamu minta dilepas? No, Keyla. Itu tidak akan pernah terjadi," bantah Hendry.


"Kamu udah gila, ya? Kamu tau kan aku ini istri orang? Kenapa kamu masih aja ngejar-ngejar aku? Please Hendry, lupakan aku! Cari wanita lain yang mau sama kamu." Keyla berusaha membujuk Hendry.

__ADS_1


"Aku nggak peduli, Key. Aku cuma mau kamu. Dan hanya kamu. Kamu harus jadi milik aku. Kita harus menikah secepatnya. Aku sudah bertahun-tahun bersabar menunggu kamu, aku nggak akan mungkin membiarkan kamu pergi lagi," ucap Hendry yang masih kuat dengan keinginannya.


"Kamu gila tau nggak!" hardik Keyla.


"Terserah kamu mau maki aku seperti apa! Itu tidak akan mengurangi sedikitpun rasa cinta aku ke kamu, Keyla."


"Kamu memang sakit jiwa!" maki Keyla dengan tatapan benci pada Hendry.


Kemudian Monica dan dua bodyguard tadi pun datang menghampiri mereka. Sepertinya Monica yang sudah melepaskan kedua bodyguard itu.


"Kamu nekat sekali Keyla!" ucap Monica dengan marah.


"Jelas aku nekat. Aku ini istri orang, Ma. Mama nggak bisa paksa aku nikah dengan laki-laki lain," bentak Keyla.


"Diam kamu!"


Tangan Monica sudah terangkat ke atas hendak menampar Keyla, tapi Hendry dengan cepat menahan tangan itu.


"Jangan sakiti calon istriku!" ucap Hendry penuh penekanan lalu melepaskan tangan Monica.


"Sepertinya disini kalian menjaganya dengan tidak aman. Aku akan membawa Keyla pulang ke rumahku. Dan besok, aku mau kami menikah. Lebih cepat lebih baik," kata Hendry yang membuat Keyla tercengang.


"Nggak! Aku nggak mau!" bantah Keyla.


"Bawa saja sana! Kalau begitu, besok aku akan datang ke rumahmu dengan Papa Keyla untuk menikahkan kalian," ucap Monica tanpa merasa iba.


"Mama, aku nggak mau, Ma. Tolong jangan setega ini sama aku!" pinta Keyla yang sudah hampir menangis.


"Ini demi kebaikan kita semua," ucap Monica lalu berbalik masuk ke rumahnya.


Keyla tak kuasa lagi menahan airmatanya. Setega itukah ibunya itu kepadanya? Keyla dipaksa menikah hanya demi kepentingan perusahaan semata? Tak sedikitpun ada belas kasih yang ia berikan pada Keyla.


"Ayo, ikut aku Key," ajak Hendry sambil menarik tangan Keyla.


Keyla sadar ia tak bisa lagi lari saat itu. Dengan langkah berat ia berjalan tertatih-tatih mengikuti Hendry masuk ke dalam mobilnya.


Sebelum masuk ke dalam mobil, ia sempat melirik ke arah Juan dan menatap penuh iba seolah berkata, "tolong bantu lepaskan aku, Juan."


Setelah itu ia pun benar-benar masuk kedalam mobil dan duduk di samping Hendry.


Juan sendiri tak bisa berbuat banyak saat itu. Ia terpaksa mengikuti perintah bosnya. Sebelum menjalankan mobil, ia sempat mengirim pesan pada Cindy.


"Keyla dibawa paksa ke rumah Hendry. Mereka akan dinikahkan besok."


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2