
"Keyla dibawa paksa ke rumah Hendry. Mereka akan dinikahkan besok."
Cindy yang sedang berada di kantornya membelalakkan mata saat membaca pesan yang dikirim oleh Juan padanya. Saat itu juga ingin sekali rasanya Cindy menyusul kesana dan menolong Keyla.
Cindy awalnya ingin menelepon Juan. Tapi ia yakin, Juan pasti sedang bersama Hendry saat ini. Ia tak akan mungkin menjawab panggilan Cindy. Untuk itu, Cindy hanya membalas pesan dari Juan saja.
"Tolong kirimkan padaku dimana alamat lengkap Hendry!"
Pesan pun sudah terkirim. Masih centang dua, tapi belum terbaca. Mereka pasti masih di jalan pikir Cindy. Cindy tentu saja makin gelisah. Ia bingung bagaimana harus menolong Keyla saat ini. Yang berhak membawa Keyla pergi dari Hendry saat ini adalah suaminya, Shaka. Tapi sayang, Cindy sama sekali tidak tau dimana keberadaan pria itu.
***
Sementara itu Arshaka yang sedang berada di kantornya juga mendapat telepon dari salah satu anak buahnya. Ia diberitahu bahwa Keyla dipindahkan ke rumah lain yang diyakini adalah rumah Hendry.
Arshaka tentu sangat terkejut mendengarnya. Ia dengan cepat menutup laptopnya dan bergegas ingin menyusul Keyla secepatnya. Ia sudah tak peduli lagi pada apapun. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Keyla harus diselamatkan dari Hendry. Ia takut sekali Hendry akan berbuat macam-macam pada Keyla di rumah itu.
Saat keluar dari lift, Arshaka berpapasan dengan ayahnya di lobby kantor. Ayahnya tentu heran melihat Arshaka berjalan dengan cepat seperti orang kepanikan.
"Arsha, kamu mau kemana? Kenapa tergesa-gesa sekali?" tanya sang ayah.
"Aku mau menyusul Keyla sekarang, Ayah. Keyla dibawa Hendry ke rumahnya. Aku harus menyusul sekarang. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada istriku," jawab Arshaka yang tampak terburu-buru.
"Tenangkan dirimu dulu! Dari mana kamu tau soal itu?"
"Bagaimana aku bisa tenang, Ayah? Istriku dalam bahaya. Lihat sekarang! Anak buah ayah bisa apa? Aku suaminya. Aku harus menolongnya!" Arshaka sudah sangat khawatir pada istrinya sampai-sampai ia menjawab pertanyaan ayahnya dengan penuh emosi.
Ayahnya melihat kesungguhan dari kedua mata putranya itu. Beliau pun akhirnya mengangguk.
"Pergilah dengan jet pribadi milik Ayah! Bawa pulang menantu Ayah dalam keadaan baik-baik saja. Ayah akan menelfon anak buah Ayah supaya mengepung rumah itu," kata sang Ayah yang membuat mata Arshaka berkaca-kaca.
"Ayah..." lirih Arshaka penuh haru.
"Sudah, jemput istrimu sekarang!"
Arshaka pun mengembangkan senyuman di wajahnya. Ia lantas memeluk ayahnya dengan perasaan penuh haru. Ia merasa lega, akhirnya sang ayah menerima Keyla sebagai menantunya.
Setelah itu Arshaka tak mau buang waktu lagi. Ia harus segera menuju ke bandara untuk menyelamatkan Keyla dari Hendry karena mereka ada di kota yang berbeda.
***
Keyla sendiri yang sudah sampai di rumah Hendry terus meronta agar minta dilepaskan. Hendry membawanya ke sebuah kamar yang cukup luas di rumahnya. Ia akan menempatkan Keyla sementara disana sampai besok mereka resmi menikah.
"Aku nggak mau nikah sama kamu! Aku udah punya suami, Hendry. Apa kamu gila? Kamu nggak bisa nikahin aku," teriak Keyla di dalam kamar.
"Suami kamu bilang? Mana? Mana suami kamu? Dia bahkan sudah meninggalkan kamu sekarang. Laki-laki seperti itu yang kamu bilang suami? Hah?" balas Hendry.
"Dia pasti kembali!" sanggah Keyla.
"Ya, dia kembali setelah kita resmi menikah. Dan saat itu kamu sudah jadi milik aku sepenuhnya, Key. Kamu memang ditakdirkan untukku, Sayang. Jadi, lebih baik kamu diam dan istirahat disini sampai pernikahan kita dilaksanakan," ucap Hendry dengan serius.
__ADS_1
"Nggak! Aku nggak mau, Hendry. Aku sama sekali nggak mencintai kamu. Apa kamu mau tinggal dengan orang yang sama sekali tidak mencintai kamu?" Keyla masih berusaha merayu Hendry.
"Cinta? Apa waktu kamu menikah dengan Shaka, kamu sudah mencintainya? Tidak kan? Cinta itu tumbuh sendiri, Key. Dan aku rela menunggu sampai kamu mencintai aku. Yang jelas sekarang, kamu harus jadi istri aku dulu."
Setelah mengatakan itu Hendry berencana keluar dari kamar, tapi Keyla dengan cepat mengejarnya. Ia masih berusaha agar dapat lari dari kamar itu.
"Jangan paksa aku untuk kasar sama kamu, Key!" bentak Hendry sambil mendorong Keyla.
"Lepaskan aku! Aku nggak sudi nikah sama laki-laki breng-sek seperti kamu!" hardik Keyla.
Hendry tampak menghela nafas dengan kasar. Nafasnya kian memburu menahan amarah. Dia sudah cukup lama bersabar untuk mendapatkan gadis di depannya ini, tapi Keyla malah terus menghinanya.
Dengan tatapan tajam Hendry pun mendekat ke arah Keyla. Keyla dapat menangkap raut kemarahan Hendry saat itu. Keyla pun melangkah mundur seiring dengan Hendry yang terus mendekatinya.
Grep!
Hendry dapat mencengkram lengan Keyla dengan kuat. Cengkramannya kali ini terasa lebih kuat dan tidak ada belas kasih sama sekali seperti orang yang sedang marah.
"Kamu bilang aku breng-sek kan? Mau aku tunjukkan seberapa breng-sek aku sebenarnya? Hm?" bisik Hendry tepat di telinga Keyla dengan gigi yang menggertak menahan marah.
Keyla menggeleng dengan cepat. Melihat Hendry seperti itu ia tiba-tiba merasa takut kalau Hendry sampai berbuat yang bukan-bukan.
"Aku mohon lepaskan aku," pinta Keyla dengan suara yang bergetar bahkan hampir menangis. Sudah tak ada lagi teriakan seperti sebelumnya.
"Jangan pernah bermimpi untuk lepas dariku, Keyla. Apalagi setelah aku berhasil memilikimu seutuhnya. Aku...jadi penasaran, apakah pria yang kamu sebut suami itu...pernah merasakan tubuhmu? Yang aku tau...kalian menikah mendadak bukan? Bukan atas dasar cinta," ucap Hendry yang membuat Keyla bergidik ketakutan.
Keyla menggelengkan kepalanya lagi dengan cepat sambil tangannya berusaha mendorong Hendry yang sudah mulai mengendus bahunya. Keyla tidak mau menyerahkan harta paling berharga yang pada Hendry. Ia hanya akan memberikan ini pada Shaka, suaminya.
"Oh ya? Bagaimana kalau kita buktikan sekarang? Kau tau, aku sudah lama menahan diri untuk tidak melakukan ini. Rencananya aku akan menyentuhmu setelah kita menikah, tapi melihatmu seperti ini, aku rasa aku sudah tidak bisa tahan lagi, Key."
Hendry pun makin mendekat hendak mencium Keyla, tapi Keyla memalingkan wajahnya dengan cepat lalu menendang aset berharga milik Hendry dengan lututnya.
"Awh..." Hendry pun meringis kesakitan sambil memegang miliknya.
Keyla dengan cepat berlari ke arah pintu untuk kabur. Tapi ternyata pintu itu malah terkunci. Keyla dengan cepat menarik-narik gagang pintu agar terbuka tapi gagal juga. Pintu itu memang terkunci.
"Kamu benar-benar menguji kesabaran, Keyla!" ucap Hendry dengan penuh amarah sambil membuka cepat kancing kemejanya.
Keyla pun semakin panik karena bingung harus berbuat apa lagi. Airmatanya sudah makin deras keluar karena ketakutan Hendry akan merebut harta berharganya.
"Hendry, aku mohon. Aku akan lakukan apapun tapi jangan sentuh aku...Aku mohon....Aku mohon, Hendry."
Dengan wajah memelas Keyla menangkupkan tangannya ke depan untuk meminta Hendry agar tak menyentuhnya. Tapi Hendry yang sudah dikuasai naf-su dan kemarahan itu sepertinya tak mempedulikan lagi perasaan Keyla. Hendry yang sudah tidak memakai atasan makin mendekat lalu menggendong Keyla dengan paksa dan menghempaskannya ke atas ranjang.
"Tidak....lepaskan aku....tolong lepaskan aku...." teriak Keyla sambil berusaha bangun dan lari. Tapi sayangnya Hendry dengan cepat menarik kakinya dan menahan Keyla di ranjang.
"Kamu mau teriak sampai suaramu habis juga percuma! Tidak akan ada yang akan mendengarkanmu!"
Hendry pun dengan cepat mendekatkan wajahnya dan berusaha mencium Keyla tapi gadis itu lagi-lagi memalingkan wajahnya sambil berteriak minta tolong. Meski tak ada yang bisa mendengar jeritannya tapi itu adalah salah satu bentuk penolakan darinya karena tak mau disentuh Hendry.
__ADS_1
Hendry semakin menggila dan mengendus leher Keyla. Keyla yang memalingkan wajahnya ke samping, melihat ada sebuah gelas kaca berisi air putih di atas nakas di samping tempat tidur itu.
Entah apa yang ada di pikirannya, Keyla pun berusaha setengah mati untuk meraih gelas itu. Hendry yang sedang terbuai menikmati harum Keyla tak sadar dengan apa yang Keyla lakukan. Sampai akhirnya gelas sudah berhasil Keyla dapat, lalu dengan cepat ia pecahkan dan sisa kaca di tangannya ia goreskan ke pipi Hendry.
"Akhhhh!"
Hendry memekik kesakitan lalu Keyla mendorongnya dan segera bangun dari ranjang itu. Hendry memegang pipinya, ada darah yang mengalir disana. Ia pun ikut bangun dari ranjang dan menatap Keyla dengan emosi yang makin menjadi-jadi.
"Kau benar-benar ingin tau siapa aku sebenarnya! Baiklah, Key. Aku akan tunjukkan padamu siapa aku. Kesabaranku sudah habis padamu!" ucap Hendry.
"Jangan mendekat! Aku lebih baik mati daripada harus menyerahkan tubuhku padamu!" ancam Keyla sambil mengacungkan kaca di tangannya.
"Ha...ha...ha..." Hendry terbahak melihat Keyla berusaha mengancamnya.
"Kamu mau coba bunuh diri? Silahkan saja! Aku mau lihat seberapa besar nyalimu Keyla. Aku sudah tau betul seperti apa karaktermu. Kamu tidak akan berani melakukan itu," kata Hendry sambil tersenyum sinis.
Ia terus melangkah mendekati Keyla sementara Keyla terus mundur sampai akhirnya ia tersudut di dinding.
"Mau bunuh diri? Ayo! Silahkan! Takut? Hah?" ejek Hendry yang sudah semakin dekat dengan Keyla.
Keyla menatap Hendry dengan sayu. Sepertinya tak ada jalan lain untuk ia lakukan saat ini. Ia akan pasrah dengan apa yang akan dia lakukan nanti.
"Aku bukan Keyla yang dulu, Hendry. Aku Keyla istri Arshaka Mahendra. Aku lebih baik mati demi setiaku pada suamiku."
Sreettt.
Keyla mengiris nadi di pergelangan tangannya tanpa ragu.
"Keylaaaaa......" teriak Hendry.
Bruggg!
Keyla pun terkulai lemas di lantai.
.
Bersambung...
...****************...
Hai semua 🤗 sambil menunggu novel ini update, kalian bisa mampir ke karya temanku ya 🤗
Your Officemate - Author EYN
Awan Mengejar Cinta - Author Banana Milk
__ADS_1