
"Bagaimana? Apa kau mau menandatangani kesepakatan ini?" tanya Nicko lagi pada Hendry.
Hendry masih diam. Ia tak bisa memutuskan hal ini dengan cepat. Yang benar saja, sudah lama ia menginginkan Keyla menjadi istrinya, tidak mungkin dengan mudah ia mengalah begitu saja.
"Tuan, jadi bagaimana?" Juan ikut bertanya pada bosnya.
"Tidak! Kau pikir aku akan dengan mudah menyetujui kesepakatan bodoh itu begitu saja? Tidak! Aku tidak mau! Aku tetap mau Keyla menjadi istriku!" jawab Hendry yang masih bersikeras dengan keinginannya.
"Baiklah, terserah kau saja. Semakin lama kau menunda menandatangani kesepakatan ini, maka akan semakin lama juga kau berada disini," ancam Nicko.
Nicko lalu memberi kode kepada kedua rekannya agar pergi meninggalkan mereka. Nicko pun berbalik melangkah pergi diikuti kedua rekannya.
"Dasar pengecut! Beraninya bermain licik seperti ini!" maki Hendry yang kesal tak bisa berbuat apa-apa.
Juan masih diam tak bersuara. Dengan kondisi seperti ini ia sadar tak bisa berbuat apa-apa. Kalau kursi yang mereka duduki terbuat dari kayu, mungkin ia akan berusaha keras menghentakkan diri agar kursi itu patah lalu ia bisa melepas ikatannya. Tapi sayangnya kursi ini terbuat dari besi, belum lagi kaki, tangan dan badan mereka diikat sekencang ini dengan tali. Lepas dari sana seperti sebuah keajaiban baginya. Lain hal kalau bosnya itu mau menyetujui kesepakatan yang ditawarkan.
"Juan, apa kau tidak bisa memikirkan bagaimana caranya kita bisa lepas dari sini?" tanya Hendry sambil menoleh pada Juan.
"Maaf, Tuan. Sepertinya sulit," jawab Juan apa adanya.
Terdengar dengusan kasar dari Hendry. Ia sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa agar ia bisa terlepas dari sana.
"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Juan kemudian.
"Hm," sahut Hendry dengan malas. Sudahlah sedang kesal, Juan malah mengajukan pertanyaan pula.
"Apa Tuan benar-benar mencintai Nona Keyla sampai Tuan menginginkannya menjadi istri Tuan?" tanya Juan yang membuat Hendry menoleh padanya.
"Kau sudah tidak waras atau bagaimana menanyakan hal itu padaku? Kau tau sendiri kan bagaimana aku memperjuangkan Keyla. Kalau aku tidak mencintainya untuk apa aku sampai rela diikat seperti orang bodoh seperti ini!" jawab Hendry sambil menghentak-hentakkan diri karena kesal.
"Apa yang membuat Tuan mencintai Nona Keyla?" tanya Juan lagi.
"Hei, kau mau mati ya?! Kalau tanganku tidak diikat sudah ku pukul kepalamu karena menanyakan hal sebodoh itu! Makanya jangan kerjaan terus yang kau urus, sesekali belajarlah mencintai seorang wanita, baru kau akan tau bagaimana rasanya jatuh cinta," jawab Hendry masih kesal.
"Maaf, Tuan. Saya hanya bertanya. Saya pikir ada alasan tertentu kenapa Tuan sangat menginginkan Nona Keyla," ucap Juan dengan santai padahal bosnya sudah emosi dengan pertanyaannya.
"Hahhh...susah sekali bicara dengan pria polos sepertimu. Sesekali aku rasa kau harus belajar nakal sedikit," ejek Hendry.
__ADS_1
Keduanya lalu diam sesaat. Tidak ada lagi yang bertanya dan tidak ada lagi yang menjawab. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing.
Beberapa menit berlalu, mereka sama-sama merasa bosan. Hendry pun mulai bersuara kembali menjawab pertanyaan Juan padanya tadi.
"Aku menginginkan Keyla sebagai istriku karena dia wanita baik-baik. Dia bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Tidak ada seorang pun yang menyentuhnya, sampai si breng-sek Shaka datang ke kehidupannya. Aku menginginkan seorang istri seperti itu. Aku ingin seorang wanita yang baik untuk menjadi ibu bagi anak-anakku nanti. Meskipun aku sadar, aku bukan pria baik-baik, tapi aku ingin mendapatkan pasangan yang baik, yaitu Keyla," kata Hendry panjang lebar.
"Tapi kenyataannya Nona Keyla sudah bersuami Tuan. Bagaimana kalau mereka sudah pernah berhubungan? Mereka juga sudah tinggal bersama dalam waktu yang cukup lama," ucap Juan yang membuat Hendry terhenyak. Ia pun sempat memikirkan hal itu sebelumnya.
"Entahlah. Aku hanya ingin Keyla," jawab Hendry.
"Apa Tuan tidak mau mencari wanita lain saja?"
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana kalau ada wanita lain yang kriterianya sesuai dengan yang Tuan inginkan? Apa Tuan bersedia melepaskan Nona Keyla dan menikahi wanita lain itu?"
"Kau sedang membela si breng-sek Shaka itu? Hah?" tanya Hendry mulai emosi.
"Tidak, Tuan. Saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin yang terbaik untuk Tuan, untuk masa depan Tuan. Hari ini saja Nona Keyla berani melukai dirinya sendiri demi menolak dinikahkan dengan Tuan. Apa Tuan bisa bayangkan bagaimana ke depannya kalau Tuan masih memaksakan diri untuk menikahinya?"
Hendry langsung terdiam. Ia berusaha mencerna setiap kalimat yang dikeluarkan oleh Juan. Kalau dipikir-pikir, perkataan Juan tadi ada benarnya juga. Tapi...ia juga menginginkan Keyla. Ia bahkan sudah sama lama menunggu Keyla agar bisa menjadi istrinya. Apakah tidak ada kemungkinan Keyla akan mencintainya?
Terselip kegetiran saat Juan mengucapkan kalimat terakhir. Seolah bukan hanya ditujukan untuk Hendry tapi juga untuk dirinya sendiri.
Hendry masih belum meresponse apa-apa. Hatinya masih bingung harus mengambil keputusan seperti apa. Pertanyaannya apakah setelah melepaskan Keyla dia bisa mendapatkan wanita yang sesuai dengan keinginannya? Rasanya di jaman seperti sekarang ini susah sekali mendapatkan wanita seperti Keyla, wanita yang cerdas, pandai bergaul, tapi tetap mampu menjaga harga dirinya.
Mereka pun kembali terdiam. Sampai akhirnya Hendry merasa dirinya ingin ke toilet untuk buang air kecil. Ia bergerak-gerak karena menahan sesak ingin buang air kecil.
"Ada apa, Tuan?" tanya Juan yang melihat Hendry gelisah.
"Aku rasa aku ingin buang air kecil," jawab Hendry.
"Sebentar saya panggilkan mereka," ucap Juan yang masih mempedulikan bosnya.
Ia pun berteriak memanggil anak buah Arshaka. Tak lama Nicko dan dua orang tadi masuk ke dalam ruangan itu.
"Ada apa? Apa kau sudah bersedia menandatangani kesepakatan ini?" tanya Nicko yang mengira Hendry mau menandatangani kesepakatan itu.
__ADS_1
"Cih, tidak semudah itu! Aku ingin ke toilet. Cepat lepaskan aku!" titah Hendry.
Nicko dan kedua rekannya saling pandang lalu mereka tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Hendry.
"Ingin ke toilet katamu? Lalu apa urusannya dengan kami? Kami tidak peduli! Kau mau haus, lapar, atau buang air disitu juga kami tidak akan peduli. Jangan harap kami akan melepaskanmu sedetikpun sebelum kau menandatangani surat ini," ucap Nicko sambil mengangkat berkas di tangannya.
Ah, sia-lan! Padahal aku sudah tidak tahan lagi. Tidak mungkin aku harus buang air kecil disini. Kalau aku menandatangani surat itu hanya karena tidak bisa menahan ingin buang air kecil, betapa dangkalnya cintaku kepada Keyla. Mau taruh dimana mukaku ini. Umpat Hendry dalam hati.
"Sangat buang-buang waktu!" ketus Nicko lalu pergi lagi meninggalkan mereka berdua disana.
Hendry terus gelisah ke kiri dan ke kanan. Ia benar-benar tidak tahan ingin buang air kecil saat itu. Ia berusaha tenang sambil mengutuk dirinya sendiri, kenapa di saat genting seperti ini dia malah mau buang air kecil dan tak bisa menahannya.
"Juan, tolong lakukan sesuatu!" ucap Hendry dengan suara tertahan. Keningnya sudah tampak berkeringat karena menahan diri.
"Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Tuan. Saya juga sama posisinya seperti Tuan saat ini."
Hendry tampak menghela nafas dengan berat. Rasanya sudah semakin diujung saja.
"Tidak mungkin aku buang air kecil disini," ucap Hendry dengan geram.
"Pilihannya ada dua Tuan. Tanda tangani surat itu atau...Tuan terpaksa buang air kecil disini," sahut Juan.
"Akhhhh.....dasar manusia-manusia breng-sek! Lihat saja, aku akan membalas mereka semua nanti! Ya sudah, cepat panggil mereka. Aku sudah tidak tahan lagi!"
"Baik, Tuan."
Juan kembali berteriak memanggil Nicko. Nicko sudah mendengar panggilan itu tapi ia sengaja mengulur waktu sebentar untuk membuat Hendry tambah menderita. Setelah itu ia baru masuk dengan berkas di tangannya.
"Sudah berubah pikiran?" tanya Nicko.
"Sudah breng-sek! Cepat kemarikan berkas itu dan lepaskan aku!" jawab Hendry dengan emosi.
Nicko pun menarik sudut bibirnya. Ia senang akhirnya bisa mengalahkan Hendry dengan mudah. Hendry pun dengan sangat terpaksa menandatangani berkas itu. Barulah kedua anak buahnya melepaskan Hendry dan mengantarkan Hendry buang air kecil sementara Juan masih terikat disana.
Setelah semua selesai, Nicko memberi kode kepada kedua rekannya untuk membuat Hendry dan Juan pingsan. Setelah mereka pingsan, mereka pun dikembalikan ke kediaman Hendry. Yang penting sekarang, mereka sudah memiliki surat perjanjian dimana Hendry tidak boleh mendekati Keyla apalagi sampai mengganggunya.
.
__ADS_1
Bersambung...