Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
58. Salah Angkat Telfon


__ADS_3

Pagi-pagi sekali bunyi handphone Cindy sudah berteriak kencang membangunkan tidurnya. Cindy sengaja memasang nada dering yang kuat karena sedang menunggu panggilan dari seseorang yang tak lain adalah Juan. Sejak kemarin sore, Keyla sudah tak bisa ia hubungi lagi. Cindy semakin khawatir pada nasib sahabatnya itu meskipun tau Keyla saat ini berada di rumah orang tuanya sendiri.


Cindy berpikir yang bisa membantunya saat ini hanyalah Juan. Sebab Juan selalu tau apa yang akan Hendry lakukan. Karena itulah ia berkali-kali menghubungi Juan tapi sayang tak kunjung mendapat jawaban.


Mendengar handphone-nya berbunyi, Cindy dengan mata yang masih tertutup mengambil handphone yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya lalu segera menjawab panggilan itu.


"Hei! Kamu kemana aja sih dari kemarin nggak ada kabarnya?! Aku berkali-kali telfon kamu tapi kamu nggak angkat! Aku kirim whatsapp juga kamu nggak balas! Kamu kenapa, sih? Kamu sengaja, ya?" omel Cindy bertubi-tubi. Meski matanya masih terpejam karena mengantuk tapi mulutnya sangat lihai memaki sang penelepon.


"Kamu nggak tau apa aku khawatirnya kayak apa semalam? Aku sampai susah tidur! Itu semua gara-gara kamu! Kenapa kamu nggak jawab telfon aku? Buang aja tu handphone kalau nggak dipakai lagi! Aku....."


"Sayang..." Tiba-tiba terdengar suara sang penelepon yang menghentikan ocehan Cindy.


Eh, sayang?


Deg.


Cindy terkejut. Suara itu seperti familiar di telinganya. Ya, itu suara Adit, kekasihnya. Cindy sontak membuka matanya dengan sempurna lalu melihat layar handphone-nya.


Aduh, mati aku! Ternyata ini Adit, bukan Juan. Duh, gimana dong? Cindy meringis dalam hati.


"Hallo Sayang, kamu baik-baik aja kan, Yang?" tanya Adit kemudian.


Cindy berdehem sejenak untuk menetralkan rasa canggungnya. Kalau sudah begini, dia harus cepat memutar otaknya untuk beralasan pada kekasihnya itu.


"Hallo, Sayang. Iya, aku baik-baik aja," jawab Cindy dengan canggung.


"Kamu yakin? Tadi pas angkat telfon aku kenapa kamu marah-marah? Kamu lagi nungguin telfon dari siapa? Apa kamu lagi nungguin telfon dari seseorang?" tanya Adit lagi.


Tuh, kan. Adit pasti curiga, nih.


"Maaf ya. Aku nggak tau kalau kamu yang telfon aku. Iya, aku lagi nungguin telfon dari Keyla. Semalam katanya dia mau cerita sesuatu sama aku. Aku kan penasaran dan khawatir sama dia. Eh, dia nya malah nggak ada kabar sampai sekarang," jawab Cindy berbohong.


Maaf ya, Key. Aku bawa-bawa nama kamu. Batin Cindy.


"Kamu juga tumben banget telfon aku pagi-pagi begini? Kamu nggak kerja, Yang?" tanya Cindy mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Kerja kok. Aku cuma kangen aja sama kamu. Udah lama kita nggak jalan bareng lagi," jawab Adit.


"Kamu sih, sibuk kerja mulu," gerutu Cindy.


"Aku kerja kan buat kamu juga nantinya," goda Adit.


Biasanya kalau digoda Adit seperti itu, hati Cindy akan langsung berbunga-bunga. Tapi kali ini ia merasa berbeda. Kenapa dia merasa kata-kata manis Adit jadi biasa saja di telinganya?


"Udah ih, pagi-pagi udah gombal!" ucap Cindy.


"Biasa kamu paling suka aku gombalin," timpal Adit.


"Iya, sih," ucap Cindy dengan canggung.


"Ya udah, aku mau mandi terus siap-siap berangkat kerja. Oh ya, aku sampai lupa. Aku juga mau kasih tau kamu, sore ini aku pulang ke rumah. Jadi, malam nanti kita makan malam di luar ya?" kata Adit kemudian.


Tuh kan, biasanya kalau Adit mau pulang dari luar kota, Cindy pasti akan senang bukan main. Tapi lagi-lagi kali ini Cindy merasa biasa saja. Tidak ada yang spesial baginya.


"Oh...oke," sahut Cindy seadanya.


"Cuma oke? Kok kamu kayak nggak seneng gitu?" Adit mulai curiga.


"Iya, iya, aku janji. Nanti malam kita makan bareng. Ya udah ya, aku tutup dulu telfonnya. I miss you, Sayang."


"I miss you too," ucap Cindy dengan pelan.


Miss you? Kenapa aku nggak merasakan itu? tanya Cindy pada hatinya sendiri.


Cindy pun menggelengkan kepalanya menghilangkan keanehan yang ada dalam dirinya. Ia bangun dan langsung mandi untuk bersiap-siap berangkat kerja.


Ketika ia baru saja selesai memakai riasan di wajahnya, handphone-nya kembali berdering. Ia langsung menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa peneleponnya.


"Hallo, Sayang. Ada apa? Aku lagi siap-siap mau ke kantor, nih," ucap Cindy sambil memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya.


"Sayang?" ulang si penelepon seolah tak percaya dipanggil sayang oleh orang yang ditelfonnya.

__ADS_1


Eh?


Cindy kembali terkejut mendengar suara peneleponnya. Ia melihat layar handphone-nya, tertulis nama Juan disana.


"Ini aku, Juan. Bukan kekasihmu. Kamu pasti sedang menunggu telfon dari kekasihmu, kan?" Suara Juan terdengar menyindir.


"Eh, bukan, bukan. Bukan begitu," jawab Cindy cepat. Entah kenapa ia tak ingin Juan salah paham.


"Kalau benar juga tidak masalah. Aku hanya ingin minta maaf tidak bisa menjawab telfonmu semalam. Aku sedang bersama bosku saat itu. Jadi aku tidak bisa menjawab telfon darimu."


"Aku..."


"Tunggu! Aku belum selesai bicara. Kamu pasti khawatir dengan Nona Keyla kan? Dia masih berada di rumah orang tuanya. Ayahnya memang benar-benar sakit, tapi hal itu sengaja dimanfaatkan oleh ibunya," Juan berhenti sebentar.


Pria itu terdengar menghela nafas dengan berat. "Dia tidak akan bisa keluar dari rumah orang tuanya karena ada beberapa bodyguard yang menjaganya. Dan juga...dia akan dipaksa menikah dengan bosku oleh ibunya," sambung Juan.


"Apa?!" Cindy terkejut sambil melebarkan matanya.


"Apa ibunya sudah gila? Keyla itu sudah bersuami. Mereka menikah secara sah," kata Cindy dengan suara meninggi saking emosi mendengar informasi dari Juan.


"Itu informasi yang aku dapat dari bosku langsung semalam," ucap Juan.


"Juan, apa kamu nggak bisa berbuat sesuatu supaya pernikahan itu batal? Apa kamu nggak bisa bantu bawa Keyla kabur dari rumahnya?"


"Kalau aku yang bantu, pasti ketahuan dan bosku bisa curiga. Kecuali kamu mau bekerjasama denganku. Kalau kamu bersedia, nanti sore sepulang kerja aku jemput kamu. Kita bicarakan soal ini lagi. Bagaimana?"


"Nanti sore..." Cindy kembali teringat Adit akan pulang sore ini dan mengajaknya makan malam bersama.


"Hallo," sapa Juan saat tak ada suara lagi yang terdengar dari Cindy.


"Ah, iya. Maaf. Hmm...sebenarnya nanti sore Adit pulang dari luar kota, dia bilang mau makan malam bareng juga nanti. Aku harus kabari dia dulu. Setelah itu baru aku telfon kamu lagi, ya," jawab Cindy dengan jujur.


"Baiklah," ucap Juan dengan singkat lalu segera mematikan panggilannya.


Entah kenapa Juan merasa tidak suka mendengar Cindy menyebutkan nama kekasihnya itu. Mungkinkah ia cemburu? Ah, tidak! Cindy sudah memiliki kekasih. Ia tak berhak untuk cemburu.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2