
"Kalau mau bertemu Keyla silahkan menunggu di dalam, kalau tidak mau, silahkan angkat kaki dari sini!" kata Arshaka secara terang-terangan.
"Apa? Dasar kurang ajar!" hardik Monica yang tak terima dengan ucapan Arshaka.
Keyla yang mendengar keributan dari depan langsung bangkit dari tempat tidur lalu melihat siapa yang datang. Ia terkejut saat tau orang tuanya yang datang saat itu.
"Papa? Mama?"
"Keyla..." lirih sang ayah lalu masuk ke dalam memeluk putrinya.
"Pa, Keyla kangen sama Papa. Papa udah sehat?" tanya Keyla yang membalas pelukan sang ayah.
"Sudah, Key. Papa sudah lebih baik. Papa senang kamu baik-baik saja bersama suami kamu saat ini," jawab ayahnya.
Keyla pun melepas pelukannya dan melihat ke arah sang ibu tirinya. "Mama nggak masuk ke dalam? Oh ya, Mama sama Papa kok pakaiannya rapi banget? Memangnya mau kemana?" tanya Keyla yang keheranan melihat ayah dan ibunya berpakaian rapi seperti mau ke pesta.
"Minggir!" ucap Monica lalu masuk ke dalam rumah menghampiri anak dan suaminya.
"Kamu lupa hari ini adalah pernikahan kamu dan Hendry? Kami baru saja dari rumah Hendry, tapi dia bilang pernikahan kalian batal karena kamu sudah kembali sama suami kurir kamu ini," jawab Monica sambil melirik dengan lirikan sinis ke arah Arshaka.
"Ma, Keyla memang istrinya Shaka. Kalau Keyla kembali sama suami Keyla sendiri itu memang sudah sewajarnya," ucap Keyla.
"Dikasih apa sih kamu sama dia sampai kamu cinta banget nggak mau ninggalin dia? Kamu nggak pikirin nasib perusahaan papa kamu sudah diambang kebangkrutan?" omel Monica.
"Ma, sudah cukup, Ma! Biarkan Keyla memilih jalan hidupnya!" bantah ayah Keyla.
__ADS_1
Arshaka sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan ibu mertuanya itu. Sampai saat ini pun wanita itu hanya memikirkan tentang perusahaan saja tanpa mempedulikan perasaan anaknya sendiri. Akhirnya mau tak mau Arshaka ikut buka suara.
"Jadi Mama masih mengkhawatirkan soal perusahaan? Begini saja, masalah perusahaan Papa biar menjadi urusanku. Aku akan menelfon asistenku untuk mengatur semuanya," kata Arshaka tiba-tiba yang membuat Monica tertawa lucu.
Jelas saja Monica tertawa karena yang dia tau Arshaka hanya bekerja sebagai seorang kurir pengantar barang. Jadi bagaimana mungkin menantunya itu punya asisten yang bisa ia suruh untuk mengurus masalah perusahaan. Dia belum tau saja kalau menantunya itu bukan menantu biasa.
"Ha ha ha... kasihan ya, mana masih muda, sudah halu. Asisten apa asisten? Asisten kurir? Kurir sudah punya asisten juga sekarang? Hah? Kamu suruh aja asisten kamu itu antar barang yang benar jangan sampai salah alamat, nggak usah mau ngurusin perusahaan keluarga saya segala," cibir Monica.
Ayah Keyla juga sempat merasa aneh dengan perkataan menantunya itu. Dia bingung apakah menantunya berkata benar atau memang sedang asal bicara saja.
Arshaka yang merasa diremehkan segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil handphone-nya. Lalu ia keluar lagi dan menelepon Nicko sang asisten untuk datang ke rumahnya. Saat itu Nicko sedang berada di rumah yang ditempati anak buah Arshaka untuk menjaga Keyla waktu itu.
Tak lama, Nicko pun datang ke rumah Arshaka. Jarak rumahnya hanya beberapa langkah saja, oleh sebab itu Nicko bisa sampai dengan cepat.
"Permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nicko begitu sampai di tempat.
"Nick, kenalkan, ini Papa dan Mama mertuaku. Perusahaan mertuaku sedang dalam masalah, bahkan hampir bangkrut katanya. Coba kamu selidiki apa masalahnya dan bantu perusahaan itu agar kembali seperti semula. Beri bantuan dana atau beri proyek apa saja yang sesuai dengan perusahaan mertuaku! Yang penting, jangan sampai perusahaan mertuaku bangkrut," perintah Arshaka pada asistennya.
"Baik, Tuan. Mungkin saya nanti akan butuh bantuan dari mertua Tuan juga untuk mendapat akses ke perusahaan," ucap Nicko.
"Bagaimana Papa? Boleh?" tanya Arshaka pada ayah mertuanya itu.
"Oh...i-iya. Boleh, boleh. Tentu saja boleh," jawab ayah mertuanya yang masih kebingungan.
"Nick, lakukan secepatnya!" titah Arshaka.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Ada lagi yang harus saya lakukan?" tanya Nicko.
"Untuk sementara cukup itu dulu."
"Baik, Tuan. Saya permisi," ucap Nicko lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Setelah Nicko pergi, Monica mendekati Arshaka. Ia semakin penasaran pada menantunya itu.
"Kamu...kamu serius punya asisten segala? Tadi asisten kamu? Duit dari mana kamu mau bantu perusahaan keluarga saya? Sebenarnya kamu ini siapa sih? Bukannya kamu bekerja sebagai kurir?" tanya Monica bertubi-tubi.
"Bukan, Ma. Shaka ini bukan kurir biasa. Dia sama seperti Keyla, kabur dari rumah. Aslinya dia juga anak orang kaya. Dia pengusaha di kota lain. Bahkan dia lebih kaya dari Hendry." Malah Keyla yang menjawab pertanyaan Monica.
Ibu tirinya itu langsung terbelalak mendengar jawaban Keyla. Benarkah menantunya itu adalah orang kaya? Tiba-tiba ia merasa bersalah sudah memperlakukan Arshaka secara tidak sopan sebelumnya.
"Ka-kamu beneran....."
"Iya, benar. Apa yang disampaikan Keyla memang benar semua, Ma. Jadi Mama tidak perlu lagi menjodohkan Keyla dengan Hendry hanya demi kepentingan perusahaan," potong Arshaka sebelum Monica sempat melanjutkan perkataannya.
Arshaka mendekat ke Keyla dan memperlihatkan pada mertuanya tangan Keyla yang bekas dijahit kemarin.
"Lihat! Keyla nekat melukai dirinya sendiri karena Hendry hampir berbuat tidak senonoh padanya. Syukurnya Keyla masih selamat. Kalau tidak, apa Mama tidak menyesal sudah ngotot ingin menikahkan mereka? Lagipula aku dan Keyla sudah menikah secara resmi. Keyla tidak bisa menikah dengan pria lain lagi. Jujur, aku kecewa, bahkan sangat kecewa atas perbuatan Mama terhadap Keyla. Apalagi Mama melakukan itu hanya demi perusahaan. Aku tau Keyla cuma anak tiri bagi Mama, tapi bagi Keyla, Mama adalah ibunya. Aku harap ke depannya nanti Mama bisa berubah dan tak lagi memaksa Keyla melakukan apa yang dia tidak suka."
Arshaka akhirnya menumpahkan semua uneg-unegnya selama ini. Menurutnya, mertuanya itu harus tau bagaimana perasaan Keyla selama ini. Terutama sang ibu, Monica. Arshaka ingin wanita itu sadar kalau apa yang telah ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar yang hampir menyebabkan Keyla celaka.
Monica sendiri terhenyak dengan perkataan dari menantunya. Ada rasa bersalah mendadak menjalar dalam hatinya. Ada pula penyesalan yang mulai ia rasakan. Ia menyesal terlalu mementingkan perusahaan dan mengorbankan kebahagiaan anaknya. Benar kata Arshaka, meskipun Keyla hanya anak tirinya, tapi Keyla tetaplah anaknya. Anak yang sudah ia rawat selama bertahun-tahun sampai Keyla tumbuh dewasa. Sebegitu tegakah ia selama ini menyakiti Keyla dan tak mempedulikan perasaannya?
__ADS_1
.
Bersambung...