Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
33. Informasi dari Widya


__ADS_3

Keyla keluar dari kantornya jam 5 sore. Hari itu Shaka tidak dapat menjemputnya pulang karena sedang banyak kerjaan. Jadi, Keyla pulang dengan menggunakan ojek online.


Tanpa sepengetahuan Keyla, ada sebuah mobil yang mengikutinya sejak ia keluar dari kantor sampai tiba di depan rumahnya. Ya, itu adalah mobil yang dikendarai oleh Juan.


Juan berhenti beberapa rumah dari rumah Keyla. Ia terus memperhatikan hingga Keyla masuk ke dalam rumah. Ia pun yakin, Keyla pasti tinggal disana sekarang.


Juan memperhatikan rumah yang dimasuki Keyla barusan. Sangat kecil. Beda sekali dengan rumah milik Hendry atau milik orang tua Keyla. Bahkan rasanya apartemennya saja lebih besar dari rumah Keyla itu.


Sedang serius memperhatikan Keyla, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri mobil Juan. Awalnya Juan menyangka wanita itu akan menegurnya karna parkir sembarangan. Tapi ternyata wanita itu malah numpang berkaca di mobil Juan.


Juan menggelengkan kepalanya. Dia merasa aneh dengan sikap wanita yang sedang berkaca itu. Kemudian ia teringat akan sesuatu. Lalu ia menurunkan kaca mobilnya sehingga wanita itu terperanjat dan salah tingkah.


“Ma-maaf, Mas. Kirain tadi nggak ada orangnya. Hehehe,” ucap wanita tadi sambil tersenyum kaku menampakkan deretan giginya. Wanita itu rupanya adalah Widya.


“Tidak apa-apa. Saya tidak masalah,” jawab Juan dengan ramah karena ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada wanita itu.


“Oke, Mas. Sekali lagi maaf, ya. Saya pergi dulu,” ucap Widya.


“Eh, sebentar, Nona. Boleh saya bertanya sesuatu?” tanya Juan kemudian.


“Nona? Saya Widya. Panggil Widya saja,” koreksi Widya.

__ADS_1


“Oh, baiklah. Widya, boleh saya tanya sesuatu? Apa kamu tinggal di perumahan ini juga?”


“Iya, Mas. Saya udah lama tinggal disini. Itu rumah saya dari sini kelihatan yang warna ungu muda,” jawab Widya sambil menunjuk arah rumahnya.


“Oh, jadi kamu tinggal disana, ya? Kalau rumah yang cat biru muda itu rumah siapa?" tanya Juan menunjuk ke arah rumah yang dimasuki Keyla tadi.


“Yang mana, Mas?” tanya Widya mengikuti arah yang ditunjuk Juan.


“Yang biru muda, pagarnya warna hitam,” jawab Juan.


“Oh, itu rumah Mas Shaka,” jawab Widya.


Shaka? Siapa Shaka? Tanya Juan dalam hati.


“Hmm...iya. Saya temannya. Apa dia tinggal sendiri disana? Saya teman waktu sekolah dulu. Sudah lama tidak bertemu dengannya,” jawab Juan berbohong.


“Nggak, Mas. Dia sekarang tinggal sama istrinya. Kalau nggak salah namanya Keyla. Mereka baru nikah. Nikahnya nggak ada resepsi, Mas. Nikah di kantor agama aja kayaknya.” Mulai jiwa gibahnya keluar.


“Oh, begitu. Baiklah kalau begitu terimaksih informasinya, ya.”


“Sama-sama, Mas. Sekali lagi maaf ya tadi udah ngaca sembarangan,” ulang Widya.

__ADS_1


Juan mengambil dompetnya lalu mengeluarkan beberapa uang pecahan seratus ribuan untuk diberikannya pada Widya.


“Apa ini, Mas?” tanya Widya menatap heran uang seratus ribuan yang ada di tangannya.


“Uang terimakasih saya sudah menunjukkan dimana rumah teman saya,” jawab Juan.


“Nggak usah, Mas. Saya ikhlas kok.” Mulutnya begitu, tapi uang itu masih berada di tangannya tanpa dikembalikan.


“Tidak apa-apa. Lumayan buat beli skincare.”


Mendengar Juan menyebut kata skincare, Widya langsung menyimpan uang itu dengan cepat di saku celananya.


“Oke deh, kalau Mas maksa. Makasih ya, Mas.”


“Iya, sama-sama. Saya duluan.”


Juan pun menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu. Ia sudah berhasil mengantongi informasi dimana tempat tinggal Keyla saat ini.


Widya mengeluarkan lagi uang yang diberikan oleh Juan tadi. Wawww, lumayan dapat sejuta! Tapi tiba-tiba Widya merasa keheranan. Kenapa pria tadi malah pergi dan tidak mendatangi rumah Shaka?


“Ah, bodo amatlah! Yang penting dapet tambahan buat skincare,” seru Widya dengan girang.

__ADS_1


Bersambung......


 


__ADS_2