
Tok tok tok.
Juan mengetuk pintu ruangan Hendry. Setelah mendengar suara Hendry mengijinkannya masuk, barulah Juan masuk ke dalam ruangan itu.
Di ruangan itu ternyata Hendry tidak sendiri. Ada Diana juga disana yang terlihat sedang duduk di sofa sambil bercermin memakai lipstick. Euh, Juan rasanya sangat malas masuk ke ruangan yang baru saja dipakai Hendry untuk berbuat mesum itu. Karena itulah Juan selalu mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan bosnya. Ia tak ingin matanya ternodai dengan hal-hal yang menurutnya menjijikkan.
“Ada kabar menarik tentang Keyla?” tanya Hendry tanpa basa-basi. Sebelumnya, Juan sudah menelepon bosnya terlebih dahulu kalau ia sudah mengetahui dimana keberadaan Keyla.
Diana yang tengah merapikan make-up nya melirik dengan ekor matanya saat nama Keyla disebut. Ada rasa sakit hati dalam dirinya. Baru saja mereka berhubungan bersama, sekarang Hendry sudah menyebut nama wanita lain. Tapi dia tak bisa protes. Dia dari awal seharusnya sudah sadar bagaimana sifat Hendry yang senang berganti wanita itu.
“Saya sudah tau dimana tempat Nona Keyla tinggal, Tuan. Saat ini Nona Keyla tidak tinggal sendiri. Dia tinggal bersama...”
“Suaminya?” potong Hendry yang sudah pernah mendengar cerita tentang pernikahan Keyla dari ibu tirinya.
“Benar, Tuan,” kata Juan mengiyakan.
Hendry mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Tak lama ia menghentikan jarinya lalu menatap Juan dengan serius.
“Kita datangi rumahnya sore ini,” ucap Hendry.
“Baik, Tuan. Apa kita perlu membawa anak buah yang lain?” tanya Juan.
“Tidak usah. Aku akan membujuknya terlebih dahulu. Aku tidak ingin menakutinya. Aku tidak ingin dia malah membenciku,” jawab Hendry.
“Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Hendry hanya mengangguk. Lalu Juan pergi meninggalkan ruangan itu setelah mendapat persetujuan dari bosnya.
__ADS_1
Diana yang dari tadi menguping pembicaraan mereka semakin penasaran saja dengan sosok Keyla. Secantik apakah Keyla sampai Hendry begitu tertarik padanya bahkan memperlakukannya dengan sangat baik?
***
Seperti apa yang diperintahkan Hendry tadi siang, sekarang Juan dan Hendry sudah berada di perumahan tempat Keyla tinggal. Mobil mereka berhenti tepat di tempat yang sama seperti kemarin Juan mengintai Keyla.
“Kau yakin Keyla tinggal disana?” tanya Hendry sambil memperhatikan rumah bercat biru muda itu.
“Benar, Tuan. Saya sudah melihat sendiri dengan mata kepala saya. Nona Keyla masuk ke dalam rumah itu. Saya juga sudah bertanya dengan salah satu warga perumahan ini. Memang benar Nona Keyla tinggal bersama suaminya disana,” jawab Juan.
Hendry berdecih. “Cih, suami palsu! Lihat saja, rumah sekecil itu bahkan tidak pantas untuk Keyla tinggali. Aku tidak habis pikir dengan Keyla. Nekat sekali dia pergi dari rumah dan hidup susah hanya karena menghindar dari menikah denganku. Padahal aku kurang apa lagi. Semua wanita bahkan mengantri untuk sekedar tidur denganku,” kata Hendry yang sedang menyombongkan diri.
Juan tak berkomentar apapun, mengumpat bosnya dalam hati pun rasanya malas. Bosnya tidak pernah mengoreksi diri kenapa Keyla tidak mau dijodohkan dengannya. Jelas saja perempuan baik-baik juga menginginkan laki-laki yang baik juga. Bukan laki-laki yang suka bergonta ganti wanita setiap harinya.
Beberapa menit kemudian, yang ditunggu menampakkan batang hidungnya. Keyla terlihat baru saja diantar pulang ke rumah dengan ojek online.
“Benar, Tuan. Jadi, bagaimana selanjutnya? Apa perlu saya kesana sekarang?” tanya Juan.
“Tidak. Biar aku saja yang turun. Kau tunggu saja disini,” jawab Hendry.
“Baik, Tuan.”
Hendry pun segera turun dari mobilnya dan menghampiri Keyla yang sedang membuka pintu pagar rumahnya.
“Keyla,” panggil Hendry.
Keyla yang baru saja berhasil membuka pintu pagar menoleh ke belakang. Ia pun terkejut lalu dengan cepat masuk ke dalam pagar dan menutupnya kembali.
__ADS_1
“Ngapain kamu disini? Dari mana kamu tau dimana aku tinggal?” Wajah Keyla pun berubah pucat. Ia tak menyangka akhirnya Hendry bisa mengetahui tempat tinggalnya.
“Key, tenang dulu, Key. Aku tidak bermaksud apa-apa. Bisa kita bicara di dalam rumah? Tidak enak kalau kita bicara di depan seperti ini,” kata Hendry yang khawatir warga kiri kanan akan menguping pembicaraan mereka. Pasalnya perumahan disana sangat dekat sekali jarak antar rumahnya. Hanya terpisah oleh sebuah tembok saja.
“Nggak! Justru nggak enak kalau kita bicara di dalam. Bisa jadi gunjingan tetangga karena aku sudah bersuami!” tolak Keyla dengan tegas.
Hendry sebenarnya sangat geram saat Keyla mengatakan dirinya sudah bersuami. Tapi dia harus bisa menahan emosinya sekuat mungkin agar tidak menakuti Keyla.
“Anggap saja aku ini tamu kamu, Key,” bujuk Hendry.
“Tamu tak diundang?” sindir Keyla.
“Key, please. Jangan begitu. Kita bicara baik-baik dulu di dalam," Hendry masih tak menyerah membujuk Keyla.
“Nggak mau! Mending kamu pulang sana! Sebentar lagi suami aku juga pulang. Aku nggak mau dia mikir yang bukan-bukan.”
Yang disebut pun tiba-tiba sampai disana dengan sepeda motornya. Shaka yang baru sampai depan rumahnya melihat Hendry berdiri di depan pagar sambil berbicara dengan Keyla. Melihat tampilan Hendry yang sangat berkelas dari mulai jas sampai sepatunya, membuat Shaka bertanya-tanya siapa pria di depannya ini.
“Shaka?” panggil Keyla yang tak dihiraukan oleh Shaka.
Shaka dan Hendry malah saling menatap dengan tatapan tidak suka.
“Maaf, anda siapa? Ada urusan apa anda dengan istri saya?” tanya Shaka dengan tatapan mengintimidasi.
Bersambung.....
__ADS_1