Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
55. Keyla Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Arshaka terlihat sangat sibuk sekali bekerja di perusahaan ayahnya pada hari pertama. Ada beberapa meeting yang harus ia hadiri dan banyak laporan perusahaan yang harus ia pelajari. Kalau dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya, pekerjaannya kali ini banyak menguras otaknya, tapi saat menjadi kurir maka tenaganya lah yang banyak terkuras untuk mengantar barang kesana kemari sepanjang hari.


Setelah selesai meeting, Arshaka kembali ke ruang kerjanya. Ternyata di dalam ruangan itu sudah ada ayahnya yang sedang menunggunya.


"Bagaimana hari pertamamu? Menyenangkan bukan?" tanya ayah Arshaka.


Arshaka duduk di sofa tepat di hadapan ayahnya. Ayahnya tampak senang ia mulai bekerja disana.


"Lumayan. Aku masih harus banyak belajar lagi," jawab Arshaka sekenanya.


"Kamu pasti bisa, Arsha. Siapa lagi yang meneruskan perusahaan ini kalau bukan dirimu, anak ayah satu-satunya," ucap sang ayah.


"Hm, baiklah," sahut Arshaka.


Ayahnya melihat Arshaka dengan seksama. Ia tau Arshaka tampak tak bersemangat sama sekali.


"Kamu terlihat tidak bersemangat. Apa ini karena pekerjaan atau..."


"Ayah pasti tau karena apa. Jangan pura-pura tidak tau begitu, Yah," potong Arshaka.


Sang ayah tersenyum. Ternyata Arshaka masih saja memikirkan istrinya yang sudah ia tinggalkan.


"Lama-lama juga kamu lupa dengan wanita itu. Apalagi saat kamu sudah dekat lagi dengan Silvy. Dia wanita yang cocok untuk dirimu," kata ayahnya.


"Tidak! Aku tidak akan melupakannya, Ayah. Ayah salah besar kalau mengira aku semudah itu melupakannya. Dan tentang Silvy, aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dia hanya temanku, tidak lebih!" tolak Arshaka dengan tegas.


"Sudahlah, Ayah. Keyla wanita yang baik. Tolong ijinkan aku membawanya pulang dan tinggal bersamaku," bujuk Arshaka.


"Ayah belum yakin dia lebih baik dari Silvy."


"Jelas dia lebih baik. Dia mau menerimaku sebagai suaminya saat aku masih jadi kurir. Dia mau belajar banyak tentang mengurus rumah tangga. Kurang apa lagi dia? Silvy belum tentu mau denganku kalau aku hanya seorang kurir pengantar barang," jelas Arshaka.


"Kita lihat saja nanti bagaimana," ucap sang ayah yang tak mau berdebat panjang dengan Arshaka soal istrinya.


"Aku akan membuktikan, Keyla adalah istri yang tepat untukku. Dan selama aku tidak bersamanya, aku harap ayah menepati janji ayah untuk menjaga keselamatannya."

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir soal keselamatannya."


"Baiklah. Aku percaya. Tapi kalau sampai terjadi apa-apa pada Keyla, aku akan membawanya pulang ke rumah."


"Kamu mengancam Ayah?"


"Lebih tepatnya mengingatkan."


Ayahnya hanya bisa mendengus mendengar perkataan anaknya itu. Arshaka sepertinya memang sudah benar-benar jatuh cinta pada wanita yang bernama Keyla itu.


***


Sementara itu di tempat kerjanya, Keyla merasa risau dengan kondisi ayahnya yang sedang sakit. Ia bingung apakah harus pulang ke rumah atau tidak. Ia tentu sangat merindukan sang ayah yang sudah lama tidak ia temui. Tapi di satu sisi, ia juga takut kalau itu hanya akal-akalan ibunya saja agar dia kembali ke rumah dan tak kembali lagi pada Shaka.


"Mba Keyla," panggil salah seorang rekan kerjanya yang lebih muda darinya.


"Iya, Na. Ada apa?" tanya Keyla pada gadis bernama Nana itu.


"Kira-kira kado apa ya Mba yang bagus buat dikasih ke ayahku? Ayahku ulang tahun hari ini, Mba. Aku bingung mau kasih kado apa. Mumpung bulan ini aku dapat bonus. Aku pengen kasih sesuatu buat ayahku, Mba," tanya Nana pada Keyla.


"Apa ya Mba? Aku juga bingung ayahku hobinya apa. Ayahku guru, Mba. Beliau ngajar di SD deket rumah," jawab Nana sambil mengingat ayahnya.


"Guru ya? Hmm...kalau kasih sepatu gimana? Buat ayah kamu ngajar," usul Keyla.


"Iya juga, ya. Oke deh. Aku beliin sepatu aja. Makasih ya Mba, sarannya."


"Iya, sama-sama. Semoga ayah kamu suka, ya."


"Amiiin. Oh ya, Mba Keyla masih punya ayah? Kalau ulang tahun gitu Mba Keyla suka bikin surprise gitu nggak Mba?" tanya Nana yang membuat Keyla berubah sedih. Ia kembali akan kondisi ayahnya yang sedang sakit saat ini.


"Mba, aku salah ngomong ya? Maaf ya, Mba," ucap Nana tak enak hati saat melihat wajah Keyla berubah mendung.


"Nggak apa-apa kok. Santai aja. Ayahku lagi sakit, makanya aku tiba-tiba ingat ayahku."


"Oh, semoga cepat sembuh ya, Mba. Kalau Mba Keyla yang rawat pasti ayah Mba Keyla cepet sembuhnya. Ayahku kadang gitu, Mba. Kalau lagi sakit maunya dirawat sama anaknya, biar cepet sembuh lagi katanya."

__ADS_1


Keyla hanya mengangguk saja. Niatnya untuk pulang ke rumah semakin besar. Ia juga sudah sangat rindu pada ayahnya. Sore ini setelah selesai bekerja, ia berencana untuk langsung pulang ke rumahnya.


***


Sekitar jam 5 sore Cindy sudah sampai di depan kantor Keyla. Biasanya Keyla akan menunggunya di depan, tapi kali ini Keyla malah tak terlihat ada disana.


Cindy pun mengambil handphone-nya dan segera menelepon Keyla.


"Hallo, Key. Aku udah di depan," kata Cindy begitu panggilannya tersambung.


"Hallo, Cindy. Maaf aku lupa kasih tau. Aku sekarang lagi di taxi mau pulang ke rumah. Papaku sakit. Jadi aku mau jenguk Papaku dulu," jawab Keyla yang membuat Cindy terkejut.


"Kamu pulang, Key? Kamu yakin? Papa kamu beneran sakit? Maksudku bukan nggak percaya sih Key, takutnya ini akal-akalan Mama kamu aja," kata Cindy yang merasa khawatir.


"Aku yakin, Cin. Lagipula aku udah kangen banget sama papaku. Kalau mamaku macam-macam, kan ada papaku disana."


"Kamu yakin kan, Key?" tanya Cindy lagi.


"Iya, yakin. Kamu jangan khawatir. Sekali lagi maaf ya, udah ngerepotin kamu jemput aku tapi aku nggak ada disana."


"Nggak masalah kok. Yang penting kamu hati-hati, Key. Kalau ada apa-apa cepet telfon aku, ya."


"Iya, Cin. Makasih, ya."


Setelah menutup teleponnya, Cindy merasa khawatir pada Keyla. Ia pun mencari nomor Juan di list kontak handphone-nya lalu menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.


Tuuuttt tuuttt tutttt


Cindy mencoba beberapa kali panggilan tapi tak ada jawaban dari Juan.


Juan yang saat itu sedang mengemudikan mobil mengantar Hendry pulang sengaja tidak mengangkat panggilan dari Cindy. Ia tak mau Hendry nanti mendengar obrolannya dengan Cindy. Ia berencana akan balik menelepon Cindy setelah mengantar Hendry.


"Ih, kok nggak diangkat terus, sih? Juan kemana sih? Angkat dong! Penting nih! Apa jangan-jangan dia sengaja nggak angkat telfon dari aku karena udah merencanakan semua ini? Secara dia kan anak buahnya Hendry. Ih, kesel deh! Awas aja kalau sampai dia berani macam-macam sama Keyla!" gerutu Cindy sendirian.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2