
Paginya Shaka memasang wajah masam saat bertemu dengan Keyla. Ia masih kesal pada Keyla yang seenak hati membatalkan adegan romantisnya tadi malam. Saat sarapan pun Shaka hanya diam meski ia tak menolak memakan nasi goreng yang dimasak oleh Keyla.
“Kamu masih marah, ya? Maaf, ya. Janji deh, lain kali nggak gitu lagi,” ucap Keyla saat Shaka sudah berada di depan teras rumahnya.
“Udah nggak usah dibahas, nggak enak didengar tetangga,” sahut Shaka dengan nada jutek.
“Iya, maaf. Oh iya, nanti aku mau keluar ketemu temen aku ya, mau tanya soal lowongan pekerjaan.”
“Hm. Hati-hati perginya.” Meskipun kesal masih juga Shaka perhatian pada Keyla.
“Shaka, tunggu!” panggil Keyla saat Shaka sudah di atas motor dan baru ingin memasang helmnya.
Shaka membuka kembali helm itu. Ia tidak jadi memakainya. Tiba-tiba Keyla menghampiri Shaka laku mengulurkan tangannya.
Alis Shaka terangkat sebelah, ia tak mengerti maksud Keyla. “Kenapa?”
“Salim,” jawab Keyla yang masih mengulurkan tangannya.
Ck, kirain mau cium pipi tadi. Nggak taunya salim doang. Memang bocah mau berangkat sekolah apa. Gerutu Shaka dalam hati.
Shaka pun mengulurkan tangannya. Keyla langsung menyambut dan mencium tangan suaminya itu.
“Hati-hati, ya. Cepat pulang,” ucap Keyla sambil melambaikan tangannya.
“Hm,” sahut Shaka dengan malas. Ia pun segera memakai helmnya lalu pergi meninggalkan rumah.
***
Sebelumnya Keyla sudah janjian terlebih dahulu dengan sahabatnya Cindy. Rencananya ia akan minta tolong sahabatnya itu untuk membantunya mencari pekerjaan. Mereka pun memutuskan untuk bertemu di sebuah cafe.
“Jadi, kamu beneran udah nikah dan kabur dari rumah, Key?” tanya Cindy setelah mendengar cerita Keyla mulai dari dia melarikan diri dari rumah, menjebak Shaka, sampai kejadian tadi malam saat dia dengan beraninya menggoda Shaka tapi dia sendiri yang ketakutan.
Cindy memang sahabat yang paling akrab dengannya. Karena itu mereka hampir tidak punya rahasia satu sama lain. Mereka berdua saling terbuka.
“Iya. Apa yang aku ceritakan barusan itu memang benar terjadi. Makanya sekarang aku butuh bantuan kamu buat cariin aku lowongan pekerjaan,” jawab Keyla dengan penuh harap.
__ADS_1
“Om ku ada buka travel, sih. Dia lagi nyari admin buat di kantor. Kalau kamu mau, kamu bisa kerja disana. Tapi gajinya nggak besar, Key. Standard lah,” kata Cindy.
“Serius? Aku mau. Nggak masalah soal gaji. Aku juga nggak mau gaji terlalu besar.”
“Kenapa? Dimana-mana orang nyari yang gajinya besar, Key.” Cindy tak mengerti jalan pikiran Keyla. Bukankah setiap orang yang bekerja menginginkan gaji yang besar?
“Biar nggak ada kesenjangan antara aku sama Shaka.”
Cindy langsung terharu mendengar jawaban dari Keyla. Tak disangka, ternyata sahabatnya yang ia kenal sangat manja dan tidak pernah hidup susah itu sangat memikirkan keadaan suaminya.
“Kamu cinta banget sama dia, ya?” tanya Cindy.
“Kenapa kamu tanya begitu?” Keyla balik bertanya.
“Soalnya kamu sampai mikirin perasaan dia biar nggak tersinggung. Aku salut sama kamu Key, kamu banyak berubah,” puji Cindy pada sahabatnya itu.
Keyla menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri tak mengerti apakah dia sudah benar-benar mencintai Shaka atau belum. Tapi yang jelas untuk saat ini dia tak bisa berpaling lagi dari Shaka.
“Aku sendiri nggak ngerti. Bisa jadi aku memang udah cinta sama dia, tapi aku belum menyadari itu,” jawab Keyla.
Keyla pun terkekeh saat mengerti apa yang Cindy maksud.
“Hampir. Ya tadi malam itu kayak yang aku cerita. Tapi belum kejadian,” jawab Keyla.
“Sebelumnya juga nggak pernah?” jiwa kepo Cindy mulai terpancing.
Keyla menggelengkan kepalanya.
“Yah, sayang banget dong serumah udah sah tapi nggak gituan.”
“Ih, dasar mesum! Ya kami kan nikah bukan karena cinta. Makanya kami belum ngapa-ngapain,” gerutu Keyla.
“Iya juga, sih. Eh ngomong-ngomong aku lupa cerita ke kamu. Beberapa hari lalu, mama kamu datang ke rumah aku tanyain kamu. Tapi aku bilang nggak tau.”
“Trus?” Keyla penasaran.
__ADS_1
“Ya trus mama kamu pulang. Mama kamu bilang kalau ketemu kamu, kasih tau ke dia.”
“Eh, jangan! Please jangan kasih tau apa-apa. Aku takut mama belum berubah pikiran dan masih maksa aku nikah sama Hendry,” kata Keyla dengan cemas.
“Iya, tenang aja. Aku nggak akan bilang apa-apa. Aku bilang begini biar kamu lebih waspada aja.”
“Iya, Cin. Makasih ya, udah infoin ini ke aku.”
“Iya, sama-sama. Kita kan sahabat, Key. Santai aja.”
Keyla sekarang menjadi agak cemas. Bukankah dulu ibunya yang mengusirnya dan memintanya untuk tidak kembali ke rumahnya selama ia menikah dengan Shaka? Lalu kenapa sekarang malah mencarinya? Keylq menduga ini pasti ada hubungannya dengan Hendry.
Tak lama mereka mengobrol, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan cafe itu. Tapi siapa sangka, saat Keyla baru saja keluar dari cafe, Juan asisten Hendry melihatnya dari dalam cafe. Cafe itu memang cukup besar, makanya saat Keyla masih berada di cafe tadi Juan tidak menyadari keberadaannya.
Juan yang baru saja hendak memesan kopi dalam cup langsung membatalkan pesanannya. Ia berencana ingin mengejar Keyla. Tapi nasib baik masih berada pada Keyla. Karena terlalu terburu-buru ia tak sengaja menabrak seorang wanita yang tengah memegang secangkir kopi sehingga kopi itu tumpah mengenai mereka.
“Mas, jalan pake mata dong!” hardik wanita tersebut.
“Maaf, Nona. Saya tidak sengaja,” jawab Juan dengan cepat.
“Nggak sengaja, enak aja nggak sengaja! Baju aku basah nih kena tumpahan kopi,” balas wanita itu lagi dengan sangat kesal sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang terkena tumpahan kopi itu.
Juan dengan cepat mengambil dompet yang ada di saku celananya lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan. Kemudian uang tersebut ia berikan ke tangan wanita tadi.
“Saya rasa ini cukup untuk mengganti baju Nona,” ucap Juan lalu pergi keluar untuk mengejar Keyla.
Wanita itu melihat beberapa lembar uang yang ada di tangannya. Ia tak jadi marah namun justru tersenyum. Juan memberinya uang yang lebih dari kerugian yang ia alami.
Juan segera berlari keluar, ia melihat ke sekelilingnya, mungkin saja Keyla masih ada disana pikirnya. Tapi sayangnya dia sudah terlambat. Keyla sudah lebih dulu pergi dengan mobil Cindy meninggalkan cafe itu.
“Ah, si-al! Ini gara-gara wanita di dalam tadi. Kalau tidak, aku pasti sudah mendapatkan Nona Keyla. Tuan Hendry tidak boleh tau soal ini. Bisa-bisa dia marah besar karena Nona Keyla bisa lolos dari kejaranku,” ucap Juan dengan kesal.
***
Hi pembaca setiaku 🤗 maaf aku agak slow update disini karena aku ngejar update di novel aku yang lain, judulnya "BUMI TANPA SENJA".
__ADS_1
Jangan lupa mampir kesana juga ya. Terima kasih 😊💙