
“Juan, kau mau bawa aku kemana?” tanya Cindy yang kini tangannya sedang ditarik oleh Juan keluar gedung.
Resepsionis dan karyawan disana semakin yakin memang ada apa-apa antara Juan dan Cindy. Mereka pun mulai bergosip tentang Juan, pria yang dikenal cukup pendiam di perusahaan Hendry.
“Ih, nggak nyangka ya. Pak Juan diam-diam menghanyutkan. Tiba-tiba main hamilin anak orang aja,” ucap salah satu karyawan.
“Iya, bener. Makanya sebagai perempuan kita harus hati-hati, jangan lihat laki-laki dari luarnya aja! Pak Juan padahal di kantor jarang banget deket sama karyawan perempuan. Eh, tau-taunya malah hamilin anak orang,” sahut karyawan yang lain.
“Betul. Kelakuannya ternyata sama kayak bos Hendry, ya. Tapi yang ini lebih bahaya, soalnya nakalnya nggak kelihatan.”
“Iya, bener. Kasihan perempuan tadi sampai datang kesini minta pertanggung jawaban.”
Begitulah mereka terus bergosip tentang Juan yang tak salah apa-apa.
Sementara Juan sendiri saat ini sudah membawa Cindy pergi dengan mobil milik Cindy keluar dari kawasan perusahaannya.
“Ini...kita mau kemana?” tanya Cindy yang tak tau kemana Juan akan membawanya.
Juan tak menjawab. Ia terus mengemudikan mobil Cindy hingga jauh dari perusahaannya. Cindy jadi merasa was-was Juan akan berbuat sesuatu yang buruk padanya. Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya Juan memberhentikan mobil Cindy di sebuah bangunan tua yang tak dilanjutkan pembangunannya.
Cindy melihat ke kiri dan kanan. Suasana di tempat itu cukup sepi. Ia tak mengerti kenapa Juan mengajaknya pergi ke tempat itu.
“Kenapa kita kesini?” tanya Cindy keheranan.
Juan melepaskan seat belt nya lalu duduk menghadap Cindy yang ada di sampingnya.
“Kok kamu masih tanya kenapa? Tadi kamu bilang minta pertanggung jawaban aku kan?” tanya Juan penuh intimidasi.
“Oh, hehehe...” Cindy malah cengengesan sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. “Aku tadi mau ketemu kamu, tapi resepsionis itu melarangku. Ya sudah, aku pakai cara lain aja,” jawab Cindy tanpa merasa berdosa.
“Oh, okay. Kalau begitu, aku mau tanggung jawab sekarang,” kata Juan.
“Tanggung jawab apa? Aku kan nggak hamil.”
__ADS_1
“Ya udah, aku hamilin sekarang baru aku tanggung jawab.”
Plak! Cindy menepuk lengan Juan.
“Jangan sembarangan, ya! Lagian mau hamilin aku di tempat beginian. Malu sama gaji! Kalau di hotel mewah mungkin aku masih mikir.”
Tuk! Kini giliran Juan yang menyentil kening Cindy sampai ia meringis.
“Awwhhh...sakit tau!” ujar Cindy sambil mengusap keningnya.
“Makanya kamu jangan asal bicara! Kamu itu wanita, Cindy. Kamu harus jaga bicara kamu. Memangnya kamu mau kalau aku bawa ke hotel? Kalau kamu bilang mau, aku bawa sekarang juga!” ancam Juan dengan wajah seriusnya.
“Iya, iya, enggak. Becanda,” ucap Cindy sambil mengerucutkan bibirnya. Mendengar Juan sudah serius seperti itu, bisa menciut juga nyalinya.
Juan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Jadi, kenapa kamu sampai datang ke kantor aku?” tanya Juan dengan serius.
Cindy pun mulai terlihat bersedih. Ia teringat kembali akan sahabatnya Keyla yang tadi pagi ia temui dalam keadaan menyedihkan.
“Kamu menuduh aku dalangnya?” potong Juan.
Cindy mengangguk membenarkan Juan.
“Yang rencananya akan diculik itu Nona Keyla. Bukan Shaka,” ucap Juan.
“Ya siapa tau kan. Bisa aja kalian culik Shaka supaya nggak ada yang jaga Keyla lagi. Atau kalian mengancam Shaka supaya pergi dari Keyla. Soalnya nggak mungkin tiba-tiba Shaka pergi begitu aja. Aku tau, dia sangat mencintai Keyla. Dia bahkan rela dipukuli habis-habisan untuk membela Keyla,” kata Cindy yang sudah dalam mode serius.
“Tapi aku memang tidak terlibat soal perginya Shaka,” bantah Juan.
“Hendry?”
“Dia juga tidak. Kalau dia melakukan itu, aku pasti tau,” jawab Juan.
Cindy tampak putus asa mendengar jawaban Juan. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil menatap ke depan. Saat ini Keyla pasti sedang bingung memikirkan keberadaan Shaka, pikirnya. Tapi sayang ternyata bukan Hendry pelakunya.
__ADS_1
“Kasihan sekali nasib Keyla. Dia baru aja bahagia dengan Shaka. Sekarang Shaka malah pergi entah kemana,” lirih Cindy dengan wajah sedihnya.
Juan tau Cindy pasti ikut sedih melihat sahabat terdekatnya sedih. Ia mengacak rambut Cindy dan berusaha membujuknya.
“Aku akan bantu mencari Shaka,” ucap Juan yang membuat Cindy menoleh ke arahnya.
“Kau mau mencarinya? Kalau bosmu tau bagaimana?” tanya Cindy setengah tak percaya.
“Ya jangan sampai dia tau,” jawab Juan.
“Tapi...bosmu masih menginginkan Keyla kan?”
“Dia juga sangat mencintai Nona Keyla. Dia tidak mungkin melepaskan Nona Keyla begitu saja. Aku kan tadi bilang hanya membantu mencari Shaka. Urusan bosku dengan Nona Keyla, aku tidak ikut campur.”
Cindy menghembuskan nafas dengan kasar mendengar jawaban Juan. Ia tak tau mau senang atau kesal dengan jawabannya itu.
“Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu kembali ke kantormu. Kamu hari ini kerja kan?” tanya Juan.
“Iya, aku kerja," jawab Cindy.
"Hmmm....Juan, makasih ya. Dan maaf sudah membuat kekacauan di kantormu,” ucap Cindy dengan pelan.
Juan tersenyum lalu mencubit pipi Cindy dengan pelan. “Kamu memang nakal!”
Cindy jadi terkekeh dengan perkataan Juan. Selanjutnya ia bergerak mendekati Juan seperti ingin mencium pipi Juan. Tapi Juan dengan cepat mendorong bibir Cindy dengan tangannya.
“Juan ih....” protes Cindy setelah menepis tangan Juan.
“Jangan nakal, Cindy! Sudah, ayo kita pergi dari sini!”
“Huh, malu-malu mau!” cicit Cindy sambil mencebikkan bibirnya.
Juan tak menanggapi Cindy lagi. Ia segera menjalankan mobil dan pergi dari tempat itu. Selama perjalanan, Cindy sesekali melirik ke arah Juan yang sedang menyetir mobil. Ia bingung kenapa dia bisa cepat akrab pada pria itu. Baru saja kemarin dia kesal dengan Juan, tapi saat ini ia malah merasa senang berada di dekatnya.
__ADS_1