
Sejak malam itu, malam-malam berikutnya Keyla selalu tidur sekamar dengan Shaka. Ya, hanya sekedar tidur bersama. Tidak ada aktivitas lebih yang mereka lakukan. Kurang lebih sudah sebulan juga mereka tidur bersama.
Sama seperti malam ini, Keyla tidur di lengan Shaka sambil memandangi wajah suaminya yang tengah terlelap itu. Wajah tampan yang selalu ia rindukan. Rasanya ia tak mampu jika sehari saja tak melihat wajah suami tampannya itu. Tangannya terulur menyusuri wajah sang suami. Telunjuknya bergerak dari kening, turun ke hidung lalu berhenti di bibir. Bibir yang sudah mengambil ciuman pertamanya.
Lama memandang wajah Shaka, Keyla pun mulai terasa mengantuk lalu ikut terlelap menyusul ke alam mimpi.
Entah berapa lama Keyla tertidur, ia merasakan ada yang berbeda. Tempat tidurnya terasa lebih luas, udara juga terasa lebih dingin. Tidak sehangat saat dia hendak tidur tadi. Tangan Keyla terulur meraih Shaka, tapi yang diraih tak kunjung terasa.
Keyla membuka mata lalu menguceknya. Dilihatnya ke samping, kosong! Shaka tak ada disana. Keyla terkejut lalu bangkit dari tidurnya.
“Kemana Shaka?”
Keyla melihat ke sekeliling kamarnya, Shaka tak ada disana.
“Mungkin Shaka di kamar mandi.” Mulutnya berkata seperti itu tapi hatinya tak yakin dengan perkataannya sendiri.
Keyla pun turun dari tempat tidur untuk mengecek ke luar. Tidak ada suara apapun dari kamar mandi yang tertutup itu. Ketika Keyla mendorong pintunya, kamar mandi itu kosong.
"Kok nggak ada disini? Kemana perginya?"
Keyla pergi mengecek ke kamarnya. Kamarnya juga sama, kosong, tak ada Shaka disana. Keyla mulai panik. Dimana suaminya malam-malam begini? Tidak mungkin Shaka keluar malam-malam begini sendirian?
Keyla masuk ke kamarnya dan mengambil sweater miliknya lalu memakainya. Ia berniat untuk mencari Shaka di luar.
Ketika Keyla membuka pintu rumah, suasana di depan terlihat sangat gelap. Keyla bahkan kesulitan untuk melihat dengan jelas. Tapi Keyla tetap tak menyerah. Ia tetap keluar mencari Shaka.
“Shaka......Shaka......kamu dimana...?”
Keyla terus berjalan meneriakkan nama Shaka sambil melihat ke sekelilingnya. Anehnya tak ada satupun tanda-tanda Shaka akan muncul disana. Keyla tetap melanjutkan langkahnya. Ia yakin, ia akan segera bertemu Shaka. Bukan Keyla namanya kalau mudah menyerah.
Makin lama Keyla merasa jalanan itu semakin gelap dan perjalanannya terasa amat panjang seperti tak berpenghujung. Rasa lelah pun mulai menghampirinya. Lututnya mulai terasa pegal. Keyla berhenti sejenak dengan nafas yang tak beraturan. Matanya memindai ke sekelilingnya tapi ia tak menemukan apapun.
“Shaka, kamu dimana sebenarnya?” tanya Keyla dengan penuh kecemasan.
Dug.
Terdengar suara pintu mobil yang ditutup dari arah belakangnya. Keyla berbalik. Ia melihat dengan jelas ternyata ada Shaka disana. Shaka baru saja masuk ke dalam sebuah mobil. Tapi, mobil siapa itu?
__ADS_1
“Shaka? Shaka tunggu...!”
Keyla langsung berlari menghampiri mobil yang ditumpangi Shaka. Mobil itu tampak mulai berjalan dengan pelan. Keyla yang sudah tiba disana, mengetuk-ngetuk pintu belakang mobil tempat Shaka duduk.
Ya, benar! Memang Shaka yang duduk di kursi belakang mobil.
“Shaka...Shaka, ini aku Keyla. Shaka, kamu mau kemana?”
“Shaka, suruh supir itu berhenti! Shaka, kamu mau kemana?”
Keyla terus mengetuk-ngetuk pintu mobil berharap Shaka akan menyadari keberadaannya. Tapi Shaka hanya diam tak bergeming menghadap ke depan. Dia sama sekali tak mempedulikan Keyla disana.
“Shaka, please jangan tinggalin aku! Shaka aku mohon berhenti.” Keyla sudah mulai terisak saat itu. Shaka sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Mobil semakin melaju, Keyla sudah setengah berlari agar tidak tertinggal oleh mobil yang membawa Shaka.
“Shaka, aku mohon, Shaka.”
“Berhenti, Shaka. Jangan aku tinggalin aku seperti ini!”
“Shaka, please jangan pergi....”
“Shaka, jangan pergi.....”
“Shaka.......”
“Key...Key...bangun Key.”
Hahhhhhh. Keyla tersentak dari tidurnya hingga terduduk. Wajahnya langsung berkeringat meskipun sedang berada di ruang ber-AC. Nafasnya pun naik turun tak beraturan. Dan yang pertama kali ia lihat saat membuka matanya adalah wajah suaminya, Shaka. Orang yang barusan meninggalkannya dalam mimpi.
“Kamu mimpi? Hm? Mimpi apa sampai keringetan begini?” tanya Shaka sambil menyeka kening Keyla yang berkeringat.
Bukannya menjawab Keyla malah menangis sambil memukul-mukul dada Shaka.
“Kamu jahat! Kamu tega ninggalin aku! Kamu jahat sama aku!” kata Keyla sambil menangis sesenggukan.
Lah, kenapa ni anak? Kesambet?
__ADS_1
“Jahat apa, Key? Tinggalin apa? Orang dari tadi aku tidur di sebelah kamu, trus kamu teriak-teriak sampai aku kebangun,” bujuk Shaka yang membiarkan Keyla terus memukulinya.
“Tadi kamu tinggalin aku sendiri! Kamu jahat!”
“Siapa yang ninggalin kamu, Key? Kamu masih mimpi, ya? Coba deh lihat sini baik-baik. Ini aku ada di depan mata kamu.”
Keyla mulai menghentikan tangisannya. Ia menyeka airmatanya lalu melihat dengan jelas wajah Shaka.
“Berarti...tadi aku mimpi, ya?” tanya Keyla dengan polosnya.
“Ya iyalah, mimpi. Makanya mau tidur tuh cuci tangan, cuci kaki, baca do'a. Jangan sibuk pake skincare malam aja,” sindir Shaka yang sering memperhatikan Keyla mengoleskan skincare ke wajahnya sebelum tidur.
Keyla ingin tergelak mendengar ucapan Shaka. Tapi ia berusaha menahan dirinya. Apa yang barusan ia lakukan sangat memalukan. Bisa-bisanya dia sampai mengigau seperti tadi.
“Ya udah, jangan nangis lagi. Kita lanjut tidur, yuk!” ajak Shaka.
Keyla menahan tangan Shaka. “Tadi aku mimpi kamu pergi tinggalin aku. Tapi syukurnya itu cuma mimpi. Di dunia nyata, tolong jangan tinggalin aku, ya,” pinta Keyla dengan wajah memelas.
Shaka melihat ada kekhawatiran tergambar dari kedua bola mata Keyla. Gadis ini terlihat takut kehilangan dirinya. Shaka menangkup kedua pipi Keyla dengan tangannya lalu ia mencium bibir Keyla sekejap dengan sangat lembut dan hangat.
“Aku nggak akan ninggalin kamu. Nggak ada alasan buat aku ninggalin kamu. Jangan mikir yang macam-macam. Aku nggak akan kemana-mana,” ucap Shaka berusaha membuat Keyla tenang.
Keyla mengangguk dengan senyum mengembang di wajahnya. Kali ini giliran dirinya yang balas mengecup bibir Shaka dengan sangat lembut dan perlahan.
“Aku pegang janji kamu. Aku percaya kamu nggak akan ninggalin aku,” ucap Keyla.
Shaka meraih Keyla masuk ke dalam dekapannya. Dia sudah terlalu nyaman berada di sisi Keyla. Tidak pernah terpikir olehnya untuk meninggalkan Keyla.
Keyla memeluk Shaka dengan erat, membenamkan wajahnya di dada Shaka. Ia berharap apa yang dimimpikannya tadi tidak akan pernah menjadi kenyataan. Baru mimpi saja rasanya sudah sesakit ini, apalagi kalau sampai menjadi kenyataan, mungkin ia akan merasa sangat menderita jika hal itu terjadi.
Bersambung....
Hayo....siapa yang mikirnya Shaka beneran ninggalin Keyla? Hihihihi 🤭
Kalau suka novel ini, jangan lupa like, bantu vote dan comment ya biar penulis semangat update-nya. Terimakasih 🤗💙
__ADS_1