
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area, silahkan hubungi beberapa saat lagi.
"Hufffttt......"
Cindy menghela nafas panjang saat panggilannya masih belum tersambung dengan nomor Adit, kekasihnya. Jika sekali saja Adit memberi kabar padanya atau membalas pesannya mungkin dia tidak akan segelisah ini. Tapi jangankan membalas pesan, membacanya saja tidak. Pesan-pesan yang ia kirimkan masih centang satu.
Cindy merasa bosan hanya berdiam diri di hotel. Berbeda dengan Bang John dan keluarganya yang asik berenang dan menikmati fasilitas yang sudah disiapkan oleh Arshaka untuk mereka. Akhirnya Cindy memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke mall saja untuk menghilangkan kebosanannya. Tak mungkin ia mau mengganggu Keyla hari ini. Cindy yakin dua insan itu masih kelelahan akibat pertempuran tadi malam.
Dengan menggunakan taksi, Cindy pun sampai di sebuah mall yang ada disana. Ia berkeliling sambil sesekali masuk ke toko pakaian atau toko tas hanya untuk melihat-lihat saja. Belum ada satu barang pun yang ia beli.
Sedang asik berkeliling, tak sengaja mata Cindy menangkap seseorang yang selama ini ia tunggu. Seseorang yang menghilang tanpa ada kabar berita ketika tau ia akan datang ke kota itu. Ya, Cindy melihat Adit berada di mall itu. Tapi yang membuat Cindy terkejut, pria itu tidak sendiri. Ia bersama seorang wanita dan sedang mendorong stroller bayi. Ada bayi yang usianya belum genap satu tahun di stroller itu.
Deg.
Jantung Cindy mendadak berdenyut. Ada sejuta tanya yang bermain di kepalanya. Siapa yang sedang bersama kekasihnya itu? Mungkinkah mereka...
Tidak! Cindy menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba mengusir pikiran-pikiran jahat tentang kekasihnya. Ia harus menghampiri Adit langsung. Semua harus tuntas sekarang juga.
Adit yang tak menyangka akan bertemu Cindy tentu sangat terkejut dengan keberadaan Cindy disana. Ia tampak gelagapan. Ia mendadak sulit berbicara.
"Hai, Adit," sapa Cindy dengan ramah. Padahal hatinya bergemuruh dengan hebat
Adit tampak sulit menjawab. Ia bergantian melihat Cindy dan wanita di sampingnya.
"Kamu kenal dia, Mas?" tanya wanita di samping Adit dengan ramah.
"Oh, di-dia...dia ini...." Adit tampak sulit menjawab sementara Cindy tak berhenti memandanginya dengan tatapan tajam.
"Saya teman kantornya." Cindy yang menjawab karena melihat Adit kesulitan menjelaskannya.
"Oh, teman kantor Mas Adit," sahut wanita itu.
"Ini baby nya lucu sekali," kata Cindy mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Mba. Ini anak pertama kami, usianya baru tujuh bulan," ucap wanita itu.
Deg.
Anak pertama kami? Jadi ini anak Adit dan wanita ini? Tanya Cindy dalam hati.
Penipu! Rasanya ingin sekali Cindy memaki pria di depannya ini. Ia sudah khawatir bukan main pada Adit karena pria itu tak memberinya kabar apapun, pria itu malah enak-enakan berjalan bersama anak dan istrinya.
Kecewa? Sudah pasti. Sedih? Tidak! Cindy tak begitu sedih. Ia lebih merasa kesal karena merasa dibohongi. Saking kesalnya Cindy segera pamit pergi dari tempat itu. Ia merasa bodoh karena sudah berhasil dibohongi oleh pria beristri.
Cindy setengah berlari keluar dari mall sambil menahan airmatanya yang hendak keluar. Tak sengaja ia malah menabrak seorang pria.
Bugh.
Cindy hampir terjatuh ke belakang tapi untungnya pria yang ia tabrak menahan kedua lengannya agar tak terjatuh. Saat ia mendongak melihat siapa yang ia tabrak, ia terkejut ternyata yang ditabraknya adalah Juan.
"Juan?"
__ADS_1
"Cindy? Kamu kenapa?" Juan agak panik melihat mata Cindy yang mulai berkaca-kaca.
"Juan, please bawa aku pergi dari sini!" pinta Cindy dengan suara bergetar menahan tangis.
"Ya sudah, ayo ikut aku! Aku bawa mobil."
Juan pun menuntun Cindy menuju ke mobilnya. Dengan segera mereka pergi meninggalkan mall itu.
Saat sudah berada di mobil, Cindy menangis sejadi-jadinya. Ia menceritakan semua yang terjadi pada Juan. Mendengar cerita Cindy, bukannya ikut sedih justru Juan malah tersenyum. Baguslah kalau memang Adit sudah beristri. Ada kesempatan baginya untuk mendekati Cindy.
***
Juan mengantar Cindy sampai ke kamar hotelnya. Gadis itu tampak masih terisak. Ia kesal setengah mati pada Adit. Untung saja tadi disana ada anak dan istrinya. Kalau tidak mungkin Cindy akan lebih lama lagi ditipu pria beristri itu.
"Sudah, jangan menangis. Laki-laki breng-sek sepertinya tidak pantas untuk kamu tangisi," bujuk Juan sambil menyeka airmata Cindy.
"Aku kesal. Selama ini dia menipu aku!"
"Iya, aku mengerti. Sudah ya, jangan nangis lagi. Mata kamu udah mulai bengkak dari tadi nangis terus," bujuk Juan lagi.
Tangis Cindy mulai mereda. Kemudian ia menatap Juan dalam-dalam.
"Kamu...kamu mau bantu aku melupakan dia?" tanya Cindy tiba-tiba.
Juan mengernyit. "Maksud kamu?"
"Aku sebenarnya sudah nggak begitu cinta sama dia sejak aku kenal kamu. Tapi...aku nggak tega kalau harus mengkhianati dia. Karena sekarang aku sudah tau dia ternyata penipu. Jadi...."
"Jadi apa?" ulang Juan.
Juan menarik sudut bibirnya mendengar itu. Gadis di depannya ini memang suka blak-blakan sekali.
Juan mendekatkan wajahnya. Satu tangannya terulur menyentuh pipi Cindy.
"Sebenarnya aku juga sudah lama tertarik sama kamu. Tapi aku tidak mau merebut milik orang lain," jawab Juan yang membuat Cindy tersenyum senang.
"Jadi kamu juga suka sama aku?" tanya Cindy memastikan.
Juan mengangguk. Cindy pun langsung berhamburan masuk ke pelukan Juan. "Juan, I love you," ucap Cindy tanpa malu.
Juan tergelak dengan perlakuan Cindy. Ia pun membalas pelukan itu. "Aku juga mencintaimu."
Wahhhh, Cindy rasanya melayang ke langit ke tujuh mendengar ungkapan cinta dari Juan. Ia melerai pelukan mereka lalu menatap mata Juan dalam-dalam.
"Kenapa?" tanya Juan yang aneh melihat Cindy menatapnya.
Gadis itu tak menjawab. Ia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Juan. Juan yang mengerti apa mau Cindy malah mendorong kening Cindy dengan telunjuknya. "Sabar, Cindy. Kita belum sah."
"Ih...Juan. Kita kan udah resmi pacaran," protes Cindy karena Juan tak mau dicium olehnya.
"Tapi kita belum menikah," bantah Juan.
__ADS_1
"Kita akan segera menikah. Jadi boleh ya? Ya? Ya? Ya?" pinta Cindy dengan mata berbinar.
"Tidak. Sabar dulu sampai kita menikah," tolak Juan.
"Jadi bolehnya apa dong?" tanya Cindy sambil mencebikkan bibirnya.
Juan merentangkan tangannya lalu Cindy dengan senang hati masuk kembali ke pelukan pria yang kini resmi menjadi pacarnya.
...****************...
Sebulan telah berlalu, hari ini Hendry menggelar pernikahannya dengan Silvy. Hendry benar-benar menepati janjinya untuk melamar gadis itu.
Arshaka dan Keyla turut diundang ke acara pernikahan mereka. Disana tentu ada juga Cindy yang datang dengan Juan.
Setelah mengucapkan selamat pada pengantin, Arshaka dan Keyla duduk di satu meja bersama Cindy dan Juan. Mereka kini sudah tampak akrab. Tak ada lagi permusuhan di antara mereka.
"So, kapan kalian akan menyusul? Lihat Hendry, dia langsung mendapatkan gadis yang diinginkannya," tanya Keyla pada Cindy dan Juan.
"Do'ain ya, Key. Juan harus menunggu sampai Hendry pulang dari bulan madu," jawab Cindy.
"Wah, bakalan lama nih. Hendry mana mau bulan madunya sebentar saja," ledek Arshaka yang membuat mereka tertawa.
"Kalau dia lama pulangnya, kami menikah duluan saja. Resepsinya menyusul," jawab Cindy.
"Kamu kayaknya yang udah nggak sabaran banget ya, Cin," ujar Keyla.
"Iya, nih. Abisnya Juan banyak nggak bolehnya kalau masih pacaran," sahut Cindy sambil terkekeh sementara Juan hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah kekasihnya itu.
Mereka pun saling mengobrol sampai acara resepsi pernikahan Hendry dan Silvy selesai. Mereka semua tampak bahagia karena sudah menemukan cinta mereka masing-masing.
***
Sepulangnya dari acara itu, Arshaka tiba-tiba memeluk sang istri dari belakang. Keyla saat itu sedang membersihkan wajahnya dari bekas makeup.
"Aku bahagia banget bisa menikahi kamu, Sayang," ucap Arshaka lalu mengecup pundak istrinya.
"Aku juga sama. Aku bahagia. Meskipun di awal pernikahan kita banyak cobaannya, tapi sekarang kita udah bisa bahagia bersama," jawab Keyla lalu berbalik menghadap suaminya.
"Kamu nggak keberatan kan jadi istri Abang Kurir ini?" tanya Arshaka menggoda istrinya.
Keyla tergelak lalu mencium gemas pipi suaminya. "Tentu mau dong. Biar tiap hari dianterin paket sama Abang Kurir satu ini."
"Paket tiap hari? Paket apa?"
"Paket isi cinta," jawab Keyla yang membuat keduanya tergelak bersama.
Arshaka lalu menarik Keyla masuk dalam dekapannya. Ia merasa sangat bahagia. Wanita yang ia temui secara tidak sengaja saat mengantarkan sebuah paket, malah berakhir menjadi istrinya.
...********TAMAT********...
Batam, 31 Agustus 2022.
__ADS_1
With love,
Hary As Syifa đź’™