Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
29. Tak Mau Berpisah Dengan Shaka


__ADS_3

Jam 5 sore Shaka menjemput Keyla di tempat kerjanya. Sesuai saran dari Cindy, Keyla meminta Shaka untuk menjemputnya pulang. Syukurlah paket yang diantar hari itu tidak begitu banyak sehingga Shaka masih sempat menjemput Keyla pulang terlebih dahulu, baru nanti melanjutkan pekerjaannya lagi.


“Key!” teriak Shaka yang melihat Keyla celingukan mencari suaminya. Shaka sudah menunggunya di depan gerbang kantor dengan sepeda motornya.


Setelah melihat Shaka, Keyla pun segera menghampiri suaminya itu.


“Maaf ya kalau lama nunggu,” ucap Shaka sambil memberi helm pada Keyla.


“Nggak kok, malah aku baru aja keluar dari kantor. Makasih ya, udah mau jemput aku.”


“Nggak apa-apa, santai aja.”


Keyla memasang helm ke kepalanya lalu naik di atas motor.


“Udah?” tanya Shaka.


“Udah,” jawab Keyla singkat.


Shaka pun menjalankan sepeda motornya menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan Keyla yang terkadang sering mengajak Shaka mengobrol kini lebih banyak diam. Jujur, dia masih kepikiran apa yang dikatakan Cindy padanya tadi.


Tak lama mereka pun sampai di rumah. Keyla segera turun dari motor, sedangkan Shaka harus melanjutkan pekerjaannya lagi.


“Ya udah, aku lanjut kerja lagi, ya. Kamu hati-hati di rumah,” ucap Shaka.


“Nanti kamu pulang jam berapa?” tanya Keyla dengan cemas.


“Paling jam tujuh. Memangnya kenapa?” Shaka melihat raut wajah Keyla agak berbeda dari biasanya.


“Oh, nggak apa-apa kok. Jangan pulang kemaleman, ya. Aku takut,” kata Keyla keceplosan.


“Takut kenapa? Kemaren nonton film horor berani banget.”


“Hmm...bukan, maksud aku, aku males aja kalau sendirian di rumah, sepi,” Keyla beralasan.


“Oh, kirain. Ya udah, aku usahanya pulang cepat. Kalau gitu aku duluan, ya.”


“Iya, hati-hati di jalan.”


Keyla melambaikan tangannya sambil terus menatap Shaka yang kian menjauh dengan sepeda motornya.


Aku cerita sama Shaka nggak ya tentang apa yang Cindy ceritakan tadi siang? Tapi...kalau Shaka malah mendukung mamaku trus minta aku kembali ke rumah gimana? Aku masih belum tau sebenarnya Shaka punya perasaan sama aku apa nggak.

__ADS_1


Baik Shaka maupun Keyla memang tidak pernah saling mengutarakan perasaan mereka. Mereka hanya sebatas menjalankan ikatan pernikahan ini saja. Makanya Keyla tak pernah tau bagaimana perasaan Shaka kepada dirinya? Apakah mungkin Shaka sudah menaruh perasaan padanya? Entahlah. Keyla sendiri bingung akan hubungan mereka.


Keyla menarik nafas dalam-dalam. Dengan langkah terseret ia masuk ke dalam rumah. Rumah ini sudah ditempatinya selama kurang lebih dua minggu dan meninggalkan banyak kesan baginya. Sanggupkah ia meninggalkan rumah ini? Tidak! Ia tak kuat jika harus berpisah dengan Shaka.


Tiap sudut rumah ini memiliki kenangan tersendiri bagi Keyla. Rumah yang luasnya kalah jauh dari luas rumahnya ini terasa lapang baginya. Sudut mana dari rumah ini yang tak mengukir cerita? Pasti sangat berat bagi Keyla jika suatu saat ia harus meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama Shaka.


Keyla duduk termenung di sofa ruang tamu. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca. Ia tak rela berpisah dengan Shaka. Hatinya sudah terpaut pada pria yang sudah menikahinya secara mendadak itu.


***


Seperti janjinya tadi sore pada Keyla, Shaka pulang sekitar jam tujuh malam. Selanjutnya ia melaksanakan aktivitasnya seperti biasa di rumah. Mandi, berganti pakaian, lalu makan malam.


Tapi, Shaka merasa ada yang berbeda saat ia pulang ke rumah. Ya, keanehan itu berasal dari Keyla. Dari awal menginjakkan kakinya ke rumah, Shaka sudah dapat membaca gelagat aneh dari Keyla. Tak biasanya gadis itu menjadi pendiam. Apa dia masih malu tentang kejadian konyolnya kemarin malam? Ah, rasanya tak mungkin. Pasti ada hal lain yang membuatnya begitu.


“Kamu kenapa, Key? Ada yang mau kamu omongin ke aku?” tanya Shaka saat melihat Keyla bersikap aneh. Istrinya itu diam-diam malah curi-curi pandang ke arahnya.  


“Nggak ada kok,” bohong Keyla.


“Nggak ada tapi lihat-lihat kesini. Aku memang ganteng, sih. Santai aja, Key. Aku tau kok.” Shaka mencoba mencairkan suasana.


“Ih, apaan sih,” gerutu Keyla.


“Ya trus kamu kenapa? Ada masalah di tempat kerja kamu? Gimana kerjaan kamu? Lancar? Betah kerja disana?” tanya Shaka.


“Lah, trus?”


“Aku...boleh nggak tidur sama kamu?”


“Hah?” Shaka sampai terperanjat mendengar permintaan Keyla. Yang tadinya ia duduk bersandar, kini sudah menegakkan badannya.


"Aku nggak salah denger? Coba ulang sekali lagi, Key.” Shaka pikir pendengarannya mungkin bermasalah.


“Aku mau tidur sama kamu, satu kamar sama kamu. Malem ini aja. Please...” pinta Keyla dengan sangat mengiba.


“Tapi kenapa tiba-tiba kamu mau tidur sama aku? Mau godain aku lagi?”


“Bukan. Cuma tidur aja, aku janji.”


Aku yang nggak janji. Batin Shaka.


“Kamu ada masalah?” Shaka coba menyelidiki lebih dalam.

__ADS_1


“Nggak ada. Aku cuma nggak mau pisah sama kamu. Aku pengen terus deket-deket sama kamu,” jawab Keyla dengan wajah memelas.


Shaka mengerutkan keningnya. Ia bingung kenapa Keyla malah bicara seperti itu. Ia juga bingung apakah ia harus mengiyakan permintaan Keyla atau menolaknya.


Tapi rasanya ia tak tega menolak permintaan Keyla kali ini. Wajah memelas Keyla membuatnya luluh.


“Perasaan aku nggak pake pelet apa-apa. Kenapa kamu malah mau deket-deket aku?”


“Ihhh, aku serius tau! Ya udah deh, kalau nggak boleh, aku balik ke kamar aja.”


Shaka dengan cepat menarik tangan Keyla. “Eh, tunggu dulu! Ya udah, kita tidur bareng. Tapi janji jangan godain aku trus nggak bertanggung jawab kayak kemaren.”


“Serius boleh?” tanya Keya dengan mata berbinar. Sudah hilang mendung di wajahnya tadi.


“Iya, serius. Ya udah, yuk masuk. Aku udah ngantuk mau tidur cepat.”


“Oke.”


Keyla begitu senang sampai dia mendahului Shaka masuk ke kamar. Kamar Shaka tentu lebih adem karena memakai AC sebagai pendingin. Kamarnya juga rapi dan bersih, tidak berantakan. Ternyata Shaka pandai merawat kamarnya.


“Kamu ambil bantal kamu dulu, gih. Disini bantal  cuma satu. Masa mau pake guling,” kata Shaka yang sudah berbaring di kasurnya yang berukuran 160 x 200 itu.


Bukannya mengambil bantal ke kamar sebelah, Keyla malah berbaring di lengan Shaka dan menghadap suaminya itu.


Deg.


Shaka mendadak gugup. Jantungnya berdegup sangat kencang.


Ah, bisa-bisa aku khilaf kalau keseringan begini. Batin Shaka.


Belum lagi jantungnya merasa tenang, Keyla tanpa aba-aba malah mencium bibir Shaka dengan cepat.


“Terimakasih udah selalu ada untuk aku,” ucap Keyla dengan tatapan sendu.


Terimakasih juga udah buat aku merasa lebih tenang Shaka. Aku harap kita tidak akan berpisah dan akan terus selamanya seperti ini. Imbuhnya dalam hati.


***


Wahhh....kok nyesek ya kalau nanti Keyla pisah sama Shaka? Yang suka cerita ini, jangan lupa like dan vote ya, serta comment di kolom komentar 🤗


Selamat membaca 💙

__ADS_1


 


__ADS_2