Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
28. Juan Mengikuti Cindy


__ADS_3

Sudah dua kali gagal mengejar Keyla yang berada di depan mata membuat Juan semakin gencar mencari Keyla. Seperti hari ini, dia sudah mengintai dari depan gerbang rumah Cindy, sahabat Keyla. Ia berencana akan mengikuti kemana Cindy pergi hari ini. Ia yakin Cindy pasti akan menemui Keyla lagi.


Tak lama tampak sebuah mobil berwarna putih keluar dari gerbang rumah yang diintainya. Juan yakin, itu pasti Cindy. Dengan menjaga jarak aman, Juan pun mengikuti kemana mobil Cindy pergi.


Cindy hari itu memang akan pergi menemui Keyla yang akan bekerja di kantor pamannya. Hari itu adalah hari pertamanya Keyla bekerja disana. Ketika di jalan Cindy merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Entah kenapa dia tiba-tiba teringat akan ibu Keyla yang datang ke rumahnya bersama seorang pria untuk mencari Keyla.


Perasaan Cindy jadi tidak enak. Ia tak langsung pergi menemui Keyla. Ia sengaja singgah dulu di minimarket untuk membeli sesuatu. Setelah selesai membeli beberapa minuman dan cemilan, Cindy kembali ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan. Seperti dugaannya, memang ada mobil hitam yang mengikutinya dari belakang.


Cindy dengan cepat mengambil handphone-nya yang ada di tas, lalu menelepon Keyla.


“Hallo, Keyla. Kamu udah ada di kantor travel milik Om ku?” tanya Cindy saat panggilannya tersambung.


“Hallo, Cindy. Iya, aku udah sampai tadi pagi. Aku udah dapat pengarahan juga tentang apa aja yang mau aku kerjakan. Kamu jadi kesini?”


“Syukur deh. Key, kayaknya hari ini kita nggak ketemuan dulu,” jawab Cindy yang sedang panik.


“Kenapa? Kamu sibuk, ya?”


“Bukan, Key. Kayaknya mama kamu kirim mata-mata buat ngikutin aku deh. Sekarang aku ada di jalan, trus sejak aku keluar rumah tadi, ada mobil hitam yang ngikutin mobil aku. Aku khawatir itu orang suruhannya mama kamu.”


“Kamu yakin? Mama sampai kirim mata-mata segala?” tanya Keyla yang mulai ikut panik.


“Iya, Key. Aku rasa begitu. Jadi, kita nggak usah ketemu dulu, ya. Aku langsung kerja aja. Kamu baik-baik disana, ya. Pulangnya hati-hati, Key. Kalau perlu kamu minta suami kamu jemput nanti sore,” jawab Cindy.


“Oke, oke. Aku nanti coba hubungi Shaka dulu. Cin, makasih banget ya, udah banyak bantu aku. Kamu juga hati-hati ya, Cin.”


“Iya, tenang aja. Udah dulu, ya. Bye Keyla.”


“Bye...”


Keyla langsung dilanda kepanikan setelah mendapat kabar seperti itu dari Cindy. Dia bingung, kenapa orang tuanya sampai mengirimkan orang suruhan hanya untuk memata-matainya? Bukankah mereka sudah tau bahwa Keyla sudah menikah? Apa mereka masih bersikeras menjodohkan dirinya dengan Hendry?


Huuhhh.....Keyla menghela nafas dengan berat. Ternyata dia belum benar-benar terlepas dari perjodohannya dengan Hendry.


***


Cindy terus melajukan mobilnya. Ia tidak akan singgah kemana-mana lagi. Ia berencana langsung pergi menuju kantornya. Apesnya ban mobilnya mendadak kempes di tengah jalan. Mau tidak mau Cindy harus turun untuk memeriksa ban mobilnya.


“Hah, sia-lan! Pake acara kempes segala!” ucap Cindy sambil menendang ban mobil belakangnya yang kempes.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seseorang dari belakang.


Cindy terkejut sampai mundur satu langkah saat melihat pria di depannya. Pria itu adalah pria yang datang bersama ibunya Keyla ke rumahnya. Dia adalah Juan.

__ADS_1


“Ng-nggak, nggak usah,” jawab Cindy terbata. Dia mendadak gugup melihat wajah pria yang ternyata tampan itu.


Kemarin dia tak begitu melihat dengan jelas karena Juan hanya menunggu di luar rumah saat ibunya Keyla masuk ke dalam, tapi sekarang barulah ia melihat dengan jelas wajah Juan yang sebenarnya.


“Ban Nona kempes? Biar saya bantu ganti dengan yang lain. Nona punya ban serepnya?” tanya Juan dengan sopan.


“Nggak, nggak perlu. Saya bisa ganti sendiri,” jawab Cindy berbohong. Dia memang membawa ban serep, tapi dia tidak tau bagaimana cara menggantinya.


Juan hanya tersenyum melihat Cindy yang salah tingkah. Juan tau, gadis di depannya itu pasti sedang berbohong.


“Kenapa masih disini? Saya bisa ganti sendiri. Saya nggak butuh bantuan,” ucap Cindy dengan ketus.


“Saya tidak akan minta imbalan apapun. Ijinkan saya membantu Nona.”


“Saya nggak butuh bantuan. Saya bisa sendiri.”


“Nona yakin?”


“Yakinlah.”


“Kalau yakin kenapa diam saja?”


Duh, mam-pus deh! Ketahuan dong kalau aku nggak bisa ganti ban. Lagian dia kenapa sih masih disini aja? Gerutu Cindy dalam hati.


“Ya kamu ngapain masih disini?” Cindy malah sewot.


“Saya mau membantu Nona.”


“Saya nggak butuh bantuan. Lagipula nama saya bukan Nona, saya Cindy. Kamu salah orang.”


“Jadi Nona Cindy mengajak saya berkenalan?”


“Dih, kepedean!” ucap Cindy sambil melengos.


Tiba-tiba Juan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Cindy hanya melihat tangan yang terulur itu dengan alisnya yang terangkat sebelah.


“Saya Juan,” ucap Juan dengan tangannya yang masih terulur.


Dih, dia malah kenalan. Batin Cindy.


Cindy malah membuang wajahnya. Ia kesal dengan Juan yang bukannya pergi malah mengajaknya berkenalan. Juan pun menarik tangannya kembali.


“Nona Cindy sampai kapan mau disini?” tanya Juan.

__ADS_1


“Sampai kamu pergi. Kamu kenapa masih disini? Kamu ngikutin aku kan? Kenapa kamu ngikutin aku?” Cindy malah bertanya balik dengan sewot.


“Saya tidak mengikuti Nona. Saya cuma mau membantu mengganti ban mobil Nona saja,” jawab Juan.


“Nggak. Aku nggak mau. Nanti setelah kamu tolong aku, kamu minta imbalan lagi,” tolak Cindy.


“Saya janji tidak akan minta imbalan apapun.”


“Bohong. Laki-laki rata-rata begitu. Awalnya nggak minta imbalan, lama-lama malah minta jantung.”


Seeetttttt.


Juan langsung menarik lengan Cindy hingga menciptakan jarak yang sangat dekat di antara mereka. Saking dekatnya aroma parfum Juan dapat terhirup dengan sempurna oleh indra penciuman Cindy.


“Kalau kamu bilang laki-laki rata-rata seperti itu, maka aku bukan salah satu dari mereka. Aku tulus mau menolongmu. Aku juga tidak butuh imbalan dari kamu. Ingat itu!” ucap Juan dengan penuh penekanan.


Melihat Juan seperti itu, Cindy langsung mengangguk dengan cepat. Ia tak berani lagi sewot di depan Juan.


Juan pun melepaskan lengan Cindy yang dipegangnya tadi. Tanpa persetujuan Cindy, ia mengganti ban mobil Cindy dengan ban serep yang ada di bagasi mobil itu. Cindy hanya diam saja memperhatikan Juan yang sedang mengganti mobilnya.


Sebenarnya siapa si Juan ini? Lumayan ganteng juga. Tapi sayang dia mata-mata Tante Monica. Aku harus tetap waspada sama dia. Dia pasti mengincar Keyla. Batin Cindy.


Tak lama ban mobil pun selesai diganti. Juan menepuk-nepuk tangannya yang kotor terkena oli.


“Mobilmu sudah siap. Aku pergi dulu,” kata Juan yang tak lagi memakai bahasa yang formal seperti sebelumnya.


“Eh, tunggu! Makasih ya udah mau bantu,” ucap Cindy.


“Sama-sam.....”


Cup.


Cindy dengan cepat mencium pipi Juan sebagai tanda terima kasih. Juan yang tak pernah berciuman dengan perempuan mendadak mematung mendapat serangan mendadak seperti itu. Rasanya ada yang berdesir di hatinya.


Tanpa merasa bersalah Cindy masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan Juan begitu saja.


“Hahaha, rasakan itu! Skor kita 1 sama,” ucap Cindy sambil tergelak saat melihat ekspresi Juan dari kaca spion mobilnya.


***


Hai semua, yuk di like setelah baca ya, karena itu sangat berarti sekali untuk penulis 🤗


So, jangan lupa, like, vote dan comment. Terimakasih, selamat membaca 💙

__ADS_1


__ADS_2