Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
69. Kedatangan Orang Tua Keyla


__ADS_3

Kedua orang tua Keyla yang belum tau apa-apa mengenai kejadian yang menimpa Keyla kemarin, hari ini mendatangi rumah Hendry. Sesuai rencana, mereka akan menikahkan Keyla dengan Hendry hari itu. Sesampainya disana, mereka terkejut karena tidak tampak ada keramaian atau persiapan apapun disana.


Mereka diminta untuk menunggu di ruang tamu sembari Hendry bersiap-siap turun dari kamarnya. Monica merasa ada yang tidak beres disana. Rumah besar itu tampak sepi sekali. Para pekerja disana hanya sibuk melakukan tugas sehari-hari mereka.


"Mas, kok aku merasa ada yang aneh. Kenapa tidak ada persiapan sama sekali? Tidak ada sambutan atau apapun di rumah ini," bisik Monica pada suaminya. Padahal ia sendiri sudah berdandan rapi dengan kebaya berwarna biru. Sang suami pun ia minta berpakaian rapi dengan setelan jas.


"Maksudmu sepertinya pernikahan Keyla dan Hendry hari ini tidak diselenggarakan? Aku malah berharap begitu," jawab Andreas secara terang-terangan. Kalau bukan karena dipaksa sang istri, dia tidak akan mau datang ke rumah Hendry hari itu.


"Mas, ini demi perusahaan keluarga," ketus Monica.


"Bukan! Ini demi ego kamu!" sanggah Andreas.


"Ego ku? Mas, kalau perusahaan tidak dapat proyek dari perusahaan Hendry, bisa-bisa perusahaan kita bangkrut! Mas mau perusahaan bangkrut lalu kita jatuh miskin?" tanya Monica dengan suara marah yang tertahan karena tak ingin didengar oleh orang lain.


"Ma, yang namanya hidup tidak selalu di atas, ada kalanya juga kita berada di bawah. Yang penting kita masih bisa melanjutkan hidup meski harus hidup pas-pasan. Seharusnya dengan adanya ujian seperti ini, kita bisa mengambil pelajaran yang berharga, bukan malah melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang kita mau," balas Andreas.


"Sudahlah, Mas. Aku nggak mau berdebat sama kamu! Yang penting sekarang kita sudah disini. Sebentar lagi Mas harus menikahkan Keyla dan Hendry. Titik!" ucap Monica yang tak mau lagi dibantah.


Tak lama terdengar suara langkah kaki seseorang menuruni anak tangga. Akhirnya yang ditunggu pun turun juga untuk menemui mereka. Tapi anehnya saat itu, Hendry berpenampilan sangat biasa dengan celana panjang hitam dan kaos berkerah warna abu-abu. Hal itu tentu membuat sejuta tanya di hati kedua orang tua Keyla. Kenapa Hendry tak bersiap-siap untuk acara pernikahannya sendiri?


"Hendry, kenapa kamu berpakaian seperti ini? Rumah kamu juga tidak ada dekorasi atau persiapan sama sekali. Lalu mana Keyla? Apa dia sudah selesai berdandan?" Monica langsung menanyai Hendry dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Dekorasi? Persiapan? Untuk apa?" ucap Hendry sambil duduk berseberangan dengan Monica dan Andreas.


"Untuk apa kamu bilang? Ya untuk pernikahan Keyla dan kamu. Keyla nya mana sekarang?" tanya Monica lagi.


"Hari ini tidak akan ada pernikahan apapun," jawab Hendry yang membuat Monica dan Andreas terkejut.


"Apa maksud kamu? Kamu mau mengundur acara pernikahan kamu?" tanya Monica yang masih tak jelas dengan perkataan Hendry.


"Bukan mengundur, Tante. Memang tidak akan ada pernikahan antara aku dan Keyla karena Keyla sudah kembali lagi pada suaminya." Lagi-lagi Monica dan Andreas terkejut dengan jawaban Hendry.


"Kembali? Nggak! Itu nggak mungkin. Lalu kamu membiarkan Keyla pergi begitu saja? Kenapa kamu nggak menahan Keyla? Trus urusan perusahaan kita bagaimana ke depannya?" tanya Monica panik.

__ADS_1


Hendry mendengus kasar. Ia merasa pusing karena Monica mencercanya dengan banyak pertanyaan. Monica juga terkesan tidak mempedulikan pernikahan itu melainkan hanya menginginkan proyek dari perusahaannya saja.


"Suami Keyla bukan orang biasa. Tante bisa tanyakan sendiri nanti pada Keyla. Yang jelas Keyla sudah kembali pada suaminya. Dan masalah perusahaan, aku rasa semuanya jelas. Tidak ada satupun proyek yang akan aku berikan pada perusahaan kalian. Dan satu lagi, aku tidak mau ada urusan apapun ke depannya dengan kalian!" ucap Hendry lalu berdiri kembali naik ke kamarnya.


"Hendry! Tunggu, Hendry! Hendry, kita bicarakan dulu semuanya baik-baik!" kata Monica berusaha membujuk Hendry tapi pria itu tidak sedikitpun mempedulikannya.


Hendry terus melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sementara Monica langsung frustasi menerima kenyataan ini. Ia tak mau jatuh miskin jika Hendry tidak ingin memberikan proyek pada perusahaan keluarganya.


"Mas, bagaimana ini? Kita harus lakukan sesuatu!" tanya Monica dengan panik.


"Melakukan apa? Memang sudah seharusnya Keyla kembali pada suaminya kan? Lebih baik kita pulang saja. Kita pikirkan baik-baik bagaimana urusan perusahaan nanti," jawab Andreas yang tampak senang dengan batalnya pernikahan antara Hendry dan Keyla.


"Nggak bisa, Mas. Kita ke rumah Keyla aja sekarang! Aku tau dimana rumahnya," usul Monica.


"Untuk apa? Hendry sudah tidak mau berurusan dengan kita lagi."


"Pokoknya aku mau menemui Keyla. Dia harus tanggung jawab soal ini. Kalau Mas nggak mau ikut ya terserah, aku mau pergi kesana sekarang juga," ucap Monica yang masih bersikeras memaksa Keyla menuruti keinginannya.


Mau tak mau Andreas pun terpaksa mengikuti istrinya. Bukan karena ia setuju akan kehendak sang istri, melainkan ia tak mau Monica berbuat nekat lagi terhadap Keyla.


Sementara itu Keyla sendiri sedang berbaring di kamar di temani oleh sang suami. Keyla merasa tak begitu nyenyak saat berada di rumah sakit. Oleh sebab itu ketika sampai di rumah, ia kembali beristirahat. Berada dalam dekapan sang suami di rumah sendiri terasa jauh lebih nyaman baginya.


"Key," panggil Arshaka.


"Hm?" sahut Keyla dengan mata yang sudah tertutup hendak tidur.


"Kalau kamu sudah sembuh, kita langsung pulang ke rumahku, ya. Disana pasti kamu lebih nyaman. Kita juga lebih bebas mau ngapa-ngapain disana tanpa takut terdengar tetangga," ucap Arshaka sambil menahan tawa di bibirnya.


"Didengar tetangga? Memang kita mau ngapain? Mau karokean di rumah?" tanya Keyla yang kebingungan.


"Nanti juga kamu tau sendiri kita mau ngapain," jawab Arshaka sambil mengusap-usap kepala sang istri dengan lembut.


"Kamu ngomongnya mulai ngelantur deh. Udah ah, aku mau tidur dulu," ucap Keyla yang malas meladeni perkataan suaminya. Lagipula badannya belum fit total. Ia masih butuh banyak istirahat.

__ADS_1


"Ya udah, tidurlah, Sayang. Biar aku temenin kamu," kata Arshaka lalu mencium kening sang istri.


"Oke," sahut Keyla lalu mulai tidur.


Belum ada lima menit Keyla tertidur, pintu rumahnya sudah diketuk oleh seseorang.


"Siapa, sih? Baru pulang udah ada aja yang bertamu," gerutu Keyla karena merasa tidurnya terganggu.


"Kamu tidur aja lagi, Sayang. Biar aku yang lihat siapa yang datang," ucap Arshaka.


Arshaka pun beranjak dari tempat tidur dan pergi keluar untuk membukakan pintu. Saat pintu ia buka, ia agak terkejut melihat mertuanya sudah ada tepat di depan pintu.


"Papa? Mama?" gumam Arshaka setengah terkejut.


"Nggak usah panggil Papa Mama! Cepat panggilkan Keyla sekarang! Kami mau bertemu!" perintah Monica seenaknya. Ia masih terbawa kesal dari rumah Hendry tadi.


Mendapat perlakuan seperti ini Arshaka pun ikut kesal. Meskipun mertua sendiri, tapi seharusnya ibu Keyla ini ada sopan santun sedikit saat mendatangi rumah menantunya.


"Keyla ada di dalam, dia sedang istirahat. Mama sama Papa silahkan masuk menunggu di dalam." Arshaka berusaha untuk tetap tenang dan bersikap sopan.


"Panggilkan dia! Dia harus pulang sekarang!" bentak Monica.


"Mama, sabar dulu! Kita masuk dulu ke dalam. Nggak enak dilihat tetangga kalau bicara disini," tegur Andreas.


"Mama nggak bisa sabar! Mama kesal sama Keyla. Bisa-bisanya dia lebih memilih kurir satu ini dibandingkan Hendry!" ketus Monica sambil menunjuk ke arah Arshaka.


Arshaka pun tersenyum sinis melihat ibu mertuanya itu. "Saya suami sahnya Keyla. Maaf, Mama tidak berhak ikut campur urusan Keyla lagi. Dia sudah menjadi tanggung jawab saya," balas Arshaka tak kalah pedas.


"Kalau mau bertemu Keyla silahkan menunggu di dalam, kalau tidak mau, silahkan angkat kaki dari sini!" kata Arshaka secara terang-terangan.


"Apa? Dasar kurang ajar!"


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2