
Arshaka sudah melepas pelukannya pada Keyla. Sepasang suami istri itu kini sudah berbaikan. Keyla sudah bisa menerima semua penjelasan yang diberikan oleh suaminya.
Saat menoleh ke arah Cindy, Keyla melihat sahabatnya itu seperti tampak gelisah. Ia pun langsung bertanya pada Cindy.
"Cindy, kamu kenapa?" tanya Keyla tiba-tiba. Arshaka pun jadi ikut melihat ke arah Cindy.
"Oh...nggak...aku...itu, cuma penasaran, kok dari tadi aku nggak lihat Juan, ya? Padahal dia yang ngabarin aku kalau kamu dirawat disini," jawab Cindy dengan jujur.
"Kamu beneran suka sama dia, Cin? Kamu masih pacaran sama Adit kan?" Keyla malah melempar pertanyaan lain.
"Nggak, bukan begitu. Aku cuma minta bantuan Juan aja supaya ngabarin aku kalau ada apa-apa sama kamu," jawab Cindy dengan cepat agar Keyla tak menuduh yang lain lagi.
"Juan itu asistennya Hendry kan?" tanya Arshaka memastikan. Keyla dan Cindy pun menganggukinya.
"Aku tau dia ada dimana," jawab Arshaka dengan senyum smirknya.
"Dimana?" tanya Cindy dengan cepat.
"Di suatu tempat. Orang suruhanku sedang memberi sedikit pelajaran pada mereka," jawab Arshaka.
"Apa?!" Cindy langsung berdiri dari kursinya sambil melotot melihat Arshaka.
***
Saat ini Hendry dan Juan yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri berada di sebuah gudang tua yang sudah tak berpenghuni. Nicko dan anak buah Arshaka yang lain membawa mereka disana untuk diberi sedikit pelajaran.
Hendry dan Juan mereka dudukkan di kursi besi dengan posisi tangan dan kaki terikat, bahkan badan pun ikut terikat pada sandaran kursi. Bisa dipastikan mereka tidak akan bisa lepas begitu saja dari ikatan itu. Mereka duduk di masing-masing kursi dengan posisi saling membelakangi satu sama lain.
Di antara mereka berdua, Juan tampak lebih dulu sadar. Tengkuknya terasa cukup berat dan tubuhnya tiba-tiba terasa kaku karena sulit untuk digerakkan. Ia membuka matanya dengan perlahan, lalu barulah ia menyadari pantas saja tubuhnya sulit digerakkan, ternyata saat ini ia sedang dalam posisi terikat.
Juan tersenyum sinis pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia bisa dikalahkan oleh asisten si Abang Kurir yang mendadak kaya, pikirnya. Juan pun menegakkan kepalanya dan menoleh ke belakang. Ia tentu dapat mengenali siapa yang ada di belakangnya. Ia kembali tersenyum sinis. Rupanya Hendry bernasib sama sepertinya.
Tak lama terdengar suara gumaman Hendry dari belakang. Sepertinya Hendry baru sadar setelah cukup lama pingsan. Sama halnya dengan Juan tadi, Hendry pun kesulitan menggerakkan tubuhnya. Mata Hendry langsung terbelalak sempurna saat melihat kondisinya dalam keadaan terikat seperti tadi.
__ADS_1
"Sia-lan! Siapa yang berani mengikatku seperti ini?!" Hendry merutuki orang yang sudah mengikatnya.
"Juan, kau di belakang?" tanyanya saat menyadari ada seseorang di belakangnya.
"Benar, Tuan," sahut Juan dengan santai.
"Bagaimana kita bisa terikat disini? Siapa yang melakukan ini pada kita?" tanya Hendry sambil menggerak-gerakkan tubuhnya agar terlepas dari ikatan itu.
"Ini semua ulah suami Nona Keyla, Tuan. Shaka. Shaka yang melakukan ini pada kita," jawab Juan yang membuat Hendry terdiam mencerna jawaban Juan.
"Shaka? Kurir itu? Bagaimana bisa dia melakukan ini pada kita?" tanya Hendry kebingungan.
"Dia sebenarnya bukan seorang kurir seperti yang kita duga. Dia sepertinya seorang pengusaha sama seperti Tuan. Dia juga punya banyak anak buah. Kita bisa jadi seperti ini karena kerjaan anak buahnya," jawab Juan.
"Akh, breng-sek!" maki Hendry.
Dia tentu saja tak bisa menerima kenyataan itu. Ia tak mau kalah dari Arshaka yang baginya hanya seorang kurir. Keinginannya untuk memperistri Keyla bisa-bisa tak kesampaian.
"Sepertinya kalian berdua sudah sadar. Baguslah. Aku tidak perlu repot-repot membangunkan kalian," kata Nicko kepada Juan dan Hendry.
"Apa maumu, breng-sek?! Cepat lepaskan aku atau aku pecahkan kepalamu!" maki Hendry dengan penuh emosi.
"Wooo...kau terlihat sangat berapi-api, Tuan. Padahal kau tau dalam posisimu seperti ini mana mungkin kau bisa berbuat apa-apa," ejek Nicko.
Lalu Nicko memberi kode kepada dua orang temannya itu. Mereka berdua pun mendekat kepada Hendry dan Juan lalu mendaratkan sebuah pukulan ke wajah mereka.
Bugh. Bugh.
Nicko pun tersenyum puas bisa memberi pelajaran kepada mereka berdua yang pernah menyakiti bosnya, Arshaka.
"Selain breng-sek ternyata kau juga pengecut! Kau hanya berani saat tangan dan kaki ku terikat begini. Kalau berani, lepaskan ikatanku dan lawan aku sekarang!" teriak Hendry.
Bugh. Bugh.
__ADS_1
Sekali lagi pukulan mendarat ke wajah mereka. Juan yang hanya diam saja dari tadi juga ikut mendapat pukulan. Juan hanya bisa mendengus kasar dan menerima setiap pukulan itu. Ia tau, dengan keadaan mereka seperti itu mana bisa mereka melawan lagi.
"Ck ck ck, kau masih saja sombong dengan tangan terikat seperti itu. Semakin sering kau bertingkah, maka semakin kau menerima pukulan dari anak buahku," ancam Nicko.
"Kau memang, breng-sek! Pengecut sia-lan!" maki Hendry.
Bugh. Bugh.
Sudah ketiga kali mereka mendapat pukulan ini.
"Tuan, bisakah anda bersabar sebentar? Tunggu dia selesai bicara apa maunya! Percuma kita melawan dengan kondisi tangan dan kaki terikat seperti ini," protes Juan.
Mau tak mau Juan bersuara juga karena sudah kesal dari tadi ikut dipukuli meski ia hanya diam saja. Kalau tidak diminta diam, bisa-bisa mereka babak belur duluan. Itu saja sudah tampak ada cairan merah yang keluar dari hidung mereka masing-masing.
Hendry akhirnya berusaha mengalah dan bersabar. Ia pun menatap ke arah Nicko dengan tajam.
"Apa maumu, pengecut? Katakan cepat!" tanya Hendry.
"Baiklah. Akan aku jelaskan sekarang. Aku mau kita membuat kesepakatan. Kau harus tanda tangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa kau tidak boleh mendekati dan mengganggu Nona Keyla sama sekali. Jika kau ketahuan masih mendekati atau mengganggunya, maka seluruh aset perusahaanmu dan segala harta kekayaan yang kau miliki akan jatuh ke tangan Tuan Arshaka Mahendra," jawab Nicko.
"Arshaka Mahendra?" ulang Hendry.
"Ya, Arshaka Mahendra, suami sah dari Nona Keyla yang kalian ketahui sebagai kurir pengantar barang," jelas Nicko.
Hendry makin terkejut dengan perkataan Nicko. Ternyata apa yang dikatakan Juan padanya memang benar. Tapi haruskah dia melepaskan Keyla begitu saja? Ia sangat menginginkan Keyla menjadi istrinya. Sudah lama ia menginginkan hal itu, rasanya berat kalau ia harus melepas Keyla begitu saja.
"Bagaimana? Kau sepakat? Selama kau tidak menyetujuinya, maka kau akan selamanya berada disini," tanya Nicko dengan serius.
Juan melirik ke arah bosnya, ia pun menunggu apa jawaban yang akan keluar dari mulut bosnya itu.
.
Bersambung...
__ADS_1