
Malam sudah berganti pagi. Keyla yang tertidur dengan posisi duduk di kursi tepi ranjang Shaka jadi terbangun saat mendengar ada yang masuk ke ruangan tempat Shaka dirawat. Ternyata itu adalah dokter dan perawat yang akan memeriksa keadaan Shaka.
Cindy sudah pulang tadi malam. Itu karena Keyla yang memintanya untuk pulang lebih dulu. Ia tidak enak pada Cindy kalau harus ikut berjaga disana juga.
Saat dokter dan perawat memeriksa Shaka, barulah Keyla mencuci muka dan menyikat gigi di dalam toilet yang ada di ruangan tersebut. Setelah selesai, Keyla pun mendapati Shaka sudah mulai sadar dari tidurnya.
“Key...” panggil Shaka dengan suara seraknya.
Keyla pun segera mendekat. Ia langsung menggenggam tangan Shaka dengan erat.
“Aku disini. Kamu tenang aja,” kata Keyla mencoba menenangkan Shaka.
Shaka tampak menarik sudut bibirnya. Ia merasa lucu pada Keyla yang seolah ingin melindungi dirinya. Gadis yang manja itu terlihat sangat mengkhawatirkannya.
“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” tanya Keyla pada dokter yang baru selesai memeriksa Shaka.
“Pasien masih butuh perawatan intensif di rumah sakit. Syukurnya tidak ada luka serius di organ penting bagian dalam tubuhnya. Asal mau rutin meminum obat yang diberikan, makan yang bergizi, pasti akan segera sembuh. Luka memarnya juga perlu diobati dari luar,” jawab dokter pria itu.
“Baiklah, dokter. Saya mohon lakukan yang terbaik untuk suami saya.”
“Ibu tidak usah khawatir. Saya pasti akan melakukan yang terbaik. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Silahkan, dokter.”
__ADS_1
Setelah dokter itu pergi, Keyla duduk lagi di kursi yang ada di tepi ranjang itu. Keyla melihat wajah suaminya, banyak bekas pukulan tadi malam yang masih tersisa. Ia pun kembali merasa bersalah. Ia pikir semua ini karena dirinya.
“Kamu kenapa?” tanya Shaka yang melihat Keyla hanya diam memandanginya.
“Nggak kenapa-napa kok. Kamu mana yang sakit? Pasti sakit semua, ya?” giliran Keyla sekarang yang bertanya.
“Aku nggak sakit, Key. Aku justru sakit kalau sampai kamu berhasil dibawa pergi sama si brengsek itu,” jawab Shaka dengan sungguh-sungguh.
Shaka berusaha mendekatkan tangan Keyla yang sedang menggenggamnya kemudian ia mencium tangan itu dengan lembut. “Aku nggak rela kamu dibawa siapapun, Key,” imbuhnya lagi.
Ada rasa haru menjalar di hati Keyla. Pria di depannya ini sangat tulus ingin melindunginya dan tak rela kehilangan dirinya. Ah, rasanya ia menyesal kenapa tak dari dulu saja ia bertemu orang sebaik Shaka.
“Aku juga nggak mau pisah dari kamu. Aku kan udah bilang berkali-kali. Aku udah nyaman sama kamu. Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu. Kamu juga jangan tinggalin aku, ya. Apapun masalahnya, kita hadapi sama-sama,” ucap Keyla dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
“I love you, Key,” bisik Shaka di telinga Keyla saat mereka sedang berpelukan.
Keyla terkejut mendengar ucapan Shaka barusan. Ia melerai pelukan itu dan menatap wajah Shaka dari dekat. Rasanya ia hampir tak percaya mendengarnya.
“Apa aku nggak salah denger?” tanya Keyla yang hampir tak percaya.
Shaka pun kembali mengulang ucapannya tadi. “I love you, Keyla Andriani.”
Deg.
__ADS_1
Jantung Keyla terasa berdegup kencang mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang memang sudah lama Keyla harap akan keluar dari mulut Shaka. Hatinya sangat senang. Suaminya itu akhirnya mau mengucapkan kata itu untuknya. Senyum pun merekah di wajah cantiknya.
“I love you too, Arshaka Mahendra,” jawab Keyla dengan mata berbinar.
“Dari mana kamu tau nama lengkapku?” tanya Shaka dengan cepat.
“Tentu saja saat kita menikah dulu. Kenapa kamu kelihatannya sangat terkejut aku tau nama lengkapmu?”
“Oh...tidak, tidak apa-apa,” jawab Shaka seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tapi Keyla tak mau memperpanjang soal itu. Toh itu hanya sekedar nama.
Shaka kemudian menarik kembali Keyla agar semakin mendekat kepadanya. Kali ini Shaka bukan memeluknya melainkan menempelkan bibir mereka hingga tak ada jarak yang tersisa.
Keyla sempat terkejut. Ia tak menyangka Shaka akan menciumnya. Apalagi masih ada bekas luka di sudut bibir Shaka. Ia takut itu akan menyakiti Shaka. Tapi ternyata Shaka malah tanpa ragu memperdalam ciumannya. Ia bahkan tak segan untuk melu-mat bibir merah muda yang sudah berani mencuri ciuman pertamanya.
Keyla pun tak menolak ciuman dari suaminya. Dengan penuh hati-hati ia membalas ciuman itu agar tidak menimbulkan rasa sakit di bibir Shaka. Shaka tersenyum di sela-sela ciumannya. Ia pun senang masih memiliki kesempatan untuk dapat merasakan manis bibir istrinya. Seandainya ia sedang tidak sakit, mungkin ia akan melakukan lebih dari ini, pikirnya. Tapi ia tak mau melakukannya dulu. Belum saatnya. Ia harus bersabar hingga waktunya benar-benar tepat untuk melakukannya.
Bersambung...
***
Hai semua 🤗 Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah baca hingga sejauh ini. Maaf belum bisa double up karena ada dua novel on-going yang harus aku kerjakan. Oh ya, sambil menunggu novel ini up, kalian juga bisa mampir ke novelku yg lain ya, judulnya "BUMI TANPA SENJA".
Selamat membaca 🤗
__ADS_1