
Keyla pergi ke salah satu toko furniture yang tak jauh dari tempatnya dengan menggunakan taksi online. Sesampainya disana ia mulai memilih-milih barang-barang yang ia butuhkan.
Harga barang-barang disana memang jauh lebih murah dibandingkan toko langganan ibunya. Tentu kualitasnya pun juga berbeda. Bak kata penjual, ada harga ada rupa, kualitas menunjukkan harga. Tapi Keyla tak begitu mempermasalahkannya saat ini. Yang penting ia tidak tidur di lantai saja sudah cukup baginya.
Ia sadar sekarang statusnya hanyalah istri sementara seorang kurir. Sudahlah istri kurir, sementara pula. Agak miris memang. Tapi itulah pilihan yang ia ambil. Karena itu ia harus berhemat menggunakan uangnya.
Setelah kurang lebih sejam memilih dan menawar, akhirnya Keyla mendapatkan barang-barang yang ia cari. Lemari pakaian, tempat tidur beserta dipannya, kipas angin, dan tak lupa kulkas dua pintu. Semua itu menghabiskan uangnya hingga 15 juta rupiah.
“Huhhhh....” Keyla menghela nafas melihat sisa uangnya yang makin menipis.
“Mba, barang-barangnya mau diantar ke alamat mana?” tanya si Pemilik Toko.
“Ikuti taksi saya saja dari belakang, Pak. Ini saya langsung mau pulang juga kok,” jawab Keyla.
***
Keyla pun sampai di rumah Shaka dan meminta pengantar barang memasukkan barang-barang yang ia beli ke dalam rumah. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian tetangga kiri, kanan, depan, yang mengintip dari celah jendela atau sekedar pura-pura menyapu halaman tapi matanya tak lepas melirik ke arah rumah Shaka. Lumayan, bahan gosip baru. Begitulah kira-kira yang ada di benak ibu-ibu komplek tersebut.
“Mba Keyla, udah pulang? Saya baru selesai bersih-bersihnya,” kata Bu Irma dengan ramah saat Keyla masuk ke rumah.
“Iya, Bu. Habis belanja langsung pulang,” jawab Keyla.
“Kamar belakang sudah bersih, Mba. Sudah wangi. Saya sudah pel juga tadi. Kamar Mas Shaka juga sudah saya bersihkan biar Mba sama Mas Shaka nanti malam nyenyak tidurnya.”
__ADS_1
Keyla tergelak dalam hati. Iya nyenyak, tapi tidurnya beda kamar. Masuk kamarnya aja belum pernah.
“Oke, Bu. Makasih banyak ya, Bu. Nanti kalau kapan-kapan saya butuh bantuan. Boleh kan saya panggil ibu lagi?”
“Boleh, Mba. Boleh. Rumah saya deket kok dari sini. Mas Shaka tau. Kalau gitu saya pamit pulang dulu ya, Mba. Atau Mba ada yang perlu saya bantu lagi?”
“Nggak ada sih, Bu. Untuk hari ini itu aja dulu.”
“Baik, Mba. Saya permisi pamit dulu, ya.”
Setelah Bu Irma pergi, Keyla pun memindahkan baju-bajunya ke dalam lemari yang sudah ia beli.
Semua sudah tertata rapi, rumah sudah bersih dan wangi atas bantuan Bu Irma. Keyla berjalan melihat-lihat keadaan rumah itu, ia yakin Shaka nanti pasti senang saat pulang kerja mendapati rumahnya sudah bersih dan rapi.
Ah, rasanya nggak sabar nunggu Shaka pulang kerja.
Keyla masuk ke kamar lalu merebahkan dirinya ke atas tempat tidur barunya.
“Nyamannya...” ucap Keyla.
Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Kamar ini kalah jauh besarnya daripada kamarnya sendiri di rumah. Tapi ia justru merasa lapang dan nyaman berada di kamar yang hanya menggunakan kipas angin sebagai pendingin ini.
Di rumah orang tuanya, meskipun hidup serba mewah dan segalanya serba ada, tapi hidupnya tak senyaman sekarang. Disana terlalu banyak aturan yang dibuat oleh ibu tirinya dan harus ia patuhi. Mirisnya lagi segala kemewahan yang diberikan padanya harus ditukar dengan masa depannya. Ia harus menikah dengan seorang pria yang sudah terkenal senang bergonta-ganti wanita hampir setiap malam.
__ADS_1
Itulah kenapa Keyla memilih untuk pergi dari rumahnya. Ia tak membawa apapun saat keluar dari rumahnya. Hanya beberapa perhiasan yang memang miliknya agar dapat ia jual dan uangnya dapat ia gunakan untuk kebutuhan hidupnya selama dirinya belum mendapat kerja.
Tadi pagi sebelum Shaka datang untuk mengantar paket untuknya, salah satu asisten rumah tangganya yang sangat dekat dengannya meneleponnya dan memberitahu bahwa dirinya akan dijemput paksa oleh orang tuanya. Orang tuanya sudah mencari tau dimana keberadaannya sebelum itu.
Oleh sebab itu, kedatangan Shaka ke kos nya merupakan keberuntungan bagi dirinya. Ia sengaja menjebak Shaka agar terlepas dari orang tuanya, meskipun sebenarnya ia tak mengira bahwa ia sampai dinikahkan seperti ini.
“Shaka, terimakasih sudah menolongku,” ucap Keyla sambil mengingat wajah Shaka yang sangat tampan baginya.
Ia pun bangun dan mengambil handphone-nya dari dalam tas. Ia kembali berbaring sambil mencari sesuatu melalui Google.
“Tu-gas se-o-rang is-tri,” ejanya sambil mengetik di pencarian.
Tring! Muncul!
Keyla senyum-senyum sendiri saat melihat beberapa artikel yang muncul di layar handphone-nya. Ia pun mulai membaca satu per satu artikel itu.
“Meskipun kita menikah tidak didasari oleh cinta. Tapi aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu. Paling tidak untuk seminggu ini, selama aku masih tinggal disini. Anggap aja aku lagi balas budi karena kamu udah nolong aku, Shaka,” kata Keyla seolah berbicara pada Shaka.
Bersambung...
__ADS_1