Cinta Abang Kurir

Cinta Abang Kurir
76. Menemukan Penggantinya


__ADS_3

Setelah menghadiri acara resepsi Arshaka dan Keyla, Silvy merasa semakin sedih. Arshaka tampak sangat mencintai Keyla, begitupun sebaliknya. Rasanya tak akan ada celah baginya untuk merebut hati Arshaka. Haruskah ia melupakan pria yang sudah lama dicintainya itu? Sepertinya harus begitu!


Silvy yang tak pernah menginjakkan kaki ke club malam kali ini malah pergi kesana. Ia ingin melupakan cintanya pada Arshaka. Ia ingin melampiaskan kesedihannya dengan minum sebanyak-banyaknya.


Satu gelas, dua gelas, tiga gelas, kepala Silvy terasa sangat berat. Ia meracau tak jelas sambil menyebut nama Arshaka berkali-kali. Gadis itu kini sudah mabuk.


Gadis dalam keadaan mabuk seorang diri tentu saja menjadi incaran para pria hidung belang. Dua orang pria yang sedari tadi memperhatikan Silvy yang sedang duduk sendirian saling memberi kode untuk mendekati gadis itu.


Kedua pria itu pun mendekati Silvy dan mulai menggodanya.


"Hai Cantik, sendiri aja nih? Mau kita temenin?" tanya salah satu pria yang berambut hitam agak ikal.


"Pergi! Aku nggak butuh kalian! Aku cuma mau Arsha..." usir Silvy yang setengah sadar.


"Ayolah, Cantik. Kami bisa menggantikan Arsha mu itu," ucap pria lain yang berambut lurus.


"No! Pergi! Aku cuma mau Arsha," usir Silvy lagi.


Pria berambut ikal memberi kode pada pria berambut lurus. Selanjutnya pria berambut lurus itu mengeluarkan sebuah serbuk yang terbungkus rapi dengan kertas putih dari saku celananya dan meletakkan serbuk itu ke dalam gelas Silvy. Silvy yang sedang dalam pengaruh minuman, tak menyadari kalau minumannya telah dicampur sesuatu.


Yang melihat minumannya dicampur sesuatu justru malah Hendry yang juga sedang berada disana. Ia baru saja duduk disana bersama Juan. Ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan gadis yang memarahinya di acara pesta tadi.


Padahal Silvy bersikap tidak ketus padanya tadi sewaktu di pesta. Tapi entah kenapa saat melihat kedua pria itu mulai mendekati Silvy membuat Hendry merasa terganggu. Ia kasihan pada Silvy yang mulai disentuh oleh kedua pria itu.


"Ayo Cantik, biar kami temani. Kamu pasti lagi patah hati, ya? Kami bisa membuat kamu merasa lebih baik," rayu pria berambut ikal lalu menyentuh dagu Silvy.


"Hei, jangan kurang ajar! Pergi!" usir Silvy.


Silvy mengambil minumannya lalu meneguknya sampai habis. Kedua pria itu tersenyum lebar melihatnya.


"Jangan galak-galak, Cantik! Nanti pasti kamu akan membutuhkan kami," ucap pria berambut lurus yang mulai memegang tangan Silvy. Lalu Silvy dengan cepat menepisnya.


"Jangan kurang ajar! Awas sana! Aku mau pergi!"


Silvy berusaha bangun tapi tangannya ditarik sehingga ia kembali duduk di sofa itu. Apalagi kepalanya terasa sangat berat. Ia tak mampu berdiri dengan benar.


"Ayo, Sayang. Jangan jual mahal. Biar malam ini kita bersenang-senang bersama," ucap pria rambut ikal yang diangguki temannya.


Hendry yang melihat ada yang tidak beres langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Silvy.


"Lepaskan wanita ini! Dia kekasihku!" kata Hendry mengaku-ngaku.


"Eittsss...tunggu dulu, bro! Dia target kami. Kalau mau, cari sana wanita lain!" cegah pria berambut lurus.


"Apa kalian tuli? Aku bilang dia kekasihku! Berani kalian menyentuhnya, jangan salahkan aku kalau aku mematahkan tangan kalian!" ancam Hendry.


Pria berambut lurus langsung berdiri menantang Hendry. "Jangan sok jagoan! Kamu pikir kamu lebih jago dari kami, hah?!"

__ADS_1


Baru saja pria berambut lurus itu ingin memukul Hendry, tapi Hendry dengan sigap menangkap tangannya lalu memberikan tinju ke wajah pria itu. Tak hanya sampai disitu, ia juga menendang perut pria itu sampai tersungkur ke belakang.


Pria berambut ikal berdiri hendak memukul Hendry dari belakang, Juan yang melihat itu langsung menepisnya dan balik menyerang. Pukulan dan tendangan pun dilayangkan Juan secara bertubi-tubi sehingga pria itu tersungkur ke lantai.


Mendengar ada keributan, pihak keamanan club langsung datang menghampiri mereka. Juan pun menceritakan kronologinya. Setelah semua selesai, Hendry dan Juan meninggalkan club tersebut dengan membawa Silvy.


Juan menyetir mobil di depan, sementara Hendry dan Silvy duduk di bangku belakang. Belum lama mobil berjalan, Silvy merasa ada yang aneh dari dalam tubuhnya. Ia mendadak merasa kepanasan.


"Eennggghhhh...kenapa panas sekali disini?" racau Silvy yang masih dalam keadaan mabuk.


Hendry berdecak. Ia yakin, ini pasti karena pengaruh obat yang diberikan pria tadi. Hendry sudah matang sekali dalam urusan seperti ini.


"Hei Nona, katakan dimana rumahmu?! Aku akan mengantarmu pulang," tanya Hendry sambil melihat ke samping dimana Silvy mulai mengipas-ngipas dirinya dengan tangan seperti orang yang kepanasan.


"Aku kepanasan. Aku gerah," ucap Silvy.


"Makanya katakan dimana rumahmu!" desak Hendry.


"Arsha, apa kamu lupa aku tinggal dimana?" Silvy malah balik bertanya.


"Ck, aku bukan Arsha! Katakan dimana alamatmu, Nona Sombong!" Hendry makin kesal dipanggil Arsha oleh Silvy.


Tiba-tiba kejadian tak terduga terjadi. Silvy membuka kancing depan dressnya lalu kembali mengipas-ngipaskan dirinya dengan tangannya. Juan yang di depan sama sekali tak melirik ke belakang. Lain dengan Hendry yang malah sulit mengalihkan pandangannya dari Silvy.


Ah, si-al! Gadis ini kenapa malah memancingku?! Hendry mengumpat dalam hati. Untuk pria yang sering bermain wanita sepertinya tentu mudah terpancing melihat dada Silvy yang sudah terekspose dengan jelas.


Siapa sangka saat Hendry memegangnya justru tubuh Silvy semakin bereaksi. Silvy dengan tiba-tiba malah mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Hendry. Hendry membeku sejenak. Gadis ini malah asik menikmati bibirnya.


Si-al! Kalau begini aku mana bisa tahan! Umpat Hendry dalam hati.


Hendry pun menjauhkan wajahnya dari jangkauan Silvy. Gadis itu tampak kecewa. Dirinya ingin yang lebih lagi.


"Nona, sadarlah! Aku bukan, Arsha," ucap Hendry sambil menahan Silvy agar tidak menciumnya lagi.


"Tapi aku menginginkanmu," ucap Silvy dengan suara serak menahan has-rat.


Ia menepis tangan Hendry lalu kembali mencium bibir pria itu. Bahkan ia kini mengalungkan tangannya pada leher Hendry. Hendry tak tahan! Ia pun tak bisa tahan lagi! Sudah lama ia tidak menyentuh seorang wanita. Ia pun melepas ciuman mereka sejenak dan meminta Juan mengantar mereka ke hotel tempatnya menginap.


Brugh.


Silvy sudah terhempas ke atas ranjang. Dengan cepat gadis itu membuka pakaiannya di depan Hendry sehingga membuat Hendry semakin terbakar gai-rah. Gadis ini terlihat cantik di matanya.


Hendry pun dengan segera melepaskan pakaiannya lalu menghampiri gadis yang berada di bawah pengaruh obat itu.


"Nona, jangan menyesal akan permintaanmu. Kamu yang memintanya lebih dulu," ucap Hendry lalu mengecup bibir gadis itu sekilas.


"Aku menginginkanmu, Arsha," ujar Silvy yang membuat Hendry mendelik.

__ADS_1


"Lihat aku! Aku Hendry, bukan Arsha. Sebut namaku! Hendry!" ucap Hendry sambil mencubit dagu Silvy.


"Hendry...aku menginginkanmu."


Hendry pun tersenyum senang. Ia langsung mencium bibir gadis di depannya dengan penuh naf-su. Semakin lama suasana terasa semakin panas dan kian menuntut. Hingga saat Hendry melakukan hubungan itu, ia terkejut saat tau ia adalah pria pertama yang menyentuh Silvy.


"Ternyata kamu wanita baik-baik. Baguslah, dengan begini aku tidak akan melepaskanmu. Kamu akan jadi milikku, Sayang. Tak ku sangka, secepat ini aku menemukan pengganti Keyla."


Hendry pun melanjutkan permainannya hingga tuntas. Sementara Silvy yang kelelahan langsung tertidur di sampingnya. Hendry memeluk Silvy dengan erat. Ia bertekad akan menjadikan Silvy miliknya. Apalagi ia sudah menjadi pria pertama yang menyentuh gadis ini. Ia tak akan melepaskannya lagi.


***


Pagi harinya Silvy menangis saat sudah sadar akan perbuatan bodohnya tadi malam. Mendengar suara isak tangis membuat Hendry terbangun. Hendry yakin, Silvy pasti sudah sadar akan kesalahannya semalam.


Tiba-tiba tangan Hendry memeluk erat Silvy yang memunggunginya. "Jangan menangis. Aku akan tanggung jawab."


"Lapaskan! Kamu jahat! Aku benci kamu!" bentak Silvy yang berusaha melepaskan pelukan Hendry tapi pria itu malah makin erat memeluknya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Aku adalah pria yang pertama menyentuhmu kan? Maka selamanya hanya aku saja yang boleh menyentuhmu," ucap Hendry dengan serius.


"Aku tidak mau dengan pelayan sepertimu!"


"Hei, aku bukan pelayan. Mana bisa pelayan menyewa hotel semewah ini."


"Bisa saja kamu dapat voucher menginap gratis!"


Hendry pun tergelak mendengar perkataan Silvy. Ia pun menarik Silvy agar berbalik menghadapnya.


"Dengar ya, Nona cantik. Aku bukan pelayan. Aku kesana hanya menyamar menjadi pelayan. Dulu Keyla istri Arsha yang kamu suka itu hampir menjadi istriku. Tapi ternyata kami tidak berjodoh. Dia tidak mencintaiku. Jadi aku kesana menyamar sebagai pelayan karena ingin melihat pernikahan mereka," kata Hendry menjelaskan semuanya.


"Jadi...kamu bukan pelayan?" tanya Silvy. Hendry pun menggeleng.


Kalau dilihat-lihat, menurutnya Hendry memang cukup tampan dan sangat terawat. Sepertinya memang tidak mungkin dia hanya seorang pelayan biasa.


"Setelah ini aku akan bertanggung jawab padamu. Aku senang, kamu wanita baik-baik. Aku senang menjadi yang pertama menyentuhmu. Untuk itu, biarkan aku bertanggung jawab atas perbuatanku."


Deg.


Silvy tertegun sejenak. Pria di depannya ini ternyata pria yang bertanggung jawab. Padahal bisa saja ia meninggalkan Silvy begitu saja setelah menidurinya. Tapi ternyata dia malah mau bertanggung jawab.


Melihat Silvy hanya diam saja, Hendry mengulurkan tangannya mengangkat dagu Silvy lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


"Tidak perlu khawatir. Aku janji akan bertanggung jawab. Aku akan segera menemui keluargamu supaya kamu yakin kalau aku tidak main-main dengan perkataanku," ucap Hendry dengan sungguh-sungguh.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2