
Besoknya Keyla dengan berat hati meninggalkan Shaka pergi berangkat kerja ke kantornya. Ia merasa tidak enak sudah beberapa hari ini tidak pergi bekerja. Lagipula keadaan Shaka sudah semakin membaik. Jadi, mau tidak mau Keyla harus pergi bekerja.
Keyla juga teringat akan satu hal. Besok adalah hari ulang tahun Shaka. Ia berencana untuk membelikan kue ulang tahun untuk Shaka sepulang kerja nanti. Dia berencana akan merayakan ulang tahun Shaka tepat jam 12 malam saat pergantian hari. Ah, betapa bahagianya ia membayangkan malam nanti. Tak sabar rasanya menunggu malam berganti hari.
Hari itu Keyla berangkat kerja dijemput Cindy. Kebetulan kantor mereka searah. Keyla pun tak keberatan saat Cindy memberikannya tumpangan padanya sebab dia masih khawatir Hendry akan kembali mengganggunya.
Faktanya, secara diam-diam anak buah suruhan ayah Shaka sudah mulai menjaga Keyla dari jarak jauh. Keyla akan aman dalam perlindungan ayah mertuanya itu. Tapi ayah Shaka melakukannya bukan karena sudah menganggap Keyla sebagai menantunya. Ia melakukan itu karena ingin menunjukkan pada Shaka bahwa dengan kekuasaannya dia bisa melindungi siapa saja yang ia mau.
Drrttt drrrt drrttt drrrt.
Handphone Shaka bergetar. Ada pesan masuk dari Nicko disana. Shaka melebarkan matanya saat melihat pesan masuk itu. Ternyata diam-diam anak buah Hendry mengikuti mobil yang ditumpangi Keyla. Shaka pun segera melakukan panggilan pada Nicko.
“Hallo, Tuan,” sapa Nicko dari seberang telepon.
“Nick, tolong awasi Keyla terus! Jangan sampai ada yang menyentuhnya!” titah Shaka yang terdengar sangat khawatir.
“Baik, Tuan. Tapi, saya tidak bisa lama-lama mengawal Nona Keyla. Tuan besar minta agar Tuan Arshaka segera kembali ke rumah. Dengan begitu beliau berjanji Nona Keyla akan aman,” ucap Nicko yang membuat Shaka frustasi.
Shaka menghela nafas dengan berat. “Nick, kamu tau siapa aku kan? Aku tidak pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya sampai aku merelakan keselamatan diriku sendiri demi menjaganya. Aku tidak tega kalau harus meninggalkan Keyla dan kembali ke rumah.”
__ADS_1
“Saya paham, Tuan. Tapi saat ini sepertinya Tuan tidak ada pilihan lain.”
Shaka memijit pangkal hidungnya yang terasa pusing. Dia tentu sangat berat jika harus meninggalkan Keyla begitu saja.
“Saran saya untuk saat ini, sebaiknya Tuan mengikuti apa kemauan Tuan besar dulu. Setidaknya sampai keadaan Nona Keyla benar-benar aman, Tuan. Masalah Tuan besar, bisa Tuan bujuk nanti jika Tuan Arshaka sudah kembali ke rumah. Kalau sekarang, rasanya susah membujuk Tuan besar. Tuan besar juga butuh waktu untuk menerima Nona Keyla menjadi menantunya,” kata Nicko memberi saran. Nicko yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Mahendra tentu sudah paham benar bagaimana sifat ayah dan anak itu.
“Baiklah. Akan aku pikirkan nanti. Tapi saat ini, tolong awasi Keyla dengan baik,” ucap Shaka dengan suara yang melemah.
“Siap, Tuan.”
Setelah panggilan itu berakhir, Shaka kembali merebahkan diri di kamarnya. Ia memejamkan matanya sejenak untuk berpikir apa yang kira-kira harus ia lakukan. Saat ia memejamkan matanya, yang muncul adalah senyuman Keyla yang selalu menghiasi hari-harinya. Oh, tidak! Dia bisa gila jika harus berpisah dengan pujaan hatinya itu.
Tes...
Tanpa sadar ada airmata yang mengalir dari sudut matanya. Shaka merasa sangat sesak memikirkan pilihan yang sangat sulit ia tentukan. Andai saja dia bisa lari sejauh mungkin dengan Keyla dan membangun kehidupan baru, pasti akan ia lakukan. Tapi sayangnya itu tidak semudah yang ia bayangkan. Ia sudah menyelidiki siapa Hendry dan bagaimana pengaruhnya. Tanpa bantuan sang ayah, ia akan sulit melindungi Keyla.
Jujur, sebenarnya Shaka masih trauma dengan kejadian malam itu. Saat itu ia tak berdaya dipukuli beberapa orang anak buah Hendry. Syukurnya di saat yang tepat Cindy datang membantu mereka. Tapi apakah Cindy selalu bisa diandalkan? Belum tentu bisa. Lihatlah, sekarang saja anak buah Hendry masih mengintai Keyla.
Shaka pun bangun dari tempat tidur kembali membuka handphone-nya. Disana ada foto Keyla yang sedang tertidur ia jadikan sebagai wallpaper handphone-nya. Ia mendekatkan hidungnya lalu mencium foto di layar handphone itu.
__ADS_1
Berat. Tentu ini keputusan yang paling berat dalam hidupnya. Namun ia kembali teringat pesan Nicko tadi, ayahnya juga butuh waktu untuk menerima Keyla sebagai menantunya. Itu baru ayahnya belum lagi ibunya. Sepertinya memang tak ada jalan lain. Untuk sementara Shaka terpaksa mengalah dulu demi keselamatan istri yang sangat dicintainya.
“Key, maafkan aku. Aku... terpaksa harus pergi. Tapi aku berjanji, aku pasti kembali.”
Praaaannggggg...
Bagaikan kontak batin, Keyla tak sengaja menyenggol cangkir berisi teh hangat di meja kerjanya. Cangkir itu pun jatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian.
“Ya ampun... kok tiba-tiba pecah, sih,” gumam Keyla sambil menunduk membersihkan pecahan kacanya.
“Perasaan aku kok tiba-tiba nggak enak gini, ya? Apa Shaka baik-baik aja di rumah?” Keyla merasa tak nyaman pada hatinya. Ia khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa Shaka.
Karena tak fokus membersihkan pecahan gelas itu, Keyla malah tak sengaja tergores pecahan kaca yang mengenai salah satu jarinya.
“Aduh.....awhhh, berdarah pula,” desis Keyla.
Keyla yang tadinya ingin menelepon Shaka jadi lupa karena ia sibuk mengobati jarinya yang terluka.
Bersambung...
__ADS_1