
“Dokter itu...mirip sekali dengan wajah kamu. Dia bukan seperti dokter, tapi lebih mirip seperti...ayah kamu.”
Shaka tertegun dengan perkataan Keyla barusan. Ia tak menyangka Keyla akan dengan mudah menebaknya.
Tapi tak lama kemudian...
“Pfftt.....ha ha ha ha ha....”
Shaka malah tertawa terbahak-bahak sehingga membuat dirinya terbatuk-batuk. Keyla pun dengan cepat mengambilkan minuman dan membantu Shaka untuk meminumnya.
“Makanya kamu ketawa pelan-pelan dong. Lagipula apa yang membuat kamu ketawa begitu?” tanya Keyla aneh. Perasaan tidak ada yang lucu.
“Ya lucu lah. Masa kamu bilang dokter itu ayahku,” jawab Shaka berusaha berkilah.
“Tapi wajah kalian memang mirip,” ucap Keyla.
“Kamu pernah denger nggak? Katanya kita ini wajahnya bisa mirip dengan 7 orang lain yang tersebar di muka bumi ini. Mungkin aja dokter tadi salah satunya yang mirip aku.” Entah dapat mitos darimana, yang penting dia harus membuat Keyla tidak berpikir lagi bahwa dokter tadi adalah ayahnya.
“Kamu malah ngelantur ih! Jangan-jangan kemaren kepala kamu dipukul juga ya jadi ngelantur gini?” Keyla sudah mulai malas mendengar ocehan Shaka yang menurutnya tak masuk akal.
“Ya udah, makanya nggak usah bahas itu lagi. Kita sarapan aja, yuk! Aku laper, Key.”
“Nah, mending sarapan.”
“Tapi kamu suapin aku ya, Key,” pinta Shaka tanpa rasa malu.
Keyla mengangguk menyetujui permintaan suaminya itu. Ia membuka plastik berisi makanan yang ia beli di kantin rumah sakit tadi. Plastik itu berisi bubur ayam. Dengan telaten Keyla menyuapi suaminya. Jika ada sisa bubur yang menempel di bibir Shaka, Keyla tidak ragu membersihkannya dengan tissue.
Mendapat perlakuan sebaik ini dari Keyla tentu Shaka makin tak tega untuk meninggalkan Keyla. Hatinya benar-benar sudah terikat oleh gadis di depannya ini. Bagaimana mungkin ia bisa menjalani hari-hari tanpa Keyla di sampingnya?
***
Dua hari dirawat di rumah sakit, keadaan Shaka sudah semakin membaik dan diizinkan untuk pulang ke rumah. Shaka tentu senang bisa beristirahat di rumahnya ketimbang harus menginap terus di rumah sakit. Ia juga kasihan pada Keyla yang menjaganya disana. Selama Shaka di rumah sakit, baik Shaka maupun Keyla tidak ada yang masuk kerja. Syukurlah atasan mereka mengerti tentang kondisi mereka saat ini, jadi mereka diperbolehkan untuk cuti selama beberapa hari.
“Ah...nyamannya berada di rumah sendiri,” gumam Shaka saat berbaring di kamarnya saat ini.
__ADS_1
Mereka kini sudah tiba di rumah. Mereka pulang dengan taxi online. Padahal Cindy sudah menawarkan pada Keyla untuk mengantar mereka pulang. Tapi Keyla tak mau selalu menyusahkan sahabatnya itu.
“Kamu ganti baju dulu, ya. Aku bantuin,” kata Keyla sambil membuka kancing kemeja Shaka.
Shaka pun menahan tangan Keyla yang hendak membuka kemejanya.
“Jangan, Key! Aku pakai ini aja dulu nggak apa-apa. Sebaiknya kamu sekarang istirahat. Kamu pasti capek udah berapa hari ini jagain aku terus. Baju ini juga baru aku pakai beberapa jam yang lalu.”
“Tapi kan bajunya bekas dari rumah sakit. Nggak apa-apa ganti baju dulu. Tenang aja, aku nggak bakalan menodai kesucian kamu kok,” kata Keyla sambil terkekeh dengan ucapannya sendiri.
“Oh, jadi kamu mikir kesana? Dasar pikiran jorok!” ucap Shaka yang ikut terkekeh sambil mengacak gemas rambut istrinya.
Keyla pun lanjut menggantikan baju Shaka dengan yang baru. Ia memakaikan baju kaos rumahan agar Shaka bisa lebih nyaman. Setelah itu ia meminta Shaka untuk kembali berbaring sementara dirinya keluar dari kamar itu.
Shaka pikir Keyla akan berganti pakaian juga lalu beristirahat di kamarnya. Sejak keluar tadi, Keyla belum kembali juga ke kamar. Padahal ini sudah hampir sejam berlalu. Shaka yang penasaran kemana pergi istrinya itu akhirnya mencoba keluar dari kamarnya untuk mencari Keyla.
Shaka membuka pintu kamar Keyla, ruangan itu kosong tak ada orang disana. Shaka langsung cemas. Ia takut Keyla hilang diculik seseorang.
“Key...Key....kamu dimana Key...?” panggil Shaka dengan cemas.
“Di belakang?” gumam Shaka.
Shaka pun segera melangkah ke belakang rumahnya lewat dapur. Memang benar Keyla rupanya sedang ada di belakang untuk menjemur pakaian.
“Key, kamu ngapain?” tanya Shaka dari depan pintu.
Keyla menggantung pakaian terakhir yang ada di ember ke jemuran. Kemudian meletakkan ember tersebut di pojok belakang. Barulah ia menghampiri suaminya itu.
“Baru habis nyuci. Kamu kok keluar kamar, sih? Butuh sesuatu?” tanya Keyla sambil menyeka keringatnya.
“Seharusnya kamu nggak usah repot-repot nyuci pakaian kita, Key. Kan bisa laundry aja. Kamu udah capek banget loh abis jagain aku di rumah sakit.” Shaka tau Keyla pasti sangat lelah menemaninya di rumah sakit. Bukannya ikut istirahat, istrinya malah mencuci pakaian yang mereka pakai selama di rumah sakit.
“Dikit aja kok. Abis ini kan aku bisa istirahat. Ya udah, kamu masuk lagi ke kamar. Kamu harus banyak istirahat.” Keyla malah mengkhawatirkan suaminya sekarang.
“Key..” Shaka meletakkan kedua tangannya di pundak Keyla. “Terimakasih banyak udah jaga aku selama di rumah sakit. Terimakasih juga kamu udah ngelakuin banyak hal buat aku. Tapi aku nggak mau kamu kelelahan, Key. Aku nggak mau nanti malah kamu yang sakit karena terlalu sibuk ngurusin aku. Jadi sekarang, kamu ganti pakaian kamu, trus kita istirahat sama-sama di kamar. Okay?”
__ADS_1
“Iya, tapi....”
“Nggak ada tapi-tapian. Aku tunggu di kamar,” potong Shaka sebelum Keyla membantahnya.
Shaka masuk ke dalam kamar lebih dulu. Sementara Keyla mengganti pakaiannya yang basah karena mencuci baju, setelah itu baru menyusul Shaka masuk ke kamar depan.
“Sini, Key.” Shaka menepuk sebelah tempat tidurnya.
Keyla pun dengan senang hati berbaring di lengan Shaka.
“Kamu nggak sakit aku tidur di lengan kamu?” tanya Keyla.
“Nggak. Aku malah senang kamu tidur di lengan aku,” jawab Shaka sambil mengelus-elus rambut panjang istrinya.
“Key...”
“Hm?”
“Kamu udah mandiri banget ya sekarang. Kamu udah bisa melakukan banyak hal.” Jujur, Shaka sangat salut dengan perubahan Keyla saat ini. Dari seorang gadis manja yang tak bisa apa-apa kini menjelma menjadi wanita mandiri yang tak hanya pintar bekerja tapi juga bisa mengurus rumah tangga.
Keyla mengangguk lalu mendongak melihat Shaka. “Ini semua karena kamu. Kamu banyak ngajarin aku hal yang sebelumnya belum pernah aku lakukan. Dan sekarang aku udah bisa mandiri. Makasih ya, udah sabar ngajarin aku selama ini.”
Shaka mendekatkan hidungnya mencium kening Keyla. “Aku suka kamu mandiri seperti ini, Key. Ini bagus buat kamu.”
Dan kalaupun nanti aku terpaksa pergi dari kamu, aku nggak akan terlalu khawatir karena kamu sudah bisa melakukan banyak hal sendiri. Imbuh Shaka dalam hati.
Shaka memeluk Keyla dengan semakin erat. Ia mau selamanya bisa memeluk istrinya itu. Tapi jujur hatinya masih bimbang. Dia belum bisa memilih tawaran yang diberikan oleh ayahnya tempo hari. Ia tentu tak mau meninggalkan Keyla begitu saja. Tapi ia juga sadar ia tak dapat melawan Hendry tanpa kekuasaan ayahnya. Bimbang! Ia sungguh bimbang.
Bersambung...
***
Maaf ya lama update-nya 😭🙏
Semoga terhibur dengan bab yang ini. Besok kita double up ya 🤗 Jangan lupa like, vote dan comment 🤗 Terimakasih 💙
__ADS_1