
Bulan berganti matahari, malam telah bertukar pagi hingga hari pun silih berganti. Tak terasa sudah dua minggu berlalu sejak Keyla keluar dari rumah sakit. Keadaan Keyla kini sudah semakin baik. Apalagi Arshaka selalu merawatnya dengan sangat hati-hati. Sesuai dengan janji Arshaka, hari ini ia membawa Keyla pulang ke rumahnya di kota lain, rumah keluarga Mahendra.
Bukan hanya Keyla saja yang ikut ke rumah keluarga Mahendra, tapi ayah dan ibu Keyla juga ikut karena tak lama lagi Arshaka dan Keyla akan menggelar resepsi pernikahan mereka. Hitung-hitung sekalian perkenalan antara orang tua Arshaka dan orang tua Keyla.
Keyla awalnya sempat merasa ragu kalau ia akan diterima dengan baik di keluarga suaminya. Tapi siapa sangka, response yang ia dapat malah berbanding terbalik dengan yang ia pikirkan. Mendapatkan menantu yang cantik seperti Keyla dan juga dari keluarga berada membuat ayah dan ibu Arshaka menerima mereka dengan begitu hangat.
"Cantik sekali menantu Ibu. Arsha pintar sekali mencari istri," puji ibunya Arshaka pada Keyla saat mereka baru sampai di rumah.
Keyla baru tau kalau di rumah ini ternyata suaminya dipanggil dengan nama Arsha. Ia pun hanya tersenyum malu-malu dipuji seperti itu.
"Kalau tidak cantik, mana mungkin anak kita sampai bela-belain pergi menjemputnya," tambah Tuan Mahendra.
"Ayah dan ibu bisa aja. Ibu juga cantik sekali. Kelihatan masih sangat muda," Keyla balas memuji ibu mertuanya.
"Ah, nggak kok. Malah ibu lihat lebih muda mama kamu," elak ibu Arshaka. Tak dipungkiri ibu tiri Keyla memang terlihat lebih muda darinya.
"Tidak juga, Nyonya malah lebih cantik," kata Monica membalas pujian ibu Arshaka.
"Tidak usah panggil Nyonya, panggil Mbak saja. Sepertinya usia saya lebih tua sedikit. Biar lebih akrab. Kita kan sudah menjadi besan," ucap ibu Arshaka.
"Baik, Mbak. Sebelumnya terimakasih karena sudi menerima keluarga kami," ucap Monica dengan ramah.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan begitu. Kami juga sangat senang sekali menyambut kedatangan keluarga menantu kami," jawab ibu Arshaka.
Melihat keluarga mereka saling akrab dan menerima satu sama lain membuat Keyla dan Arshaka bernafas lega. Mereka saling pandang lalu melempar senyum bahagia. Arshaka menggenggam tangan Keyla yang duduk tepat di sampingnya.
Ia mendekatkan diri pada sang istri lalu berbisik dengan pelan, "Key, aku jadi makin nggak sabar."
Keyla mengerutkan kening lalu menatap suaminya dengan bingung seolah bertanya "nggak sabar apanya?"
Arshaka kembali berbisik di telinga Keyla, "Nggak sabar untuk resepsi. Jangan mikir jorok, Key!"
Keyla menyikut suaminya. Arshaka pun terkekeh melihat ekspresi Keyla. Ia senang sekali melihat istrinya cemberut seperti itu.
Di tempat lain ada Cindy yang sedang duduk di ruangan kerjanya. Keyla sudah mengabarinya kalau Keyla akan mengadakan resepsi pernikahan dan tentu saja Cindy diundang. Cindy tak menyangka, resepsi itu akan diadakan di kota lain yang sama dengan tempat Adit bekerja. Untuk itu, Cindy menelepon Adit agar mereka bisa datang bersama ke acara resepsi pernikahan Keyla minggu depan.
"Hallo. Ada apa, Sayang?" ucap Adit saat menerima panggilan dari Cindy.
"Hallo. Adit, kamu lagi sibuk, ya? Maaf ya kalau aku mengganggu," jawab Cindy.
"Nggak kok, Sayang. Ada apa kamu telfon aku? Pasti ada sesuatu kan?" tanya Adit.
"Iya. Aku mau kasih tau kamu, minggu depan Keyla mau ngadain resepsi pernikahannya. Jadi aku mau ngajak kamu pergi ke acara resepsinya itu," jawab Cindy.
__ADS_1
"Minggu depan, ya? Aku masih ada kerjaan disini, Sayang. Aku belum bisa balik kesana lagi," ucap Adit.
"Tapi resepsinya nggak diadakan disini kok. Malah resepsinya diadakan di tempat suaminya. Suaminya tinggal di kota S sama kayak tempat kamu kerja. Makanya aku ajak kamu ke acara resepsinya."
"Suaminya tinggal disini?" tanya Adit setengah terkejut.
"Iya. Bisa kan kamu temenin aku? Masa udah disana juga kamu nggak bisa temenin aku ke acara Keyla. Keyla kan sahabat baik aku," ucap Cindy sambil cemberut.
"Oh...hmmm...oke, oke, Sayang. Aku usahakan datang," jawab Adit dengan terbata.
"Beneran? Yeay! Nanti disana kita jalan-jalan juga, ya."
"Oh...iya, Sayang. Iya. Terserah kamu aja. Kalau begitu udah dulu ya, Sayang. Aku masih ada kerjaan lagi nih."
"Oke. Sampai ketemu minggu depan. Bye."
Cindy pun memutuskan panggilan itu. Sementara Adit tiba-tiba memijit keningnya yang mulai terasa pusing. Bukannya senang Cindy mau menyusulnya ke kota itu, malah ia merasa bingung. Tapi kalau ia tidak mau menemui Cindy nanti, tentu Cindy akan kecewa padanya.
.
Bersambung...
__ADS_1